NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Action
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.

Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.

Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.

"Aku adalah ... Qin Xiang."

Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#15: Desa Quang Dalam Bahaya

Tak butuh waktu lama bagi regu Qin Xiang untuk menembus lebatnya hutan kuno yang memisahkan Sekte Pedang Giok dengan peradaban luar. Namun, begitu tirai hijau pepohonan itu menghilang dari pandangan, pemandangan yang menyambut mereka justru membuat dada seolah dihantam godam besar. Desa Quang, pemukiman yang dulunya tenang dan penuh dengan tawa penduduk, kini tengah berada di ambang kehancuran. Dari kejauhan, gerombolan binatang buas terlihat mengamuk layaknya air bah hitam yang meluap dari neraka, melahap apa saja yang berdiri di jalurnya.

Pusat desa sudah rata dengan tanah, hanya menyisakan tumpukan puing yang masih mengepulkan asap hitam ke langit yang suram. Satu-satunya yang tersisa adalah sudut barat desa—sebuah benteng darurat yang kini menjadi tempat perlindungan terakhir bagi para penduduk yang selamat. Di sana, segelintir kultivator ranah Pemurnian Qi milik desa bertarung habis-habisan dengan sisa tenaga yang ada, mencoba menahan gempuran monster agar tidak menembus barikade terakhir.

"Cepat! Jangan biarkan pertahanan itu runtuh!" Duan Du berteriak dengan nada memerintah yang sangat kencang. Ia melesat paling depan, jubahnya berkibar ditiup angin yang membawa bau kematian. Ia tampak sangat ingin menunjukkan kewibawaannya sebagai pemimpin regu di depan semua orang.

Begitu mereka menginjakkan kaki di lorong-lorong desa, suasana seketika berubah menjadi sangat mencekam. Mayat-mayat penduduk berserakan di atas jalanan berbatu yang kini bersimbah cairan merah. Kondisinya sungguh mengerikan; banyak raga yang sudah tidak utuh lagi, dengan anggota tubuh yang hilang atau dada yang koyak bekas terkaman taring-taring kelaparan. Bau anyir darah yang begitu pekat menyengat indra penciuman, memicu rasa mual yang hebat bagi siapa pun yang belum terbiasa melihat medan pembantaian.

"Brengsek! Makhluk-makhluk sialan ini harus mati!"

Qu Long meraung dengan suara yang pecah oleh kepedihan. Matanya memerah, seluruh tubuhnya gemetar hebat menyaksikan tanah kelahirannya hancur berkeping-keping. Amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya membuat aliran Qi di nadinya menjadi liar dan tak terkendali, seolah siap meledak kapan saja.

"Qu Long, tarik napasmu. Jika kau kehilangan akal dan membiarkan amarah mengendalikanmu, kau hanya akan menjadi mayat berikutnya yang tergeletak di sini," suara Qin Xiang terdengar dingin namun sangat jernih, sebuah peringatan tajam yang langsung menusuk kesadaran Qu Long yang sedang kalap. "Prioritas kita adalah mengamankan pengungsi di barat. Simpan amarahmu untuk nanti."

Qu Long menggertakkan giginya hingga berbunyi, mencoba menelan pahitnya kenyataan itu sembari memaksa energinya untuk kembali stabil.

"Binatang buas! Di arah jam dua!" Xiao Jing berseru nyaring, jarinya menunjuk ke arah bayangan besar yang melompat dari balik reruntuhan rumah yang hancur.

"Minggir, biar kuhabisi hama ini!" Duan Du tidak ingin kehilangan momen untuk pamer kekuatan. Ia melompat ke udara, memusatkan energinya pada pedang yang berkilat tajam membelah cahaya matahari yang suram.

Brak—!

Tebasan itu telak membelah tubuh sang monster, namun suara dentuman keras itu justru memancing perhatian monster lain yang bersembunyi di balik bayang-bayang. Dalam sekejap, puluhan binatang buas muncul dari segala arah, mengepung mereka dengan mata merah menyala yang penuh dengan niat membunuh yang murni.

"Roar!"

Tanpa menunggu aba-aba, gerombolan itu menerjang secara serentak. Duan Du segera memutar pedangnya, menciptakan badai energi yang menyapu musuh di depannya. Namun, saat ia berhasil menjatuhkan beberapa ekor dan berbalik untuk menyombongkan diri, senyumnya langsung membeku di wajahnya.

Di sekeliling Qin Xiang, puluhan bangkai binatang buas sudah bertumpuk membentuk gundukan kecil. Semuanya tewas dalam kondisi yang identik: satu luka presisi yang mematikan tepat di titik paling vital, seolah-olah maut telah menjemput mereka tanpa sempat memberi izin untuk mengeluh.

Xiao Jing dan kedua pengikutnya bahkan belum sempat mengeluarkan keringat atau menghunus senjata mereka sepenuhnya, namun ancaman di sekitar mereka sudah sirna secara instan. Qin Xiang berdiri tegak di tengah hujan darah yang belum mengering, wajahnya tetap datar seolah-olah ia sedang berdiri di taman bunga. Ia mengibaskan pedangnya dengan gerakan santai untuk membersihkan darah, lalu menyarungkannya kembali ke dalam lencana kayu dengan bunyi klik yang halus.

"Kenapa kalian diam saja? Ayo jalan, penduduk di sana tidak punya banyak waktu," ujar Qin Xiang datar, seolah baru saja menyelesaikan urusan sepele yang membosankan.

"Tsk, cuma binatang tingkat rendah yang mengandalkan jumlah, jangan besar kepala!" desis Duan Du dengan wajah yang memerah karena rasa malu yang amat sangat. Ia langsung berlari lebih dulu, menebas apa pun yang menghalangi jalan demi menutupi rasa gengsinya yang terkoyak.

Qin Xiang hanya melirik punggung itu dengan pandangan hampa, lalu melangkah tenang mengikuti. Di belakang, Wei Guan berbisik pelan pada Xiao Jing dengan nada ngeri, "Bos... Qin Xiang beneran jadi monster sekarang. Gerakannya... aku bahkan tidak bisa melihatnya." Xiao Jing hanya diam membisu, namun hatinya terasa panas seperti terbakar api cemburu yang tak kunjung padam melihat orang yang dulu ia injak kini melampauinya begitu jauh.

...

Satu batang dupa berlalu, dan mereka akhirnya berhasil menembus barikade monster untuk sampai di kamp pengungsian. Suasana di sana sangat pilu dan menyesakkan dada. Tangisan anak-anak dan rintihan orang tua memenuhi udara yang berbau amis. Kepala desa menyambut mereka dengan kondisi yang sangat mengenaskan; satu lengannya telah putus, hanya dibalut kain kasar yang sudah basah kuyup oleh darah yang merembes.

Pria tua itu bersujud di depan mereka, air matanya jatuh membasahi tanah yang berdebu. "Terima kasih... terima kasih Sekte Pedang Giok... Kalian tidak membiarkan kami punah ditelan binatang-binatang itu..."

"Kepala desa, di mana adikku?! Di mana Xiao Lian?!" Qu Long merangsek maju memotong suasana dan mencengkeram pundak pria tua itu dengan harapan yang rapuh. Matanya liar mencari sosok kecil yang sangat ia rindukan di antara kerumunan penduduk yang selamat. Namun, setiap orang yang ia tatap justru menundukkan kepala, tidak ada satu pun yang berani membalas pandangannya.

"Qu Long..." Kepala desa mendongak dengan wajah yang dipenuhi gurat penyesalan dan kepedihan yang sangat dalam. "Qu Xiao Lian... waktu serangan pertama datang dari arah timur dengan sangat mendadak, dia sedang bermain di pinggiran luar desa bersama teman-temannya. Kami... kami tidak sempat mencapainya untuk membawanya masuk sebelum gerbang harus ditutup demi menyelamatkan yang lain..."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Qu Long. Bayangan adiknya yang mungil dan ceria, satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini, kini seolah lenyap ditelan kegelapan di luar sana. Momen kepulangannya yang seharusnya penuh dengan haru dan kebanggaan, justru berubah menjadi mimpi buruk yang merobek jiwanya hingga ke dasar.

Kepala desa bersujud lagi hingga dahinya menyentuh tanah, tubuhnya gemetar hebat karena merasa gagal melindungi nyawa Qu Xiao Lian, terlebih para penduduknya yang paling berharga. Di tengah tangis penduduk yang selamat, Qu Long terdiam mematung, sebuah duka yang begitu sunyi namun menghancurkan hatinya berkeping-keping. Sementara itu, Qin Xiang hanya berdiri di sampingnya dalam keheningan, matanya menatap tajam ke arah luar desa—ke tempat di mana maut mungkin masih bermain-main dengan nyawa yang tersisa di tengah kegelapan hutan.

Bersambung!

1
budiman_tulungagung
sepuluh mawar 🌹
budiman_tulungagung: oke.. masama brother
total 2 replies
budiman_tulungagung
lima mawar 🌹
Nanik S
Awal yang bagus
Devourer Is Back: Thanks udah mampir🙏🏻
total 1 replies
T28J
saya kasih like dan hadiah 👍
Devourer Is Back: Thanks ya🙏
total 1 replies
Devourer Is Back
Janji deh, sampai tamat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!