"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Ketika Kelinci Menggigit Balik.
***
Gema kata-kata kotor yang keluar dari bibir Galen Danendra masih berputar-putar di udara, terasa pekat dan menyesakkan.
Di dalam toilet mewah The Peak Restaurant yang terisolasi dari hiruk-pikuk kota, atmosfer mendadak berubah menjadi medan perang yang mencekam. Aroma wewangian esensial melati yang semula menenangkan kini menguap, digantikan oleh hawa panas dari dua ego yang saling berbenturan tanpa mau mengalah.
Freya Anindita berdiri mematung dengan nafas yang tertahan di tenggorokan. Seluruh sendi di tubuhnya mendadak kaku, namun di saat yang sama, ada darah muda yang bergejolak hebat dan naik ke permukaan kulitnya. Rasa panas membakar dada gadis berusia tujuh belas tahun itu.
Bukan karena ketakutan murni, melainkan karena rasa tidak terima yang teramat besar atas penghinaan yang baru saja dilayangkan padanya.
Sepasang tangannya yang lentik pelan-pelan merosot ke samping tubuh, sebelum akhirnya merapat kuat menjadi kepalan tinju yang bergetar hebat. Buku-buku jarinya memutih, menahan beban emosi yang siap meledak kapan saja.
"Apa maksud, Kak Galen?!". Suara Freya naik satu oktaf, memecah kesunyian ruangan berlantai marmer hitam tersebut.
Gadis berseragam putih-abu-abu itu menatap lurus ke dalam sepasang manik mata elang Galen yang sedingin es. Matanya yang indah berkaca-kaca, bukan karena ingin menangis pasrah, melainkan karena menahan amarah yang teramat pekat.
Ia benar-benar tidak menyangka, pria dewasa di hadapannya—pria yang seharusnya menjadi pelindungnya—tega melontarkan kata-kata sekeji itu.
Murahan? Hanya karena ia tertawa lepas bersama teman sekolahnya saat mengerjakan tugas kelompok?
Mendengar sahutan berani dari Freya, sudut bibir Galen terangkat lambat. Bukan senyuman hangat, melainkan sebuah smirk sinis yang sarat akan keangkuhan absolut.
Kilat amarah dan cemburu yang sedari tadi ia pendam selama setengah jam di meja VIP kini menemukan pelampiasannya. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu mengambil satu langkah maju, mengeluarkan aura predator yang begitu dominan.
Insting bertahan hidup Freya seketika aktif. Ia mengambil satu langkah mundur, mencoba menjaga jarak aman dari intimidasi fisik sang CEO. Namun, Galen tidak membiarkan celah itu bertahan lama. Pria bertubuh kekar itu kembali melangkah maju, memangkas jarak yang baru saja diciptakan Freya.
Satu langkah maju Galen, dibalas satu langkah mundur oleh Freya. Detak jantung Freya berpacu kian cepat, berkejaran dengan ritme langkah kaki mereka yang kian memojokkan. Hingga akhirnya, pada langkah mundur yang ketiga, punggung Freya membentur permukaan dingin dinding marmer hitam toilet.
Ia tersudut. Jalan pelariannya mati total.
Galen segera mengunci pergerakan Freya. Pria itu memajukan tubuh tegapnya, menumpu salah satu tangan kekarnya pada dinding marmer tepat di samping kepala Freya.
Postur tubuhnya yang tinggi besar benar-benar menenggelamkan tubuh kecil Freya dalam bayang-bayang dominasinya yang pekat. Kemeja formal biru navy yang melekat ketat di tubuh tegap Galen tampak sedikit berantakan di bagian kerah, mengalirkan hawa panas kemarahan yang langsung menusuk indra penciuman Freya.
Galen menundukkan wajah tampannya, memangkas jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
"Perlu aku perjelas lagi dengan bahasa yang lebih sederhana, hm?!". Galen berbisik, suaranya sangat rendah dan serak, namun menghujam tepat di jantung Freya. "Tertawa begitu lepas di depan umum bersama bocah berjaket denim itu... Kau sengaja memamerkan senyumanmu agar dia tertarik padamu, begitu? Kau pikir tindakanmu itu terlihat terhormat, Freya?".
"Jaga ucapan kak Galen!". Potong Freya dengan berani, meskipun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, jantungnya berdegup kencang menghadapi kegilaan pria di depannya.
Freya menolak untuk terlihat lemah dan tunduk pada tuduhan menjijikkan itu. "Aku di sini untuk belajar! Kami sedang menyelesaikan artikel ilmiah sosiologi yang harus dikumpulkan besok pagi! Rendy dan Sella adalah temanku, dan tidak ada yang salah dengan caraku berinteraksi dengan mereka!".
"Teman?". Galen terkekeh sumbang, sebuah tawa dingin tanpa riak kebahagiaan yang terdengar sangat mengerikan di dalam ruangan sempit itu. "Teman macam apa yang menatapmu seolah ingin memilikimu, Freya? Dan kau... kau menyambut tatapannya dengan tawa semanis itu? Kau benar-benar lupa siapa dirimu sekarang setelah berada di luar rumah?!".
"Aku tidak lupa siapa diriku! Tapi kak Galen yang sepertinya lupa siapa diriku!". Sahut Freya dengan keras kepala, menolak untuk mundur satu senti pun meskipun punggungnya sudah menempel erat pada dinding dingin. "Jangan pernah merasa kak Galen bisa mengatur hidupku sepenuhnya! Aku tinggal di rumah keluarga Danendra bukan karena belas kasihan kakak, dan bukan juga karena aku bawahan kakak!".
Sorot mata Freya berkilat menantang, mengingatkan pria dewasa itu pada batasan yang selama ini coba dilanggarnya.
"Ingat ya, Kak! Aku berada di rumah itu karena almarhum Papaku memberikan amanah kepada orang tua kak Galen sebelum beliau meninggal! Papa-lah yang mempercayakan diriku kepada Tante dan Om Danendra, bukan kepada Kak Galen! Dan jangan lupakan satu hal lagi... seluruh aset dan perusahaan peninggalan almarhum Papaku, saat ini dipegang dan dikelola oleh Papa kakak! Jadi secara finansial, keluarga Kakak-lah yang mengelola harta peninggalan keluargaku! Aku bukan parasit yang hidup menumpang dari uangmu!".
Kata-kata Freya yang tajam dan terstruktur itu menghantam tepat di ego terdalam Galen Danendra. Fakta tentang asal-usul keberadaan Freya di rumahnya, tentang perjanjian legal dan moral antara mendiang ayah Freya dan ayahnya sendiri, adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah.
Namun, bukannya melunak, kenyataan itu justru membuat rasa posesif dan amarah di dalam dada sang CEO berdarah dingin semakin mendidih sempurna.
Rahang tegas Galen mengetat begitu rapat hingga urat-urat di sepanjang leher dan pelipisnya menegang kaku. Cengkeraman tangannya pada dinding marmer hitam semakin menguat hingga buku-buku jarinya memutih kaku.
"Kau berani mengungkit soal harta dan amanah di hadapanku, Freya?". Galen merendahkan posisi wajahnya, menekan suaranya hingga ke titik paling rendah yang sangat mengintimidasi. "Kau pikir karena aset papamu dipegang oleh ayahku, kau bisa bertingkah seenak jidatmu di luar sana? Kau pikir kertas-kertas saham itu bisa membeli izin dariku agar kau bisa bebas merayu pria lain di tempat umum?!".
"Siapa yang merayu?!". Seru Freya, napasnya memburu naik-turun menahan sesak. "Hanya orang yang memiliki pikiran kotor dan picik seperti Kakak yang menganggap tawa ramah seorang teman sebagai tindakan merayu! Aku hanya tertawa karena candaan Sella! Tidak ada hubungannya dengan Rendy, dan tidak ada hubungannya dengan ego gila yang kakak miliki!".
"Kau sebut aku gila dan picik?!". Galen mencengkeram kedua bahu Freya dengan gerakan kilat, mengunci seluruh pergerakan gadis itu agar tidak bisa mengelak lagi.
Tatapan mata elangnya menghujam lurus ke dalam manik mata Freya dengan kilat kepemilikan yang mendalam.
"Dengar baik-baik, Freya Anindita. Aku tidak peduli siapa yang memegang perusahaan papamu. Yang aku tahu, saat ini kau hidup di bawah atap rumahku! Kau berada di bawah pengawasanku! Kau adalah milik keluarga Danendra yang tidak boleh disentuh, dilihat, bahkan dipikirkan oleh pria lain!".
"Aku bukan barang dagangan yang bisa Kak Galen klaim sebagai hak milik!". Teriak Freya tepat di depan wajah Galen. "Aku manusia! Aku punya hak untuk memilih dengan siapa aku berteman! Hubungan kita hanya sebatas saudara angkat sebagai anak dari wali sahku, tidak lebih dari itu! Jangan pernah bersikap seolah-olah kak galen adalah pemilik jiwa dan ragaku!".
Kalimat 'hanya sebatas anak dari wali sahku' bertindak seperti siraman bensin pada api amarah Galen yang sudah berkobar hebat. Ego dewasanya yang terbiasa memegang otoritas mutlak merasa diinjak-injak secara lancang oleh seorang gadis remaja berseragam sekolah.
"Hanya sebatas anak dari walimu, hm?!". Galen berbisik tepat di depan bibir Freya, mengembuskan napasnya yang memburu dan panas. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh 'anak dari walimu' ini bisa bertindak untuk mengurungmu."
Freya menatap Galen dengan pandangan muak. Alih-alih ketakutan sampai menangis seperti yang mungkin diharapkan oleh pria arogan di depannya, rasa lelah dan amarah Freya justru mencapai puncaknya.
Ia sudah tidak sudi lagi meladeni perdebatan tidak sehat ini. Menghadapi pria egois yang cemburu buta seperti Galen hanya akan membuang energinya secara sia-sia.
Tanpa aba-aba, Freya mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa di kedua lengan kecilnya. Dengan satu sentakan yang kuat dan tiba-tiba, kedua tangannya menghantam dada bidang Galen yang terbalut kemeja navy.
Bruk!
Galen yang sama sekali tidak menduga akan mendapatkan perlawanan fisik senekat itu terkesiap. Langkah kakinya yang kokoh terpaksa mundur dua tapak ke belakang demi menjaga keseimbangan tubuh kekarnya. Cengkeraman tangannya pada bahu Freya dan dinding marmer otomatis terlepas seketika.
Melihat celah yang terbuka lebar, Freya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan gerakan cepat, gadis tersebut langsung memutar tubuhnya, meraih knop pintu toilet wanita, dan menariknya terbuka.
Ia melangkah keluar dari ruangan mencekam itu dengan langkah kaki yang dihentakkan lebar-lebar, meninggalkan Galen begitu saja tanpa sudi menoleh lagi ke belakang.
Sementara itu, di dalam toilet yang kini kembali sunyi, Galen Danendra masih berdiri mematung di posisinya. Pria itu perlahan menurunkan pandangannya, menatap dadanya yang baru saja didorong paksa oleh tangan mungil Freya.
Bukannya menggeram marah karena harga dirinya dijatuhkan, sedetik kemudian, sudut bibir tipis Galen justru perlahan terangkat naik.
Sebuah senyuman tipis—senyuman misterius yang sarat akan rasa tertantang—terukir di wajah tampannya yang sedingin es. Sepasang mata elangnya berkilat tajam, menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.
Keberanian keras kepala Freya malam ini di luar ekspektasinya. Dan bagi seorang predator seperti Galen Danendra, kelinci yang berani menggigit balik justru jauh lebih menarik untuk diburu hingga benar-benar tak berdaya di dalam sangkarnya.
***