Ini cerita antara Nick, Moza, dan sebuah kesepakatan.
Kesepakatan yang lahir di antara mereka mengikat satu sama lain. Moza dengan sakitnya jika menjauhi Nick secara sengaja dan tidak mau membantunya, juga dengan Nick yang memberi syarat pada Moza isinya:
Saat kau sedang membantuku, kau tidak boleh jatuh cinta.
Siapa sangka, kesepakatan tersebut membuat hidup Moza--
Nyok, kita baca saja cerita ini biar tahu hidup Moza berakhir menangis di atas kebahagiaan atau tertawa pilu di atas kesedihan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan terakhir Nick
"Makanlah nak, perutmu belum menyentuh makanan sama sekali."
Aurora diam. Matanya memandang paman dan bibi Moza sebentar, kemudian beralih mengambil piring makanan di tangan bibi. Ia mendekatkan piring itu ke perutnya hingga menempel. Habis itu tidak di makan dan mengembalikan ke tempat semula.
"Kenapa tidak makan nak?" bibi keheranan, begitu juga dengan paman.
"Katanya perutku belum menyentuh makanan, sekarang kan sudah ku lakukan jadi berhentilah mengoceh! pergilah, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk pelayan seperti kalian. Aku tidak mau di ganggu!"
Braaaak!!!
Bibi menggebrak meja. Aurora maupun paman sangat terkejut. Namun detik berikutnya paman segera merangkul istrinya, mengusap-usap punggung sang istri yang beberapa waktu merasa lelah menghadapi Aurora.
Paman ambil alih bicara.
"Moza, kami tidak mengerti apa yang sedang terjadi padamu. Selama ini kau anak yang baik, mandiri, dan tidak pernah kasar terhadap orang yang lebih tua. Tapi sekarang kau bukan seperti Moza kebanggaan kami yang dulu, kami sungguh tidak mengenalmu!"
"Moza, Moza, Moza terus yang di bicarakan. Aku tidak mengenalnya dan aku bukan dia. Aku Aurora, harus berapa kali aku bilang aku ini tuan putri tercantik di negeri Alga. Lihatlah wajahku ini, apakah aku setara dengan kalian?!"
Bibi mengurut dada, paman menghela nafas. Dengan tatapan tajam bibi seraya mendekat, kemudian dengan sengaja mengguyurkan segelas coklat hangat yang sudah hilang kehangatannya.
"Oh maaf tuan putri, bibi--- sengaja." Senyum tipis keluar lalu kembali berujar, " sebaiknya kau mandi agar tidak setara dengan--"
"Aaaa ayah...!!!" Aurora merengek sambil terus mengibas bajunya yang basah. Gadis terus mengeluarkan kata tidak enak di dengar, dan mencoba tak mengindahkan seruan bibi untuk segera mandi.
Bukannya tertolong dengan kata menyedihkan yang keluar dari mulutnya, Ia malah di tinggalkan oleh paman dan bibi dalam keadaan berantakan.
"Apa kau baik-baik saja bersikap demikian pada Moza?" paman khawatir istrinya kehilangan kelembutan lalu menjelma menjadi orang yang jahat.
"Jujur aku shock dengan perubahan Moza yang kontras. Tetapi apa yang baru saja aku lakukan hanya bentuk rasa sayangku pada Moza. Tenanglah, dalam hitungan tidak jauh dari lima menit dia akan membutuhkan kita. Mari kita menikmati teh bersama-sama dan duduk tidak jauh-jauh dari depan pintu kamar anak ini."
"Baiklah aku ikuti caramu."
Ceklek.
"Hei, bisakah--" tidak harus menunggu lima menit, Aurora telah menunjukan dirinya makhluk sosial yang membutuhkan pertolongan orang lain.
"Tidak ada nama 'hei' di rumah ini." Bibi menyalak cepat.
"Ehmm, bisakah bantu aku--"
"Juga tidak ada nama 'ehmm' di rumah ini." Paman menimpali mengikuti cara bicara istrinya. Kompak dalam satu tujuan terasa menyenangkan, begitulah kira-kira isi pikiran paman dan bibi. Karena segala sesuatu, berat atau tidaknya tergantung bagaimana menjalankannya.
"PAMAN, BIBI BISAKAH KALIAN MEMBANTUKU?"
Tetapi paman dan bibi masih geming di tempat, melempar death glare kepada Aurora.
Ck, aku salah apalagi?
"Nada bicaramu masih terlalu tinggi, tidak bagus untuk kesehatan telinga kami."
Aurora menarik nafas lalu membuangnya kasar. Berada di jaman Moza sebentar saja Aurora jadi rajin menarik nafas lalu membuangnya ugal-ugalan.
"Paman, bibi, bisakah kalian membantuku untuk menyiapkan kebutuhan mandiku?" lembut sekali, serupa pembawaan putri keraton.
"Lebih tepatnya, kami hanya menunjukkan dimana kau mandi. Sisanya kau lah sendiri yang harus melakukan. Mengerti?"
Apa?! baru kali ini aku di tindas pelayan. Selain pangeran Rexton, tidak ada lagi yang berani menindasku. Ayaaaaaah... "
Sementara itu, di atas tangga ada Nick berdecak memperhatikan situasi yang terjadi. Dia gunakan kesempatan terakhirnya melakukan perjalanan astral untuk memeriksa tubuh Moza.
Pantas saja Moza tidak bisa kembali, rupanya Aurora sudah memasuki tubuh menantunya. Iya menantu, tidak usah heran. Sebelum Nick berangkat ke jaman ini, Moza dan Hugo terlebih dulu melangsungkan pernikahan. Ingat kan waktu Hugo bilang tidak mau besok maunya nikah sekarang? detik itu juga seluruh orang istana kocar-kacir mempersiapkan pernikahan.
Melihat kenyataan di jaman Moza seperti ini, Nick sang kaisar Alga yang masa kekaisarannya akan berakhir karena masa periode telah habis, jadi kepikiran beberapa hal. Tentang Oris yang pastinya akan senang jika tahu Aurora masih hidup. Tentang surat Moza yang ia bawa untuk paman dan bibi akankah membuat situasi menjadi lebih rumit? juga tentang reaksi keluarga Moza atas pernikahan gadis itu yang otomatis akan menetap di jaman kuno.
Bolehkah Nick egois untuk menutupi segala-galanya dari orang yang seharusnya berhak tahu? oh tentu saja tidak. Gitu-gitu Nick tidak sepicik seperti apa yang orang tuduhkan padanya. Nick akan kokoh pada tujuan utama. Diawali dari..
"Saatnya aku memunculkan diri di hadapan paman dan bibinya Moza." Nick melirik gulungan surat milik Moza dengan tatapan nanar. Tidak ada waktu lagi untuk dirinya merisaukan hasil akhir. Karena akhir dari cerita ini tetap ada di tangan Zenun, bukan di tangan dia.
.
.
.
Bersambung.
Ngintip eps nyang akan datang,
"Sshh, hngg, bernafaslah dengan benar sayang."
"Baiklah, hngg.."
moza dan aurora mendapatka jodohnya..
aahh aku padamu thorr🫰