Time travel ke tubuh gadis yang bunuh diri, membuat Elliana kembali mendapatkan penampilannya yang dulu. Dia ingin mengubah takdir bagi Sabrina, pemilik tubuh yang tertekan dengan semua bullyan teman-temannya di kampus.
Elliana juga mencairkan tabungannya untuk membantu Sabrina dalam perubahan yang akan dilakukannya.
Apakah Elliana akan berhasil dan kuat dengan tubuh baru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertikaian
Lolli sudah tiba di Semarang, tapi dia tidak tahu jika kakaknya, Alex, sedang mengincar gadis yang sudah menjadi incaran Riyan juga. Jadi, di saat Alex meminta anak buahnya untuk mengawasi Sabrina, Lolli bertanya-tanya tentang keadaan ini.
"Hey kak Alex, apa kabar?"
Lolli mengapa kakaknya, begitu tiba di Semarang. Dia juga membungkukkan setelah badannya, sebagai salam hangat layaknya orang Jepang, baru kemudian memeluk Alex.
"Hey adikku Lolli, kabar baik. Kamu sudah sampai di Semarang lagi. Jadi, bagaimana juga kabarmu?" Alex menyambut adiknya.
"Iya, baru tiba beberapa jam yang lalu. Tapi ada yang ingin aku tanyakan, apa kamu sedang mengincar gadis yang juga jadi incaran Riyan? yang siapa itu..."
"Oh, Sabrina? Ya, aku sedang mengawasinya sekarang. Kenapa?"
Lolli bukannya tidak suka, tapi Alex pernah mengatakan bahwa tidak akan pernah tertarik dengan gadis Indonesia lagi setelah bercerai dengan Elliana. Tapi sekarang keadaannya berbeda, karena Alex justru kembali mengejar-ngejar Sabrina.
"Tapi, kakak tahu kan kalau Riyan juga suka padanya? Dan, apa kakak lupa dengan perkataan kalak dulu?"
"Hahaha... Riyan? Dia tidak punya apa-apa yang bisa ditawarkan pada Sabrina. Aku sudah memutuskan kalau dia tidak akan bisa mendekati gadis itu." Alex menjawab pertanyaan adiknya dengan percaya diri.
"Jangan terlalu percaya diri, kak. Bagaimana kalau Sabrina memilih Riyan?"
"Tidak mungkin, Lolli. Aku sudah memastikan kalau anak buahku mengawasi Sabrina dengan ketat. Selama Sabrina berada di bawah pantauan ku, tidak ada yang bisa mendekatinya."
"Ck, aku tidak setuju dengan cara ini, kak Alex. Kita tidak bisa membuang-buang tenaga anak buah kakak hanya untuk mendapatkan hati Sabrina, kan?"
"Sudahlah. Kami tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya sendiri."
Kali ini Alex tidak mau mendengarkan adiknya. Dia memiliki pemikiran sendiri tentang gadis incarannya, yang menurutnya sangat menantang.
*****
"Bagaimana rasanya dicampakkan Tia?" tanya Nana pelan, namun masih bisa di dengar oleh Tia yang sedang mengaduk jus mangga.
Tia menoleh ke arah sumber suara, menatap tak suka pada Nana dengan pertanyaan yang lebih mirip sebagai sebuah ejekan.
"Apa maksudmu, Na?" tanya Tia balik, tidak mengerti maksud dari pertanyaan Nana.
Meskipun memberikan sebuah pertanyaan, Tia tetap menatap tajam temannya yang dulu sama-sama pernah membully Sabrina.
"Lihatlah pangeran tampan itu, yang sebentar lagi akan menjadi milik gadis lain, bagaimana perasaanmu setelah dicampakkan, sebelum kamu tempat memiliki?" Nana kembali memberikan pertanyaan yang membuat kuping panas.
Kali ini Tia benar-benar meradang, ia tidak bisa lagi menahan amarahnya. "Lalu bagaimana dengan perasaanmu, jika rasa cintamu bertepuk sebelah tangan? bahkan kau di tolak sebelum menyatakan!" ucap Tia dengan jengkelnya.
Perdebatan sengit itu terjadi tanpa di ketahui orang lain karena mereka sama-sama menekankan suaranya, dan berada di sudut kantin kampus.
Hanya Marcel yang baru saja datang, yang menyadari keduanya sedang berseteru, seakan memperdebatkan sesuatu. Marcel sedikit banyak tahu tentang kedua teman ceweknya, yang kemarin baru saja dimintai tolong.
Tia sudah tidak memperdulikan keadaan kantin kampus, kemudian bertanya pada temannya yang pernah dia bantu bersama dengan Sabrina dari jeratan Johan.
"Kau..." desis Tia saat tidak bisa menahan diri.
"Hentikan Tia!" ucap Marcel memperingatkan.
"Jika kalian tidak ingin terjadi keributan yang akan merugikan diri kalian sendiri, sebaiknya kalian hentikan sekarang juga!" ucap Marcel tegas penuh penekanan.
Tia yang merasa geram, lalu menghempas kasar cekalan tangan Marcel dari tangannya.
"Ingat, Na! urusan kita belum selesai."
Setelah selesai mengatakan peringatan dan ancaman, Tia berlalu pergi. Marcel tidak dihiraukannya, meskipun cowok tersebut memanggil-manggil namanya.
"Tia, tunggu! Tia..."
"Terima kasih, Marcel!" ucapan terima kasih dari Nana, justru menghentikan Marcel.
Marcel berdiri dengan tangan mengepal kuat menahan amarahnya, melihat ke arah Nana. "Apa yang kalian perdebatkan tadi?" tanya Marcel dengan tatapan tajam.
"Tidak. Aku tidak bicara apa-apa." Nana mengelak dari pertanyaan yang diajukan oleh Marcel padanya. Pertanyaan ini seperti sebuah tuduhan, jika dia yang bersalah.
"Aku cukup mengenal siapa Tia, jadi dia tidak mungkin semarah itu, apalagi dengan kamu yang merupakan teman dekatnya. Pasti ada sesuatu yang menyinggung perasaannya, dan aku yakin jika itu adalah kamu!"
Nana blingsatan. Semua memang kesalahannya yang meledek Tia secara tidak langsung atas cinta Tia yang bertepuk sebelah tangan pada Marcel. Sebab pada kenyataannya, Marcel justru mencintai Sabrina. Gadis yang sering mereka bully.
Karena Nana menundukkan wajahnya, Marcel mendekat dengan rahangnya yang mengeras menahan amarah. "Aku tidak suka jika ada sebuah pertemanan ataupun persahabatan yang hancur hanya karena kesalahan satu orang yang memang egois dan tidak punya rasa malu serta terima kasih. Itu sungguh suatu kerugian!"
Suara Marcel memang sangat pelan, sehingga tidak bisa didengar oleh orang lain yang ada di kantin ini. Tapi tidak untuk telinga Nana. Dia bisa mendengarnya dengan jelas, membuatnya berdebar risau.
Semua yang terjadi tadi, antara dirinya dengan Tia, memang kesalahannya. Dia yang mulai mengolok-ngolok Tia, pada saat Marcel baru terlihat.
"Maaf. Aku..."
"Aku tidak peduli! Dan yang pasti, aku tidak memiliki peranan penting dalam permintaan maafmu." potong Marcel cepat.
Marcell memang tidak mengetahui duduk persoalan yang menjadikan kedua teman ceweknya yang itu bertikai. Dia hanya ingin keduanya akur seperti dulu, apalagi sekarang ini juga ada Sabrina, yang sudah menjadi teman baik mereka meskipun jarang terlihat bersama-sama.
'Oh ya, di mana Sabrina? apa ini ada kaitannya dengan Sabrina?'
Marcel melihat sekeliling mencari keberadaan Sabrina, tapi dia tidak menemukan sosok yang dicari.
"Kami tadi hanya berdua, tidak ada Sabrina diantara kami dan pertengkaran kami tadi."
Tanpa ditanya, Nana justru memberikan penjelasan karena dia tahu betul bahwa Marcel sedang mencari sosok sabrina diantara banyaknya mahasiswa-mahasiswa yang berada di kantin kampus.
"Lalu?" tanya Marcel singkat.
Dari apa yang dia dengar tadi, Marcel bisa membuat kesimpulan bahwa permasalahan kedua teman ceweknya ini ada kaitannya dengan Sabrina.
"Maaf. Aku, tadi aku hanya ingin bergurau. Tapi, Tia justru menanggapi dengan serius."
Alis Marcel terangkat satu, seakan-akan bertanya dan ingin Nana melanjutkan kalimatnya untuk memberikan penjelasan.
Akhirnya tanpa diminta secara langsung, Nana kembali menceritakan tentang kejadian yang membuatnya bertikai dengan Tia.
Setelah mendengar semua cerita Marcel, dia terlihat kesal dengan sikap Nana. "Wajarlah jika dia marah. Jangan pernah lagi menyinggung soal perasaan seseorang, pada saat bersama dengan orang tersebut. Apalagi orang itu adalah temanmu, dan kamu tahu bagaimana cerita yang sebenarnya."
Nana menganggukkan kepalanya mengiyakan, paham dengan maksud perkataan Marcel yang sedang menasehati dirinya.
"Maaf. Aku..."
"Mintalah maaf pada, Tia!"
dan skrng Lolli memng pntas klo sampai kehilangn rasa percya diri krn putus kakinya akibt kecelakaan yg dibuat sndri...