NovelToon NovelToon
Selamatkan Putri Kita, Tuan CEO

Selamatkan Putri Kita, Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Reinata Ramadani

"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."

Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.

Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.

Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.

"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Tidak Bersalah

"Bu, Marsha kolaps lagi."

Kalimat itu bagai sebilah pedang yang kini menghujam tepat di jantungnya. Membuat nafasnya tercekat. Alina merasakan sesak saat kenyataan itu kembali menamparnya.

Tanpa memperdulikan kondisi tubuhnya, ia mencabut paksa jarum infus yang menancap di punggung tangannya. Darah merah segar itu seketika merembes, menetes satu-satu ke lantai keramik yang dingin.

Sakit.

Namun ia tidak perduli.

Dengan langkah terseok, ia melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit, menciptakan gema yang berpacu dengan detak jantungnya yang kini menggila.

"Nyonya Alina! Tunggu! Kondisi Anda belum stabil!"

Teriakan panik dari beberapa perawat di belakangnya terdengar seperti angin lalu. Alina terus melangkah, ia harus segera bertemu dengan putrinya sebelum semuanya terlambat.

"Nyonya, anda mau kemana. Kondisi anda belum pulih."

Air mata itu seketika luruh membasahi pipinya. Dalam tangis itu, ia menggeleng. "Putri saya, Sus... Tolong, putri saya kritis!"

"Saya bantu, Nyonya. Tolong anda duduk di sini."

Seorang perawat dengan sigap menahan tubuh Alina yang nyaris ambruk, lalu menuntunnya ke atas kursi roda.

"Tolong, cepat sus. Putriku menungguku."

Roda besi itu berputar cepat, berdecit membelah keheningan koridor yang terasa begitu mencekam.

"Tuhan, tolong jangan ambil dia dariku." Batin Alina menjerit. Nafasnya memburu. Tangannya yang berlumuran darah kini gemetar hebat di atas pangkuannya.

Sesampainya di ruangan itu, Alina seketika menghambur, mencengkeram jas putih sang dokter yang baru saja keluar. "Dokter... bagaimana kondisi putri saya? Marsha baik-baik saja, 'kan?"

Dokter itu terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menggeleng dengan penuh rasa iba. "Saat ini Marsha telah keluar dari masa kritisnya, Bu. Tapi..." Ia menghela napas berat, menatap Alina dengan wajah pesimis. "Kita tidak dapat menunggu lagi. Kondisinya semakin parah dalam dua hari terakhir. Saya khawatir, jika Marsha mungkin tak akan bisa bertahan dua minggu lagi."

Mendengar kenyataan pahit itu, pertahanan Alina seketika runtuh. Isaknya kembali luruh.

"Apakah... apakah tidak ada cara lain lagi yang bisa kita lakukan, Dokter? Tolong... saya mohon, selamatkan putriku..."

Dokter itu menghela napas berat, "Hanya donor sumsum tulang yang kini bisa menyelamatkan putri ibu. Kita benar-benar tidak memiliki jalan lain lagi. Prosedur kemoterapi yang selama ini kita upayakan, nyatanya tidak lagi cukup mampu untuk membendung sel kanker yang kini semakin agresif."

Dunia Alina seketika runtuh. Tubuhnya berguncang hebat, tergugu dalam duka yang teramat dalam.

Tuhan...

Harus dengan cara apa lagi aku berjuang.

Harus dengan cara apa lagi aku memohon kepadamu.

Tolong... Tolong selamatkan putriku.

Jika aku bersalah. Hukum saja aku.

Jangan putriku... dia tidak bersalah.

Aku... Hukum aku saja.

Jeritnya pilu dalam hati

Di tengah badai keputusasaan yang mencekik itu, sebuah suara yang sangat familier tiba-tiba memecah keheningan.

"Lin..."

Dengan wajah sembabnya, Alina menoleh.

"Teteh..."

Melihat sosok itu, Alina seketika menghambur, ia jatuhkan seluruh beban tubuhnya ke dalam dekapan hangat itu.

Tangis itu pecah.

"Maaf... Teteh baru bisa ke sini, Lin," bisik Ummi Hannah. Suaranya bergetar hebat, sarat akan penyesalan yang mendalam.

"Teh, Marsha-" Suaranya tercekat. "Marsha tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Alina harus gimana? Al takut. Al takut ngga bisa nyelametin Marsha. Al takut, Teh... Al harus gimana... ."

Ummi Hannah mengusap punggung yang bergetar itu penuh iba.

Ia paham. Paham sekali apa yang tengah dirasakan Alina saat itu. Ia juga seorang ibu. Dan tidak ada seorang ibu pun yang akan baik-baik saja saat nyawa anaknya tengah di ujung tanduk.

"Sabar ya Lin." Bisik ummi Hannah, menahan getar suaranya sendiri. "Kamu harus yakin dengan jalan Tuhan. Semua takdir yang Tuhan berikan pada kita, itulah yang terbaik. Jika memang Marsha tidak bisa bertahan lagi, mungkin Tuhan lebih sayang dengan Marsha. Marsha tidak akan sakit lagi."

"Tapi- tapi bagaimana dengan Alina teh. Gimana sama Alina?" Alina berseru tak terima. Mana bisa ia hidup tanpa putrinya yang selama ini menjadi alasan terbesarnya untuk tetap bertahan.

"Alina ngga bisa, Teh. Alina ngga akan bisa jika harus kehilangan Marsha. Jika memang tuhan mengambil Marsha, kenapa sejak awal Tuhan mengirimkan Marsha untuk Alina. Kenapa tidak membiarkan Alina mati saja waktu itu... Alina ngga bisa. Kasihan Marsha, Teh... ." Suaranya melemah di akhir kalimat, berganti menjadi rintihan pilu yang menyayat.

Ummi Hannah hanya bisa mempererat pelukannya, membiarkan perempuan itu tergugu dalam nestapa. "Tenang ya Lin. Semua akan baik-baik saja. Kita berdoa sama Tuhan. Semoga Tuhan memberikan kamu kesempatan untuk bersama Marsha lebih lama lagi."

Sementara itu, di kejauhan, seorang laki-laki kini tengah berdiri di ujung koridor yang temaram. Rahangnya mengeras saat menatap pada kedua sosok yang saling merengkuh dalam tangis yang pilu. Buku-buku jarinya memutih, mencengkeram erat secarik kertas kusut yang ternoda oleh bercak darah yang mengering.

"Selidiki apa yang telah terjadi pagi tadi."

☆☆☆☆☆☆☆☆

Annyeong chingu

Hehehehe

Maaf up ini agak lama, wkwk

Happy reading

Saranghaja 💕💕💕

1
Nar Sih
sabar alina ,pssti ada keajaiban untuk marsha ,smoga leon trrbuka hati nya dan sgra menolong putri nya
Nia Rahmadini
kak boleh update nya double hehehe
Nar Sih
semoga dgn cerita dri umi hanah kmu bisa sadar akan slh mu leon ,dan sgra cri tau keadaan 4th lalu saat kmu tk sadar stlh kecelakaan itu
Sunarti Narti
Alhamdulillah akhirnya kebenaran segera terungkap, semoga kamu ga menyesal Leon
Nar Sih
semoga kali ini leon tebuka hti nya sadar akan kesalahan nya ,dan bnr,,bisa bantu marsha biar sembuh lgi ,dobel up lgi ya kak rei🙏🥰🥰
May Satibi Satibi
jangan lama" kak update nya ini novel favorit aku bulan ini
apiii
di tunggu up selanjutnya thor❤️
apiii
astagaa bacanya sambil tahan napas tegang bangt baca setiap kalimat ngena bngt🥹
apiii
parah banget jadi bapak🥹
apiii
thor singkat bangt🥲
Nia Rahmadini
kapan sih update lagi kak
apiii
akhirnya up lgi 🥲🥰
Nar Sih
dobel up yaa kakk 🙏👍
Nia Rahmadini
update lagi kak naangung cerita
apiii
makin penasarannn tapi harus nungguin part selanjutnya🥲
Nia Rahmadini
update kak lagi, cerita nya bagus banget.
Yuni Afiatun
suka setiap karya nya,,
tapi tunggu up nya harus bersabar
yulithong
hrs sabar menunggu ini🤔
Sun Rise
ok
Nar Sih
semoga kali ini sgra terungkap semua nya yg sbnr nya dan leon sadar dgn salah nya ,semagat ya alin juga semagatt untuk kak reinata moga up nya lancar💪💪🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!