Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Yang Terbayar Tuntas
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama, membiaskan cahaya keemasan di atas ranjang megah.
Tubuh Kirana mulai bergerak perlahan. Kelopak matanya bergetar halus sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Rasa pegal dan lelah menyergap seluruh tubuhnya, namun rasa panas yang membakar semalam sudah sepenuhnya sirna, berganti dengan kehangatan yang begitu nyaman.
Saat Kirana mencoba menggeliat, ia merasakan sebuah lengan kokoh yang melingkar erat namun protektif di pinggangnya.
Kirana menoleh pelan dan menemukan wajah Devan yang berada sangat dekat darinya. Pria itu masih tertidur pulas dengan napas teratur. Tanpa balutan pakaian di tubuh atasnya, selimut tebal itu membungkus mereka berdua, menjaga kehangatan di antara dua insan yang kini telah menyatu sepenuhnya.
Memori tentang kejadian semalam mendadak berputar kembali di benak Kirana. Pipinya seketika merona merah padam. Di satu sisi, ia merasa lega karena Devan datang tepat waktu menyelamatkannya dari niat jahat Siska. Di sisi lain, kepasrahan dan malam pertama yang baru saja mereka lalui membuat dadanya bergemuruh hebat oleh rasa malu bercampur haru.
Kirana menatap garis wajah Devan yang tegas namun tampak begitu tenang saat tidur. Rasa canggung yang semalam menguasainya perlahan luluh, berganti dengan rasa percaya dan kasih sayang yang mendalam pada suami yang selalu melindunginya itu.
Dengan perlahan dan hati-hati agar tidak membangunkan Devan, Kirana menggerakkan jemarinya, mengusap lembut helai rambut hitam suaminya yang jatuh di dahi.
Namun, gerakan kecil itu rupanya cukup untuk mengusik tidur lelap Devan. Eratan lengan Devan di pinggang Kirana mendadak mengencang, menarik tubuh wanita itu makin rapat ke dadanya yang bidang.
"Sudah bangun, Istriku?" bisik Devan dengan suara berat khas bangun tidur, matanya perlahan terbuka dan langsung menatap lurus ke dalam manik mata Kirana dengan binar penuh kehangatan.
Mendengar suara berat Devan yang sarat akan kehangatan, jantung Kirana berdegup keping-keping. Pipinya yang sudah merona kini kian merah padam. Kirana menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devan yang hangat untuk menutupi rasa malunya.
Devan mengusap lembut punggung polos istrinya di balik selimut tebal, lalu mengecup puncak kepala Kirana dengan penuh penyesalan yang tulus.
"Maaf ya... tadi malam aku mengingkari janji kita," ucap Devan pelan, suaranya terdengar begitu lembut tepat di telinga Kirana. "Aku sudah berjanji tidak akan menyentuhmu sebelum kau siap, tapi situasi semalam..."
Kirana mendongak perlahan, menatap lurus ke dalam manik mata Devan yang memancarkan rasa bersalah. Ia menggelengkan kepalanya pelan, lalu menyunggingkan senyum manis yang sangat tulus.
"Jangan minta maaf, Devan," bisik Kirana lembut. Jemari lentiknya naik mengusap rahang tegas suaminya. "Kau tidak mengingkari apa pun. Kalau bukan karena dirimu yang datang tepat waktu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku di tangan Siska."
Kirana mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan singkat namun penuh arti di pipi Devan.
"Lagipula... semalam aku memberikan diriku secara sadar padamu. Kau suamiku, Devan. Rasa takut dan canggungku sudah hilang karena aku tahu betapa besarnya rasa sayang dan perlindungan yang kau berikan untukku," lanjut Kirana dengan mata berbinar haru.
Mendengar pengakuan jujur dari bibir Kirana, binar kebahagiaan menyeruak di wajah Devan. Beban bersalah di dadanya seketika menguap tanpa bekas. Pria itu tersenyum lebar—senyuman paling lepas dan bahagia yang pernah ia tunjukkan.
"Terima kasih, Kirana... terima kasih sudah mempercayaiku," bisik Devan seraya makin erat merengkuh Kirana ke dalam pelukannya.
Ia membalikkan posisi tubuh mereka perlahan, menatap sang istri yang kini berada di bawah naungannya dengan tatapan penuh cinta yang membara, menyambut pagi pertama mereka sebagai pasangan suami istri yang utuh.