Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asisten tidak berguna
Pagi itu, lampu gantung di ruangan CEO terasa terlalu menyengat bagi mata Reygan. Pria itu menyandarkan siku di atas meja, jemarinya memijat pelipis yang berdenyut hebat.
Dua hari lagi adalah acara pertunangan resminya dengan Gladis. Namun demi mengosongkan jadwal pekan depan agar tak tersentuh urusan kantor, Reygan memforsir tubuhnya secara tidak manusiawi. Empat hari berturut-turut ia hanya tidur kurang dari tiga jam semalam. Wajahnya pucat pasi, matanya merah, dan tubuhnya mulai menuntut balasan atas kerja paksa yang ia lakukan.
"Pak Reygan baik-baik saja?" tanya Shella yang baru saja melangkah masuk, matanya memicing khawatir menatap sang bos.
Reygan mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang meredup."Saya baik-baik saja."
"Bapak pucat sekali. Mau sarapan? Saya belikan sesuatu?" tawar Shella.
Sudah beberapa hari ini Shella memperhatikan bosnya tidak menyentuh kafein sama sekali, melewatkan sarapan, bahkan membiarkan makan siangnya dingin di atas meja tanpa disentuh.
"Di mana Amira?" tanya Reygan mengabaikan ucapan Shella. "Saya sudah suruh dia menyelesaikan draf persetujuan vendor kan?"
Tepat saat itu, pintu ruangan terdorong. Amira, sang sekretaris, masuk dengan napas terengah-engah dan tangan gemetar memegang sebundel dokumen.
"P-Pak Reygan... maaf, ini sudah saya selesaikan," ucap Amira gagap.
"Kamu tahu saya minta dokumen ini sepuluh menit yang lalu? Kenapa baru sekarang kamu serahkan?!" bentaknya.
Amira tersentak kaget, wajahnya seketika pucat pasi. "M-maaf, Pak! Tadi ada kendala di bagian pencetakan—"
"Saya tidak butuh alasan! Keluar! " Hardik Reygan.
Dengan air mata yang merebak di pelupuk mata dan tubuh gemetar hebat, Amira buru-buru membungkuk lalu keluar melarikan diri dari ruangan panas tersebut.
Shella menatap iba pada punggung Amira yang menghilang di balik pintu. "Pak... sekalipun Bapak lelah dan stres, tidak seharusnya memarahi Amira seperti itu," tegur Shella,berusaha menyuntikkan rasa empati.
Reygan menepiskan tangannya keras di udara, melotot menatap Shella."Tidak seharusnya apa? Memarahinya?!" cerocos Reygan dengan emosi yang meletup-letup."Kamu kira saya di sini cuma duduk santai?! Saya bekerja mati-matian di sini! Saya hanya menyuruh dia menyiapkan hal kecil yang sudah saya detailkan seluruh panduannya! Butuh waktu selama ini hanya untuk mencetak dokumen?! Kenapa tidak ada satu pun orang di kantor ini yang bisa saya andalkan?!"
"Pak... dengarkan saya dulu—"
"Saya tidak butuh ceramahmu! Saya tidak butuh makan!" potong Reygan kasar. "Bagaimana dengan laporan analisis proyek Singapura yang saya minta darimu?"
Shella menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia mengangguk pelan lalu menyerahkan tablet yang dipegangnya. "Ini, Pak. Sudah saya periksa ulang."
Reygan merebut tablet itu dengan kasar. Matanya yang merah menyusuri angka-angka dan grafik di layar digital tersebut dengan sangat cepat. Rasa pening yang menghantam kepalanya membuat kesabarannya berada di titik nol.
Lalu, jemarinya berhenti di lembar ketiga.
Sebuah kesalahan sepele. Hanya satu angka nol yang kurang pada kolom projected margin—sebuah kesalahan ketik kecil yang sebenarnya bisa diperbaiki hanya dalam hitungan detik.
Namun di mata Reygan yang sedang kelelahan setengah mati, keserupan emosi, dan menyangkal seluruh tekanan di kepalanya... kesalahan kecil itu menjadi pematik ledakan yang dahsyat.
Brak!
Reygan menghantamkan tablet itu ke atas meja hingga terdengar bunyi benturan yang amat keras.
"Apa-apaan ini?".
Shella tersentak mundur, jantungnya berdegup kencang. "K-kenapa, Pak?"
"Poin tiga! Margin investasi kamu tulis empat persen! Harusnya empat puluh persen!" bentak Reygan, menunjuk layar tablet dengan jari yang gemetar karena emosi.
"Kesalahan amatir seperti ini kamu serahkan pada saya?! Kamu pikir dokumen ini cuma buat mainan?! Kalau draf ini terkirim ke klien Singapura, Aliansyah Group bisa rugi puluhan miliar karena kecerobohan konyolmu ini!"
"Maaf, Pak... saya akan perbaiki sekarang, itu cuma salah ketik satu angka—"
"Salah ketik kamu bilang?! Saya pikir kamu berbeda dari staf lain. Saya pikir kamu bisa diandalkan setelah semua hal yang saya berikan padamu. Ternyata kamu sama saja! Tidak ada bedanya! Dasar asisten tidak berguna!"
Reygan menyapu tablet itu hingga terdorong ke tepi meja. "Ambil ini, perbaiki, dan keluar dari ruangan saya sekarang juga! Saya tidak mau lihat wajahmu seharian ini!" perintah Reygan tanpa rasa bersalah, lalu berbalik memunggungi Shella.
Shella mematung di tempatnya. ‘Asisten tidak berguna...?’ batin Shella menahan sesak yang mencekik tenggorokannya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Shella melangkah maju, mengambil tabletnya di atas meja dengan jemari yang dingin. Ia menegakkan tubuhnya, merapikan rok kerjanya, lalu menatap punggung tegap Reygan yang kaku.
"Baik, Pak Reygan. Mohon maaf atas ketidakbecusan saya,"ucap Shella meninggalkan ruangan itu.
*
"Mbak Shella, tidak apa-apa?" Tanya Amira khawatir. Hingga waktu makan siang tiba, wanita yang biasanya ceria dan sedikit cerewet itu lebih banyak diam di mejanya. Ia bahkan enggan beranjak pergi ke kantin, hanya menatap layar monitor dengan tatapan kosong.
Shella mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang amat dipaksakan. "Tidak apa-apa, Ami. Gimana draf dokumenmu? Masih ada kesalahan?"
Amira—sekretaris cantik berusia 23 tahun yang cekatan itu—menghela napas legas sekaligus cemas.
"Aku sudah cek semua dan kirim ulang, Mbak. Tapi belum ada balasan email. Sepertinya mood Bos Besar hari ini lagi rusak parah sekali..." bisik Amira bergidik.
Amira sudah bekerja di Aliansyah Group selama satu tahun. Jelas, jika dibandingkan dengan Shella yang baru bergabung empat bulan, Amira lebih paham betapa mengerikannya sosok Reygan jika sudah mode "berdarah dingin".
Shella terkekeh pelan. "Ya udah lah. Aku ke ruangannya sebentar untuk menyerahkan laporan ini. Kamu duluan saja makan siang ya, Ami."
Shella mengetuk pintu ruangan CEO secara formal, lalu mendorongnya pelan tanpa menunggu jawaban. Di dalam sana, Reygan terlihat menyandarkan kepalanya yang berat pada sandaran kursi kebesarannya, berputar pelan seperti anak kecil yang kehilangan arah dan kebingungan.
Maaf, Pak. Saya masuk..." ujar Shella, suaranya mengalun sangat datar dan kaku. "Ini laporan analisis yang sudah saya perbaiki," ucap Shella sambil meletakkan tablet di ujung meja Reygan.
Tatapannya kemudian bergulir pada cangkir kopi hitam buatan Amira yang sudah dingin dan tak tersentuh di pojokan meja.
Reygan berdeham pelan, rasa bersalah yang membelenggu dadanya sejak tadi akhirnya menuntut untuk dikeluarkan.
"Shella... soal yang tadi di ruangan..." ujar Reygan canggung, suaranya serak dan tertahan.
"Kenapa, Pak? Soal ucapan Bapak tadi?" tanya Shella memotong ucapan pria itu. "Itu hal yang sangat wajar, bukan? Ketika seorang atasan membentak atau memarahi bawahannya yang melakukan kesalahan. Sekalipun dikatai 'tidak berguna'... saya baik-baik saja, Pak. Itu memang hak Bapak sebagai pemilik perusahaan."
Kalimat santai namun sarat akan luka itu menghantam tepat di ulu hati Reygan. Kata-katanya sendiri tadi pagi kini berbalik menampar wajahnya dengan sangat keras.
Reygan yang panik mendadak berdiri dari kursinya, hendak melangkah mendekati Shella."Shella, bukan begitu maksud saya—"
Namun, rasa pening yang luar biasa mendadak menghantam tempurung kepala Reygan. Efek empat hari tidak tidur dan perut kosong membuat pandangannya berbayang. Tubuh jangkungnya limbung di tempat, oleng ke samping.
Brak!
Biasanya... dalam situasi seperti ini, Shella akan serta-merta melompat maju, menahan tubuh tegapnya agar tidak runtuh, memegang lengannya rapat-rapat, lalu mengomelinya habis-habisan karena tidak tahu diri merusak kesehatan sendiri.
Namun kali ini... Shella hanya berdiri mematung di tempatnya.
Kedua tangannya terlipat rapi. Matanya menatap Reygan yang berpegangan pada tepi meja dengan pandangan dingin dan berjarak. Tak ada rasa panik, tak ada rasa khawatir, dan tak ada lagi uluran tangan hangat dari sang asisten.
Reygan akhirnya perlahan terduduk kembali di kursinya dengan lemas. Rasa sakit di kepalanya tak sebanding dengan rasa hampa dan sesak yang mendadak menggerogoti dadanya.
"Ya sudah, Pak," sambung Shella . "Kalau Bapak memang berniat menyiksa diri dengan tumpukan kesibukan ini... selamat berusaha ya, Pak. Jangan lupa, kita ada rapat direksi dua jam lagi."
Shella membungkukkan tubuhnya sedikit—sebuah gestur hormat yang teramat formal—lalu berbalik arah dan melangkah menuju pintu keluar tanpa sekali pun menoleh lagi ke belakang.
Clek.
Pintu kayu tebal itu tertutup rapat,Reygan menatap pintu yang tertutup lalu berkata, "Ya ampun apa yang sudah aku lakukan."