Sepuluh tahun lalu Xuan Ji menggunakan seni beladiri rahasia Klan Xuan untuk mengalahkan Kaisar Iblis. Setelah itu ia tiba-tiba menghilang dan dalam catatan sejarah, tidak ada nama Xuan Ji yang menaklukkan Kaisar Iblis tersebut.
Setelah Sepuluh tahun Perang melawan Kaisar Iblis, di Sekte Pedang Abadi muncul seorang Penatua bernama Xuan Ji juga. Namun, basis Kultivasinya sangat rendah dan mata duitan.
Ketua Sekte Pedang Abadi tidak ingin Penatua Xuan Ji hanya makan gaji buta saja. Kemudian ia memaksa Penatua Xuan Ji turun gunung untuk merekrut murid. Xuan Ji tidak boleh kembali sampai ia harus membawa minimal Sepuluh murid.
Xuan Ji dengan sombong mengatakan akan membawa murid baru dan menjadikan mereka sebagai Kultivator terkuat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Regar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Assassin Kaisar Surgawi
Mu Xian berdiri di depan Mu Qingqing sembari mengarahkan pedangnya ke arah tiga Assassin tersebut.
Dia tahu kalau ia tidak akan menang melawan Kaisar Surgawi itu, karena basis Kultivasinya hanya Ranah Raja Surgawi saja.
“Andai saja ada kehidupan setelah kematian, maka aku ingin terlahir menjadi saudaramu lagi dan akan melindungi Qingqing‘er,” kata Mu Xian menghela napas panjang.
“Kakak Xian … aku juga ingin selalu menjadi adikmu,” sahut Mu Qingqing menangis tersedu-sedu.
“Ha-ha-ha … perpisahan yang mengharukan, tetapi sayang sekali. Kalian hanya dipertemukan di neraka sana!” ejek Assassin itu mengeluarkan Belati dari cincin dimensinya.
Dia berencana membunuh Mu Xian dan Mu Qingqing dengan cara melempar belati ke dada mereka. Dia tidak berani mendekati keduanya karena takut mereka juga memiliki artefak kuno yang dapat melepaskan ledakan besar, apalagi kini mereka hanya memiliki sedikit energi spiritual yang tersisa.
“Matilah … eh?” Dia terkejut Jarum beracun menancap di dadanya dan yang mengejutkannya, ia tahu serangan itu muncul dari Pria tua di atas tembok kota di depannya. Namun, ia tidak memiliki kesempatan menepisnya, karena lemparan Pria tua itu terlalu cepat sekali.
Assassin Ranah Kaisar Surgawi itupun terjatuh dari Pedang terbangnya dan menghantam tanah dengan tubuh terbujur kaku.
“Berani sekali kau diam-diam menyerang temanku, Pak tua sialannn!” bentak Assassin yang lain segera mengeluarkan belati.
Xuan Ji tersenyum sinis menatap kedua Assassin itu dan mengeluarkan Pedang Iblis Surgawi dari cincin dimensinya.
“Tua-tua begini aku sudah membunuh Kaisar Iblis Surgawi,” sahutnya dengan bangga. “Ya, walaupun kondisinya sudah kelelahan karena harus menghadapi musuh tiada henti-hentinya. Namun, menghadapi Kaisar Surgawi yang sudah terluka parah seperti kalian tak perlu membuatku menggunakan Jurus rahasia Klan Xuan.”
“Klan Xuan? Kaisar Iblis?” Kedua Assassin itu malah kebingungan, karena mereka tidak pernah mendengar nama Klan Xuan, sementara Kaisar Iblis hanyalah cerita dongeng turun-temurun yang mengatakan ada Iblis di balik Pegunungan Benteng Besar.
Xuan Ji sudah menduga tidak akan ada yang percaya kalau dirinyalah yang membunuh Kaisar Iblis Surgawi. Namun, itu tidak penting, yang penting sekarang adalah membereskan Dua Kaisar Surgawi yang terluka parah ini.
Untuk menghemat energi spiritual-nya, Xuan Ji tidak menggunakan seni beladiri yang membutuhkan energi spiritual besar. Dia langsung melesat ke depan musuh sembari menebas Belati yang mereka lempar.
Kebetulan juga kedua musuh tidak lagi memiliki banyak energi spiritual, sehingga mereka juga memutuskan menggunakan pertarungan seni beladiri dengan sedikit energi spiritual.
Ketua Klan Yan dan para Pendekar Kota Long Yuan tercengang melihat pertarungan antar seniman beladiri tersebut. Tentu yang paling membuat mereka hampir merasa sedang bermimpi sehingga harus mencubit rekan disebelahnya adalah Penatua Sekte Pedang Abadi yang hanya memiliki basis Kultivasi Ranah Raja Bumi dapat mengimbangi serangan Dua Kaisar Surgawi.
Setiap Pedang mereka berbenturan, langit dan bumi bergetar hebat. Penduduk Kota Long Yuan langsung ketakutan, bila Kaisar Surgawi itu dalam kondisi prima maka mungkin Kota Long Yuan sudah menjadi puing-puing bangunan hanya dari efek ledakan energi spiritual mereka.
“Tunggu sebentar!” seru Xuan Ji mundur seratus langkah. Napasnya terengah-engah, pinggangnya juga terasa sakit karena harus bergerak cepat untuk mengimbangi serangan kedua Kaisar Surgawi itu. “Brengsekkk, di mana-mana Sesepuh itu adalah keberadaan terkuat dan napas mereka saja dapat membuat Bumi terguncang. Kenapa aku malah seperti Pria tua yang kehabisan obat sesak napas?” keluhnya menghirup udara perlahan-lahan.
Namun, Kedua Kaisar Abadi itu merasa saat inilah kesempatan mengalahkan Pria tua itu. Mereka yakin Xuan Ji sudah tidak mampu lagi bertahan dalam beberapa serangan.
Sudut bibir Xuan Ji tiba-tiba memancarkan seringai tipis dan berkata, ”Jangan pernah lengah terhadap Pria tua ha-ha-ha.”
Xuan Ji mengayunkan Pedang Iblis Surgawi ke arah dua Kaisar Surgawi yang hanya berjarak lima langkah darinya. Energi spiritual Api Biru berbentuk Bulan Sabit melesat ke arah Dua Assassin.
Kedua Assassin itu terkejut serangan yang mengandung energi spiritual Api Biru telah muncul di depan mereka. Tidak ada kesempatan untuk menepis ataupun menghindarinya, karena Avatar Bulan Sabit itu selebar Kota Long Yuan.
Perkebunan dan lahan pertanian di dekat Kota Long Yuan serta beberapa ratus hektar Hutan Bambu langsung rata dengan tanah, termasuk kedua Kaisar Surgawi itu.
“Ku-kuat sekali!” gumam Mu Xian tercengang dengan mulut menganga lebar.
Seandainya semua Raja Bumi di Klan-nya sekuat Xuan Ji, maka Tujuh Kaisar Surgawi Klan Mu-nya tidak akan kewalahan menghadapi para Assassin.
Namun, tiba-tiba muncul dibenaknya pikiran mungkin Xuan Ji sengaja menyembunyikan basis Kultivasinya yang sesungguhnya, atau seperti kata pepatah berpura-pura menjadi Kucing Oren padahal aslinya Harimau ganas.
“Lupakan tentang basis Kultivasi Pria tua itu. Bila kami meminta bantuan padanya, mungkin dia bisa menolong Klan Mu-ku,” gumam Mu Xian sembari memapah Mu Qingqing dan berjalan menuju Xuan Ji yang sedang mengambil cincin dimensi Ketiga Kaisar Surgawi tersebut.
Xuan Ji tersenyum lebar saat mengintip isi cincin dimensi itu. Dia tidak menyangka itu penuh dengan gundukan Koin Emas, sumberdaya, dan berbagai macam artefak serta senjata.
Dia juga tidak menyangka ramuan herbal di dalam cincin dimensi itu lebih berkualitas dari ramuan herbal di wilayah tengah, sehingga ia penasaran dari mana mereka mendapatkannya. Kalau ia mengkonsumsinya secara teratur dalam seratus tahun kedepan, mungkin basis Kultivasinya akan kembali ke Ranah Kaisar Surgawi.
Namun, mereka sudah mati, sehingga ia tidak akan bisa mengetahui di mana Alkemis pembuat ramuan herbal tersebut.
“Mu Xian menyapa Sesepuh,” sapa Mu Xian sembari menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat.
“Mu Qingqing menyapa Kakek Legend,” sapa Mu Qingqing menangkupkan tinju juga.
Namun, Xuan Ji terkejut dipanggil Kakek Legend oleh remaja cantik berusia 14 tahun tersebut dan berpikir apakah wajahnya memang memancarkan aura legendaris, padahal ia hanya menggunakan seni beladiri tingkat rendah Sekte Taixu.
Karena ia ingin menjadikan mereka sebagai muridnya, ia pun berpura-pura menjadi sosok Sepuh legendaris seperti para Sesepuh di Sekte dan Klan besar.
Xuan Ji mengangguk pelan sembari mengelus-elus janggut putihnya. “Dari mana asal kalian? Kenapa kecebong parit itu mengejar kalian?”
Mu Xuan menggertakkan gigi, darahnya tiba-tiba mendidih dan berkata, “Sesepuh! Tolong selamatkan Klan Mu kami. Kalau Sesepuh menolong kami, maka aku akan bersedia menjadi budakmu selamanya!”
“Kakak! Apa yang kau lakukan?” Mu Qingqing terkejut mendengarnya.
Xuan Ji juga terkejut mendengarnya, tetapi ia tidak pernah mendengar tentang Klan Mu tersebut dan tidak ada Klan Mu di wilayah tengah seperti Klan Zi.
“Aku bisa membantu kalian, tetapi di mana Klan Mu berada? Aku belum pernah mendengar nama Klan tersebut,” sahut Xuan Ji.
“Eh? Sesepuh tidak mengenal Klan Mu kami? Padahal kami berada di dekat Utara pegunungan benteng besar ini,” jawab Mu Xian dengan ekspresi wajah kebingungan. Walaupun hanya Klan kecil, Klan Mu cukup terkenal di wilayah Utara Benua Tianwu.