Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah yang Semakin Dekat
Pagi itu, suasana kota terasa lebih hidup dari biasanya. Matahari bersinar cerah setelah hujan yang mengguyur semalaman. Udara yang sejuk membuat Aluna berjalan santai menuju toko buku sambil menggenggam pembatas buku kayu pemberian Niel.
Sesekali ia mengusap ukiran bunga lavender di permukaannya.
Tanpa sadar, senyum kecil kembali menghiasi wajahnya.
"Aluna!"
Suara Siska dari belakang membuatnya menoleh.
"Kamu bengong lagi."
"Aku nggak bengong."
"Oh ya? Terus dari tadi pembatas bukunya dipandangin terus."
Aluna spontan menyembunyikan benda itu ke dalam tas.
"Biasa aja."
Siska terkekeh pelan.
"Kalau memang suka sama orangnya, nggak usah malu."
"Siapa yang suka?"
"Kamu."
Aluna langsung mempercepat langkahnya meninggalkan Siska yang tertawa puas.
Di kantor, Niel baru saja menyelesaikan seluruh pekerjaannya sebelum makan siang.
Para karyawan saling berpandangan heran.
"Pak Darren."
Seorang staf menghampiri Darren.
"Iya?"
"Belakangan ini Pak Niel pulang lebih cepat terus ya?"
Darren tersenyum tipis.
"Kalau pekerjaan selesai lebih cepat, tentu tidak ada alasan untuk menahan beliau di kantor."
"Biasanya beliau tetap lembur."
Darren hanya mengangkat bahu.
"Orang bisa berubah."
Jawaban itu membuat para staf saling menatap penuh tanda tanya.
Menjelang sore, mobil Niel kembali berhenti di depan toko buku.
Namun kali ini ia tidak langsung turun.
Tatapannya tertuju ke arah Aluna yang sedang membantu seorang anak kecil memilih buku cerita.
Aluna berjongkok agar sejajar dengan tinggi badan anak itu.
"Kalau suka petualangan, coba baca yang ini."
"Seru, Kak?"
"Seru sekali."
Anak kecil itu tersenyum lebar.
"Kalau Kakak suka berarti aku juga mau."
Melihat pemandangan itu, tanpa sadar sudut bibir Niel ikut terangkat.
"Tuan."
Suara Darren memecah lamunannya.
"Kenapa tidak masuk?"
Niel menggeleng pelan.
"Tunggu sebentar."
"Menunggu apa?"
"Nikmati dulu pemandangannya."
Darren mengikuti arah pandang Niel.
Ia akhirnya memahami.
Yang sedang dinikmati atasannya bukanlah toko buku...
Melainkan senyum Aluna.
Beberapa menit kemudian, Niel masuk ke dalam toko.
Bel pintu berbunyi pelan.
"Ting..."
Aluna langsung menoleh.
"Kamu datang lagi."
"Aku mengganggu?"
"Tidak."
Aluna tersenyum ramah.
"Kebetulan pelanggan juga sudah mulai sepi."
Niel berjalan mendekat.
"Hari ini sibuk?"
"Cukup."
"Lelah?"
"Sedikit."
"Sudah makan siang?"
Pertanyaan itu membuat Aluna terdiam.
"Ehm..."
Niel menghela napas kecil.
"Kamu lupa lagi."
Aluna terkekeh malu.
"Sedikit."
Tanpa berkata apa-apa, Niel mengeluarkan sebuah kotak makan kecil dari kantong kertas yang dibawanya.
"Aku sudah menduganya."
Aluna membulatkan mata.
"Kamu bawa bekal?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Untukmu."
Aluna benar-benar tidak menyangka.
"Kamu serius?"
"Kalau lapar, kamu sulit berkonsentrasi."
Ucapan itu membuat Aluna kehilangan kata-kata.
"Tapi... kamu repot-repot..."
"Bukan masalah."
Aluna menatap kotak makan itu beberapa saat sebelum menerimanya.
"Terima kasih."
"Hanya saja..."
Aluna menatap Niel.
"Lain kali jangan sering-sering begini."
"Kenapa?"
"Nanti aku jadi terbiasa."
Niel tersenyum tipis.
"Memangnya salah kalau terbiasa?"
Aluna tidak mampu menjawab.
Saat jam istirahat tiba, Aluna dan Niel duduk di sudut baca.
Kotak makan itu berisi nasi, ayam teriyaki, telur dadar, dan potongan buah.
"Enak sekali."
"Syukurlah."
"Kamu beli di mana?"
Niel menyebutkan nama sebuah restoran langganannya.
"Pantas."
Aluna tersenyum.
"Rasanya seperti makanan rumahan."
Niel memandang Aluna yang makan dengan lahap.
Entah mengapa...
Melihat gadis itu makan dengan lahap justru membuatnya merasa puas.
"Ada yang lucu?"
tanya Aluna ketika menyadari Niel terus memandanginya.
"Tidak."
"Terus kenapa lihat aku terus?"
Niel menjawab dengan tenang.
"Karena aku senang."
"Sama apa?"
"Melihatmu makan."
Aluna spontan menundukkan kepala karena malu.
"Kalau terus begitu, aku jadi nggak enak."
Niel terkekeh pelan.
"Baik."
Di luar toko, mobil hitam yang sama kembali terparkir.
Pria misterius itu masih mengawasi.
Namun kali ini ia tidak sendirian.
Seorang pria lain duduk di kursi belakang.
"Apa itu perempuan yang selalu bersama Niel?"
"Iya."
"Sudah kita selidiki?"
"Sudah."
"Orang biasa."
Pria di kursi belakang tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
Ia menatap ke arah Aluna yang sedang tertawa kecil bersama Niel dari balik kaca toko.
"Mulailah mendekatinya."
"Tapi jangan sakiti dia dulu."
"Kita lihat..."
"Seberapa jauh Niel akan mempertahankan perempuan itu."
Pria itu kembali menyandarkan tubuhnya.
Sementara di dalam toko...
Niel dan Aluna masih mengobrol tanpa mengetahui bahwa nama Aluna kini telah masuk ke dalam rencana seseorang.
Bagi musuh itu...
Aluna bukan lagi orang asing.
Melainkan titik lemah yang perlahan mulai terlihat di sisi seorang Niel.
___________________________________________
Lanjutan
Sore mulai berganti malam.
Sebagian besar pelanggan telah meninggalkan toko buku. Lampu-lampu di dalam ruangan menyala hangat, menciptakan suasana yang tenang.
Aluna selesai merapikan meja baca, lalu menghampiri Niel yang masih duduk sambil membolak-balik novel yang baru dibelinya.
"Aneh."
Niel mengangkat pandangan.
"Apa?"
"Kamu bilang nggak suka baca."
"Iya."
"Tapi sekarang hampir setiap hari beli buku."
Niel menatap sampul novel di tangannya sesaat sebelum tersenyum tipis.
"Mungkin aku sedang belajar."
"Belajar apa?"
"Menyukai sesuatu yang kamu sukai."
Jawaban itu membuat Aluna kembali kehilangan kata-kata.
Ia hanya bisa tersenyum kecil sambil menundukkan kepala.
"Kamu ini... suka bikin orang malu."
"Aku hanya mengatakan yang kupikirkan."
Aluna menggeleng pelan.
"Kalau semua orang sejujur kamu, mungkin dunia jadi lebih sederhana."
Niel terkekeh pelan.
"Belum tentu."
"Kenapa?"
"Karena kejujuran juga bisa membuat seseorang takut."
Aluna menatapnya beberapa saat. Entah mengapa, kalimat itu terdengar seperti berasal dari pengalaman yang sangat dalam.
Tak lama kemudian, ponsel Aluna berdering.
Ibunya menelepon.
"Halo, Bu?"
"..."
"Iya, sebentar lagi Aluna pulang."
"..."
"Nggak usah khawatir."
Setelah panggilan berakhir, Aluna memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Ibumu?"
Aluna mengangguk.
"Beliau selalu khawatir kalau aku pulang terlalu malam."
"Itu wajar."
"Iya."
Niel berdiri dari kursinya.
"Kalau begitu, aku antar sampai halte."
Aluna langsung menggeleng.
"Nggak usah, nanti merepotkan."
"Bukan merepotkan."
"Tapi..."
"Sekalian aku juga mau pulang."
Aluna akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah."
Keduanya berjalan berdampingan meninggalkan toko buku.
Angin sore bertiup pelan, membuat dedaunan di sepanjang trotoar bergoyang perlahan.
Tidak banyak percakapan.
Namun keheningan di antara mereka justru terasa nyaman.
Sesampainya di halte, bus yang ditunggu Aluna belum juga datang.
"Kamu sering naik bus?"
"Iya."
"Nggak pernah bosan?"
Aluna tersenyum.
"Justru aku suka."
"Kenapa?"
"Dari bus aku bisa melihat banyak orang."
"Ada yang tertawa, ada yang kelelahan sepulang kerja, ada juga anak-anak yang pulang sekolah."
"Rasanya... hidup itu sederhana."
Niel mengikuti arah pandang Aluna ke jalan raya yang mulai dipenuhi kendaraan.
"Kalau kamu?"
tanya Aluna.
"Kapan terakhir naik kendaraan umum?"
Niel berpikir sejenak, lalu menggeleng.
"Aku bahkan tidak ingat."
Aluna tertawa kecil.
"Berarti suatu hari nanti kamu harus mencobanya."
Niel menatapnya dengan senyum tipis.
"Asal kamu yang menemani."
Aluna kembali tersenyum malu, tetapi kali ini ia tidak membalas dengan candaan.
Jauh di seberang halte, pria misterius itu kembali mengamati keduanya dari balik kaca mobil.
Ia tidak lagi memegang kamera.
Melainkan sebuah map tipis berisi foto-foto Aluna.
"Mulai besok..."
gumamnya pelan.
"Kita akan mengenalmu lebih dekat, Aluna."
Senyumnya perlahan menghilang, berganti tatapan dingin yang menyiratkan awal dari permainan baru.
— Bersambung —