Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 007: Uang dari Langit
Rumah utama Keluarga Tan di Menteng tidak pernah benar-benar berisik.
Bahkan ketika Tan Yucen dibawa masuk menjelang subuh dengan kemeja berdarah, para pelayan hanya bergerak cepat tanpa suara. Dokter keluarga datang lewat pintu samping. Pengawal menutup gerbang. Kamera CCTV diperiksa ulang. Semua dilakukan seperti mesin yang sudah ratusan kali menghadapi bahaya.
Di ruang kerja lantai dua, Tan Hansel berdiri di depan jendela.
Usianya dua puluh sembilan, tetapi seluruh rumah memperlakukannya seperti pusat gravitasi. Tidak perlu suara keras. Tidak perlu banyak gerakan. Cukup ia menoleh, orang-orang tahu siapa yang harus bicara dan siapa yang harus diam.
Tan Yannic masuk dengan tablet di tangan. "Peluru sudah dikeluarkan. Tidak kena organ vital. Dokter bilang Yucen beruntung."
Hansel tidak langsung menjawab. "Siapa yang menolongnya?"
"Itu masalahnya."
Di luar ruang kerja, dokter keluarga masih memberi instruksi pemantauan suhu dan tekanan darah. Seorang perawat membawa kantong darah cadangan. Tan Hanjaya, ayah Yucen, berdiri di koridor dengan wajah keras yang retak sedikit setiap kali pintu kamar putranya terbuka.
Keluarga Tan terbiasa membeli keamanan dengan uang, jaringan, dan nama. Fakta bahwa pewaris muda mereka bisa pulang hidup karena seorang gadis asing di gang sempit Megawan membuat seluruh rumah menahan pertanyaan yang sama.
Siapa dia?
Yannic menggeser layar. Foto lengan Tan Yucen muncul. Di sana ada deretan angka rekening ditulis dengan spidol hitam. Tulisan itu rapi, dingin, dan sama sekali tidak panik.
"Menurut Yucen, perempuan muda. Kemungkinan siswi SMA. Lokasi Kota Megawan, dekat perumahan subsidi."
Hansel akhirnya berbalik.
"Siswi SMA?"
"Begitu katanya. Dia menekan luka, menyembunyikan jejak darah, menyesatkan pengejar, lalu menulis nomor rekening."
Di sofa, Tan Yucen yang masih pucat memaksa duduk. "Ko San, dia bukan orang biasa."
Hansel menatapnya.
Yucen jarang terdengar segugup itu.
"Matanya..." Yucen berhenti, mencari kata. "Seperti orang yang sudah tahu kapan seseorang akan mati."
Yannic terdiam.
Hansel mengambil tablet, memperbesar tulisan di lengan. "Transfer."
"Berapa, Koh?"
"Lima ratus juta."
Yannic hampir salah menekan layar. "Untuk nomor yang belum diverifikasi?"
"Yucen masih hidup."
Kalimat itu selesai di sana. Tidak ada ruang tawar.
Yannic menunduk. "Baik."
"Jangan kirim orang ramai-ramai ke Megawan," lanjut Hansel. "Kalau dia sengaja tidak memberi nama, berarti dia tidak ingin dicari terang-terangan."
Yucen menatap pamannya. "Ko San akan tetap mencari?"
Hansel mengembalikan tablet. "Orang yang bisa menyelamatkanmu seperti itu mungkin juga tahu cara menyelamatkan Engkong."
Ruang kerja itu kembali sunyi.
Nama Engkong membuat semua orang memahami beratnya urusan ini. Dokter terbaik sudah datang dan pergi. Laporan medis semakin tebal, tetapi jawaban semakin tipis. Satu nama yang pernah disebut oleh jaringan internasional adalah Blood Shadow. Namun kabar kematian perempuan itu sudah menyebar.
"Lanjutkan pencarian dokter," kata Hansel. "Dan cari tahu siapa pemilik rekening itu tanpa menyentuh hidupnya."
"Dimengerti, Koh."
Di Megawan, ponsel Keira bergetar saat ia sedang mencuci gelas di dapur belakang.
Notifikasi bank muncul.
Rp 500.000.000 masuk.
Keira menatap layar selama dua detik, lalu mengunci ponsel.
Keluarga Tan memang tidak pelit.
Sayangnya, ia belum bisa memakai uang itu sembarangan. Bu Sri akan mencium bau uang lebih cepat daripada anjing pelacak. Keira memindahkan sebagian ke rekening lain lewat aplikasi, menyisakan angka kecil yang aman terlihat.
"Keira!" Bu Sri memanggil dari depan. "Air galon habis. Jangan pura-pura nggak dengar."
Keira memasukkan ponsel ke saku. Dulu, jika ia punya uang sebanyak itu, ia bisa membeli sepuluh rumah seperti ini dan membuat Bu Sri berhenti bicara dengan satu cek. Namun uang yang muncul terlalu cepat akan mengundang pertanyaan, dan pertanyaan dari orang serakah sering lebih merepotkan daripada peluru.
Ia mengangkat galon tanpa menjawab. Tubuh barunya protes, tetapi ia tetap memaksa ototnya bekerja. Latihan bisa datang dari mana saja, bahkan dari rumah sempit dan perintah menyebalkan.
"Mbak."
Bayu muncul dari balik sekat. Ia memegang selembar uang lima puluh ribu yang sudah agak lusuh.
"Ini buat kartu makan Mbak."
Keira menatap uang itu.
"Dari mana?"
"Aku simpan dari uang jajan." Bayu tampak malu. "Nggak banyak. Tapi Mbak kemarin di kantin cuma beli air."
Di rekeningnya ada lima ratus juta.
Di tangan Bayu ada lima puluh ribu.
Anehnya, yang membuat tenggorokan Keira lebih berat adalah uang lusuh itu.
"Kamu pakai sendiri."
"Aku sudah bawa bekal."
"Bekal apa?"
Bayu diam.
Keira mengambil uang itu, lalu melipatnya kembali ke tangan Bayu. "Kita bagi dua. Kamu makan. Aku juga makan."
Bayu ingin menolak, tetapi Keira menatapnya. Ia akhirnya mengangguk, mata sedikit basah.
"Mbak sekarang beda," gumamnya.
"Lebih buruk?"
"Lebih... berani."
Keira hampir tersenyum.
Di ruang depan, Bu Sri sedang menonton video gosip dengan volume keras. Laras duduk di sampingnya, sibuk memoles kuku. Mereka tidak tahu ada dua nilai uang yang baru saja melewati rumah itu. Satu cukup membeli rumah kecil di kompleks lebih baik. Satu lagi cukup membeli dua porsi nasi di kantin.
Keira menyimpan ponsel.
Untuk saat ini, uang Keluarga Tan akan menjadi alat. Uang Bayu akan menjadi pengingat.
Di sisi lain kota, Nadira Sutanto menatap layar ponselnya dengan wajah gelap. Broto tidak menjawab. Bang Deni juga tiba-tiba menghilang dari WhatsApp.
Rika duduk di depannya, gelisah. "Nad, mungkin udah cukup."
"Cukup?" Nadira tertawa kecil. "Dia bikin aku malu di sekolah."
"Tapi Broto saja nggak mau lagi."
Nadira membuka kontak lain. Kali ini bukan empat orang kecil dari gang belakang. Ia menekan tombol kirim dengan rahang terkunci.
"Kalau empat orang tidak cukup," katanya, "aku kirim lebih banyak."
Ia akan mengirim lebih banyak.