Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lo suka sama tante gue?
Di halaman belakang, aroma daging dan sosis bakar yang menguar gurih langsung menyambut Karin. Asap tipis membumbung dari panggangan yang dijaga ketat oleh Reno dan Dito yang sibuk mengipas arang. Sementara itu, para gadis sama sekali tidak menyentuh area panggangan, mereka terlalu sibuk membuat siaran langsung di media sosial sambil sesekali berpose heboh foto bersama.
Melihat area cewek yang terlalu bising, Karin memilih melangkah mendekati kumpulan para cowok yang sedang duduk lesehan di atas tikar besar. Tanpa ragu, Karin langsung mengambil posisi duduk di samping Arvin, yang membuat Arvin sedikit menggeser duduknya untuk memberi ruang nyaman bagi Karin.
Mata Karin yang jeli tiba-tiba menangkap sebuah bungkus rokok dan korek api yang tergeletak di ujung tikar.
"Rokok punya siapa?" tanya Karin, nadanya terdengar santai namun berhasil membuat para cowok mendadak tegang.
"P-punya gue, Tan," jawab Fino terbata-bata dan gugup setengah mati. Dia sudah pasrah, mengira rokoknya akan berakhir tragis disita ke dalam tong sampah seperti nasib milik Bima tadi.
Namun, di luar dugaan semua orang, Karin justru meraih bungkus tersebut, mengambil sebatang rokok, lalu menjepitnya. Dengan gerakan yang terlihat sangat mahir dan terbiasa, dia menyalakan pemantik api hingga ujungnya membara merah.
Semua cowok di sana seketika melotot terkejut.
"Loh, Tante ngerokok?!" sahut Reza berteriak heboh, tidak pernah menyangka sisi tersembunyi dari tantenya yang satu ini.
Karin menghembuskan asap tipis ke udara dengan tenang, lalu melirik keponakannya. "Emangnya kenapa? Tante kan udah dewasa, bukan anak sekolah kayak kalian."
Arvin yang duduk di sampingnya sebenarnya sama kagetnya. Matanya yang tajam terus memperhatikan bagaimana cara Karin memegang batang rokok itu. "Tante kenapa?" tanya Arvin pelan, hanya bisa didengar oleh Karin.
Karin menarik napas dalam-dalam, menghembuskan asapnya lagi ke langit malam. Dia kemudian mematikan sisa rokoknya ke tanah, lalu memosisikan kedua tangannya ke belakang di atas tikar untuk menyangga bobot tubuhnya. Karin menatap hamparan langit malam yang mulai dihiasi bintang, lalu meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal ke depan.
"Capek," jawab Karin singkat, menyandarkan kepalanya dengan rileks.
Melihat Karin yang tampak begitu lelah, Arvin diam-diam menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, memastikan lengannya bisa menjadi sandaran tak kasat mata jika wanita itu membutuhkan ruang untuk bersandar.
"Woi! Udah mateng semua nih! Ayo kumpul, makan bareng!" teriakan Reno dari depan panggangan memecah keheningan sore menjelang malam itu.
Mendengar teriakan Reno, para gadis langsung menyudahi siaran langsung mereka dan berhamburan mendekati tikar. Dito membawa nampan besar berisi tumpukan sosis, daging, dan jagung bakar yang permukaannya kecokelatan merata, disusul Bima yang membawa sekotak besar nasi dan saus sambal.
Suasana makan bersama itu langsung berubah menjadi sangat riuh dan penuh kehangatan khas remaja. Mereka duduk melingkar di atas tikar besar.
"Nih, buat Tante sebagai tuan rumah," ucap Reza, mendadak manis dengan menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan potongan daging terbesar ke hadapan Karin.
"Tumben baik kamu, Ja. Ada maunya ya?" goda Karin sambil menerima piring itu.
"Yee... orang tulus juga," cibir Reza yang langsung disambut tawa oleh Aurel di sebelahnya.
Di sisi lain tikar, Bima, Dito, dan Fino makan dengan sangat lahap sampai sesekali berebutan sosis yang berujung saling lempar candaan bodoh. Para cewek pun tidak kalah heboh, mereka sibuk mengobrolkan hasil siaran tadi sambil sesekali menyuapi pacar masing-masing.
Sementara lingkaran di sekitar mereka begitu bising, sudut tempat Karin dan Arvin duduk justru terasa seperti memiliki dunianya sendiri. Arvin makan dengan tenang di samping Karin. Setiap kali Karin terlihat kesulitan memotong dagingnya yang agak alot, tanpa banyak bicara Arvin akan mengulurkan tangannya, mengambil alih piring Karin, memotongkan daging itu menjadi bagian-bagian kecil yang siap makan, lalu mengembalikannya lagi pada Karin.
Tingkah perhatian Arvin yang begitu peka lagi-lagi memicu senggolan jahil dari Sela dan Alessa yang duduk di seberang mereka, namun baik Karin maupun Arvin memilih pura-pura tidak melihat.
Rasa lelah yang dirasakan Karin perlahan sirna, digantikan oleh kehangatan dari tawa anak-anak remaja di sekelilingnya, dan tentu saja, dari kehadiran cowok dingin di sampingnya yang tidak pernah melepaskan pandangannya dari Karin sepanjang malam itu.
Setelah selesai makan dan kenyang, para gadis akhirnya berinisiatif untuk membersihkan piring dan area panggangan sebagai kompensasi karena tadi tidak ikut membantu memasak.
Karin baru saja memastikan pintu belakang terkunci rapat demi keamanan malam itu. Saat dia berbalik dan hendak melangkah melewati area wastafel dapur, petaka kecil terjadi. Sela, Alessa, dan Aurel yang sedang mencuci piring di sana rupanya terlalu asyik mengobrol sambil bercanda, membuat cipratan air sabun yang licin meluber ke lantai keramik tanpa mereka sadari.
Sret!
"Aaa!" Karin memekik kaget saat kedua kakinya kehilangan tumpuan, tubuhnya oleng ke belakang.
Sebelum tubuh Karin menghantam lantai yang keras, sebuah lengan kokoh dengan cekatan langsung menyergap pinggangnya dari belakang. Arvin, yang kebetulan baru saja keluar dari kamar mandi, merespons dengan refleks yang luar biasa. Dia menahan bobot tubuh Karin, membawa wanita itu dalam dekapan erat yang menyelamatkan tubuhnya.
Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Dalam posisi yang sangat dekat itu, Karin menengadah, membiarkan matanya terkunci pada manik mata hitam Arvin yang menatapnya dengan penuh kilat kepanasan sekaligus khawatir. Jantung Karin berdegup hebat, bukan lagi karena sisa kaget akibat tergelincir, melainkan karena embusan napas Arvin yang menerpa wajahnya.
Namun, pekikan Karin tadi terlanjur menggema. Langkah kaki yang terburu-buru dari ruang tengah langsung menyerbu dapur. Begitu anak-anak lain tiba, pemandangan Arvin yang sedang menahan tubuh Karin dengan posisi intim itu langsung tersaji di depan mata mereka.
"Cieeeee...!!!" sorak mereka semua kompak secara serempak, menggoda habis-habisan.
Mendengar sorakan heboh itu, kesadaran Karin langsung tersentak. Dia buru-buru menegakkan tubuhnya, melepaskan diri dari dekapan Arvin dengan wajah yang sudah memerah padam menahan malu.
"Kalian ini... kalau cuci piring yang bener ah! Itu air sabunnya sampai ke mana-mana, pel juga lantainya!" omel Karin, mencoba mengalihkan rasa salah tingkahnya dengan nada tegas yang dibuat-buat.
Nayara yang ikut membantu di dapur langsung mencicit bersalah. "Iya, Tante, maaf ya..."
"Iya, Tante, maaf," sahut Alessa ikut meringis ngeri melihat tantenya hampir jatuh.
Karin tidak menjawab lagi. Dia buru-buru membalikkan badan dan melangkah cepat menuju ruang tengah. Namun, sesampainya di sana, Fino yang sedang bersandar di sofa justru kembali menyiram bensin ke dalam api.
"Cie... si Tante salting nih yee," goda Fino sambil cengengesan.
"Salting, salting! Siapa yang salting?!" gerutu Karin ketus tanpa menoleh. Dia berjalan setengah berlari masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu di dapur, Arvin hanya bisa berdiri mematung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar cowok untuk menenangkan debaran dadanya sendiri.
Di dalam kamarnya, Karin mencoba mengalihkan pikirannya dengan mulai berbenah. Dia menurunkan kasur cadangan dan menggelar karpet bulu yang cukup besar di lantai, menumpuk bantal-bantal agar ruang tidurnya nanti muat dan cukup nyaman beralaskan karpet untuk ditiduri berenam bersama para gadis.
Sementara itu di ruang tengah, suasana mendadak berubah mencekam.
Reno yang sedang rebahan sambil memainkan ponselnya tiba-tiba menegakkan tubuh dengan mata membelalak. Dia sedang membuka forum angkatan sekolah mereka yang biasanya diisi oleh gosip-gosip terhangat. Di barisan paling atas, sebuah utas baru berlogo Hot menampilkan foto Arvin dan Karin yang sedang duduk berdekatan di atas meja kelas tadi siang, tersenyum ke arah kamera ponsel Arvin.
"Weh, liat forum deh!" seru Reno.
Reza yang penasaran langsung merogoh kantong celananya, membuka aplikasi forum sekolah yang sama di ponselnya sendiri. Begitu foto itu terpampang jelas di layarnya, raut wajah santai Reza seketika lenyap, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya.
Tanpa membuang waktu, Reza langsung berjalan cepat menyusul Arvin yang sedang berada di kamar. Mendengar ada orang masuk, Arvin menaruh ponselnya yang sedang di-charge.
"Vin, lo ada hubungan apa sama tante gue?" tanya Reza, suaranya terdengar berat dan menuntut, kehilangan nada bercandanya yang biasa.
Arvin membalikkan badannya dengan tenang, menatap sahabatnya tanpa ekspresi yang berarti. "Gak ada," jawab Arvin singkat.
"Lo gak lihat forum sekolah?" tanya Reza lagi.
Arvin terdiam. Dia mencabut kabel charger-nya, lalu membuka aplikasi forum di ponselnya sendiri. Jemarinya mulai scroll perlahan, membaca komentar-komentar murid lain yang mempertanyakan hubungan mereka.
"Lo suka ya sama tante gue?"
Pertanyaan telak dari Reza itu seketika membuat gerakan jemari Arvin di atas layar ponselnya berhenti total. Cowok dingin itu membeku, memilih bungkam dan tidak memberikan bantahan sedikit pun atas tuduhan tersebut.
Melihat reaksi diam dari sahabatnya, Reza menghembuskan napas kasar. Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan kasar, benar-benar tidak percaya sekaligus syok mendapati kenyataan bahwa sahabat karibnya diam-diam menyimpan rasa pada tantenya sendiri.