Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh di Ujung Dermaga
Suara deburan ombak yang menghantam tiang-tiang kayu dermaga terdengar makin buas, seirama dengan detak jantung Maya yang berpacu cepat. Di balik punggung kokoh Kian, Maya bisa merasakan ketegangan luar biasa dari tubuh suaminya. Baju mereka yang basah kuyup tersapu angin laut yang dingin, namun atmosfer di sekitar mereka mendadak membakar.
Moncong pistol hitam itu berkilat di bawah sorotan lampu tembak. Rendra berdiri di tengah kepungan empat orang pria berbadan tegap, memegang remot lampu dengan senyuman iblis yang menari-nari di bibirnya.
"Menyerahlah, Kian," gertak Rendra, suaranya mengalahkan deru hujan. "Kirim pesan ke tim hukummu sekarang untuk membatalkan semua laporan ke otoritas keuangan. Kembalikan seluruh dokumen Vanguard, atau istri tercintamu ini tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi!"
Kian tidak bergeming. Matanya menyipit, menghitung jarak dan sudut gerak lawan dalam hitungan detik. Sebagai mantan atlet bela diri yang pernah menjuarai kejuaraan semasa kuliah, naluri bertaruhnya yang tertidur bertahun-tahun kini terbangun sepenuhnya.
"Maya..." bisik Kian sangat pelan, hampir tak terdengar oleh siapa pun kecuali Maya yang berada tepat di belakangnya. "...begitu Mas bilang sekarang, kamu lari ke balik kontainer sebelah kanan. Mengerti?"
"Mas, aku tidak mau tinggalkan kamu!" bisik Maya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Percaya sama Mas," Kian mengeratkan genggaman tangannya di jemari Maya untuk sekejap. "Kelas privat kita belum selesai, Bu Guru."
Belum sempat Rendra menyadari pergerakan mereka, Kian tiba-tiba membungkuk, meraih sekop besi bekas yang tergeletak di genangan lumpur dekat kakinya, dan melemparkannya dengan sekuat tenaga lurus ke arah lampu tembak utama!
PRANG!
Kegelapan gulita langsung menyergap area dermaga saat kaca lampu tembak itu hancur berkeping-keping.
"SEKARANG, MAYA!" teriak Kian menggelegar.
Maya bergerak kilat, melompat ke belakang peti kemas tua sesuai instruksi Kian. Pada saat yang sama, suara tembakan pecah membelah malam!
DAR!
Percikan api memantul di dinding besi kontainer. Kian memanfaatkan detik-detik kebingungan musuh dalam kegelapan. Ia melesat menerjang pria memegang pistol. Dengan gerakan memutar yang cepat dan presisi, Kian menghantam pergelangan tangan pria itu hingga pistol terlempar jatuh ke laut. Bunyi pluk terdengar saat senjata itu tenggelam di air kelam.
BUG! BUK!
Suara pukulan mentah dan rintihan kesakitan bergema di dermaga. Kian bertarung bagai kesetanan. Dua orang anak buah Rendra tumbang dalam hitungan detik terkena serangan jarak dekat Kian yang telak di rahang dan pendaratan tendangan keras di dada.
Namun, kegelapan adalah pisau bermata dua. Anak buah ketiga memanfaatkan celah dari samping, menghantamkan balok kayu tebal tepat ke punggung Kian!
KRAK!
"ARGH!" Kian tersungkur ke atas tanah basah. Rasa sakit membakar tulang belakangnya, membuat pandangannya sempat berkunang-kunang.
Dari balik peti kemas, Maya menjerit histeris. "MAS KIAN!"
Rendra tertawa memotong kegelapan. Ia mengambil alih balok kayu dari tangan anak buahnya dan melangkah mendekati Kian yang mencoba bangkit dengan bertumpu pada kedua tangannya yang gemetaran dan berdarah.
"Selesai sudah riwayatmu, Kian !" teriak Rendra seraya mengangkat balok kayu itu tinggi-tinggi, mengarahkannya tepat ke kepala Kian.
Di detik-detik yang sangat krusial itu, Maya tidak tinggal diam. Keberanian seorang istri yang melihat nyawa suaminya terancam melenyapkan seluruh rasa takutnya. Maya meraba tanah, menemukan sebuah pipa besi tua yang lumayan berat, dan berlari keluar dari persembunyiannya dengan jeritan meledak!
"JANGANKAN SENTUH SUAMIKU!"
TAK! BUK!
Maya mengayunkan pipa besi itu sekuat tenaga tepat ke lutut Rendra!
"AAARGH!" Rendra menjerit kesakitan saat tempurung lututnya terhantam keras. Balok kayu di tangannya terlepas, dan Rendra jatuh terjerembap ke lumpur sambil memegangi kakinya yang patah.
Anak buah terakhir yang tersisa kaget melihat tuannya roboh. Sebelum ia sempat bereaksi terhadap Maya, Kian yang mengumpulkan sisa kekuatan terakhirnya melompat dari tanah. Kian mencengkeram leher pria itu dari belakang dan menghantamkan kepalanya ke dinding besi kontainer hingga pria itu terkulai lemas tak sadarkan diri.
Suasana dermaga mendadak hening, hanya diselimuti suara deru hujan dan napas Kian serta Maya yang memburu.
Di tengah kegelapan, Rendra merayap di atas tanah, merintih kesakitan sambil mencoba meraih ponselnya yang terjatuh. Namun, sebuah sepatu pantofel basah menekan punggung tangannya dengan keras.
Kian berdiri di atas Rendra. Wajah Kian berlumuran lumpur dan darah dari lukanya, namun matanya memancarkan aura dominasi yang absolut.
WUUUSH... WUUUSH...
Siren polisi dan raungan mesin helikopter tiba-tiba membelah angkasa malam. Sorotan lampu helikopter dari atas menyinari seluruh area dermaga, memperlihatkan puluhan mobil polisi yang memblokir semua jalan keluar.
Dion Alfajri Pratama, ibu kian bersama tim kepolisian dan Hani serta Dika keluar dari mobil patroli terdepan dengan senjata terkokang.
"Jangan bergerak! Kepolisian Jakarta Utara! Area ini sudah dikepung!" teriak komandan polisi melalui pengeras suara.
Rendra terkulai lemas di atas lumpur. Rencananya runtuh total. Ia menatap Kian dengan mata penuh ketakutan dan keputusasaan.
Kian menyapu darah dari sudut bibirnya, lalu berbalik membelakangi Rendra. Ia melangkah pincang mendekati Maya yang berdiri gemetar sambil menggenggam pipa besi.
Pipa besi di tangan Maya terjatuh ke tanah. Tanpa memedulikan polisi yang berkumpul atau guyuran hujan yang masih menyapu, Maya berhamburan ke dalam pelukan Kian. Kian merengkuh tubuh istrinya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di leher Maya yang hangat.
"Kita berhasil, Sayang..." bisik Kian dengan suara parau dan sarat akan lega yang amat sangat. "Ujiannya... sudah selesai."
Maya menangis sesenggukan di dada Kian, mengecup pipi dan rahang suaminya yang ternoda darah. Malam yang kelam dan penuh teror di dermaga itu akhirnya berakhir, meninggalkan dua jiwa yang saling menyatu dalam ikatan cinta yang tak tergoyahkan oleh mara bahaya apa pun.