Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Neraka Bertekanan Tinggi
Getaran di lantai baja ruang kendali itu merambat naik hingga ke gigi Arka yang bergemeretak. Melalui dinding kaca buram, ia melihat tiga siluet gelap bergerak menyusuri catwalk (titian berlubang) di luar. Moncong senapan serbu mereka memantulkan kilatan lampu strobo merah yang berputar gila-gilaan.
Arka merosot, berjongkok rapat di balik meja konsol logam. Keringat membanjiri pelipisnya, mengalir turun ke luka bakar di dadanya dan memicu rasa perih yang seolah menyayat ototnya dengan belati panas. Napasnya memburu, namun deru mesin diesel raksasa Dewi Andalas menelan segala suara napasnya.
Ia mencengkeram kunci pas baja seberat dua kilogram di tangan kanannya. Gagang besi itu terasa licin oleh pelumas dan keringat dinginnya sendiri. Arka menelan ludah yang terasa seperti pasir. Jika ia mencoba mengayunkan benda ini untuk melawan tiga tentara elit, tubuh kurusnya akan dilubangi peluru sebelum tangannya sempat terayun penuh.
Aku butuh pengalihan. Sesuatu yang mematikan, atau setidaknya membutakan.
Matanya yang memerah dan perih oleh asap menyapu konsol analog di atas meja. Di antara deretan tombol berdebu dan layar tabung yang berkedip hijau, terdapat sebuah tuas baja berlabel merah pudar dengan tulisan tegak bersambung: TURBINE STEAM PURGE - MANUAL OVERRIDE (Pembuangan Uap Turbin - Kendali Manual).
Jarak para penjaga sekarang kurang dari dua meter dari pintu geser kaca. Cahaya senter taktis mereka menembus masuk, menyapu bagian bawah meja tepat beberapa sentimeter dari ujung sepatu Arka.
Arka tidak membuang waktu. Dengan sisa tenaga di otot lengannya yang gemetar, ia mengangkat kunci pas baja itu, lalu menghantamkannya ke gembok pengaman kuningan yang mengunci tuas merah tersebut.
KRAAAK! Gembok tua itu patah. Arka langsung menarik tuas merah itu ke bawah dengan seluruh berat tubuhnya.
Di luar ruang kaca, tepat di bawah lantai catwalk tempat ketiga tentara bayaran itu berpijak, pipa baja penyalur uap setebal paha manusia merespons seketika.
PSSSSSHHHHH!!!
Semburan uap air mendidih bertekanan masif bersuhu nyaris seratus dua puluh derajat Celcius meledak ke atas. Uap itu menyembur menembus lubang-lubang lantai *ca*twalk bak letusan geyser, menghantam langsung kaki dan tubuh bagian bawah ketiga penjaga tersebut.
Meski deru mesin kapal sangat bising, Arka bisa melihat mulut para penjaga itu terbuka lebar, menjerit dalam penderitaan absolut. Uap panas itu secara harfiah merebus kulit mereka menembus seragam serat sintetis. Jarak pandang di lorong itu seketika anjlok menjadi nol. Udara berubah menjadi kabut putih tebal yang melepuhkan apa saja yang disentuhnya.
Panik dan buta oleh rasa sakit, salah satu penjaga melepaskan rentetan tembakan membabi buta dari senapannya.
PRANG! PRANG! Kaca ruang kendali pecah berkeping-keping, menghujani punggung dan lengan Arka dengan kristal tajam.
Arka tahu uap panas ini akan segera memanggangnya juga jika ia tetap meringkuk di sana. Sambil menutupi hidung dan matanya dengan lipatan kerah kemeja yang basah, Arka memaksakan diri berdiri dan menerobos keluar melalui bingkai jendela kaca yang hancur.
Hawa uap basah langsung menampar kulitnya. Rasanya seperti melompat ke dalam panci rebusan. Arka terbatuk hebat. Kakinya tersandung tubuh salah satu penjaga yang sedang meronta-ronta di lantai logam.
Penjaga yang setengah buta itu secara refleks mencengkeram pergelangan kaki Arka dengan cengkeraman maut.
Sambil mengerang menahan sakit di dadanya yang seakan mau robek, Arka mengangkat kunci pas bajanya dan menghantamkannya sekuat tenaga tepat ke jari-jari penjaga yang terbungkus sarung tangan taktis. Terdengar bunyi tulang berderak patah. Cengkeraman itu terlepas seketika.
Arka tidak menoleh ke belakang. Sambil menyeret langkahnya yang pincang dan menahan hawa panas yang membakar matanya, ia merangkak menembus tabir uap pekat tersebut. Ia melarikan diri menyusuri sisi dinding mesin raksasa, menuju palka kecil berkarat di sudut ruangan yang mengarah ke geladak bawah.
Ia selamat dari ruang mesin. Kini, lorong B-4 dan rahasia *Living*Manamilik Sitorus telah menantinya.
***
**[AUTHOR NOTE]**Ini baru namanya peretas analog! Arka sama sekali nggak perlu jago berantem buat melumpuhkan 3 tentara elit. Dia cuma butuh memanipulasi tuas pembuangan uap panas turbin untuk menciptakan jebakan uap bertekanan tinggi yang secara harfiah merebus musuhnya hidup-hidup! Kini Arka berhasil lolos dari kepungan dan bergegas menuju Lorong B-4 untuk mematikan pendingin Nitrogen Sitorus. Mampukah Arka yang fisiknya sudah nyaris hancur ini menyelesaikan misinya sebelum Sitorus menyadari rencananya?!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼