NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Masalalu

Malam itu, Niel hampir tidak memejamkan mata.

Kalimat yang disampaikan Darren terus berputar di kepalanya.

"Permainan baru telah dimulai."

Entah mengapa, setiap mendengar kata permainan, jantungnya selalu berdegup lebih cepat. Seolah-olah ada bagian dari masa lalunya yang berusaha muncul, tetapi selalu gagal ia raih.

Niel berdiri di balkon rumahnya, memandangi langit malam yang dipenuhi bintang.

"Kenapa rasanya..."

"...aku pernah kehilangan sesuatu yang sangat penting?"

Keesokan paginya, Darren sudah menunggu di kantor dengan beberapa laporan baru.

"Tuan."

Niel duduk di kursinya.

"Ada perkembangan?"

"Tim keamanan berhasil melacak sumber serangan semalam."

"Siapa mereka?"

"Mereka menggunakan server luar negeri. Identitasnya masih disamarkan."

Niel membaca laporan itu tanpa mengubah ekspresinya.

"Motif?"

"Mereka tidak mengambil data apa pun."

"Lalu?"

"Mereka hanya masuk selama tiga menit."

"Tiga menit?"

Darren mengangguk.

"Dan selama tiga menit itu... mereka hanya melihat data pribadi Anda."

Niel menatap Darren.

"Data pribadiku?"

"Ya."

"Lalu keluar begitu saja."

Ruangan mendadak sunyi.

Itu bukan tindakan peretas biasa.

Seseorang sedang mencari informasi tentang dirinya.

Atau...

Memastikan sesuatu.

"Tetap selidiki."

"Baik, Tuan."

Sementara itu, di toko buku.

Aluna sedang menata buku-buku baru bersama Siska.

"Kamu lihat berita hari ini?" tanya Siska.

"Berita apa?"

"Katanya ada perusahaan besar yang sempat mengalami gangguan sistem semalam."

Aluna mengangkat bahu.

"Aku jarang baca berita ekonomi."

"Untung aku juga nggak ngerti."

Keduanya tertawa kecil.

Bel pintu berbunyi.

"Ting..."

Refleks Aluna menoleh.

Namun kali ini bukan Niel.

Melainkan seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun dengan pakaian kasual dan senyum ramah.

"Selamat pagi."

"Pagi."

"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Aluna.

Pria itu berjalan pelan mengelilingi rak buku.

"Aku sedang mencari novel."

"Genre apa?"

"Romantis."

Aluna langsung menunjukkan beberapa judul.

"Kalau yang ini cukup populer."

Pria itu menerima buku tersebut.

"Terima kasih."

Tatapannya sekilas memperhatikan name tag Aluna.

"Aluna..."

"Nama yang bagus."

Aluna hanya tersenyum sopan.

"Terima kasih."

Pria itu tidak berkata apa-apa lagi.

Ia membeli satu novel, lalu meninggalkan toko.

Namun saat keluar...

Ia sempat melirik ke arah Aluna melalui kaca.

Tatapannya berubah dingin.

Di dalam mobil yang terparkir beberapa meter dari toko, pria itu langsung melepaskan senyum ramahnya.

"Bagaimana?"

Suara seseorang terdengar dari kursi belakang.

"Dia tidak curiga."

"Lalu?"

"Aku sudah memastikan wajahnya."

Pria di kursi belakang menerima foto Aluna yang diam-diam diambil beberapa saat lalu.

"Jadi ini perempuan itu."

"Iya."

"Kelihatannya biasa saja."

"Justru orang biasa paling mudah dimanfaatkan."

Pria di kursi belakang menutup map tersebut.

"Terus awasi."

"Jangan bertindak sebelum waktunya."

"Baik."

Mobil perlahan meninggalkan area toko.

Menjelang sore.

Niel kembali datang seperti biasa.

Begitu melihatnya masuk, Aluna langsung tersenyum.

"Kamu datang."

"Iya."

"Hari ini telat."

"Maaf."

"Ada pekerjaan."

Aluna mengangguk mengerti.

"Hari ini aku punya rekomendasi buku lagi."

"Oh ya?"

"Iya."

"Tapi kali ini bukan novel."

"Lalu?"

"Buku tentang psikologi."

Niel tertawa kecil.

"Kenapa psikologi?"

"Supaya kamu bisa memahami orang."

Niel menatap Aluna sambil tersenyum tipis.

"Aku sedang mencoba memahami satu orang."

"Siapa?"

Tatapan mereka kembali bertemu.

"Kamu."

Aluna spontan menahan napas.

"Kamu..."

"...selalu bicara seperti itu."

"Karena memang begitu."

Aluna hanya bisa tersenyum malu.

Tak lama kemudian, Siska datang membawa dua gelas minuman.

"Nih."

"Es kopi buat kalian."

"Wah, makasih."

Siska kemudian menoleh kepada Niel.

"Ngomong-ngomong."

"Iya?"

"Aluna itu keras kepala."

"Siska!"

"Ih, biarin aku cerita."

Aluna langsung menutup wajahnya karena malu.

Siska tertawa puas.

"Kalau lagi capek tetap maksa kerja."

"Kalau lagi sedih malah dipendam sendiri."

"Dan..."

"Siska!"

"Oke, oke."

Siska mengangkat kedua tangannya.

Niel hanya tersenyum kecil.

"Aku akan mengingatnya."

Aluna mendesah panjang.

"Jangan didengar."

"Sudah terlambat."

Jawaban Niel membuat Siska tertawa semakin keras.

Menjelang Niel pulang, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan.

Pria yang tadi pagi datang ke toko buku masih duduk di dalamnya.

Ia menghubungi seseorang.

"Target sudah mulai mempercayai Niel."

"Bagus."

"Apakah kita lanjut ke tahap berikutnya?"

Suara dari seberang terdengar tenang.

"Belum."

"Buat mereka semakin dekat."

"Semakin tinggi harapan..."

"...semakin menyakitkan saat semuanya hancur."

Panggilan terputus.

Pria itu menatap Niel yang sedang berpamitan kepada Aluna.

Kemudian tersenyum tipis.

"Sebentar lagi..."

"...kalian akan tahu, bahwa pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan."

Sementara itu, Niel berjalan menuju mobil tanpa menyadari bahwa setiap langkahnya kini sedang diarahkan menuju sebuah jebakan yang telah dipersiapkan dengan sangat rapi.

Dan di balik semua itu...

Seseorang sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali mempermainkan takdir mereka.

___________________________________________

Lanjutan

Malam mulai turun.

Lampu-lampu kota menyala satu per satu, sementara mobil yang ditumpangi Niel melaju membelah jalanan yang mulai lengang.

Di dalam mobil, suasana hening.

Niel membuka buku psikologi yang tadi direkomendasikan Aluna. Sebuah kertas kecil tiba-tiba terjatuh dari sela-sela halamannya.

"Apa ini?"

Ia mengambilnya perlahan.

Ternyata hanya secarik memo berisi tulisan tangan.

"Semoga buku ini bisa membuat harimu sedikit lebih tenang. Selamat membaca. — Aluna."

Tulisan itu sederhana.

Namun berhasil membuat senyum tipis muncul di wajah Niel.

Darren yang duduk di kursi depan memperhatikan melalui kaca spion.

"Tuan."

"Hm?"

"Sepertinya Anda sedang tersenyum lagi."

Niel melipat kembali kertas itu dengan hati-hati.

"Ya."

"Karena buku?"

Niel menggeleng pelan.

"Karena orang yang memberikan buku itu."

Darren terkekeh pelan.

"Kalau begini, sebentar lagi seluruh kantor pasti sadar."

Niel hanya tersenyum tanpa membalas.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menjalani hidup yang dipenuhi pekerjaan, ia menemukan seseorang yang mampu membuat hari-harinya terasa jauh lebih ringan.

Di rumah, Aluna baru selesai mandi ketika ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari Niel.

Terima kasih untuk bukunya. Aku menemukan sesuatu yang tidak kuduga.

Aluna tersenyum kecil sebelum membalas.

Apa itu?

Beberapa detik kemudian, balasan kembali muncul.

Secarik pesan dari seseorang yang diam-diam menyelipkannya.

Aluna spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya ampun..."

Ia benar-benar lupa telah menyelipkan catatan kecil itu siang tadi.

Ponselnya kembali bergetar.

Terima kasih. Aku menyukainya.

Senyum Aluna semakin lebar.

Ia baru saja hendak membalas ketika sebuah pesan lain masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Jauhi Niel jika kamu tidak ingin menyesal.

Senyum di wajah Aluna seketika memudar.

Ia mengernyit bingung.

"Siapa ini?"

Saat hendak membalas, pesan tersebut mendadak menghilang dari layar, seolah-olah telah ditarik oleh pengirimnya.

Aluna memandang layar ponselnya dengan perasaan tidak tenang.

Di tempat lain, pria misterius itu menatap monitor laptopnya sambil tersenyum tipis.

"Selamat datang di permainan yang sebenarnya..."

Ia menekan satu tombol pada keyboard.

"Lihatlah..."

"Berapa lama kalian bisa tetap saling percaya ketika rasa takut mulai mengambil alih."

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!