Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan di Tengah Badai dan Tatapan Seribu Makna
Malam perlahan merangkak naik, membungkus kota Surabaya dengan selimut gelap yang pekat. Rintik hujan gerimis kembali turun membasahi aspal jalanan, menyisakan hawa dingin menusuk tulang yang seolah turut meresapi pori-pori kulit. Namun, dinginnya malam tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa dingin, takut, dan trauma yang masih bergemuruh hebat di dalam dada Nayara Zayna Az-Zahra.
Di dalam kabin mobil sport mewah milik Revan yang melaju membelah jalanan menuju kawasan pesantren, suasana terasa begitu sunyi dan mencekam. Tidak ada alunan musik dari radio; yang terdengar hanyalah deru mesin mobil berkecepatan sedang dan isakan tertahan yang keluar sesekali dari bibir Nayara.
Gadis itu duduk di kursi penumpang depan dengan tubuh meringkuk. Jaket bomber hitam milik Revan masih membalut tubuhnya, menutupi gamis bagian depannya yang sempat robek akibat cengkeraman kasar preman bayaran suruhan Jessica. Namun, rasa syok yang teramat sangat akibat insiden mengerikan di lorong kampus tadi membuat kesadaran Nayara seolah melayang jauh dari kenyataan.
Dalam kondisi trauma berat, akal sehat dan benteng pertahanan yang selama ini dijaganya dengan sangat ketat runtuh seketika. Karena rasa takut yang mencengkeram jiwanya, Nayara melupakan seluruh batasan syariat yang agung ia lupa bahwa pemuda yang duduk di sampingnya, yang tengah menyetir dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam jemarinya erat-erat, bukanlah mahramnya.
Bagi Nayara saat itu, Revan bukan lagi sekadar pemuda non-muslim dari dunia luar yang berbahaya; Revan adalah satu-satunya jangkar keselamatan, perisai hidup, dan tempat berlindung paling aman di dunia yang mendadak terasa begitu kejam.
Sepanjang perjalanan, kepala Nayara bersandar lekat pada bahu bidang Revan. Ia mencengkeram erat ujung baju pemuda itu, memejamkan mata rapat-rapat untuk mengusir bayangan-bayangan mengerikan tangan kotor preman yang hampir merenggut kehormatannya.
Revan sendiri menyetir dengan rahang mengeras dan tatapan mata setajam elang yang lurus ke depan. Di dalam dadanya, api kemerahan berkobar membakar habis seluruh sisa kesabarannya. Ia bersumpah dalam hati untuk mencari dalang di balik penyerangan keji tersebut ia tahu betul, preman-preman jalanan itu tidak mungkin tiba-tiba muncul dan menyerang Nayara tanpa ada seseorang yang mendanai dan menyuruh mereka. Dan nama Jessica sudah berada di urutan teratas daftar hitam di kepala Revan.
Namun, fokus utamanya saat ini adalah keselamatan dan ketenangan jiwa gadis yang ada di sisinya. Setiap kali Nayara bergidik ketakutan dalam tidurnya yang tidak tenang, Revan akan mengusir rasa dingin itu dengan mengeratkan genggaman tangannya, menyalurkan kehangatan dan rasa aman.
"Tenang, Nay... Sebentar lagi kita sampai rumah. Jangan takut, aku ada di sini," bisik Revan berulang kali dengan suara paling lembut yang ia miliki, mengabaikan debaran jantungnya sendiri yang bergemuruh hebat karena kedekatan fisik mereka yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tidak butuh waktu lama bagi mobil sport hitam itu untuk menempuh perjalanan dari pusat kota menuju kawasan Pesantren Al-Hikmah.
Ketika mobil memasuki gerbang utama pesantren dan berhenti tepat di halaman pelataran rumah induk pengasuh, suasana malam yang biasanya tenang seketika berubah menjadi riuh dan penuh kehebohan. Kebetulan, beberapa santri senior dan pengurus pondok masih berada di sekitar teras untuk merapikan perlengkapan kegiatan pengajian esok hari.
Suara deru mesin mobil mewah yang berhenti mendadak tentu menarik perhatian semua orang yang ada di sana.
Fathan, yang baru saja keluar dari ruang tamu membawa tumpukan kitab, menghentikan langkahnya. Ia mengerutkan kening, mengenali mobil siapa yang baru saja masuk ke halaman pesantren. Rasa curiga dan kesal langsung melintas di benaknya untuk apa lagi pemuda arogan itu datang malam-malam begini ke pesantren?
Pintu mobil sebelah pengemudi terbuka. Revan keluar lebih dulu, lalu dengan sangat hati-hati ia membukakan pintu bagian penumpang dan membantu Nayara keluar.
Seketika itu juga, waktu seolah berhenti di halaman Pesantren Al-Hikmah.
Puluhan pasang mata para santri yang berdiri di sekitar teras langsung terbelalak lebar, menahan napas, dan membekap mulut mereka karena terkejut setengah mati.
Apa yang mereka saksikan di hadapan mata kepala mereka sendiri adalah sebuah pemandangan yang mustahil terjadi di lingkungan pesantren yang menjunjung tinggi kesucian dan batasan moral:
Ning Nayara putri kesayangan Kiai pengasuh pesantren yang dikenal sangat terjaga, anggun, dan menjunjung tinggi kehormatan turun dari mobil seorang pemuda non-muslim dalam kondisi yang amat sangat berantakan. Jilbab navy miliknya tampak kusut dan miring, gamisnya robek di bagian lengan, wajahnya pucat pasi penuh air mata, dan yang paling membuat jantung para santri hampir copot: Nayara masih memeluk erat lengan Revan, menyembunyikan wajahnya di dada pemuda itu dalam dekapan yang begitu lekat.
"Astaghfirullahaladzim... Ya Allah, itu... itu Ning Nayara?!" bisik salah seorang santriwati dengan suara bergetar keras, mencengkram lengan temannya karena tidak percaya.
"Kok bisa... Kok bisa Ning Nayara berpelukan sama cowok itu di depan umum?!" sahut santri lainnya dengan nada syok luar biasa. Bisik-bisik langsung merebak bagaikan api yang tersiram bensin di antara kerumunan santri.
Fathan, yang melihat pemandangan tersebut dari teras, menjatuhkan tumpukan kitab di tangannya begitu saja. Buku-buku tebal itu berserakan di lantai keramik dengan suara berdebum keras. Darah Fathan mendidih seketika. Kemarahan yang luar biasa meluap di kepalanya, mengira bahwa kakaknya telah dilecehkan atau disakiti oleh pemuda di hadapannya.
"REVAN!" bentak Fathan dengan suara menggelegar, murka hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar. Ia berlari kencang menuruni anak tangga teras, menerobos kerumunan santri dengan kepalan tangan terkordinasi penuh amarah.
Suara bentakan Fathan yang menggelegar seketika memecah keheningan malam, membangunkan Kiai Ahmad Zayna dan Ummi yang sedang beristirahat di ruang keluarga dalam rumah induk.
Mendengar keributan di luar, Kiai Ahmad Zayna dan Ummi segera bangkit dari kursi, lalu bergegas membuka pintu utama rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Dan ketika pintu terbuka lebar, pemandangan yang sama menyambut pasang mata kedua orang tua tersebut.
Ummi langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, menjerit tertahan saat melihat kondisi putri sulungnya yang berantakan, pucat, dan menangis sesenggukan dalam dekapan seorang pemuda. Kaki Ummi lemas seketika, nyaris ambruk ke lantai seandainya Kiai Ahmad Zayna tidak sigap merengkuh bahu istrinya dengan tangan yang bergetar hebat.
Kiai Ahmad Zayna, seorang ulama besar yang selama ini dikenal paling sabar, tenang, dan bijaksana dalam menghadapi segala masalah, untuk pertama kalinya memperlihatkan perubahan ekspresi yang drastis. Wajah tenang sang kiai memucat pasi, manik matanya menatap tajam penuh kejut dan rasa tidak percaya pada sosok putri kesayangannya yang berdiri di pelukan seorang pemuda asing.
Fathan sudah tiba di hadapan mereka. Tanpa pikir panjang dan dikuasai oleh amarah sebagai seorang adik yang overprotective, Fathan langsung melayangkan tinju keras ke arah wajah Revan.
Bugh!
Hantaman keras itu telak mengenai sudut bibir Revan. Pemuda itu terhuyung ke samping dua langkah, sudut bibirnya robek mengeluarkan darah segar. Namun, Revan sama sekali tidak melawan atau membalas pukulan Fathan. Ia hanya berdiri tegak kembali dengan napas memburu, menelan mentah-mentah rasa sakit fisik tersebut demi melindungi Nayara yang masih memeluk erat pinggangnya karena ketakutan.
"Brengsek kamu, Revan! Apa yang sudah kamu lakukan pada kakakku?!" murka Fathan dengan suara bergetar hebat, siap melayangkan pukulan kedua sebelum sebuah suara berat berwibawa menghentikannya.
"FATHAN! BERHENTI!"
Bentakan keras dari Kiai Ahmad Zayna menggelegar di pelataran rumah induk. Seluruh santri yang tadinya berbisik-bisik langsung terdiam seribu bahasa, menundukkan kepala ketakutan mendengar kemarahan sang kiai yang sangat jarang terjadi.
Fathan menurunkan kepalannya dengan dada naik turun menahan amarah, sementara air mata kekesalan mulai menggenang di pelupuk matanya melihat sang kakak dalam kondisi hancur.
Kiai Ahmad Zayna melangkah pelan menuruni anak tangga teras. Langkah kaki sang kiai terdengar berat, mencerminkan beban batin yang luar biasa besar sebagai seorang ayah sekaligus pemimpin pesantren. Di belakangnya, Ummi berjalan tertatih-tatih sambil menangis histeris, dibantu oleh beberapa santriwati senior.
"Nayara..." panggil Kiai Ahmad Zayna dengan suara parau yang bergetar hebat, mencoba memanggil putrinya dengan kelembutan yang tersisa.
Mendengar suara sang Abah, Nayara yang sejak tadi tenggelam dalam ketakutan perlahan mengangkat kepalanya. Ia melepaskan dekapannya dari tubuh Revan, menatap wajah ayah dan ibunya yang basah oleh air mata kekhawatiran dan rasa syok yang teramat sangat.
"Abah... Ummi..." lirih Nayara gemetar, suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis. Kaki Nayara lemas, dan ia hampir saja ambruk ke lantai seandainya Revan tidak sigap menahan tubuh bagian belakang gadis itu agar tetap berdiri tegak.
Melihat Revan masih menyentuh tubuh putrinya di hadapan khalayak umum pesantren, Ummi jatuh bersimpuh di lantai teras, menangis histeris sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Ya Allah... Anakku... Apa yang terjadi padamu, Nak? Kenapa bisa jadi seperti ini...?"
Para santri yang melihat pemandangan itu mulai berbisik-bisik semakin kencang, melontarkan spekulasi liar tentang apa yang sebenarnya terjadi di luar sana antara Ning Nayara dan sang pemuda non-muslim. Berita buruk tentang kehormatan keluarga pengasuh pesantren dipastikan akan menyebar luas ke seluruh penjuru pondok dalam hitungan menit.
Kiai Ahmad Zayna menarik napas panjang, menatap tajam ke arah Revan yang berdiri dengan darah mengalir di sudut bibirnya, lalu mengalihkan pandangannya pada putrinya yang hancur berantakan.
"Masuk ke dalam rumah sekarang juga," titah Kiai Ahmad Zayna dengan suara tegas, dingin, namun menyiratkan kepedihan yang mendalam sebagai seorang ayah. "Kita selesaikan semua ini di dalam. Jangan biarkan mata-mata umat terus menghakimi kehormatan keluarga kita di luar sini."
Revan menelan ludah kelat. Ia tahu betul, badai terbesar dalam hidupnya dan Nayara baru saja resmi dimulai.