Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
"Malam, Tante Rita."
Wanita bersurai sebahu yang sedang membaca majalah di ruang tengah itu langsung mengangkat wajahnya, kedua sudut bibirnya tertarik melihat sosok cantik yang kini berjalan ke arahnya.
"Malam, Michelle, kamu mau ke mana kok bawa sling bag?"
"Mau ke toko buku, Tante, ada beberapa buku yang harus Michelle beli."
Rita melihat jam dinding di sisi ruangan.
"Tapi udah malam, kamu mau berangkat sendiri?" tanya wanita itu khawatir.
"Iya nggak apa-apa, Tante, lagian waktu itu Michelle juga ke toko buku sendiri kan?"
"Iya, Michelle, tapi sekarang udah malam. Gimana kalau diantar Alvin?"
"Ah, nggak--"
"Alvin... Alvin?"
Michelle kembali menutup mulutnya karena Rita sudah memanggil Alvin, rasanya tidak enak harus merepotkan cowok itu.
"Iya, Ma?"
Michelle dan Rita mendongak saat suara berat itu terdengar, Alvin berdiri di dekat pembatas lantai dua. Michelle bisa melihat sorot malas di mata Alvin begitu melihat ada Michelle di bawah.
"Turun dulu, Mama mau minta tolong."
Michelle ingin mencegah Rita, tapi wanita itu malah tersenyum dan mengangguk. Sekarang Michelle jadi khawatir Alvin mengira kalau ia yang meminta Rita agar melakukannya.
"Ada apa, Ma?"
"Kamu lagi ngapain?" tanya Rita.
"Baru selesai ngerjain tugas."
"Pas banget!" Rita tersenyum. "Kamu antar Michelle ke toko buku gih, kasihan malem-malem masa harus pergi sendiri."
Alvin melirik Michelle sekilas, membuat cewek itu menunduk, menunggu Alvin mengucapkan kalimat penolakan yang bisa saja diimbuhi dengan kalimat sindiran yang tentu saja ditujukan pada Michelle.
"Iya, Alvin ganti baju dulu."
Michelle langsung mengangkat wajahnya, Alvin sudah berjalan menaiki anak tangga menuju kamar di lantai dua. Michelle mengerjap, menatap tidak percaya kepergian cowok itu.
"Tuh kan mau, kamu tunggu aja ya?" ujar Rita.
Michelle mengangguk pelan dengan senyum tipis, ada rasa bahagia di dalam hatinya karena Alvin langsung menyetujui permintaan Rita tanpa ada pertanyaan lain. Tapi tidak bisa dipungkiri juga ada rasa khawatir, bagaimana jika Alvin meninggalkannya nanti di toko buku? Atau bahkan di pinggir jalan?
Ah, tidak. Alvin pasti tidak akan setega itu sampai meninggalkan seorang cewek di pinggir jalan malam-malam seperti ini. Apalagi cewek itu adalah Michelle.
Tapi tidak menutup kemungkinan juga sih, memang Michelle siapa?
...☆☆☆...
"Kak Alvin nggak mau ikut masuk?" tanya Michelle setelah turun dari motor putih Alvin.
Alvin melepas helm fullfacenya, lalu menggeleng tanpa menjawab. Cowok itu masih duduk di atas motor, malah mengeluarkan ponsel dan memainkannya.
Michelle menghela napas. "Oke," lalu berbalik badan menjauhi Alvin sambil menggerutu.
Tin! Tin!
"Woi! Jalan lihat-lihat dong!"
Michelle mengerjap dua kali saat menyadari ia hampir saja terserempet motor yang baru memasuki area tempat parkir ini, ia mundur beberapa langkah sambil memegangi dadanya.
"Bisa nggak sehari aja nggak bikin masalah?"
Belum sempat keterkejutannya reda, kini ia kembali dikejutkan dengan suara berat yang tiba-tiba terdengar di belakangnya. Langkah Michelle langsung terhenti begitu merasa menginjak sesuatu.
Michelle berbalik, mendapati Alvin sedang menatapnya datar. Cewek itu menunduk takut-takut.
"Iya, Kak, aku--"
"Ayo."
Untuk kesekian kali di hari ini, jantung Michelle diberi kejutan oleh hal-hal tak terduga. Salah satunya adalah sekarang, Alvin meraih lengannya dan menggandeng cewek itu meninggalkan area parkir. Bahkan tangan Alvin masih belum melepaskan lengan Michelle selama mereka menyusuri mall menuju toko buku.
"Alvin?"
Alvin yang sedang bersandar di salah satu rak buku sambil memainkan ponsel langsung menoleh saat mendengar sebuah suara menyerukan namanya, sosok cewek bersurai cokelat yang dikuncir kuda tampak terkejut seolah tak menyangka kalau cowok yang ia sapa adalah orang yang benar.
"Lo ngapain di sini? Nganterin Nara?" tanya cewek itu sambil celingukan.
Alvin menggeleng. "Lo sama siapa? Sendiri?"
Cewek itu juga menggeleng. "Gue sam—"
"Ra, udah belom— eh, Alvin?"
Perhatian Alvin teralih pada cowok yang berjalan mendekat dari arah belakang cewek itu, sekarang ia tahu dengan siapa cewek itu datang.
"Sama Bintang?" tanya Alvin.
Kayla Syah Putri. Cewek bersurai cokelat itu mengangguk malas. Alvin tahu kalau cewek yang akrab disapa Kayla itu adalah sepupu Bintang, dulu mereka sempat terjebak salah paham dengan salah satu orang terdekat Alvin.
"Emang siapa lagi kalau bukan sama gue?" tanya cowok bernama Bintang itu. "Lo main di tempat kayak gini juga? Sama siapa?"
"Kak Alvin, udah dapat nih— eh?"
Atensi tiga remaja itu teralih saat Michelle datang dengan tiga buku tebal di tangannya, cewek itu tampak terkejut melihat Alvin sedang mengobrol dengan cewek dan cowok yang mungkin adalah teman sekolahnya.
"Udah?" tanya Alvin, Michelle mengangguk pelan.
Perhatian Michelle teralih pada cewek yang berdiri di depan Alvin, keningnya sedikit berkerut merasa tidak asing dengan cewek bersurai cokelat itu.
"Pacar lo? Kok nggak mirip sama yang di lockscreen waktu itu? Udah ganti?"
"Bintang!" Kayla melotot menegur Bintang yang terlalu lancang bertanya tentang privasi orang.
"Sepupu gue," jawab Alvin, membuat Michelle langsung menoleh terkejut, tidak menyangka dengan jawaban cowok itu.
"Sorry, gue nggak tau," ujar Bintang tidak enak.
"Gue harap kejadian gue yang dulu nggak bakal terjadi sama lo dan Nara, ya?" ujar Kayla dengan nada sedikit bercanda, tapi Alvin bisa melihat sorot mata cokelat cewek itu meredup.
Alvin tahu sampai sekarang Kayla belum bisa melupakan hal-hal yang telah berlalu, apalagi sosok yang sampai sekarang juga masih membuat Alvin tidak percaya kalau 'dia' sudah tiada.
Alvin tidak terlalu mengenal Kayla, ia hanya sekedar tahu karena kabarnya Kayla dekat dengan salah satu rekan tim futsalnya. Kayla juga pernah menjadi pendamping kelas Alvin saat berlatih paduan suara untuk perpisahan kelas XII.
Selain itu, Alvin juga pernah mendapat amanah dari seseorang untuk memastikan tidak ada yang menganggu Kayla selama orang itu tidak bisa menjaga Kayla dari dekat.
Singkatnya, Alvin pernah mendapat kepercayaan untuk menjaga Kayla, itu yang membuat mereka sekarang kenal lebih dekat walau beda kelas.
"Kay, udah jam segini nih, gue ada tugas yang belum kelar," ujar Bintang sambil melirik jam tangannya. "Bro, jangan lupa besok ada kumpul di markas pulang sekolah," tambah cowok itu sambil melakukan tos dengan Alvin.
Alvin kenal Bintang saat mereka dipertemukan di sebuah even sparing futsal antar sekolah, dan sekarang mereka berada di geng yang sama. Salah satu perkumpulan besar di Jakarta yang dikenal dengan nama Ironclad.
"Kak Alvin?"
"Ayo pulang kalau udah selesai." Alvin berlalu begitu saja meninggalkan Michelle yang hanya bisa diam, menatap punggung cowok itu yang semakin menjauh.
Michelle tersenyum miris. Bagaimana Michelle bisa merebut perhatian Alvin kalau cowok itu bahkan tidak mau menoleh atau sekedar melirik keberadaannya?