Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Malam kian larut membungkus kediaman Kiai Ahmad Bashir dalam kesunyian yang khusyuk. Selepas sholat Isya berjamaah di mushola, Fatih tidak langsung kembali ke kamar. Ia duduk di teras samping, menatap dedaunan yang bergoyang pelan ditiup angin malam. Hatinya bimbang, bergejolak hebat bak ombak yang menghantam karang. Hampir sebulan ia menyandang status suami Bella, namun tak sekalipun ia menyentuh istrinya itu.
Ada dinding besar yang ia bangun sendiri; dinding bernama "Wulan" dan dinding bernama "Prejudice". Ia selalu menganggap Bella adalah wanita yang "kotor" karena latar belakang ayahnya, Dahlan. Namun, perkataan Abi tadi sore terus terngiang, menampar egonya sebagai laki-laki. Apakah adil bagi Bella jika ia terus diabaikan?
Fatih tahu, beberapa hari ini Bella sedang dalam masa udzur, tidak sholat karena datang bulan. Namun hari ini, ia melihat Bella sudah berbenah. Jantungnya berdegup tidak karuan. Ada dorongan naluriah yang selama ini ia tekan rapat-rapat. Ia adalah lelaki normal, dan Bella—di balik segala prasangkanya—adalah wanita dengan kecantikan yang tersembunyi.
Peraduan yang Tak Terduga
Fatih melangkah perlahan memasuki kamarnya. Suasana kamar remang-remang, hanya diterangi lampu tidur yang kekuningan. Terdengar gemericik air dari kamar mandi di dalam kamar. Fatih berdiri mematung di sisi ranjang.
"Apa sudah beres menstruasinya?" bisik Fatih dalam hati. Jantungnya berpacu lebih cepat. Ia merasa seperti remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali, padahal ia sedang berada di kamarnya sendiri, bersama istri sahnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat menyeruak keluar, membawa aroma sabun mawar yang lembut. Bella melangkah keluar, hanya berbalut handuk putih yang melilit tubuhnya hingga sebatas paha. Rambutnya yang basah ia biarkan terurai, meneteskan sisa air di bahunya yang putih bersih. Bella tidak menyadari keberadaan Fatih yang berdiri di kegelapan sudut ruangan.
Mata Fatih membelalak. Selama ini, ia selalu memalingkan wajah jika Bella berada di dekatnya. Ia merasa jijik, atau mungkin sebenarnya ia takut—takut akan daya tarik wanita itu. Namun malam ini, rasa jijik itu menguap entah ke mana. Keindahan di depan matanya meluluhkan segala tembok pertahanan. Aurat yang selama ini ia benci untuk lihat, kini tampak begitu suci dan menawan. Sesuatu di balik sarungnya mulai memberontak, sebuah hasrat yang manusiawi.
Bella berjalan menuju cermin besar, hendak mengambil pakaian di lemari. Saat ia berdiri di depan kaca, ia melihat bayangan Fatih berdiri tepat di belakangnya. Bella tersentak kaget.
"Astaghfirullah! Bang Fatih...!"
Kekagetan itu membuatnya kehilangan keseimbangan. Handuk yang hanya tersangkut di dadanya melorot karena gerakan yang tiba-tiba, membelit kakinya. Bella limbung, nyaris terjatuh ke lantai yang dingin. Namun, dengan sigap, tangan kekar Fatih menangkap pinggangnya.
Tubuh mereka bersentuhan. Panas kulit bertemu dinginnya sisa air mandi. Fatih mendekap Bella erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Handuk itu sudah terjatuh sepenuhnya, namun Fatih tidak lagi memalingkan muka. Pandangan mereka beradu dalam jarak yang sangat dekat. Nafas mereka memburu, bersahutan dalam irama yang sama.
"Wulan..." bisik Fatih pelan, nyaris tak terdengar.
Bella tertegun. Ia tidak sadar bahwa nama yang disebut Fatih adalah nama masa lalunya, sekaligus nama aslinya. Ia mengira itu hanyalah ungkapan kasih sayang yang tak ia pahami.
"Aku mencintaimu..." lanjut Fatih, suaranya serak oleh gairah.
Bella hanya bisa mengangguk pelan, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di dada bidang Fatih. Malam itu, segala keraguan dan kebencian lebur dalam api hasrat yang suci. Di bawah saksi bisu dinding kamar, dua jiwa yang selama ini asing akhirnya bersatu dalam peraduan cinta, berpacu dalam hasrat yang selama ini tertunda.
Gigauan Sang Bidadari
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Suasana hening menyelimuti jagat raya. Seperti biasa, jam biologis Fatih membangunkannya untuk bersujud kepada Sang Khalik. Ia membuka matanya perlahan dan merasakan kehangatan di sampingnya.
Seorang wanita cantik tertidur pulas dengan wajah yang tampak begitu damai. Bella. Rambutnya berantakan di atas bantal, dan sisa-sisa kelelahan semalam masih membekas di wajahnya. Fatih menatapnya lama. Rasa bersalah tiba-tiba menyergap.
"Ya Allah... apa yang telah kulakukan? Aku menyentuhnya sambil memanggil nama Wulan..." batin Fatih perih. Ia merasa telah menghianati Bella di saat yang paling intim.
Tiba-tiba, Bella menggeliat dalam tidurnya. Bibirnya bergumam kecil, sebuah igauan yang keluar dari alam bawah sadarnya.
"Kang Abas... jangan tinggalin aku... lagi...!!"
Fatih tersentak seolah tersengat listrik. Tubuhnya menegang. Abas?
"Abas...? Maksudnya... Abas siapa?" Fatih terheran-heran. Jantungnya berdegup kencang karena kecurigaan. Nama "Abbas" adalah nama rahasianya di pesantren Tasikmalaya sepuluh tahun lalu. Tidak ada orang di Jakarta yang memanggilnya dengan nama itu kecuali Lukman.
"Dia ini... kok tahu nama Abas?!"
Fatih tidak tahan lagi. Ia membuka selimut dan mencoba membangunkan Bella dengan lembut namun penuh tuntutan.
"Mbak... Mbak Bella... bangun..."
Bella menggeliat, kelopak matanya terbuka perlahan, masih berat karena kantuk. "Hyaa... ya Bang... ada apa...?" tanyanya manja, belum sepenuhnya sadar dari mimpinya.
Fatih menatapnya tajam, menyelidik hingga ke dasar mata Bella. "Abas... siapa Abas?! Kenapa kamu panggil nama itu dalam tidurmu?"
Bella tersentak, kesadarannya pulih seketika. Wajahnya memucat. "A-apa, Bang? Aku... aku bilang apa?"
Sebelum ia sempat menjawab, Bella mengerang kesakitan saat mencoba menggeser posisinya. "Aduh... sakit...!"
Gerakan kecil itu membuat area kewanitaannya terasa nyeri luar biasa. Fatih yang awalnya ingin marah, mendadak terpaku saat matanya menangkap sesuatu di atas sprei putih yang berantakan itu. Ada sedikit bercak darah segar di sana. Sebuah tanda kesucian yang tak terbantahkan.
Fatih terdiam seribu bahasa. Dunianya seolah berhenti berputar.
"Kamu... kamu masih perawan?!" tanya Fatih dengan suara bergetar, rasa khawatir dan haru bercampur aduk, hingga ia melupakan sejenak pertanyaannya soal nama Abas.
Bella menunduk malu, wajahnya merah padam. "Iya, Bang. Memang kenapa...?" tanya Bella dengan nada sedikit kecewa, mengira Fatih meragukannya.
Air mata Fatih nyaris jatuh. Ia merengkuh bahu Bella, memeluknya dengan penuh penyesalan. "Maafkan aku, Sayang... maafkan aku. Aku selalu suudzon padamu. Aku pikir... aku pikir hidupmu di luar sana sudah..." Fatih tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia merasa menjadi manusia paling hina karena telah menghakimi wanita sebersih Bella.
Syarat dan Panggilan Baru
Bella terdiam dalam pelukan Fatih. Ia merasakan ketulusan dari detak jantung suaminya. Ia mulai merasa bahwa hubungan ini bisa menjadi sehat, bahwa ia benar-benar memiliki tempat berteduh yang nyata.
"Aku maafin," bisik Bella di pelukan Fatih. "Tapi ada syaratnya!"
Fatih melepaskan pelukannya, menatap Bella dengan mata yang berbinar. "Apa? Sebutkan saja, apa pun akan kulakukan untuk menebus kesalahanku."
Bella tersenyum manis, sebuah senyuman yang belum pernah Fatih lihat sebelumnya. "Jangan panggil aku Mbak lagi! Karena aku bukan mbakmu...!"
Fatih tertawa kecil, merasa bodoh. Selama ini ia memanggil "Mbak" sebagai bentuk jarak dan formalitas yang dingin. "Lalu... aku harus panggil apa?"
Bella merayap mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Fatih. "Panggil aku Sayang..."
"Oh... itu... iyah... Sayang," ucap Fatih canggung, namun hatinya terasa hangat saat mengucapkannya.
"Aku mandi dulu ya, aku mau tahajud," pamit Fatih.
"Hmmh..." Bella mengangguk patuh, menatap punggung suaminya dengan perasaan yang membuncah.
Fatih melaksanakan sholat Tahajud malam itu dengan perasaan bahagia yang luar biasa. Ia tidak pergi ke mushola seperti biasanya, ia ingin sholat di kamar, di samping wanita yang kini ia sadari adalah amanah terindah dalam hidupnya. Ia berdoa sangat panjang, menumpahkan segala rasa syukur dan permohonan maafnya.
"Takdir-Mu memang luar biasa ya Allah... Engkau kirimkan bidadari ini untuk menggantikan lukaku, atau mungkin..." Fatih teringat kembali igauan Bella tentang nama Abas. Misteri itu masih tersimpan, namun ia memutuskan untuk menyimpannya sementara.
Selepas Tahajud dan mandi janabah, Bella keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang rapi dan segar. Fatih berdiri di belakangnya saat Bella sedang menyisir rambut.
"Sayang...!" panggil Fatih lembut.
Bella menoleh, tersenyum menggoda. "Apa atuh, Sayang? Kamu... mau lagi?"
Fatih tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan dengan tatapan yang penuh damba. Dan di keheningan menjelang subuh itu, mereka kembali larut dalam peraduan untuk kedua kalinya, merayakan penyatuan yang kini benar-benar didasari oleh rasa hormat dan kasih sayang yang baru tumbuh.