Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan Yang Berulang
Di rumah Kasandra, wanita itu sedang berdiri di depan cermin sambil merapikan penampilannya. Sejak pesta beberapa hari lalu, pikirannya selalu dipenuhi oleh Tina.
Ia mengambil ponselnya lalu membuka foto Tina yang diam-diam ia simpan.
Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Aku sangat merindukanmu, Tina. Tunggu ya, Nak. Mama akan datang menemuimu," gumam Kasandra sambil mengusap layar ponselnya.
Tatapannya kemudian berubah dingin.
"Kalau bukan karena harta keluarga Alexander yang begitu besar, Mama tidak akan pernah menukar kamu dengan anak Fisya."
Ia tersenyum tipis seolah tidak menyesali perbuatannya sedikit pun.
Tanpa disadari, Nisa yang hendak mengantarkan minuman berhenti di balik pintu kamar.
Ucapan Kasandra membuat tubuhnya membeku.
"Jadi... Non Tina adalah anak kandung Bu Kasandra?" bisiknya lirih.
Lalu pikirannya langsung tertuju kepada bayi yang selama ini ia rawat.
"Kalau begitu... Agnes..."
Nisa menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Air matanya hampir jatuh, ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya sendiri.
Dengan langkah pelan, ia mundur meninggalkan depan kamar agar tidak ketahuan.
"Aku tidak boleh sampai ketahuan kalau aku mendengar semua ini."
Ia menarik napas panjang.
"Kasihan sekali Agnes."
"Mulai sekarang aku akan menjaga dan merawatnya sebaik mungkin. Apa pun yang terjadi."
***
Sementara itu, Kasandra mengambil tasnya lalu keluar rumah tanpa memberi tahu Jason.
Ia langsung menuju rumah keluarga Alexander.
Beberapa puluh menit kemudian...
Mobil Kasandra berhenti di halaman rumah Fisya.
Bik Lili yang sedang menyapu halaman langsung terkejut melihat tamu yang datang.
"Bu Kasandra?"
Kasandra tersenyum.
"Fisya ada?"
"Maaf, Bu Fisya masih di kantor." Jawab Bik Lili
"Tidak apa-apa. Aku mau melihat Tina." Ucap Kasandra dengan senyuman
Tanpa menunggu izin, Kasandra langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
"B... Bu Kasandra!" panggil Bik Lili.
"Tina baru saja tidur." Teriak bik Lili untuk menghentikan
Kasandra tidak menggubris, ia tetap berjalan menuju lantai atas.
Bik Lili hanya bisa mengikuti dari belakang.
"Bu Kasandra, sebaiknya nanti saja. Non Tina benar-benar baru tertidur."
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar," jawab Kasandra singkat.
Beberapa saat kemudian...
Kasandra sudah berada di kamar Tina, ia memandangi bayi yang sedang tertidur dengan mata berkaca-kaca.
"Tina..." panggilnya
Kasandra tersenyum haru.
"Aku benar-benar merindukanmu sayang"
Ia duduk di samping tempat tidur bayi sambil terus menatap wajah Tina.
Tidak lama kemudian... Suara mobil memasuki halaman rumah, Jason baru saja pulang.
Bik Lili yang melihatnya semakin heran.
"Ibu belum pulang dari kantor... tapi Pak Jason sudah pulang. Sedangkan ada Bu Kasandra di atas."
"Apa mungkin mereka memang sudah janjian?" batinnya.
Jason masuk ke dalam rumah.
"Fisya belum pulang?"
"B... belum, Pak." Jawab bik Lili gugup
Jason mengangguk lalu langsung berjalan ke lantai atas.
Saat membuka pintu kamar Tina...
Ia langsung terkejut.
"Kasandra?"
Kasandra segera memberi isyarat agar Jason mengecilkan suara.
"Ssst...Tina sedang tidur."
Jason mendekat dengan wajah tegang.
"Kenapa kamu ke sini?"
"Bagaimana kalau Fisya melihatmu?"
"Kenapa kamu tidak memberitahuku dulu?"
Pertanyaan Jason bertubi-tubi.
Kasandra hanya tersenyum.
"Aku merindukan Tina."
Kemudian ia menatap Jason.
"...Dan aku juga merindukanmu."
Jason menghela napas panjang.
"Kamu ini benar-benar nekat."
Kasandra melangkah mendekat dan ia menggenggam tangan Jason.
"Aku hanya ingin bertemu sebentar."
Jason sempat ragu namun akhirnya ia membalas genggaman tangan Kasandra.
Keduanya saling menatap tanpa menyadari keadaan sekitar.
Saat itulah...
Pintu kamar terbuka perlahan.
Fisya yang baru pulang dari kantor berdiri di ambang pintu dan langkahnya langsung terhenti.
Tatapannya tertuju pada Jason dan Kasandra yang sedang bercumbu di kamar putrinya.
Wajah Fisya tetap tenang namun sorot matanya berubah dingin.
Tanpa mengeluarkan suara, ia perlahan mengeluarkan ponselnya lalu ia merekam semua yang dilihatnya sebagai bukti.
Setelah merasa cukup, Fisya kembali menutup pintu secara perlahan.
Ia turun ke lantai bawah seolah tidak pernah datang.
Bik Lili yang melihat wajah majikannya langsung khawatir.
"Bu... Ibu baik-baik saja?"
Fisya mengangguk pelan.
"Iya, Bik."
Jawabannya singkat, tetapi terdengar sangat tenang.
Sebelum keluar rumah lagi, Fisya berhenti di depan Bik Lili.
"Bik." Panggilnya
"Iya, Bu." Jawab bik Lili
"Jangan bilang kepada mereka kalau aku sudah pulang." Ucap Fisya dengan tegas
Bik Lili mengangguk.
"Baik, Bu."
"Setelah mereka pergi, tolong bersihkan seluruh kamar Tina"
Bik Lili terlihat bingung.
Fisya tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Aku tidak ingin kamar putriku dinodai oleh pengkhianatan mereka dan tolong rapikan semua barang-barang milik Tina juga, kemas dalam satu koper" Ucap Fisya
Bik Lili terdiam, ia dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh majikannya itu
"Barang-barang milik Non Tina juga, Bu?" tanya Bik Lili dengan wajah bingung.
Fisya menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah Bik Lili dengan tatapan tenang.
"Iya, Bik."
"Bibik lakukan saja apa yang saya perintahkan. Nanti akan saya jelaskan semuanya."
Fisya kembali melangkah, tetapi sebelum benar-benar keluar rumah, ia berhenti lagi.
"Oh ya bik satu hal lagi."
"Iya, Bu. Apa itu" jawab bik Lili
"Bibik juga siapkan semua barang milik Bibik. Kalau perlu, mulai malam ini semuanya sudah dipacking."
Bik Lili semakin tidak mengerti.
"Barang saya juga, Bu?"
Fisya mengangguk pelan.
"Iya, percayalah sama saya, semua ini demi keselamatan kita terutama Tina"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Fisya langsung keluar rumah.
Mobilnya perlahan meninggalkan halaman.
Bik Lili hanya memandangi mobil majikannya hingga menghilang dari pandangan.
"Ada apa sebenarnya?" batinnya.
"Kenapa Ibu menyuruh saya mengemas semua barang?"
"Apakah Ibu akan pindah rumah?"
Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya namun ia memilih menuruti perintah majikannya.
***
Sekitar tiga puluh menit kemudian...
Jason dan Kasandra turun dari lantai atas sambil tersenyum puas.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa semua tingkah mereka telah direkam oleh Fisya.
Jason melihat ke arah ruang tamu.
"Fisya sudah pulang bik?"
Bik Lili menggeleng.
"Belum, Pak."
Jason menghela napas kesal.
"Sudah sore begini masih belum pulang."
"Dasar Fisya."
"Tidak becus mengurus anak." Caci Jason
Kasandra langsung merangkul lengan Jason.
"Sudahlah..! Kan ada aku."
"Nanti aku yang bantu mengurus Tina. Aku bisa datang setiap hari kalau Fisya sibuk bekerja." Ucapnya dengan penuh semangat
Jason tersenyum tipis.
"Kamu memang lebih pantas menjadi ibu Tina."
Ucapan itu membuat Bik Lili mengepalkan tangannya.
Namun ia memilih diam dalam hati ia bergumam,
"Kalau Bu Fisya mendengar ucapan itu..."
Belum sempat pikirannya selesai...
Terdengar suara tangisan Tina dari lantai atas.
"Waa... waa..."
Kasandra langsung panik.
"Itu Tina!"
Tanpa berpikir panjang, ia berlari menaiki tangga begitu juga dengan Jason mengikuti dari belakang.
Bik Lili juga segera menyusul.
Sesampainya di kamar...
Tina menangis cukup keras.
Bik Lili langsung hendak menggendong bayi itu.
"Biarkan saya saja, Bu." Ucap bik Lili
Namun Kasandra lebih dulu menghalangi.
"Tidak usah! Aku saja."
Kasandra mengangkat Tina dengan penuh semangat.
"Ayo Sayang... Jangan menangis cantik, ada Mama di sini."
Bik Lili langsung terkejut mendengar ucapan itu.
Kasandra buru-buru mengoreksi.
"Maksudnya...Tante di sini."
Kasandra mulai mengayun-ayunkan tubuh Tina.
Namun...
Tangisan Tina justru semakin keras.
"Waa... waa... waa..."
Jason ikut panik.
"Kenapa dia?"
Kasandra mencoba menenangkan lagi.
"Tina..."
"Sayang..."
"Ayo diam."
Namun Tina sama sekali tidak berhenti menangis.
Kasandra mulai gugup.
"Kok tidak mau diam?"
Jason ikut mencoba menghibur Tina hasilnya tetap sama tangisan bayi itu justru semakin keras.
Kasandra mulai kehilangan kesabaran.
"Kenapa sih? Tadi kan tidur nyenyak."
Bik Lili kembali mendekat.
"Bu Kasandra... Mungkin biar saya saja."
Kasandra kembali menolak.
"Tidak, Aku yang akan mengurus Tina."
"Lagipula nanti aku juga akan menjadi ibu angkatnya."
"Selagi Fisya sibuk bekerja..."
"Aku yang akan datang setiap hari ke rumah ini untuk merawat Tina."
Bik Lili hanya bisa menggigit bibir.
Saat itulah...
Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.
Tok...
Tok...
Tok...
Semua orang menoleh.
Fisya berdiri di ambang pintu, tatapannya langsung tertuju kepada Kasandra yang sedang menggendong Tina.
Tanpa mengatakan apa pun... Fisya berjalan mendekat lalu dengan lembut mengambil Tina dari pelukan Kasandra.
Anehnya...
Baru beberapa detik berada di pelukan Fisya...Tangisan Tina langsung berhenti.
Bayi kecil itu memandang wajah Fisya, lalu perlahan kembali tenang.
Ruangan mendadak sunyi.
Fisya mengusap kepala putrinya pelan kemudian ia mengangkat wajah menatap Kasandra.
Tatapannya datar namun justru itu yang membuat suasana semakin menegangkan.
"Kasandra." Panggil Fisya
"Iya?" Jawab Kasandra
"Aneh ya." Ucap Fisya
Kasandra memaksakan senyum.
"A... aneh kenapa?"
Fisya tersenyum tipis.
"Baru pertama kali dan bertemu beberapa kali dengan putriku tapi kamu terlihat sangat hafal cara menggendong Tina."
Kasandra langsung membeku.
Fisya melanjutkan dengan suara tenang.
"Kamu juga sangat sering ingin menggendongnya bahkan lebih sering daripada menggendong anakmu sendiri Agnes"
Wajah Kasandra mulai berubah.
"Itu..."
Fisya memotong.
"Kalau boleh tahu... Kenapa kamu begitu menyayangi Tina?"
Kasandra tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya.
"Karena aku ingin menjadi ibu angkatnya."
Fisya mengangguk pelan.
"Hanya itu?"
"I... iya." Jawab Kasandra gugup
Fisya kembali tersenyum.
"Lalu kenapa setiap datang ke rumah ini yang pertama kali kamu cari selalu Tina? Bukan aku sebagai sahabatmu."
"Apakah kamu melakukan hal sama seperti ini dengan putrimu Agnes?" Tanta Fisya
Ruangan kembali sunyi.
Jason mulai merasa tidak nyaman, ia segera menyela.
"Sayang... Mungkin Kasandra memang suka anak kecil."
Fisya langsung menoleh ke arah Jason.
"Oh ya? Kalau memang begitu..."
"Kenapa selama ini aku tidak pernah melihat Kasandra menggendong Agnes sama sekali"
Jason terdiam.
Kasandra semakin panik dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Fisya kembali menatap Kasandra dan tatapannya tajam.
"Kasandra... Apa sebenarnya alasanmu begitu terobsesi dengan Tina?"
Pertanyaan itu membuat jantung Kasandra berdegup kencang.
Napasnya tercekat, sementara telapak tangannya mulai berkeringat dingin.
"Apa jangan-jangan Fisya sudah mengetahui semuanya?" batinnya dengan cemas.
Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran buruk yang terus menghantuinya.
"Ah... tidak. Tidak mungkin," gumam Kasandra lirih
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Fisya tidak mungkin tahu."
Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin kuat rasa gelisah yang menggerogoti hatinya.
Tatapan Fisya barusan terasa begitu tajam, seolah mampu menembus kebohongan yang ia dan Jason sembunyikan.