NovelToon NovelToon
ONE PIECE : RETAKAN TAKDIR

ONE PIECE : RETAKAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Ryden Vale, seorang remaja biasa yang tewas tertabrak truk, terbangun kembali di dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita — dunia One Piece. Ia mendapati dirinya menghuni tubuh baru: rambut putih, mata merah darah, dan jubah putih berlambang bulan sabit terbalik yang kelak menjadi ciri khasnya. Di sebuah pulau terpencil di East Blue, ia menemukan Rift Rift no Mi, Buah Iblis misterius yang memberinya kekuatan untuk merobek, melipat, dan berpindah lewat ruang itu sendiri — sekaligus sebuah Sistem Login Harian yang diam-diam menempanya menjadi lebih kuat, hari demi hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Fajar mulai menyingsing ketika akhirnya kapal kecil Ryden dan Elira merapat di sebuah pelabuhan kecil bernama Tarma—sebuah kota nelayan sederhana di pinggiran East Blue yang belum pernah tersentuh kekacauan bajak laut besar sebelumnya. Lambung kapal yang bocor akibat pertarungan melawan Groth membuat mereka harus berlayar pelan sepanjang sisa malam, sesekali berhenti agar Ryden bisa menutup kebocoran seadanya menggunakan kain dan getah pohon yang ia temukan di pulau sebelumnya.

"Akhirnya," Elira menghela napas lega begitu kapal mereka merapat sempurna di dermaga kayu yang mulai ramai oleh nelayan yang bersiap melaut. "Aku sudah tidak sabar menginjak tanah yang stabil."

Ryden tersenyum tipis, meski tubuhnya masih terasa berat akibat kelelahan dari pertarungan semalam.

Sistem sempat memberinya notifikasi kecil sebelum mereka tiba—stamina telah pulih hingga tujuh puluh persen setelah istirahat singkat, cukup untuk berjalan normal namun belum cukup untuk pertarungan serius lainnya.

Mereka menghabiskan pagi itu di sebuah galangan kapal kecil, menyerahkan kapal mereka untuk diperbaiki kepada seorang tukang kayu tua bernama Pak Doran, yang matanya membelalak kagum melihat kerusakan aneh pada lambung kapal.

"Bekas kapak sebesar ini... kalian bertarung melawan apa?" tanya Pak Doran sambil mengelus jenggot putihnya, mengamati lubang besar di sisi kapal dengan wajah tak percaya.

"Cerita panjang," jawab Ryden singkat, menyerahkan beberapa keping perak sebagai bayaran muka. "Berapa lama perbaikannya akan selesai?"

"Dua hari, mungkin tiga kalau kalian ingin hasil yang benar-benar kokoh," jawab Pak Doran. "Kalian bisa menginap di penginapan dekat alun-alun sementara menunggu."

Dengan waktu luang yang tak terduga, Ryden dan Elira memutuskan menjelajahi kota kecil itu. Tarma ternyata jauh lebih ramai dari perkiraan awal mereka—pasar ikan yang riuh, toko-toko kecil menjual perlengkapan pelaut, dan sebuah kedai teh yang menjadi tempat berkumpulnya para nelayan tua bertukar cerita.

"Aku belum pernah benar-benar melihat kehidupan sehari-hari di dunia ini," gumam Elira sambil mengamati sekelilingnya dengan mata berbinar, seolah melupakan sejenak ketakutan yang selalu membayangi hidup sejak terdampar tiga bulan lalu. "Rasanya... aneh. Seperti berada di dalam buku sejarah, tapi semuanya nyata."

"Kau akan terbiasa," ucap Ryden, membelikan dua tusuk sate ikan bakar dari pedagang kaki lima yang mereka lewati. "Butuh waktu, tapi lama-lama dunia ini akan terasa seperti rumah."

Mereka duduk di tepi dermaga sambil menikmati makanan mereka, menyaksikan matahari yang mulai meninggi di atas laut yang tenang. Untuk sesaat, semua kekhawatiran tentang bajak laut, Sistem misterius, dan status mereka sebagai pendatang dari dunia lain seakan memudar, digantikan oleh momen sederhana yang jarang bisa mereka nikmati.

"Ryden," Elira tiba-tiba memecah keheningan, nada suaranya berubah lebih serius. "Boleh aku tanya sesuatu? Kenapa kau memilih menjelajah sendirian selama ini? Bukankah lebih aman kalau bergabung dengan kru bajak laut atau semacamnya?"

Ryden terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. "Aku... punya alasan tersendiri. Sebagian karena aku tahu terlalu banyak tentang bagaimana dunia ini seharusnya berjalan, dan aku khawatir jika terlalu dekat dengan orang-orang tertentu, aku akan mengubah sesuatu yang seharusnya tidak berubah. Sebagian lagi, mungkin karena aku masih belum terbiasa mempercayai orang lain sepenuhnya setelah semua yang terjadi."

"Tapi kau mempercayaiku," Elira menatapnya lembut, senyum kecil terukir di wajahnya.

"Ya," Ryden mengangguk pelan, sedikit terkejut menyadari betapa jujurnya jawaban itu keluar begitu saja. "Entah kenapa, aku merasa kau berbeda."

Wajah Elira sedikit merona mendengar pengakuan sederhana itu, meski ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah laut untuk menyembunyikan reaksinya. Momen canggung namun hangat itu terputus oleh suara keributan tiba-tiba dari arah pasar—teriakan panik penduduk yang berlarian menjauh dari sesuatu yang tidak terlihat dari posisi mereka.

"Ada apa itu?" Elira bangkit berdiri, wajahnya kembali tegang.

Ryden segera mengaktifkan Haki Observasinya, merasakan gelombang ketegangan yang menyebar cepat di udara. Sesuatu—atau seseorang—baru saja tiba di kota kecil yang tenang ini, membawa ancaman yang bahkan penduduk lokal pun langsung mengenalinya dengan ketakutan.

"Sepertinya," gumam Ryden, bangkit berdiri dengan waspada, "waktu istirahat kita akan sedikit tertunda."

1
MALES NGETIK 3
mantap
Kasma Wati
lanjut👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!