NovelToon NovelToon
The Dark Lord

The Dark Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Vampir
Popularitas:555
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.

Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.

Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.

Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangat Yang Hampir Hilang

Kamar bernuansa hitam itu memancarkan kesan suram yang seolah menelan seluruh cahaya. Di atas ranjang besar, Sonja masih meringkuk memeluk lututnya. Isak tangisnya memang telah mereda, tetapi sesekali bahunya masih bergetar menahan sesak di dada.

Setelah selesai mandi, ia mengenakan gaun yang diberikan Arthur. Bukan karena ingin, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain. Sonja sangat mengenal watak pria yang begitu dicintainya itu. Menolak hanya akan memperburuk keadaan.

"Sampai kapan kau akan menangis?" Suara berat yang dingin itu memecah keheningan kamar. Sonja tidak bergeming, dia tetap memunggungi Arthur, enggan menatap wajah pria itu.

"Bangunlah. Aku membawakan makanan. Kau pasti lapar." Tak ada jawaban. Sonja memilih diam, seolah Arthur tidak pernah masuk ke ruangan itu.

Arthur melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di hadapan gadis itu."Makan, Sonja," ulangnya dengan nada yang masih terdengar tenang.

"Kalau kau memang ingin membunuhku dan meminum darahku, lakukan saja sekarang. Aku sudah siap." Sonja membalikkan tubuhnya, tetapi sengaja mengalihkan pandangan, enggan menatap wajah Arthur.

"Hentikan omong kosongmu dan makanlah, atau.."

"Atau apa?" potong Sonja tajam, dia langsung bangkit hingga duduk, menatap Arthur penuh kebencian. "Aku tidak takut padamu."

Sudut bibir Arthur justru terangkat membentuk senyum tipis. Percayalah, Sonja adalah satu-satunya makhluk yang berani berbicara seperti itu di hadapannya. Namun, alih-alih tersinggung, Arthur justru merasa kagum pada keberanian gadisnya.

"Lebih baik aku mati kelaparan daripada memakan makanan darimu."

Arthur tetap tenang. Berdebat dengan perempuan yang sedang dikuasai emosi hanya akan membuang tenaga. Tujuannya hanya satu, membuat Sonja makan. Dan Arthur adalah sosok yang akan melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang ia inginkan."Apa kau tahu?" ucapnya pelan. "Anak buahku berhasil menangkap salah satu gadis dari bangsa manusia."

Sonja sontak terdiam. Dadanya menegang, dia langsung mengerti ke mana arah pembicaraan itu. Arthur sedang mengancamnya. Siapa yang dia tangkap?

Arthur perlahan mendekat hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Bibirnya kemudian bergerak pelan di dekat telinga Sonja."Aku akan mencabik-cabik tubuhnya dan meminum darahnya sampai tetes terakhir, kalau kau tidak menghabiskan makanan ini."

Ancaman itu membuat kedua mata Sonja membelalak. Perlahan wajahnya berubah sendu. Tubuhnya membeku, dia tidak mungkin membiarkan orang lain terluka hanya karena dirinya. Arthur menangkap perubahan itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengambil sesendok makanan, lalu menyodorkannya ke bibir Sonja.

Sonja sempat menggeleng dan menepisnya. Namun Arthur tetap bersabar. Berkali-kali ia menyuapkan makanan itu tanpa sedikit pun kehilangan ketenangannya. Pada akhirnya Sonja menyerah. Dengan hati yang dipenuhi keterpaksaan, ia membuka mulut dan menerima suapan demi suapan hingga makanan itu habis tak bersisa.

"Gadis pintar." Suara Arthur terdengar pelan. Pria itu tau jika gadisnya memiliki kepedulian tingkat tinggi kepada apapun, jadi tidak sulit untuk mengendalikannya. Sonja langsung memalingkan wajah, enggan memberikan tanggapan.

Setelah memastikan Sonja menghabiskan makanannya, Arthur berdiri. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah keluar dan meninggalkan kamar itu. Pintu kembali tertutup. Keheningan menyelimuti ruangan.

Sonja hanya terpaku menatap daun pintu yang kini telah tertutup rapat. Entah apa sebenarnya yang sedang direncanakan Arthur. Apa yang sedang dia tunggu? Kalau memang menginginkan darahnya, kenapa dia belum membunuhnya?

Perlahan Sonja kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Terlalu banyak pertanyaan memenuhi kepalanya. Bagaimana mungkin dirinya adalah gadis terberkati? Apakah semua ini ada hubungannya dengan mimpi-mimpi buruk yang selama ini terus menghantuinya?

Entahlah...

Kini Sonja sudah tak lagi peduli. Jika Arthur menginginkan darahnya, bahkan nyawanya, ia hanya bisa pasrah. Melarikan diri bukanlah pilihan. Mustahil ia bisa kabur dari tempat ini.

Lagipula, untuk apa ia terus hidup?

Pria yang paling dia cintai ternyata telah menghancurkan seluruh kepercayaannya. Kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri. Air matanya telah mengering, tetapi luka di hatinya justru semakin dalam. Namun ada satu hal yang terus mengusik pikirannya. Mengapa pengkhianatan sebesar itu masih belum mampu menghapus rasa cintanya pada Arthur? Mengapa ia masih tidak sanggup membenci pria itu sepenuhnya?

Kenapa aku sebodoh ini?

***

Dengan sedikit menahan nyeri yang masih menjalar di sekujur tubuhnya, Alea memaksa diri untuk bangkit dari ranjang tempatnya dirawat. Dia sudah muak terus berbaring seperti mayat, sementara pikirannya tak henti-hentinya dipenuhi kekhawatiran akan nasib Sonja.

Apakah Arthur sudah membunuhnya?

Namun, jika Pangeran Kegelapan benar-benar telah meminum darah Sonja, seharusnya perang sudah dimulai. Bukankah itu tujuan utama Arthur? Menghabisi seluruh klan Dark Moon yang terlibat dalam malam nahas itu.

Alea tak sanggup hanya menunggu. Dia harus mencari tahu sendiri. Kalaupun harus menyusup ke sarang musuh, dia akan melakukannya.

"Kau tidak boleh meninggalkan ranjangmu, Lea. Lukamu belum pulih. Kembalilah berbaring." Suara itu membuat Alea menghentikan langkahnya. Pangeran Alex berdiri tak jauh darinya, menatap dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

"Aku baik-baik saja. Luka ini bukan apa-apa bagiku," balas Alea datar sambil terus melangkah, meski setiap langkah membuat rasa sakit menusuk tubuhnya.

"Memangnya kau mau ke mana?"

"Mencari Sonja. Aku yakin dia masih hidup. Aku akan mencari tahu sendiri," ucap Alea dingin.

"Mencari tahu? Maksudmu kau akan pergi ke Mansion Arthur?"

Alea mengangguk pelan.

Tatapan tajam Pangeran Alex sama sekali tidak membuatnya gentar."Pikirkan lagi. Kau sedang terluka. Pergi ke mansion itu hanya akan mengantarkanmu pada kematian. Dalam kondisimu sekarang, kau akan terbunuh dengan mudah, Lea."

"Aku sudah siap jika memang harus mati. Aku tidak peduli." Jawaban itu membuat dada Alex terasa sesak.

"Kalau kau tidak peduli pada nyawamu sendiri, setidaknya pedulilah sedikit padaku, Lea." Suaranya melemah. "Apa kau ingin melihatku hancur karena kehilanganmu?"

Tatapan Alea tetap dingin, tetapi Alex melanjutkan ucapannya."Aku akan memikirkan cara untuk mencari tahu keadaan Sonja. Jadi kali ini saja, menurutlah padaku."

Keheningan menyelimuti ruangan.

Alea menundukkan pandangan. Ada benarnya ucapan Alex. Dengan luka yang belum sembuh, pergi ke Mansion Arthur sama saja dengan menyerahkan nyawanya tanpa perlawanan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alea berbalik menuju ranjang dan kembali merebahkan tubuhnya. Melihat itu, senyum tipis akhirnya terukir di wajah Pangeran Alex. Setidaknya, untuk kali ini, Alea bersedia mendengarkan ucapannya.

***

Arthur kembali memasuki kamar itu dan melangkah pelan menghampiri Sonja. Mata tajamnya seketika tertuju pada tubuh mungil gadis itu yang masih terbaring di atas ranjang. Meski kedua matanya terpejam, wajah Sonja tampak gelisah. Keningnya berkerut, napasnya tak beraturan, seolah kembali terjebak dalam mimpi buruk yang sama.

Mimpi buruk itu lagi.

Arthur mengembuskan napas pelan. Dia mendekat, lalu duduk di tepi ranjang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dengan gerakan yang begitu hati-hati, telapak tangannya menempel di kening Sonja. Sentuhan dingin itu perlahan mengalirkan kekuatan yang ia miliki, menghapus mimpi buruk yang selama ini selalu menghantui tidur gadis tersebut, itu adalah kebiasaan yang diam-diam selalu Arthur lakukan. Hampir setiap kali Sonja terlelap, ia akan datang memastikan gadis itu bisa tidur dengan tenang, tanpa dihantui ketakutan yang membuatnya menangis di dalam mimpi.

Perlahan, kerutan di dahi Sonja menghilang. Napasnya kembali teratur. Senyum tipis yang nyaris tak pernah terlihat pun terukir di sudut bibir Arthur. Tatapannya melembut saat memperhatikan wajah polos Sonja. Gadis sederhana itu telah melakukan sesuatu yang tak pernah mampu dilakukan siapa pun. Menghidupkan kembali kehangatan di dalam hatinya.

Sejak kematian sang ibu, Arthur mengira dirinya telah kehilangan kemampuan untuk merasakan kasih sayang. Yang tersisa hanyalah amarah, dendam, dan kegelapan. Namun entah bagaimana, kehadiran Sonja perlahan mengisi ruang kosong yang selama ini ia kira telah mati selamanya. Tanpa sadar, tangan Arthur terangkat menuju wajah kecil itu. Jemarinya menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata Sonja dengan sentuhan yang nyaris tak terasa.

Namun sentuhan itu justru membuat kelopak mata Sonja bergerak pelan. Kedua mata bulatnya terbuka, lalu langsung bertemu dengan sepasang mata yang sejak tadi tak pernah lepas memandanginya."Singkirkan tanganmu," ketus Sonja sambil berusaha menepis tangan pria itu.

Arthur sama sekali tidak bergeming. Seolah penolakan itu sudah menjadi sesuatu yang biasa baginya. Setelah rambut Sonja kembali rapi, telapak tangannya justru beralih mengusap lembut puncak kepala gadis itu.

"Aku merindukanmu, Sonja," ucapnya lirih. Suaranya begitu pelan, tetapi cukup untuk membuat dada Sonja berdesir sesaat sebelum ia kembali mengingat bahwa pria di hadapannya adalah sosok yang telah menghancurkan hidupnya.

1
Firkoh
menegangkannya dapet, cepet update ya kaka author
Saasaa: Terimakasih 🙏 Update tiap hari
total 1 replies
Firkoh
ngeri banget loe thur
Firkoh
kaaaaan bener
Firkoh
ikut tegang Cuy
Firkoh
jangan2 Arthur nih pangeran kegelapannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!