Sakit tak berdarah dirasakan perempuan bernama Ananta Gayatri Rumi ketika laki-laki yang menjadi suaminya justru mendorongnya pergi. Tidak hanya itu Ananta Gayatri Rumi di ceraikan hanya karena masalah sepele, Laki-laki yang menjadi suaminya kecewa karena saat pulang kerja tidak menemukan istrinya di rumah.
Hanya perihal sepele yang menjadi alasannya.
Saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Suaminya itu menyesal, tapi semua tak lagi sama. Talak sudah jatuh.
Tak habis akal, anak kepala desa itu memanfaatkan kedudukannya untuk menjerat istrinya yang sudah terlanjur dijatuhi talak tiga.
Dia memaksa Ananta Gayatri Rumi menikah dengan laki-laki pilihannya, laki-laki yang kerap perempuan itu ajak bicara.
Laki-laki tak sempurna yang akan dijadikan tumbal supaya dia bisa kembali rujuk dengan Ananta Gayatri Rumi.
Lantas siapa sebenarnya laki-laki pilihannya itu?
Benarkah rencananya sesuai dengan keinginannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaya tahu?
"Yang benar?" kaget Jaya dengan ekspresi yang dibuat berlebihan. "Istriku benar-benar harus lebih sering bergaul. Kalau Mas jadi kamu bahkan sudah tidak kubiarkan air mata jatuh sia-sia."
Tidak tahu kenapa Jaya justru ingin tertawa melihat kesedihan Rumi kali ini.
"Jangan bilang jika pesan itu dikirim oleh Jenifer." Jaya sudah siap memasang ekspresi bengong.
Rumi memang mengangguk.
"Kalau begitu jangan menangisi sesuatu yang belum pasti." ucap Jaya dengan lebih tegas.
"Tapi Mas, beberapa hari ini Ibu memang mengeluh sakit,"
"Percaya dek, Mas jauh lebih mengenal Ibu daripada adik sendiri." Jaya berusaha menenangkan istrinya yang sedang menangis tersedu. Akibat pesan yang kebenarannya tidak diketahui.
" Mas sudah sering sekali percaya pada hal yang tidak pasti, hingga terakhir kali. Mas benar-benar harus kehilangan orang yang mas cintai hanya karena percaya pada ucapan ibu."
Jaya bercerita dengan penuh ketenangan. Masih segar di ingatan Jaya, ketika hari dimana meninggalkan mendiang istrinya hanya untuk memenuhi panggilan sang ibu yang beralasan sakit. Hal yang menjadi pelajaran berharga untuknya, bahwa apa yang diceritakan orang lain, kabar yang didengar, belum tentu benar adanya.
Rumi menghadap Jaya. Wajahnya mendongak guna menatap wajah sang suami yang terlihat begitu tenang. Tak terlihat riak apapun di sana.
"Jujur selama ini aku juga terus memikirkannya."
Pria itu tidak menghiraukan tatapan bingung sang istri, dia malah membelai helaian rambut Rumi dan menyisipkannya ke belakang telinga.
"Apa kamu percaya jika aku juga memikirkannya?"
Rumi buru-buru menggeleng, bibir Rumi disentuh menggunakan ujung jari, hanya disentuh dengan lembut tapi Rumi sudah waspada karena hal ini akan memicu pada hal lain yang melenakan. Dan benar dugaannya, Jaya menciumnya dan kali ini Rumi benar-benar sedang tidak siap.
"Aku orang biasa Rumi, mustahil jika tidak memiliki amarah bahkan rasa kecewa. Dan kali ini Mas benar-benar kecewa dengan tindakan ibu."
Rumi benar-benar merinding dan Jaya malah makin merekatkannya ke dinding. Aromanya harum, semerbak wangi sabun mandi, dada bidang itu terasa dingin. Rumi gugup di pojokan seperti itu meskipun seharusnya dia sudah cukup tahu bagaimana sang suami.
Rumi tidak tau apa yang selama ini mengendap di hati Jaya.
Rumi meringkuk diatas ranjang, didepan televisi yang menyala tanpa suara, saat ini matanya tengah terpejam rapat. Jaya yang tadi membantunya berpakaian, karena wanita itu tampak tak berdaya setelah Jaya menghisap sari patinya.
Jaya marah, dadanya bergemuruh, tapi kemarahannya bukan untuk Rumi. Jaya bertekad akan menemukan Jenifer dan memberi pelajaran agar wanita itu jera.
Berulang kali ia mengecup kepala Rumi sembari mengelus lembut rambutnya yang halus.
"Tidurlah sayang." ucap Jaya lembut.
"Tetap di sini, Mas." Rumi dengan hati-hati membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam pelukan dadanya yang hangat.
Untuk saat ini Rumi menyerah membujuk Jaya dia ingin memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk mempercayai Jaya sepenuhnya.
Kecupan kembali mendarat di kening dan pelipis Rumi berulang-ulang Jaya seperti tidak bisa berhenti untuk mendaratkan bibirnya pada wajah Rumi.
Rumi kembali terpejam untuk sesaat ia terlihat tertidur dalam pelukan hangat Jaya.
Jaya tersenyum. lalu ia kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh wanita itu.
"Aku cinta kamu, Mas. "bisik Rumi pelan di dada pria itu.
Sebuah kalimat yang membuat jantung Jaya seperti berhenti berdetak untuk sesaat.
Rumi akan kembali bicara tapi Jaya segera menyela.
"Ulangi lagi Sayang."
Kembali Rumi mendongak untuk menatap Jaya. Rumi tahu apa yang Jaya minta. Jaya ingin Rumi mengulangi pengakuan cintanya.
Rumi tidak keberatan.
"Aku cinta kamu, Mas. Bahkan sejak Mas mengucapkan akad hari itu." Rumi sejenak menggigit bibirnya ke dalam. "Bahkan mungkin Mas Jaya adalah cinta pertama Rumi."
Setelah Rumi mengucapkan kalimat itu, Jaya dengan segera kembali mencium Rumi. Sebuah ciuman di bibir yang sangat lembut.
Ciuman sepenuh jiwa yang menggetarkan keduanya. Sebuah ciuman yang menjadi awal penyatuan mereka yang terasa berbeda malam ini.
Jaya menyentuhnya begitu lembut pria itu seperti ingin membantu Rumi keluar dari segala pikirannya, terutama tentang kabar bohong yang dikirimkan oleh Jenifer.
Kelembutan Jaya membuat Rumi kembali ingin menangis pria itu bukan hanya memenuhi tubuhnya tapi juga memenuhi hatinya.
******
Sementara di tempat yang berbeda seorang wanita sedang menunggu kabar kapankah gerangan orang yang ditunggu akan tiba, sayang hingga berjam-jam lamanya kabar yang dinanti tak kunjung datang.
Jenifer mulai kesal dan melampiaskan pada ponsel nyonya Sanjaya. Jennifer mengotak-atik ponsel nyonya Sanjaya dan segera menghubungi nomor Rumi namun hanya suara operator yang menjawab.
"Sialan!" makinya berteriak.
"Apa dia tidak menyampaikan kabar yang ku kirim pada Hassan? Dasar wanita brengsek!"
Jenifer memutuskan untuk bangun dan duduk di pinggir ranjang, wanita cantik yang memiliki bentuk tubuh yang sangat menggoda mata pria itu tidak peduli dengan ketelanjangannya yang terpampang dengan sangat jelas.
Jenifer menenggak minuman dengan kadar alkohol rendah di gelasnya. Seorang pria duduk di hadapannya. Tatapan mata pria itu tidak pernah lepas dari Jenifer, tapi sang wanita malah terlihat tidak mau menatap pria tampan yang baru tidur bersamanya itu.
Rivaldo David, pria berusia 30 tahun itu terus menatap lekat wanita di hadapannya. Ini adalah makan malam kesekian kali yang dirancangnya agar bisa bertemu kembali dengan wanita yang diinginkan.
Bertemu dengan Jenifer bukan perkara mudah. Wanita ini akan menghubunginya jika butuh bantuan atau hanya sekedar merasa kesepian.
Rivaldo harus menjual sebagian besar saham di perusahaan kapal miliknya kepada keluarga konglomerat lain, baru wanita itu mau makan malam dengannya. Rival tuh sangat mencintai Jenifer. Meskipun dia tahu bahwa Jenifer hanya mencintai uang dan hartanya saja.
"Pergilah, aku sudah selesai denganmu." Jenifer menitah tanpa mau dibantah.
Rivaldo yang sudah mengenal tabiat Jenifer hanya tersenyum kecut kemudian pria itu bergegas memakai pakaiannya dan pergi dari apartemen wanita tersebut. Segepok uang lelaki itu tinggalkan untuk kekasihnya. Karena itu adalah syarat Jenifer mau melayani sebagaimana mestinya, cinta memang segila itu.
Rivaldo dulunya adalah seorang konglomerat muda Indonesia yang memiliki bisnis raksasa di bidang perkapalan, baja dan batu bara.
Tapi itu dulu. Usahanya begitu sukses sebelum Rivaldo mengenal Jenifer. Ketertarikan lelaki itu pada Jenifer membuat usahanya bangkrut, uang yang diminta Jenifer tidak pernah main-main dan wanita itu tidak pernah mau peduli dengan keadaan lelaki yang menjadi kekasihnya.
Jenifer memuntahkan isi perutnya di toilet. Terlalu banyak minum alkohol membuat nya mual dan muntah.
Dia lelah menunggu. Berusaha meredam emosi, sebab. Orang yang diharapkan datang tidak ada kabarnya.
Saya sungguh terharu,
Karya Anda sungguh berkesan 🤍
Gnti nama jadi jaya?