Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi tanpa pamit
Jam menunjukkan pukul sembilan malam.
Rumah itu masih terang. Dari balik pintu kamar, Halimah bisa mendengar suara tawa. Tawa yang dulu biasa ia dengar setiap kali berhasil membuat masakan kesukaan Rangga.Tapi malam ini, tawa itu bukan untuknya.
Dengan langkah pelan, Halimah membuka pintu kamar, mengintip dari lorong. Ruang makan masih ramai. Di kepala meja, Rangga duduk sambil menyuapi Santi. Di sebelahnya, Bu Ramlah meniup makanan yang masih panas untuk calon menantu barunya itu.
"Tiup dulu, Sayang. Nanti panas," ucap Rangga lembut. Jarinya bahkan menyeka sisa nasi di bibir Santi.
Halimah berdiri di ambang pintu kamarnya. Tidak ada yang menoleh, tidak ada yang peduli padanya.
"Mas..." panggil Halimah pelan.
Rangga menoleh sekilas. Tatapannya datar.
"Oh, kamu. Masuk aja ke kamar. Di sini udah ada yang ngurus, kok."
Rangga bahkan tidak menyebut namanya. Hanya sebutan 'kamu'. Padahal, selama ini Rangga memanggilnya dengan namanya, Halimah, sayangku. Kini, panggilan itu telah hilang berganti pada pemilik yang baru.
Dada Halimah sesak. Lima tahun. Lima tahun ia menjadi pengurus di rumah ini. Dan malam ini, Rangga mengatakan sudah ada yang mengurus selain dirinya.
"Eh Santi, nanti rencananya kalian mau punya anak berapa?" tanya Rengganis dengan suara lantang seakan sengaja supaya di dengar oleh Halimah.
"Berapa ya, Mas?" ucap Santi meminta pendapat Rangga.
Rangga tersenyum malu-malu, "Aduh membayangkan punya anak saja sudah membuatku bahagia."
Deg!
Kalimat itu, bagai anak panah yang dilepas tepat ke ulu hati Halimah. Namun, ia masih di sana, masih melihat ke arah dapur, menatap wajah ceria suaminya yang sudah tidak pernah ia lihat bertahun-tahun.
"Bagaimana kalau dua cewek, dua cowok. Atau kalau bisa, kembar cewek cowok. Pasti menggemaskan." tuturnya semangat.
Santi yang merona sekarang. Wajahnya sangat merah, bahkan sampai ke telinganya ikut merah.
"Hayo, Santi mikir apa?!" goda Rengganis dengan memukul pelan bahu Santi.
"Nanti kalian jangan menunda punya anak, ya. Mama sudah gak sabar mau momong cucu. Udah nunggu bertahun-tahun loh, Mama," Ujar Bu Ramlah lantang, ujung matanya melirik ke arah Halimah.
Wanita tua itu sengaja memanas-manasi Halimah.
Setelah menyaksikan sendiri bagaimana Rangga mengabaikannya dan bagaimana mertua dan iparnya meremehkannya, menerima payung Rita adalah pilihan yang sangat tepat.
Tanpa sepatah kata lagi, Halimah berbalik, kembali masuk ke kamar yang dulu pernah jadi kamarnya.
Kamar itu terasa sunyi. Halimah bahkan tidak lagi bisa membayangkan hari-hari lalu saat bersama suaminya di kamar ini. Dalam waktu singkat ingatan itu menghilang tanpa pamit.
Mata Halimah menarik laci meja kecil di samping tempat tidur. Ia mengeluarkan kertas yang dilipatnya kemarin, kertas itu tidak lecek, hanya meninggalkan garis bekas lipatan rapi.
Tangan Halimah gemetar saat mengambil pulpen. Tinta hitam itu perlahan menukik mengisi setiap kolom yang kosong, hingga terakhir ia harus mengukir tanda tangannya di atas surat Gugatan Perceraian.
Setiap huruf terasa seperti mencabik dadanya sendiri. Tapi ia tetap menandatangani, sampai selesai.
Setelah itu ia membuka lemari. Hanya mengambil beberapa helai baju. Dua gamis, tiga kerudung, baju ganti dan mukenanya.
Dari bawah kasur, ia mengeluarkan kotak kecil. Tabungannya. Halimah diam-diam menyisihkan sedikit demi sedikit sisa belanja. Selama setahun terakhir, rupanya ia hanya bisa mengumpulkan empat ratus empat puluh delapan ribu rupiah.
"Ya Allah, hanya ini yang aku punya," bisiknya.
Jam satu dini hari. Rumah itu sudah gelap dan sunyi. Hanya suara dengkuran pelan dari Rangga yang tidur di sofa depan tv.
Halimah berdiri di depan pintu. Di tangannya ada tas hitam kecil berisi baju dan uang. Di tangan satunya, payung biru pemberian Rita.
"Tidak ada yang menahan untuk pergi," gumamnya.
Sebelum melangkah keluar, Halimah berjongkok tepat di samping Rangga. Ditatapnya lembut wajah lelap itu, wajah yang dulu selalu menyambutnya dengan senyum, wajah yang dulu selalu dirindukannya.
"Mas, terimakasih sudah pernah mengisi hari-hari ku yang sepi. Aku mohon, halalkan makan dan minum ku selama aku menjadi istrimu. Maafkan semua kesalahan dan khilaf ku selama menjadi istri mu. Sekali lagi terimakasih," bisik Halimah sangat pelan sambil menahan tangisannya.
Ia kembali melangkah keluar dari rumah itu. Tidak menoleh. Tidak berpamitan secara langsung. Karena ia tahu, tidak akan ada yang peduli. Justru kepergiannya memang sudah diharapkan oleh penghuni rumah ini.
Hujan masih belum reda, masih deras seperti sore tadi. Halimah membuka payung biru itu, lalu melangkah pergi di bawah derasnya hujan.
Semakin jauh Halimah melangkah, semakin deras hujan yang menimpa. Bahkan saat Halimah sampai di ujung gang komplek perumahan itu, hujan berubah jadi badai. Angin kencang menerpa. Payung birunya hampir patah berkali-kali.
Bajunya basah kuyup dalam hitungan menit. Dingin menusuk sampai ke tulang, "Ya Allah, kemana aku harus pergi..." pikirannya berputar, berharap ada tempat yang bisa dituju untuk sekedar menumpang berteduh sebentar saja menjelang pagi.
Jalanan bahkan sudah kosong, tidak lagi ada kendaraan yang berlalu lalang. Lampu jalan juga sudah mulai redup.
Kepalanya mulai pusing. Pandangannya kabur, hingga membuat langkahnya terhuyung, "Ya Allah..." lirihnya.
Tas kecilnya jatuh ke aspal. Halimah kehabisan tenaga, karena rasa dingin yang bahkan sampai menusuk hingga ke dalam tulangnya.
Di tengah hujan deras, di trotoar yang sepi, tubuh Halimah akhirnya ambruk. Dunia di sekitarnya memudar jadi gelap, "Ibu...aku rindu..." payung biru itu terlepas dari genggamannya, menggelinding terbawa angin.
Di kejauhan, sayup memancar cahaya lampu mobil, lalu beberapa detik kemudian terdengar suara ban yang bergesekan dengan aspal yang licin karena pemiliknya menekan rem mendadak.
Bersambung...