Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Sang Tuan Pemaksa dan Kurungan Emas
Baskara menatap surat cerai itu, lalu beralih menatap wajah Kinanti. Bukannya melunak, ego dan sifat dominan seorang Baskara Dirgantara yang terbiasa menguasai segala hal justru mendidih hingga ke puncaknya. Sang tuan pemaksa menolak untuk kalah.
Dengan gerakan kasar dan penuh keputusasaan yang gelap, Baskara menyambar kertas surat cerai itu, lalu merobek-robeknya menjadi serpihan kecil di udara sebelum melemparkannya ke lantai.
Sret! Sret!
"Sampai mati pun aku tidak akan pernah menandatangani surat cerai ini!" teriak Baskara, suaranya meledak menggelegar memenuhi seluruh sudut ruangan, mengalahkan suara gemuruh petir di luar.
Pria tegap itu melangkah lebar, memangkas jarak hingga berdiri tepat di depan Kinanti. Aura intimidasi dari tubuh besarnya terpancar kuat, menatap Kinanti dengan sepasang mata elang yang berkilat merah penuh amarah dan kegelapan.
"Kau pikir kau bisa berjalan keluar dari rumah ini begitu saja, Kinanti?!" ancam Baskara dengan suara rendah yang amat sangat berbahaya, menunjuk wajah istrinya dengan telunjuk yang gemetar. "Dengarkan aku baik-baik. Sekali saja kaki mudamu itu melangkah melewati pintu depan rumah keluarga Dirgantara ini... aku bersumpah akan membuat kekacauan yang jauh lebih parah di desamu!"
Kinanti tersentak pelan. Matanya membelalak, menatap suaminya tak percaya.
"Aku bisa mencabut seluruh investasi pabrik beras di sana besok pagi!" lanjut Baskara tanpa ampun, egonya menguasai akal sehatnya. "Aku bisa memutus jalur distribusi gabah seluruh petani desa, membeli tanah orang tuamu secara paksa melalui hukum, dan membuat hidup ayah serta ibumu di kampung tidak akan pernah tenang seumur hidup mereka! Cobalah kalau kau berani melangkah, Kinanti! Uji seberapa jauh kekuasaan Baskara Dirgantara!"
"Baskara! Cukup! Kau sudah gila!" bentak Juragan Ramli dari atas sofa, berdiri sembari memukulkan tongkat kayunya ke lantai dengan murka. "Kau mengancam istrimu sendiri yang sedang mengandung anakmu?!"
"Diam," potong Baskara tanpa menoleh pada ayahnya sendiri. Matanya tetap terkunci rapat pada Kinanti. "Ini urusan rumah tanggaku! Tidak ada seorang pun di rumah ini yang boleh membawa Kinanti pergi. Dia istriku, dan dia akan tetap berada di rumah ini di bawah pengawasanku!"
Natasha memegang lengan Kinanti, tubuh remaja itu gemetar melihat kejelasan sifat protektif papanya yang sudah berubah menjadi obsesi gila.
Kinanti berdiri terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, dan napasnya tertahan di dada. Ancaman Baskara bukanlah gertakan sambal. Kinanti tahu betul betapa besarnya kekuasaan dan pengaruh hukum yang dimiliki oleh suaminya. Jika dia nekad melarikan diri malam ini, ayah dan ibunya di desa yang polos serta seluruh tetangganya yang menggantungkan hidup dari pabrik beras akan menjadi korban dari kemurkaan Baskara.
Perut buncitnya terasa sedikit tegang akibat guncangan emosi. Namun, bukannya histeris atau menangis meraung-raung di depan pria egois itu, Kinanti menarik napas panjang secara perlahan. Dia memejamkan matanya sejenak, menenangkan detak jantungnya demi keselamatan janinnya.
Ketika Kinanti kembali membuka matanya, tidak ada lagi kilat ketakutan di sana. Yang tersisa hanyalah tatapan yang teramat sangat dingin, hampa, dan datar sebuah benteng pertahanan tak tertembus yang sengaja dia bangun untuk melindungi dirinya.
Kinanti memegang tangan Natasha, memberi isyarat pelan agar anak tirinya itu tenang. Lalu, Kinanti menatap lurus ke dalam manik mata Baskara.
"Baik," ucap Kinanti singkat, suaranya begitu datar tanpa emosi, seolah kata-kata ancaman Baskara tadi hanyalah bisikan angin lalu. "Aku tidak akan keluar dari rumah ini malam ini, Mas."
Baskara menahan napasnya, sedikit terkejut dengan kepatuhan dingin yang ditunjukkan istrinya. Pria itu mengira ancamannya berhasil menundukkan Kinanti kembali.
Namun, Baskara tidak tahu bahwa di balik ketenangan luar biasa itu, Kinanti sedang menyusun sebuah rencana yang jauh lebih matang. Kinanti menyadari bahwa melawan seorang pemaksa berkuasa dengan emosi adalah tindakan bodoh. Dia tidak bisa pergi secara gegabah jika ingin melindungi orang-orang yang dia cintai di desa.
Aku tidak boleh gegabah, bisik Kinanti di dalam batin hatinya, jemarinya mengusap lembut permukaan perutnya yang membuncit di balik selendang. Jika aku pergi sekarang dengan emosi, Mas Baskara akan menghancurkan Ibu dan Bapak di kampung. Aku harus tenang. Aku akan mencari cara... cara yang bersih, rapi, dan tak terbantahkan, agar aku dan anakku bisa keluar dari rumah ini tanpa ada satu pun orang baik yang terluka.
Kinanti mengabaikan koper pakaiannya. Tanpa memandang Baskara lagi, dia berbalik dengan anggun dan melangkah perlahan menaiki anak tangga kembali menuju kamar utama. Dia memilih untuk mengurung diri dalam diam, menjadikan kesabaran dan keheningan sebagai senjatanya untuk mengintai celah kelalaian sang tuan.
Baskara berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang kacau oleh serpihan kertas surat cerai. Meskipun dia berhasil menahan Kinanti secara fisik di dalam rumahnya, ada rasa hampa dan ketakutan yang teramat sangat yang tetap menggerogoti dadanya. Pria itu sadar, dia hanya bisa mengurung tubuh Kinanti, namun jiwa dan cinta istrinya telah lepas sepenuhnya dari genggamannya.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, di dalam unit apartemen mewahnya yang megah, atmosfernya teramat sangat berbeda.
Valerie sedang duduk di depan cermin riasnya yang berbingkai emas, memoleskan lipstik berwarna merah menyala di bibirnya yang tipis. Di atas meja di sampingnya, sebuah gelas kristal berisi wine mahal tampak setengah kosong.
Wanita manipulatif itu baru saja mendapat kabar dari salah satu informannya bahwa foto-foto mesra kirimannya telah sukses besar memicu keributan mematikan di kediaman Dirgantara malam ini. Valerie tertawa renyah, suara tawanya terdengar penuh kemenangan di dalam ruangan yang sepi.
Dia merasa berada di atas angin. Baginya, skenario yang ia rancang berjalan dengan teramat sempurna. Keributan di rumah Dirgantara adalah bukti bahwa benteng rumah tangga Baskara telah runtuh total. Valerie sama sekali tidak peduli pada rasa sakit hati Kinanti, tidak peduli pada janin di dalam kandungan wanita itu, dan tentu saja tidak peduli pada kekacauan yang menimpa Baskara.
Bagi Valerie, moralitas adalah hal konyol. Yang terpenting adalah hasil akhirnya, menyingkirkan gadis desa itu dari takhta Nyonya Besar Dirgantara, dan mengambil alih seluruh kejayaan kekayaan Baskara untuk dirinya sendiri.
Valerie merapikan rambut cokelat bergelombangnya, menyemprotkan parfum mewahnya dengan melimpah, lalu meraih tas genggam berbahan kulit buaya kesayangannya.
"Pasti sangat menyedihkan menjadi gadis desa polos yang sedang menangis di rumah megah itu," gumam Valerie pada pantulan dirinya di cermin, menyunggingkan senyum licik yang teramat tajam. "Kenapa aku harus menunggu Baskara datang ke sini jika aku bisa mendatangi 'sang ratu desa' itu secara langsung besok pagi?"
Matahari pagi terbit di ufuk timur dengan membawa kabut tipis sisa hujan semalam. Hawa dingin masih menusuk tulang, namun atmosfer di dalam kediaman Dirgantara jauh lebih membeku ketimbang cuaca di luar.
Pukul delapan pagi, sebuah mobil sedan mewah berwarna putih berhenti tepat di depan gerbang utama rumah keluarga Dirgantara. Penjaga gerbang yang belum sempat menanyakan identitas dibuat terkejut saat seorang wanita bergaun merah marun dengan kacamata hitam berukuran besar keluar dari mobil dengan percaya diri.
Valerie.
Dengan langkah yang angkuh dan ketukan sepatu hak tingginya yang nyaring memantul di atas lantai marmer lobi bawah, Valerie melangkah masuk tanpa diundang. Dia memoles wajahnya dengan riasan sempurna, menyemprotkan aroma parfum mewahnya yang menyengat, bersiap untuk menyaksikan kejatuhan sang "gadis desa" dan menikmati hasil kemenangannya.
Di ruang tamu bawah, Bi Asih yang sedang menyapu lantai seketika terpaku melihat kedatangan wanita asing itu. "Maaf, Nona mencari siapa? Pak Baskara sedang tidak ada di rumah, beliau sedang ke kantor pusat—"
"Aku tidak mencari Baskara," potong Valerie tajam, melipat kedua tangannya di dada sembari melirik sekeliling interior rumah mewah itu dengan tatapan menilai. "Panggilkan wanita desa yang menjadi istrinya itu turun. Katakan padanya, calon pemilik baru rumah ini ingin bicara."
Bi Asih gemetar hebat, panik dan hendak berlari ke atas untuk memberitahu Pengacara Ikhsan atau Juragan Ramli. Namun sebelum Bi Asih sempat melangkah, sebuah suara yang teramat sangat tenang memecah ketegangan di ruangan itu.
"Tidak usah panik, Bi Asih. Biarkan tamu tak diundang ini bicara padaku."
Di puncak tangga lantai dua, Kinanti berdiri dengan anggun. Dia mengenakan terusan hamil katun berwarna biru muda yang segar, rambut panjangnya diikat rapi, dan wajahnya memancarkan kebersihan serta ketenangan yang teramat jujur. Tidak ada jejak air mata, tidak ada raut ketakutan, dan tidak ada kelemahan.
Kinanti melangkah menuruni anak tangga satu per satu dengan gerakan yang amat sangat stabil, memegang perutnya yang membuncit dengan lembut. Setiap langkahnya memancarkan wibawa alami seorang nyonya rumah yang tak terkoyak oleh gertakan murah.
Valerie menyunggingkan senyum ejekan, melepas kacamata hitamnya dan menatap Kinanti dari atas ke bawah. "Wah... jadi ini gadis desa yang beruntung itu? Kasihan sekali... harus mempertahankan pernikahan yang sudah bangkrut hanya demi fasilitas kemewahan."
Kinanti berhenti di anak tangga terakhir, berdiri sejajar beberapa meter dari Valerie. Sepasang mata jernih Kinanti menatap lurus ke dalam mata Valerie yang penuh kedengkian. Tidak ada sejengkal pun aura minder di dalam diri Kinanti.
"Nona Valerie, bukan?" sahut Kinanti, suaranya tenang, halus, namun mengandung ketegasan yang mematikan. "Seharusnya aku yang merasa kasihan padamu. Seorang wanita kota yang berpendidikan, tapi harus mengemis perhatian dari pria beristri dengan cara mendatangi rumah mewahnya di pagi hari seperti ini."
Wajah Valerie seketika berubah agak pucat, tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan yang begitu telak dari wanita yang dia kira polos dan mudah ditindas.
"Kau tidak usah berlagak sombong, Kinanti!" desis Valerie, melangkah satu titik lebih dekat sembari memamerkan pergelangan tangan kirinya yang melingkar gelang emas putih bermata berlian. "Baskara membelikan ini untukku! Dia menghabiskan waktunya setiap sore denganku di apartemen! Dia tidak pernah mencintaimu, dia hanya kasihan padamu dan anak dalam kandunganmu itu,Lebih baik kau sadar diri dan pergi dari rumah ini sebelum aku membongkar seluruh kebohongan suamimu lebih jauh.
Kinanti menatap gelang berlian di tangan Valerie, lalu tertawa kecil sebuah tawa tipis yang begitu dingin dan elegan, membuat bulu kuduk Valerie justru berdiri.
"Ambillah gelang itu, Nona. Ambillah juga sisa-sisa waktu dari pria yang sudah kehilangan kehormatannya itu," balas Kinanti datar, tatapannya menyapu wajah Valerie dengan rasa iba yang nyata. "Jika kau pikir foto-foto murahmu di apartemen itu bisa menghancurkan harga diriku, kau salah besar. Foto-foto itu justru menjadi bukti betapa rendahnya cara yang kau pakai untuk mendapatkan potongan uang dari keluarga Dirgantara."
Kinanti mengambil satu langkah maju, membuat Valerie secara refleks terdorong mundur satu langkah karena terkecoh oleh intimidasi dingin Kinanti.
"Mas Baskara mungkin mengurungku di rumah ini dengan ancamannya pada desaku," lanjut Kinanti dengan nada suara berbisik namun tajam bagai sembilu. "Tapi ingat satu hal, Nona Valerie... di rumah ini, aku adalah istri sah yang dilindungi hukum dan norma. Sedangkan kau? Kau hanyalah benalu masa lalu yang sewaktu-waktu bisa disapu bersih jika aku memutuskan untuk membuka suara ke publik. Jadi, sebelum Pengacara Ikhsan dan polisi datang menyeretmu keluar dari pintu ini... sebaiknya kau angkat kakimu dari rumahku."
Valerie terpaku, napasnya memburu oleh rasa malu dan amarah yang meledak di dalam dadanya. Dia yang niat awalnya ingin mempermalukan dan menakut-nakuti Kinanti, justru dibuat berdiri kaku bagai pecundang yang ditelanjangi di tengah ruang tamu.