NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:412
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Noda di atas seprai

Valerie berusaha memberontak, berkali-kali mendorong tubuh Damian, namun Damian tetap menciumnya. Tidak ingin menyerah tangannya memukul-mukul punggungnya Damian. Dengan sekuat tenaga Valerie menginjak kaki Damian, dan akhirnya Valerie terlepas dari pelukan Damian.

Saat melihat Damian kesakitan. Valerie buru-buru menjauh, melangkah dengan cepat menuju ambang pintu. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik Damian, dan tangan Damian satunya menutup pintu ruangan itu.

Valerie dapat melihat wajah Damian yang basah dengan keringat, wajahnya memerah seperti kepanasan dan terlihat seperti bukan dirinya sendiri.

Valerie melangkah mundur, ia mulai ketakutan.

“Damian?!”

“Sadarlah?!”

“Damian, jangan lakukan ini...”

“Ingat isi kontraknya!”

“Kamu tidak akan menyentuh maupun memaksaku!”

Damian tidak menjawab. Tatapannya begitu asing, seolah kesadarannya telah tenggelam di balik pengaruh sesuatu yang menguasai dirinya. Langkahnya terus mendekat perlahan, membuat Valerie semakin ketakutan.

“Damian... tolong sadar,”

“Damian, tolong jangan mendekat!”

“Jangan membuatku takut!”

“Damian... aku mohon!”

Pinta Valerie dengan suara bergetar sambil terus melangkah mundur.

Namun Damian sama sekali tidak merespons. Dalam sekejap, ia meraih pergelangan tangan Valerie. Sebelum Valerie sempat melepaskan diri, Damian mengangkat tubuhnya dan menjatuhkan tubuh Valerie di atas kasur.

Valerie segera berusaha bangkit, tetapi Damian telah berdiri di hadapannya. Rasa takut semakin memenuhi dadanya ketika ia menyadari pria di depannya bukanlah Damian yang selama ini ia kenal.

Damian melepaskan bajunya dengan gerakan gelisah. Napasnya semakin tidak beraturan, sementara wajahnya dipenuhi keringat. Ia tampak berjuang melawan sesuatu yang menguasai kesadarannya, tetapi tubuhnya tidak lagi mematuhi kehendaknya.

Valerie mencoba mencoba melawan, namun Damian kembali menahan pergelangan tangannya. Ia meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri, tetapi perbedaan tenaga di antara mereka terlalu jauh.

“Damian... tolong sadar!”

isaknya memberontak sekuat tenaganya.

“Kamu sudah berjanji tidak melakukannya!”

Tak ada jawaban. Tatapan Damian tetap kosong, seolah ia tidak lagi mengenali siapa pun di hadapannya.

Rasa takut menyelimuti hati Valerie. Air mata mengalir tanpa henti ketika ia terus berusaha melepaskan diri sambil memohon agar Damian kembali sadar.

Damian kembali melumat bibirnya. Dua tangan Valerie terkunci dengan satu tangan Damian. Dengan satu gerakan kasar, Damian merenggut pakaian Valerie hingga membuat tubuh moleknya terpampang jelas.

Damian terus mendekat tanpa menghiraukan penolakan yang terlihat jelas dari wajah Valerie. Setiap langkahnya membuat napas Valerie semakin sesak. Ia ingin melawan, ingin berteriak, tetapi tubuhnya seolah kehilangan seluruh tenaga.

Jenjang demi jenjang Damian menyentuh tubuhnya, yang kini tidak tertutup sehelai kain sedikit pun. Sentuhan demi sentuhan membuatnya terlena, walau ketakutan memenuhi dirinya.

Menyadari malam ini ia tidak akan bisa lolos, Ia memejamkan mata rapat. Air mata mengalir tanpa henti membasahi pipinya menangis tak berdaya. Dalam lubuk hatinya, ia sama sekali tidak menginginkan malam ini terjadi.

Saat menyadari bahwa dirinya tak lagi memiliki jalan untuk melarikan diri, isak tangisnya pecah. Ia hanya bisa menangis dalam diam, menahan rasa sakit, ketakutan, dan hancurnya harga diri yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.

Keesokan paginya, Damian terbangun lebih dulu. Kepalanya masih terasa berat, tetapi tubuhnya justru terasa jauh lebih segar dibandingkan malam sebelumnya. Ia mengusap pelipisnya, berusaha mengingat apa yang telah terjadi.

Saat hendak bangkit, ia menyadari ada seseorang yang tertidur di sampingnya. Damian menoleh, matanya langsung membelalak.

“Valerie...?!”

Valerie tertidur membelakanginya. Wajah gadis itu tampak pucat dan kelelahan. Kelopak matanya membengkak, seolah ia telah menangis sepanjang malam.

Potongan-potongan ingatan tentang malam sebelumnya berkelebat di benak Damian, namun beberapa terasa kabur. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengguncang bahu Valerie.

“Bangun!”

Valerie tersentak. Tubuhnya refleks gemetar saat membuka mata. Rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya ketika ia perlahan mencoba duduk.

Saat menyadari dirinya tidak lagi mengenakan pakaian, wajahnya memucat. Dengan tangan gemetar, ia buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Belum sempat ia berkata apa-apa, Damian lebih dulu melontarkan tuduhan.

“Apa-apaan ini Valerie?!”

“Kenapa kamu ada disini?”

Damian membentak Valerie, dengan mata yang memerah.

“Aku tidak percaya kamu bisa melakukan hal se menjijikan ini?!”

“Kamu memanfaatkan ketidak berdayaan ku!”

Air mata Valerie langsung menggenang.

“Apa maksudmu Damian!”

“Aku?”

“Memanfaatkanmu?”

Suaranya bergetar, tangannya mengepal keras sehinga buku-buku jaringan memutih.

“Damian... aku sudah berusaha menghentikanmu, aku bahkan sudah melawan.”

“Aku mencoba kabur berkali-kali, tapi kamu memaksaku. Aku terus memohon agar kamu sadar...”

Namun Damian menunjuknya dengan bentakan keras.

“Cukup!”

“Jangan beralasan.”

Tatapannya dipenuhi amarah dan rasa muak terhadap Valerie.

“Olivia memang telah membuat kesalahan dan mengecewakanku, dengan memberiku obat...”

“Tapi kamu jauh lebih buruk darinya. Saat aku kehilangan kesadaran ku karena pengaruh obat, kamu dengan sadar memanfaatkan keadaanku.”

Ucapan itu terasa seperti pisau yang menusuk hati Valerie, dadanya terasa sakit dan sesak. Air matanya mengalir semakin deras.

“Damian?!”

Valerie tersenyum pahit.

“Jadi, begitu caramu melihatku?”

“Seburuk itu aku dimatamu?”

Damian tidak menjawab, keheningan itu terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata. Beberapa detik kemudian. Damian berkata dengan nada dingin, lalu membuang muka.

“Keluar!”

“Jangan pernah perlihatkan wajahmu lagi didepanku?!”

“Jangan membuatku jijik dengan melihat wajah sok polosmu itu!”

Valerie memejamkan mata, berusaha menelan semua rasa sakit yang memenuhi dadanya. Ia kembali menatap Damian beberapa saat, berharap Damian mau melihat penderitaan di wajahnya. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan dingin.

Ia menarik napas panjang, berusaha menahan isak tangisnya.

“Aku mengerti.”

“Sekeras apapun aku berusaha menjelaskan...”

“... aku tetap wanita yang menjijikkan dimatamu.”

Dengan tubuh yang masih dipenuhi rasa sakit dan tenaga yang nyaris habis, Perlahan Valerie turun dari ranjang. Ia memungut pakaian yang berserakan satu per satu dengan tangan gemetar.

Sebelum melangkah keluar. Valerie berhenti di ambang pintu, ia menoleh untuk terakhir kalinya.

“Aku memang tidak bisa menghentikan semua yang terjadi semalam,”

“Tapi yang paling menyakitkan bukan itu.”

“Semalam kamu merenggut kehormatanku, lalu pagi ini kau menatapku seolah aku adalah wanita yang paling hina.”

“Wanita yang tidak punya harga diri, dengan suka rela melepas pakaian demi memuaskan laki-laki yang bahkan tidak mencintaiku?!”

Valerie mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

“Mulai hari ini... aku membencimu, Damian.”

“Kamu menghancurkanku dari luar dan dalam...”

“Rasa sakitku tidak akan cukup untuk memaafkanmu!”

“Apapun usaha yang kamu lakukan, aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini?!”

Setelah mengucapkan itu. Tanpa menunggu jawaban, Valerie berjalan meninggalkan kamar dengan langkah tertatih.

Dengan tubuh dan hati yang remuk, Valerie kembali menuju kamarnya. Setiap langkah terasa menyakitkan, tetapi tidak ada yang lebih menyakitkan daripada tuduhan yang baru saja ia terima.

Pintu kamar pun tertutup.

Ruangan itu kembali sunyi.

Damian berdiri mematung. Napasnya masih memburu. Saat pandangannya beralih ke ranjang, ia menyadari seprai kusut dan noda darah yang tampak jelas di atasnya.

Tubuhnya langsung menegang. Wajahnya seketika kehilangan warna dan tangannya bergetar hebat.

Potongan-potongan ingatan tentang malam sebelumnya mulai muncul sedikit demi sediki. Tatapan Valerie yang ketakutan, tangisnya, dan permohonannya agar ia sadar.

“Sial...”

Damian mundur beberapa langkah. Dadanya terasa sesak.

Dengan penuh amarah, ia menyapu semua benda di atas meja hingga berjatuhan ke lantai.

BRAK!

PRANG!

Vas bunga hancur berkeping-keping, sementara raungan amarah memenuhi ruangan.

“ARGHH...”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!