Dia Aisyah, seorang santriwati di pesantren tempatku mengajar. Gadis anggun nan jelita, yang mampu membuatku terpana pada saat jumpa pertama. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuatku kagum, tapi ketaatan pada-Nya lah yang mampu membuatku ingin selalu dekat dengannya.
Cerita ini hanya fiksi ya, hanya merupakan pemikiran dari author. Jangan lupa like, comment, and vote ya. Author akan sangat berterima kasih untuk hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisna Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Persiapan
Usai marawis, kami pun segera beristirahat. Pindah menuju ruang kelas biasa aku mengajar, bersama puluhan santri lainnya yang ikut menjadi pengurus acara, untuk menyantap makan malam. Termasuk Aisyah. Ia pun ikut bersama rombongan santri putri lainnya.
Di sini, kami dikumpulkan dalam satu ruangan. Tidak diberi sekat sama sekali, baik santri putri maupun santri putranya, hanya deretan bangkulah yang menjadi pemisah. Menurutku, ini adalah suatu kesalahan. Hanya akan mengundang dosa nantinya.
Tapi apalah daya, hanya ini satu-satunya tempat yang memudahkan kami untuk saling berinteraksi satu sama lain, tanpa terganggu sedikitpun. Sehingga dapat mengakrabkan, antara pengurus yang satu dan lainnya.
Kulihat, Aisyah tengah bercengkrama diseberang sana. Dia terlihat cantik, dengan balutan jilbab berwarna maroon. Seragam dengan yang lainnya. Tapi dia yang paling cantik. Ya, akui saja. Karena dia memang calon bidadariku.
Dia tengah menyantap makan malam dengan anggunnya. Ah, dia memang selalu terlihat anggun. Beberapa kali aku mencuri pandang, sambil mengunyah makanan ini. Akhirnya dia menoleh juga.
Kemudian membalas senyumanku, aku pun mengangguk ramah padanya. Cukup lama dia menatap, sampai akhirnya dia tersadar dan segera mengalihkan pandangannya.
Tak lama setelah itu, datang si centil yang sanggat mengganggu. Siapa lagi kalau bukan Ning Silvi. Kadang aku heran, kenapa dia bisa secentil itu. Padahal anak seorang Kyai, tapi perilakunya jauh dari kata Ning yang sesungguhnya.
Dulu. Dulu banget, waktu pertama kali aku datang ke pondok itu, dia masih sekolah SMP. Sering banget deket-deket sama aku, minta ajarin inilah, itulah. Sampai-sampai Ning Irma --kakaknya-- merasa gereget kepadanya, hingga mengadukannya pada Ayahnya --Almarhum Kyai Ilham--.
Alhasil, seharian dia disuruh menghafal Kitab Fathul Mu'in, bab tentang mahrom. Kasihan. Tapi, ada baiknya juga, supaya dia tahu batasan menjadi seorang perempuan. Tapi nyatanya, sampai sekarang masih seperti itu. Memang sudah dasar menjadi wataknya, sulit untuk diubah.
Dengan tidak tahu malunya, dia memanggilku. Setelah mengenalkan diri dengan lantangnya. Padahal, di sini masih ada Aisyah juga. Ah, Aisyahku, semoga kau tidak salah paham lagi, dan mengerti dengan posisiku yang terpojok ini.
Dan kegaduhan pun mulai terjadi. Namun aku tetap diam menunduk, tak ingin memberi komentar apapun.
"Ciieee, Kang Yusuf."
"Suit-suiitt."
"Ada yang kangen nih, Kang."
"Gimana, Kang, kenapa ninggalin si Teteh entu?"
"Sakiit hati aku, Kang, ditinggalin gitu aja."
"Yaahh, kirain belum punya gebetan, ternyata Kang Yusuf toh,"
"Aku patah hati, Ning."
"Kecewa, aku, Ning. Sakiiitt."
Lalu berbagai drama pun mulai terjadi. Kemudian segera terhenti, saat Gus Ilyas memasuki ruangan.
"Pengumuman! Lima menit lagi, ruangan ini harus segera dikosongkan. Semuanya harus menuju Aula, mendengarkan tausiyah Abah dan Kyai lainnya. Terima kasih." Tegasnya, kemudian segera pergi, setelah menyampaikan pengumuman itu.
Alhamdulillah. Syukurlah, Gus, akhirnya kau datang. Terima kasih, kali ini kau telah menyelamatkanku.
Kami pun segera menyelesaikan aktifitas yang tertunda. Kemudian segera pergi menuju aula, untuk mendengarkan tausiyah dari Abah Yai dan yang lainnya.
.
Dua minggu berlalu. Kini tiba saat yang kunantikan telah tiba. Hari pernikahanku dengannya. Ya, dengan bidadariku, Aisyah Awlya Rahma.
Seulas senyum tak henti-hentinya menghiasi bibirku. Menggambarkan suasana hati yang sesungguhnya. Bahagia. Nina pun tak henti-hentinya menggodaku sejak subuh tadi. Tak bisa dibohongi, kalau dia pun merasakan kebahagiaan ini.
"Ciieee ... Si Abang seneng banget nih, ye. Bentar lagi mau naik ke pelaminan." Godanya, aku pun hanya tersenyum menanggapi.
Kemudian dia mengubah posisinya menjadi tegak. Tangan kanan dia posisikan di depan dada, seperti memegang sesuatu. Kemudian dia arahkan ke depan mulutku, seperti seorang reporter yang tengah mewawancarai. Ada-ada saja.
"Ekhem ... Tes-tes. Baik, mari kita mulai. Ehm, Bapak Yusuf, bagaimana perasaan anda saat ini, apakah bahagia, ataukah merasa gugup, atau bagaimana? Bisa tolong jelaskan kepada saya," dia pun memulai aksinya.
Aku, yang tengah membenahi posisi peci pun terpancing untuk menanggapinya.
"Bismillah. Ya, alhamdulillah saya merasa sangat, sangat dan sangat bahagia. Gugup? Tentu saja tidak, saya sudah persiapkan semuanya dari awal," jawabku, tak kalah dari akting Nina tadi, padahal sebenarnya gugup sekali.
"Wah, wah, wah ... ternyata Bapak Yusuf ini sudah tidak sabar, ya. Sampai-sampai sesemangat itu. Saya jadi ingin tahu, bagaimana reaksi calon pengantin wanitanya nanti, kalau tahu pengantin prianya terlalu semangat seperti ini."
Nina memberi komentar lagi. Cih, dia memang kadang sangat menyebalkan. Tadi dia sendiri yang memulai, eh, sekarang malah mulai mencibir.
Tak lama kemudian, Ayah datang menghampiri.
"Bagaimana, Suf, kamu sudah siap?" tanya beliau.
"Bismillah. Insyaa Allah siap, Yah," jawabku, mantap, sambil tersenyum meyakinkan.
"Kalau sudah siap, cepatlah ke depan. Semuanya sudah menunggu di mobil. Dan kamu, Nina, berhentilah bermain-main. Segera masuklah ke mobil, rumah ini mau ayah kunci." Titahnya.
"Baik, Yah."
Kami pun segera menuju mobil. Kulihat, Nina sedikit cemberut. Mungkin karena Ayah terlalu tegas tadi. Tapi biarlah, salah siapa tadi terlalu banyak main-main. Sudah lulus SMA, masih saja kelakuannya seperti anak baru masuk SMP. Ada-ada saja.
Tak butuh waktu lama, mobil pun membelah jalanan kota yang lumayan padat ini. Saat ini baru pukul tujuh kurang seperempat. Tapi mengingat jarak antara rumahku dan rumah Aisyah, sepertinya akan sampai sekitar pukul sepuluh. Sedangkan jadwal akadnya, dilaksanakan pukul sepuluh lebih seperempat nanti. Lumayan, masih ada sisa waktu untuk beristirahat.
"Ehm, Suf. Bagaimana dengan perasaanmu?" Ayah membuka pembicaraan.
"Aku ... baik-baik saja, Yah." Sambil menunduk, meremas jemari yang sedikit berkeringat.
"Apa kau gugup?"
Aku mengangguk, "Lumayan. Tapi aku tidak apa-apa, Yah."
"Itu wajar, Nak. Dulu juga ayah pernah merasakan hal yang sama, saat hendak menikahi ibumu dulu." Menggenggam tanganku dengan erat.
Mendengar kata-kata Ayah, rasanya ada yang tersayat di sini. Perih.
Oh, Ibu. Andai saja kau masih berada di sini. Pasti akan lebih bahagia lagi. Melihat putramu membawa menantu yang kau inginkan selama ini.
Andai kau tahu, Bu, apa alasan aku memilihnya. Pasti kau akan bangga pada anakmu ini. Karena telah memenuhi semua janji dan pesan yang kau berikan padaku.
Aku selalu ingat semua kata-katamu, Bu.
"Pilihlah wanita yang shalihah, yang mampu menjaga pandangannya hanya untuk dirimu. Yang bisa membuatmu selalu mengingat ibumu, di manapun kau berada. Jangan hanya kecantikan rupanya, tapi pilihlah karena cantik hatinya. Ibu akan selalu mendukungmu, Nak. Apapun keputusanmu. Ibu percaya, kau pasti akan memberikan yang terbaik untuk kami."
Ah, Ibu. Mengingat semua tentangmu, aku jadi merasa rapuh. Lemah tak berdaya. Aku rindu padamu, Bu. Rindu sekali.
Tak terasa, bulir bening itu meluncur dari sudut mataku. Buru-buru aku menghapusnya, takut ayah ataupun yang lain menyadarinya.
***
Bersambung
Ada solusi terindah thor selain poligami.