Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakat yang dipendam
Luna tetap menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah meskipun rasa sakit di hatinya masih begitu terasa. Namun dengan begitu membuatnya bisa sedikit mengalihkan rasa sakit itu sendiri.
Detik berganti menit, menit berganti jam. Sudah hampir dua belas jam setelah kepergian Raka ke luar negeri. Selama itu pula sang suami tak memberinya kabar. Entah dia sudah sampai atau belum?
Mungkin saja Raka masih marah padanya hingga tak ingin menghubunginya. Luna lantas berinisiatif untuk meminta maaf lebih dulu, tetapi sang suami tetap tak membalas pesannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Luna memilih duduk di ruang tengah. Berulang kali Luna membuka layar ponselnya. Setiap kali layar menyala, harapannya ikut tumbuh, berharap ada nama Raka muncul di sana. Namun yang ditemukan hanya layar notifikasi yang kosong. Hatinya kembali tenggelam dalam kekecewaan.
"Huff." Luna menghela napas berat.
Ia memilih untuk meletakkan ponselnya ke atas meja, duduk bersandar sambil menonton televisi. Meksipun tak benar-benar melihatnya.
Pada saat yang bersamaan, pelayan datang dengan membawa nampan di tangannya.
"Nyonya, saya potongkan buah mangga untuk Anda. Silahkan dimakan," ucap si pelayan sambil meletakkan sepiring buah mangga potong.
"Terima kasih, Bi," balas Luna.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya."
"Ya silahkan."
Luna kembali terdiam, tatapannya pun kosong, tetapi tetap mencoba untuk makan. Rumah terasa begitu, ayah mertuanya juga belum pulang.
"Kenapa kamu suka sekali melamun?" tanya Bara.
Pertanyaan itu membuat lamunan Luna buyar. Ia spontan menoleh ke asal suara.
"Eh, Pa. Papa sudah pulang," ucap Luna.
Ia lantas bergeser memberikan ruang pada Bara untuk duduk.
"Bertengkar lagi?" tanya Bara.
Luna sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Bara langsung menebak apa yang sedang terjadi. Senyum tipis yang sejak tadi ia paksakan perlahan memudar.
Suasana menjadi hening sesaat.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Luna."
Luna memberikan jeda sesaat untuk menjawab. Ada keraguan dalam hatinya untuk menceritakan apa yang terjadi.
"Tadi pagi aku mendengar teriakan Raka."
Luna menoleh sekilas ke arah sang ayah. Perasaan bersalah langsung muncul. "Maaf ya, Pa. Papa pasti terganggu."
"Don't worry."
Luna lantas menghela napas sebelum memulai pembicaraan.
"Aku hanya ingin bekerja. Tapi mas Raka tidak memperbolehkan."
"Kenapa kamu ingin sekali bekerja? Kamu masih kekurangan uang?"
Luna menggeleng cepat. "Ini bukan masalah uang lagi, Pa."
"Lalu?"
"Aku bosan dan … "
Luna menggantungkan ucapannya.
"Dan apa?"
"Aku kesepian, Pa."
Luna menundukkan wajahnya. "Andai saja ada anak-anak di rumah. Mungkin aku tidak akan merasakan kesepian, Pa."
"Anak?"
Luna mengangguk.
"Apa selama ini kamu belum pernah hamil?"
GLEK
Luna menelan air ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak mengering. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan. Tidak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya. Dirinya sudah berjanji pada Raka akan merahasiakan masalahnya dari siapa pun.
"Jangan katakan kalau selama ini kamu dan Raka belum pernah berhubungan?"
Luna menggeleng. "Mungkin belum dikasih saja, Pa."
"Aku juga mengatakan pada mas Raka untuk adopsi. Tapi ... dia tidak setuju dan semakin marah padaku."
Bara merespon ucapan Luna dengan mengangguk pelan.
"Luna …" Bara menggenggam tangan Luna dengan hangat. Genggaman tangannya tidak terlalu kuat, tetapi cukup untuk membuat Luna merasa- bahwa masih ada seseorang yang benar-benar peduli pada perasaannya. "Bersabarlah.
Kini giliran Luna yang mengangguk.
"Oh iya, Papa kapan kembali ke luar negeri?" tanya Luna mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Kenapa? Tidak suka aku di sini?"
Luna menggeleng cepat. "Justru aku senang. Semuanya mulai membaik dengan kedatangan Papa."
"Permisi. Maaf saya mengganggu."
Luna langsung menarik tangannya yang digenggam oleh Bara lantas menoleh ke asal suara.
"Ada apa, Bi?" tanya Luna.
"Tadi waktu beres-beres, saya menemukan buku ini di balkon," jawab si pelayan lalu memberikan buku sketsa itu kepada Luna.
"Ya Tuhan." Luna menepuk keningnya sendiri. "Aku lupa meninggalkan buku sketsa ini di balkon."
"Buku sketsa?" ucap Bara tiba-tiba.
Luna mengangguk lalu kembali menoleh ke arah si pelayan. "Terima kasih, Bi."
"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu saya permisi.
Luna mengangguk. "Silahkan, Bi."
"Tadi kamu bilang itu buku sketsa?"
Luna mengangguk. "Aku senang membuat desain baju dan juga perhiasan. Aku belajar dari mendiang Mama."
"Boleh aku melihatnya?"
"Tentu. Silahkan, Pa." Luna memberikan buku sketsanya kepada ayah mertuanya.
Bara membuka lembar demi lembar buku sketsa itu. Kekaguman terpancar jelas di matanya.
"Gambarmu bagus," puji Bara.
"Benarkah?" tanya Luna.
Bara mengangguk. "Hmm."
"Tapi … mas Raka bilang semua gambarku biasa saja," ucap Luna. Ada kekecewaan di balik ucapannya.
"Mungkin mata dan otaknya bermasalah," kata Bara membuat Luna terkekeh.
"Papa bisa saja," ucap Luna diikuti tawa kecilnya.
Luna tersenyum. Sudah bertahun-tahun Luna tidak pernah mendengar ada seseorang yang memuji hasil gambarnya dengan tulus. Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa usahanya dihargai.
"Mau menjualnya padaku?" tawar Bara
Ucapan Bara membuat Luna spontan menoleh ke arahnya. "Maksud, Papa?"
"Aku tertarik dengan desainmu," jelas Bara. "Aku akan bayar mahal semua ini."
"Benarkah? Papa serius?"
"Ada kelihatan aku bercanda?"
Luna menggeleng lalu tersenyum bodoh dengan menujukkan deretan giginya.
"Tapi … apa Papa yakin gambarku benar-benar bagus?" tanya Luna memastikan. "Sebelumnya mas Raka menolak semua gambar-gambarku. Makanya aku malas untuk membuat desain-desain lagi."
"Lupakan saja dia? Dia memang anak bodoh."
Luna terbelalak dan meringis mendengar ucapan Bara.
"Aku transfer sekarang. Berikan nomor rekeningmu."
Luna menggeleng. "Kalau Papa suka, Papa ambil saja. Aku akan memberikan secara gratis."
"Kenapa begitu?"
"Papa sudah memberiku black card. Jadi anggap saja ini sebagai balasan."
Bara menggeleng. "Ini bisnis, Luna. Jadi jangan menolak."
"Tapi, Pa—"
"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang berikan nomor rekeningmu."
Tatapan dingin Bara membuat Luna tak mampu membantah, tetapi juga tak membuatnya benar-benar takut.
"Ba-baiklah."
Luna menunjukkan nomor rekeningnya kepada Bara. Dan tidak berselang lama terdengar bunyi notifikasi dari M-banking.
Mata Luna membulat saat melihat nominalnya. "Seratus juta? Ini tidak salah, Pa?"
"Kenapa? Kurang?"
Luna langsung menggeleng cepat. "Tidak, Pa. Ini lebih dari cukup."
Luna menatap layar ponselnya penuh rasa bahagia. Jemarinya sedikit gemetar ketika membuka aplikasi m-bangking. Senyum kecil yabg sejak tadi tertahan akhirnya mengembang. Bukan semata karena nominalnya yang besar, tetapi karena seseorang akhirnya menganggap hasil karyanya benar-benar bernilai.
Senyum itu memudar saat ia teringat sesuatu.
"Tunggu, Pa." Luna kembali mengambil alih buku sketsa yang ada di tangan Bara.
Luna membuka kembali membuka setiap lembar buku sketsa dengan napas yang mulai memburu. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Dahinya berkerut semakin dalam. Berulang kali Luna melakukan itu dan tidak salah lagi. Ada beberapa lembar yang hilang.
"Pa ..." bisiknya lirih. "Sepertinya ada beberapa desain yang hilang."
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man