NovelToon NovelToon
DARAH DIATAS PUALAM

DARAH DIATAS PUALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.

Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.

Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.

Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : RUNTUHNYA DELUSI PANGERAN TERBUANG

Langkah Elara yang hendak meninggalkan ruang latihan terhenti tepat ketika pintu terbuka.

Dante sudah berdiri di sana, namun ekspresinya itu tidak seperti biasa. Ada ketegangan yang tertahan di balik rahangnya yang mengeras, ada sesuatu yang telah terjadi.

"Elara," Dante membungkuk, suaranya berat dan rendah. "Ada kekacauan di sektor sayap bawah tanah. Adrian dan Silas..."

Mendengar nama itu, Elara tidak terkejut lagi. Sudut matanya melirik sekilas ke arah Ciel yang masih berdiri di atas matras sambil memegangi rusuknya yang linu.

Elara tidak mengatakan apa-apa lagi kepada komandan faksi barat itu. Ia hanya melangkah melewati Dante, memberi isyarat bahwa mereka harus segera turun ke bawah tanah.

Sayap bawah tanah Ouroboros adalah tempat di mana matahari tidak pernah terbit. Di sanalah para pengkhianat, pecundang, dan mantan petinggi yang dicopot kekuasaannya dibuang untuk menjalani sisa hidup mereka sebagai pelayan kasta terendah.

Adrian—adik angkat Elara yang gagal dalam kudeta kecilnya beberapa bulan lalu—dan Elder Silas, mantan tetua faksi yang terlalu memuja ambisi Adrian, kini membusuk di sana.

Udara di koridor bawah tanah malam itu terasa lebih pengap daripada biasanya. Bau anyir darah segar bercampur dengan aroma keringat.

Ketika pintu jeruji besi menuju ruang komunal pelayan terbuka, pemandangan di dalamnya menjelaskan segalanya.

Beberapa pelayan bawah tanah berseragam abu-abu lusuh tampak meringkuk di sudut ruangan dengan tubuh gemetar. Di tengah ruangan, seorang pelayan paruh baya tergeletak di lantai beton yang dingin, wajahnya babak belur dan napasnya tersengal-sengal di tengah genangan darahnya sendiri.

Di atas tubuh pria malang itu, Adrian berdiri dengan napas memburu. Kemeja pelayannya yang kotor sengaja dibuka setengah dada, memperlihatkan tato lambang organisasi yang kini tampak seperti lelucon.

Wajahnya yang tampan namun bengis dipenuhi oleh kepuasan yang sakit. Di sampingnya, Elder Silas berdiri dengan punggung sedikit membungkuk.

"Kau pikir kau siapa, hah?! Berani-beraninya budak pengantar makanan sepertimu menatapku dengan pandangan menjijikkan begitu! Kau tidak tahu siapa aku?!" Adrian berteriak, wajahnya merah padam oleh amarah.

"Adrian."

Satu kata. Dingin, datar, sangat familiar di telinganya.

Gerakan kaki Adrian terhenti di udara. Ia menoleh perlahan, begitu pula Silas.

Di ambang pintu, Elara berdiri dengan tegak.

Pakaian latihan hitamnya yang ketat masih melekat.

Dante berdiri di belakangnya, matanya menatap Adrian seolah-olah pemuda itu akar pembuat masalah.

Adrian menurunkan kakinya, lalu perlahan sebuah tawa mengejek keluar dari tenggorokannya.

Sejak dilempar ke tempat ini, Adrian sengaja diisolasi dari segala informasi luar. Ia tidak tahu tentang pembantaian seratus orang di dermaga dua bulan lalu, ia juga tidak tahu tentang tiga pengganti Elder.

Di kepala Adrian yang penuh delusi, Elara masihlah wanita beruntung yang mendapatkan takhta hanya karena memliki darah ayahnya.

"Oh, lihat siapa yang datang," Adrian melangkah maju, mengabaikan tubuh pelayan yang sekarat di bawahnya. Ia menyeka noda darah di tangannya ke celananya yang dekil. "Sang Ratu Agung ini akhirnya sudi turun ke tempat sampah. Apa kau merindukanku, Kakak?"

Silas di belakangnya ikut tersenyum sinis, melipat tangan di dada dengan sisa-sisa kesombongan seorang mantan tetua. "Nona Elara. Anda datang di waktu yang tepat untuk melihat bahwa singa yang Anda kurung di sini tidak akan pernah bisa diubah menjadi anjing peliharaan."

Elara berjalan mendekat dengan langkah santai, mengabaikan provokasi Silas. Matanya tertuju pada pelayan yang terluka di lantai. "Bawa dia ke ruang medis," perintah Elara kepada pelayan lain yang bersembunyi di sudut.

"Siapa yang mengizinkan mereka bergerak?!" bentak Adrian, melangkah memotong jalur, menghadang Elara.

Adrian menunduk sedikit, mencoba mengintimidasi Elara dengan fisiknya.

"Kau masih saja suka ikut campur, Elara," desis Adrian, matanya menyipit penuh kebencian. "Kau pikir dengan memakai pakaian ini kau terlihat seperti seorang pemimpin? Kau tidak lebih dari sekadar boneka pajangan yang duduk di kursi Ayah. Kau tidak pantas berada di sana! Kau lemah, Elara. Kau tidak punya nyali untuk memimpin faksi-faksi yang haus darah itu. Sebentar lagi mereka akan mengoyak tubuhmu, dan aku akan tertawa dari tempat ini melihat kepalamu dipajang di gerbang utama!"

Elara tidak berkedip.

Ekspresi wajahnya masih datar seperti biasa. "Sudah selesai bicaranya, Adrian?"

Kata-kata tenang Elara justru menjadi pemantik bagi sumbu pendek amarah Adrian. Merasa dihina karena diabaikan, ego Adrian yang terluka meledak seketika. Tanpa peringatan, tangan kanannya melesat ke depan, mengepal kuat, dan menghantam pipi kiri Elara dengan keras.

PLAK!

Sentakan itu membuat wajah Elara terlempar ke samping. Beberapa helai rambut hitamnya yang terkuncir terlepas, membingkai pipinya yang perlahan memerah akibat hantaman tersebut.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu.

Silas tersenyum puas di belakang.

Namun, kepuasan itu hanya bertahan kurang dari satu detik.

Di belakang Elara, bayangan Dante bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuh besarnya. Sebelum Adrian sempat menarik kembali tangannya yang baru saja memukul Elara, sebuah cengkeraman sekeras baja langsung mengunci pergelangan tangannya.

Matanya menunjukkan amarah yang besar.

KRETEK!

"AAAGHH?!" Adrian menjerit histeris ketika Dante memutar pergelangan tangannya hingga tulang radiusnya bergeser dari sendinya.

Belum sempat jeritan Adrian mereda, tangan kiri Dante yang bebas melesat, menghantam rahang kanan Adrian dengan kekuatan penuh.

BUM!

Tubuh Adrian terpental ke udara, berputar setengah lingkaran sebelum menghantam meja kayu panjang di sudut ruangan hingga hancur berkeping-keping. Adrian terkapar di antara puing-puing kayu, memuntahkan darah segar beserta dua gigi gerahamnya yang patah. Ia terbatuk-batuk, memegangi rahangnya yang kini bergeser miring, matanya melebar karena syok dan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

"Adrian!" Silas berteriak panik, kehilangan seluruh wibawa lamanya. Ia mencoba melangkah maju untuk membantu Adrian, namun satu tatapan dingin dari Dante membuat langkah kaki tetua tua itu langsung membeku di tempat.

Dante setengah menarik pisaunya dari sarung di pinggang, memancarkan niat membunuh hingga Silas merasa jika ia mengambil satu langkah lagi, kepalanya akan menggelinding di lantai beton.

Elara perlahan memutar kembali kepalanya. Tangan kirinya bergerak, ujung jarinya mengusap sudut bibirnya yang sedikit pecah dan mengeluarkan setitik darah merah. Ia menatap bercak darah di jarinya itu dengan pandangan yang terlihat... penasaran.

Ia melangkah mendekati Adrian yang kini merangkak di lantai.

Elara berlutut dengan satu kaki di depan Adrian yang kini berlumuran darah dan air mata menahan sakit. Elara mencengkeram rambut Adrian dengan kasar, memaksa pemuda itu menatap langsung ke dalam matanya.

"Kau tahu, Adrian," bisik Elara, suaranya begitu lembut, hampir seperti bisikan seorang kakak yang sedang menidurkan adiknya. "Dua bulan lalu, aku memotong leher seratus orang di Dermaga 3 karena mereka berpikir mereka bisa bermain-main denganku."

Mata Adrian yang bengkak melebar.

Ketakutan mulai merayap di dadanya.

"Kau pikir kau masih berada di dalam permainan yang sama denganku?" Elara melepaskan cengkeraman rambut Adrian hingga kepala pemuda itu terhentak ke lantai beton.

Elara bangkit berdiri, mengambil saputangan dari saku mantel Dante, lalu menyeka tangannya yang terkena darah Adrian.

"Jaga mereka tetap hidup, Dante," ucap Elara sambil berbalik arah menuju pintu keluar. "Pastikan mereka bekerja dua kali lebih keras besok. Jika tangan Adrian patah, dia masih punya kaki."

"Baik," jawab Dante mengangguk.

1
Fazira
Semangat Kak💪
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
Fazira
Cemburu yaa😍
Fazira
Gimana rasanya dipeluk Elara julian🤭
nebula🌌
elaraaa
Kustri
dikerubuti laki" hebat, kira" siapa diantara mrk yg akan jd pasangan elara🤔
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
Kustri
ck! dante, kau akan jatuh klu gk bisa mengontrol emosimu,
Kustri
kamulah yg akan mjd org pertama😤👊🪠🧹🤭
nebula🌌
"menarik"
nebula🌌
good
nebula🌌
semangaaaat..
juliaaan👍👍
nebula🌌
elaraaa
nebula🌌
wooaa elaraaaa/CoolGuy/
Fazira
Dante jangan mati dulu yaa
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
Skyline Scribe: Iyaaa👍
total 1 replies
Fazira
orang baru masuk
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
Fazira: apakah... nggak kan kak? /Sob/
total 2 replies
Fazira
ceritanya makin berat
semangat kak💪💪
Skyline Scribe: siap💪
total 1 replies
Fazira
Julian ini emang hobi provokasi orang
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
Skyline Scribe: apa yaa 🤔
total 1 replies
Fazira
jadi kepo masa kecilnya elara
Skyline Scribe: tunggu aja backstory nya elara👍
total 1 replies
Fazira
ngeri sekali thor
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..
Skyline Scribe: /Shhh//Shhh/
total 1 replies
Kustri
luar biasa thor👍
Skyline Scribe: Makasih kak😍
total 1 replies
Kustri
julian malah bikin rusuh nanti, ingin menguasai organisasi (susah nulis'a) 🤭
Kustri: dan qu suka baca karyamu thor!

untung on going bisa ngikuti ampe brp partpun, biasa'a qu klu liat lbh dr 100 agak malas
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!