Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Keluarga Matreliastis
“Hei Mawar, aku mau bertanya,” kata Bagas, begitu mobil sudah mulai berjalan. Ia mencengkeram kemudi dengan erat, matanya fokus menembus kegelapan jalanan kota sembari otaknya dengan cepat menyusun cara untuk mengorek informasi berharga.
“Apa?” Mawar masih mengatur napas. Ia bersandar pada kursi penumpang, mencoba menenangkan debaran jantungnya setelah drama pelarian dari Herwanto di kafe tadi.
“Tentang Melati.”
“Melati?” Mawar refleks menoleh. Matanya membelalak lebar dilingkupi rasa syok yang teramat sangat. “K-kamu kenal si buta itu?”
“Buta?” Bagas mengernyit. Ia mengendurkan sedikit gas mobilnya untuk menciptakan atmosfer obrolan dewasa yang lebih santai meski menekan.
“Iya. Melati itu buta sejak lahir,” Mawar kembali menatap ke depan, mendengkus kasar meluapkan kejengkelan.
“Aku hanya dimintai tolong temanku. Katanya Melati punya pacar, pria buruk rupa. Nah pria itu, dia ….” Bagas memutus kalimat, sengaja mencari kata yang tepat untuk menutupi status Satya.
“Kamu kenal sama pacarnya yang buruk rupa itu?” sambar Mawar tak sabar. Ia memajukan tubuhnya, menatap profil samping wajah Bagas dengan penuh rasa ingin tahu yang menggebu.
“Nggak kenal sih. Anu, itu, eh, laki-laki itu pernah membawa lari mobil dealer.” Bagas menyusun kebohongan dengan rapi, sebuah intrik cerdas untuk memancing reaksi Mawar. “Dia penggadai.”
“Astaga. Sudah jelek wajah, jelek pula sikapnya.” Mawar berkomentar sambil melipat tangan di dada dengan angkuh. “Gara-gara dia, aku jadi dikejar sama juragan tua sialan itu. Pemuda sialan!"
“Eh, kamu dikejar?” Bagas langsung menyadari ada benang merah antara Mawar dan rombongan pria yang baru masuk tadi. Ia melirik Mawar dari sudut matanya, menanti drama apa lagi yang akan terungkap dari bibir tipis wanita itu.
“Itu tadi … pria tua tadi itu sebenarnya pacar Melati. Tapi si Melati buta malah kabur sama pemuda buruk rupa itu.” Mawar mencari alasan tepat. Namun, kebohongannya malah membuat Bagas makin menaruh curiga yang mendalam.
“Kamu tahu Melati tinggal di mana? Dan … apa dia masih keluargamu?” Bagas memburu dengan pertanyaan beruntun, nadanya terdengar bersahabat namun penuh selidik.
“Dia itu benalu dalam keluargaku!” dengkus Mawar tajam. Wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak. “Aku ini sudah susah payah menghidupi Ibu, ditambah harus mengurus dia yang tidak berguna.”
“Intinya, apa dia keluargamu?” Bagas menuntut ketegasan, nadanya mulai memberat.
“Ya. Dia sepupuku.”
“Oh.” Bagas tersenyum, satu informasi dia dapat dengan mudah. Senyuman kemenangan terukir tipis di sudut bibirnya. “Kalau tinggalnya, apa kamu tahu?”
“Aku tidak tahu. Kalau tahu, sudah aku serahkan dia ke Juragan Herwanto.” Mawar menyahut ketus, meremas tali tasnya dengan gelisah.
“Juragan Herwanto itu … pria tadi kah?”
“Iya.” Mawar mengangguk gugup. Takut rahasia malam kelamnya bersama Herwanto terbongkar dan menghancurkan intrik pemerasannya.
“Hmmm … kenapa kamu menghindarinya? Dia kan pacar sepupumu. Bukan kamu.” Bagas memojokkan Mawar, menatapnya tajam saat mobil berhenti di lampu merah.
“Eh, itu.” Mawar tergagap, mencari alasan dengan panik. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. “Dia mencariku untuk mencari keberadaan si buta lah! Dia mau cari info tentang Melati melalui aku. Sedangkan aku saja nggak tahu si buta itu di mana.”
“Kalau begitu, bukankah lebih baik kamu jelaskan saja langsung padanya?”
“Sudahlah! Kamu nggak akan ngerti! Intinya, aku harus menjauh dari si tua itu.” Mawar membentak, memalingkan wajahnya ke luar jendela dengan napas memburu.
“Oke-oke.” Bagas mengangguk pasrah. Ia kembali menginjak gas saat lampu berubah hijau. “Sekarang kamu mau ke mana ini?”
“Bisa antar aku pulang?”
“Bisa saja. Sekalian meneruskan kontrak tadi. Eh, tapi berkasnya ada di Lucio.” Bagas langsung sadar sesuatu yang penting.
“Intinya, kalau nggak tiga miliar, aku nggak mau tanda tangan, titik!” Mawar masih bersikeras dengan nominal besar, sifat materialistismenutup akal sehatnya.
Bagas menghela napas panjang. Merasa kesal karena kebaikannya malah berujung pemerasan yang keterlaluan. Namun, otak cerdasnya segera menemukan celah baru. “Begini saja. Aku beri tiga miliar. Tapi kamu carikan aku informasi tentang Melati dan pacarnya. Bagaimana?”
“Apa?” Mawar menyentak, menoleh dengan mata membelalak panik. “Aku tidak tahu dia ada di mana! Si buruk rupa itu membawa kabur Melati buta. Aku juga nggak kenal sama pemuda jelek itu!”
Buntu. Bagas akhirnya menemukan ide lain yang jauh lebih menjanjikan untuk memanfaatkan situasi keluarga Mawar. “Aku akan tanyakan pada ibumu.”
“Terserah saja.” Mawar membuang muka dengan ketus, tanpa menyadari kalau Bagas sedang menggali info darinya.
----
“Kamu dari mana saja malam begini … baru pulang ….” Mata Turi membulat saat mendapati sosok Bagas di belakang putrinya. “Apa dia pacarmu?”
Seringai lebar langsung tampak di kedua sudut bibir Turi. Tanpa sempat diberi penjelasan, dengan gerakan agresif, wanita paruh baya itu langsung menarik lengan jas mahal Bagas. “Ayo masuk.” Ia menggiringnya menuju ruang tamu kecil yang pengap.
“Duduk sini calon mantu.” Dengan ramah Turi mempersilakan Bagas duduk di sofa yang sudah robek jahitannya.
“Terima kasih,” jawab Bagas dengan senyum palsu. Ia memperbaiki letak jasnya, enggan bersikap ramah pada wanita paruh baya yang terlihat sangat oportunis ini. “Saya bukan pacar Mawar,” jelasnya tanpa basa-basi.
“Eh, bukan?” Turi menatap Bagas, lalu beralih pada Mawar dengan dahi berkerut tegang. “Kalau bukan pacar, kenapa diajak kemari?” Ia menuntut penjelasan, nada bicaranya mendadak ketus karena merasa harapannya dipatahkan.
“Saya mau mencari info tentang Melati.” Bagas langsung terus terang. Ucapan itu seketika mengundang raut kesal di wajah Mawar yang berdiri di ambang pintu.
“Ngapain nyari pelacur buta itu?” ketus Turi.
“Pelacur?” Bagas mengernyit. Bingung dengan sentakan kasar yang dilontarkan wanita paruh baya itu.
“Iya! Dia itu pelacur. Nggak kayak anakku Mawar. Masih suci, bersih layaknya bidadari.” Turi menepuk dadanya bangga, tanpa sadar bahwa Mawar di belakangnya mendadak pias dan memalingkan wajah karena dilingkupi kepanikan akut atas kebohongan malam dewasa yang pernah ia lalui.
Bagas tercengang. Pujian itu seakan terlalu berlebihan baginya. Mengingat Mawar yang sudah tidak suci berdasarkan sandiwara hotel yang ia yakini. Namun, ia memilih menahan diri. “Saya mau mencari pemuda yang membawa Melati. Saya dengar kalau pemuda itu adalah pacarnya.”
"Pacar katamu? Jadi mereka jadian?" Turi ternganga.
"Saya dengarnya begitu." Bagas mengangguk, bersikap seolah dia tahu. Padahal kosong.
"Astaga dasar Melati kampret! Jadi dia nggak mau sama Herwanto, karena pacaran sama si buruk rupa itu? Kurang ajar." Turi mulai mengomel nggak jelas. "Kamu tahu, Le. Gara-gara dia, Herwanto jadi ngejar-ngejar Mawar, niat mau jadikan anakku istri.”
“Bu!” Mawar memotong ucapan sang ibu cepat. “Bukan aku, tapi Melati!”
“Memang awalnya Melati. Tapi akhirnya kan dia mau kamu."
“Ibu!” Sekali lagi Mawar memotong dengan teriakan melengking, matanya melotot memperingatkan sang ibu agar tidak membocorkan fakta bahwa dirinya telah direnggut oleh Herwanto.