Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Mengubah Rute Hidupnya
Shaquena tidak menitikkan air mata sedikit pun ketika Nyonya Mahendra membatalkan pertunangan itu dengan teriakan murka. Orang yang menangis meratapi kegagalan itu justru ibunya.
Wanita paruh baya itu terduduk lemas di atas sofa ruang tamu. Wajah ibunya basah oleh air mata yang merusak riasan wajah mahalnya.
Para tamu dan kerabat mulai meninggalkan rumah keluarga Mahardika satu per satu. Mereka berjalan cepat menuju pintu keluar sambil berbisik pelan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap wajah Shaquena berlama-lama. Pandangan mereka menghakimi, seolah gadis itu baru saja melakukan dosa paling besar.
Ayah Shaquena berdiri membelakangi putrinya cukup lama. Tangan pria paruh baya itu mengepal kuat di sisi tubuh menahan emosi yang siap meledak.
"Apa kamu sudah puas?" tanya ayahnya tanpa berbalik menatap putrinya.
Shaquena mengembuskan napas pelan dari hidung. "Belum."
Mendengar jawaban singkat itu, ayahnya menoleh cepat. Tatapan pria itu penuh dengan kekecewaan yang besar. "Kamu baru saja menghancurkan kerja sama dua keluarga. Kamu membuang masa depanmu hanya demi keputusan sesaat."
"Ini bukan keputusan sesaat, Yah."
"Lalu apa namanya?" bentak ayahnya tertahan.
Shaquena menatap lurus ke arah mata ayahnya tanpa berkedip. "Ini adalah keputusan yang seharusnya aku ambil sejak dulu."
Ayahnya menggeleng pelan dengan raut wajah putus asa. "Kamu bahkan tidak mengenal Stefanus sama sekali."
Kalimat ayahnya itu menohok tepat di ulu hati Shaquena. Ayahnya sepenuhnya benar. Ia memang tidak mengenal pria itu.
Yang Shaquena ingat tentang Stefanus di kehidupan pertamanya sangatlah sedikit. Pria itu adalah sosok pendiam yang selalu berdiri di belakang bayang-bayang Sebastian. Stefanus adalah pria yang sangat jarang berbicara, jarang pulang ke rumah utama, dan sama sekali tidak pernah ikut campur dalam urusan bisnis konglomerasi keluarga Mahendra.
Satu-satunya memori yang paling ia ingat adalah pria itu menangis tersedu-sedu di samping mayatnya.
Hanya itu alasan utamanya. Stefanus adalah satu-satunya manusia yang sudi menangisi kematiannya di tengah badai malam itu.
Tiga hari kemudian, mereka berempat berdiri di depan meja resepsionis Kantor Catatan Sipil Jakarta.
Gedung instansi pemerintah itu terlihat sangat sederhana dan sepi pengunjung. Hanya ada dua pasangan lain yang sedang duduk mengurus dokumen pernikahan di sudut ruangan.
Tidak ada karangan bunga mawar putih seharga puluhan juta rupiah. Tidak ada dekorasi mewah rancangan desainer terkenal. Tidak ada kerumunan fotografer yang berebut mengambil gambar pernikahan.
Tidak ada dewan keluarga Mahendra yang arogan yang selalu memaksakan bahwa restu mereka jauh lebih berharga daripada kebahagiaan anak-anaknya.
Di lobi yang dingin itu, hanya ada Shaquena, Stefanus, serta ayah dan ibunya.
Ibu Shaquena terus menggenggam erat tali tas tangannya dengan gestur sangat gelisah. "Pernikahan ini masih bisa dibatalkan, Quena," bisik ibunya lirih.
Shaquena menoleh dan tersenyum sangat tipis. "Bu."
"Kalau kamu berubah pikiran sekarang, Ibu berjanji akan bicara lagi dengan keluarga Mahendra. Ibu akan memohon pada mereka untuk menerima permintaan maaf kita," bujuk ibunya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak akan berubah pikiran."
Ibunya menatap wajah Shaquena lama sekali mencari keraguan di sana. "Apa kamu benar-benar yakin?"
Shaquena mengangguk pelan. Ia sangat yakin dengan pilihannya hari ini.
Keyakinannya saat ini bahkan melampaui rasa yakinnya saat menerima lamaran Sebastian di kehidupan pertamanya dulu.
Seorang petugas berseragam memanggil nama mereka dari balik meja. "Saudari Shaquena Mahardika?"
Shaquena melangkah maju menghampiri meja kayu tersebut.
"Saudara Stefanus Mahendra?" panggil petugas itu lagi.
Stefanus ikut melangkah maju dan berdiri tepat di samping Shaquena. Pria itu hari ini hanya mengenakan setelan kemeja dan celana bahan berwarna hitam sederhana.
Namun, entah bagaimana kehadiran pria ini justru memancarkan rasa aman yang bagi Shaquena.
Mereka berdua duduk berdampingan berhadapan dengan petugas. Beberapa lembar dokumen resmi negara didorong ke arah mereka. "Silakan dibaca kembali kelengkapan datanya."
Shaquena membaca setiap kalimat di atas kertas itu dengan sangat teliti. Nama, tanggal lahir, alamat domisili, dan status perkawinan. Semuanya sudah tercetak dengan benar tanpa kesalahan.
Tangan kanannya meraih pena bertinta hitam di atas meja. Namun, untuk beberapa saat, gerakannya terhenti kaku di udara.
Di kehidupan pertamanya, ia juga pernah duduk dan menandatangani dokumen pengikat pernikahan seperti ini. Hari itu hatinya dipenuhi kebahagiaan. Ia berpikir bahwa ia sedang menandatangani lembar awal dari kehidupan rumah tangga yang sempurna dan bahagia.
Kenyataannya, hari itu ia sedang menandatangani kontrak penyiksaan mental dan fisik selama tiga puluh tahun penuh.
Tangan Shaquena mulai bergetar pelan. Ia menelan ludah dengan susah payah. Belum sempat ia menenangkan dirinya sendiri, sebuah suara rendah dan dalam terdengar dari pria di sebelahnya.
"Tidak apa-apa."
Shaquena menoleh cepat. Stefanus sama sekali tidak menyentuh kulitnya. Pria itu hanya duduk tenang dengan tatapan lurus ke arah meja petugas pendaftaran.
Dua kata sederhana dari Stefanus itu ternyata memiliki sihir tersendiri. Napas Shaquena yang sempat tertahan di kerongkongan perlahan kembali teratur. Ia mengangguk pelan kepada Stefanus, lalu segera membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen tersebut dengan mantap.
Stefanus mengambil pena yang sama dan melakukan hal serupa tanpa ada keraguan sedikit pun.
Petugas itu mengambil kembali berkas mereka dan tersenyum ramah. "Dengan ini, pernikahan saudara berdua telah sah dan tercatat menurut hukum negara."
Semuanya selesai sesederhana itu.
Tidak ada tepuk tangan meriah dari ratusan tamu undangan. Tidak ada sorak-sorai keluarga besar. Tidak ada ucapan selamat bernada palsu dari para kolega bisnis.
Shaquena kini resmi menyandang status sebagai istri Stefanus Mahendra.
Perasaannya saat ini lebih seperti seseorang yang baru saja berhasil menyelamatkan diri dari kobaran api besar. Tubuhnya selamat dari luka bakar, tetapi hidungnya masih terus mencium bau asap pekat yang mencekik paru-parunya.
Ibu Shaquena akhirnya melangkah mendekat. Wanita paruh baya itu memeluk putrinya sangat erat sementara air matanya kembali jatuh membasahi pipi. "Ibu cuma ingin kamu bahagia, Nak."
Shaquena membalas pelukan ibunya dengan lembut. "Aku juga, Bu."
Ibunya mengusap punggung rambut Shaquena berulang kali. "Kalau pria ini berani menyakitimu..."
Shaquena melepaskan pelukannya dan tersenyum kecil. "Kali ini tidak akan ada yang bisa menyakitiku."
Kalimat penuh kepastian itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Ibunya mengerutkan kening kebingungan, tapj wanita paruh baya itu memilih untuk tidak menanyakan maksud ucapan putrinya lebih jauh.
Di sisi lain meja, ayah Shaquena melangkah mendekati Stefanus. Pria paruh baya itu menepuk bahu menantu barunya dengan tenaga yang cukup keras. "Jaga putriku baik-baik."
Stefanus menatap ayah mertuanya dengan tenang dan jujur. "Saya akan menjaganya dengan nyawa saya."
Tidak ada pidato janji yang panjang. Tidak ada sumpah manis yang berlebihan di depan altar. Namun, kalimat singkat Stefanus itu mengalirkan keyakinan ke dalam hati Shaquena.
Begitu mereka berempat berjalan keluar dari pintu kaca kantor catatan sipil, langit Jakarta menyambut dengan awan mendung abu-abu gelap.
Sebuah mobil sedan berwarna hitam kusam berada tepat di depan lobi. Mobil yang dikendarai Stefanus itu adalah mobil sedan lama yang sudah termakan usia.
Shaquena sempat terdiam menatap bodi mobil yang tidak lagi mengilap tersebut.
Memori masa lalunya kembali membandingkan situasi ini. Di kehidupan pertamanya, hari pernikahannya dipenuhi oleh iring-iringan belasan mobil mewah keluaran terbaru Eropa.
"Hanya mobil tua ini yang aku punya," ucap Stefanus memecah lamunan panjang Shaquena. Pria itu berdiri kaku di dekat pintu penumpang.
Shaquena menggeleng pelan dan langsung membuka pintu mobil. "Itu sama sekali tidak masalah."
Ia justru merasa jauh lebih baik. Di dalam mobil ini, tidak ada lambang arogansi keluarga Mahendra. Tidak ada kemewahan yang nantinya akan berubah menjadi jeruji penjara.
Perjalanan membelah jalanan ibu kota siang itu berlangsung hampir tanpa percakapan sama sekali.
Shaquena membuang pandangannya ke luar jendela kaca mobil. Sesekali ia memejamkan mata rapat-rapat, masih berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa semua ini adalah kenyataan. Ia benar-benar hidup kembali. Dan hari ini, ia benar-benar telah mengubah rute hidupnya.
Mobil sedan hitam itu akhirnya berbelok dan berhenti di area parkir sebuah kompleks apartemen.
Shaquena mendongak menatap gedung di depannya. Bangunan apartemen itu terlihat sudah berumur. Catnya memudar di beberapa sisi.
Stefanus mematikan mesin mobilnya lalu menarik tuas rem tangan. "Maaf."
Shaquena menoleh ke kursi kemudi dengan kening sedikit berkerut. "Untuk apa?"
"Apartemenku tidak besar." Stefanus menjawab jujur tanpa berani menatap mata istrinya.
Shaquena tersenyum tipis merespons permintaan maaf itu. "Lebih baik kecil seperti ini daripada tempat luas tapi dingin."
Stefanus menatap wajah istrinya selama beberapa detik. Lalu ia mengangguk pelan.
Mereka berdua masuk ke dalam lobi gedung dan naik menggunakan lift yang catnya sudah mengelupas. Suara mesin lift itu berdengung cukup bising saat membawa mereka naik. Pintu besi lift akhirnya terbuka di lantai delapan. Koridor panjang di depan mereka terasa sangat sunyi dan minim penerangan.
Stefanus berjalan di depan dan membuka pintu unit apartemennya.
Ruangan di balik pintu itu sangat sederhana. Ada sebuah ruang tamu kecil yang menyatu langsung dengan area dapur bersih. Sebuah sofa dua dudukan berwarna abu-abu bersandar di dinding. Sebuah meja makan mungil terbuat dari kayu pinus melengkapi sudut ruangan.
Tempat ini tidak mempekerjakan pelayan berseragam. Tidak ada perabotan kristal seharga puluhan juta. Namun, anehnya, apartemen kecil ini justru menyajikan rasa hangat dan aman yang belum pernah Shaquena temukan selama puluhan tahun tinggal di rumah utama keluarga Mahendra.
"Aku sudah membersihkan seluruh tempat ini semenjak kemarin sore," kata Stefanus pelan sambil meletakkan kunci di atas meja.
Shaquena mengangguk pelan sambil melepas sepatu hak tingginya. "Terima kasih, Stefanus."
Mereka berdua kembali terdiam di tengah ruang tamu. Keheningan kali ini terasa sangat kaku dan canggung. Mereka memang sudah sah menjadi pasangan suami istri di mata hukum. Akan tetapi, mereka berdua pada dasarnya adalah dua orang asing. Shaquena hampir tidak tahu apa pun tentang pria ini. Stefanus pun mungkin tidak benar-benar mengenal sosok asli Shaquena.
Stefanus menunjuk sebuah pintu kayu bercat putih di ujung ruangan. "Itu kamar tidur kita."
Shaquena melangkah maju mendorong pintu tersebut. Interior kamarnya juga sangat minim. Hanya ada sebuah kasur berukuran sedang, lemari pakaian standar, meja kerja kecil, dan sebuah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah luar gedung.
Langkah kaki Shaquena terhenti mendadak. Matanya membeku menatap sesuatu di balik kaca jendela itu.
Di luar jendela kamar, menempel erat pada dinding gedung apartemen, terdapat struktur tangga darurat. Tangga besi berwarna abu-abu gelap itu memanjang curam turun hingga ke lantai dasar.
Dada Shaquena mendadak sesak bukan main. Oksigen di dalam paru-parunya lenyap seketika. Napasnya tercekat di kerongkongan.
Bayangan lantai marmer dingin yang dipenuhi genangan darah segar kembali menyerbu masuk memenuhi isi kepalanya secara paksa. Visual itu berputar sangat nyata. Tangga yang melingkar. Tubuhnya yang melayang jatuh. Tulang rusuk yang patah. Darah yang mengalir dari pelipisnya. Wajah putus asa Samuel di balik jeruji. Tatapan tenang Sebastian dari lantai dua.
Tubuh Shaquena mulai gemetar hebat tanpa bisa ia kendalikan.
"Shaquena?" Suara panggilan Stefanus terdengar sangat kecil, tenggelam oleh bunyi dengungan bising di dalam telinganya.
Dalam penglihatannya yang mulai mengabur, anak tangga besi di luar jendela itu memiliki bentuk yang mirip dengan tempat ia mengembuskan napas terakhirnya.