Halo ha.. ini karya othor yang ke 4, semoga kalian suka ya..
Ira Sarasvati gadis cantik keturunan Melayu Aceh, harus menikah di umur yang sangat muda karena suatu kejadian dan juga perjodohan dari orang tuanya.
Menikah pada umur yang sangat muda, terlebih lagi mereka berdua tidak ingin mengenal calon masing masing. Karena mereka berdua telah memiliki cinta lain.
Setelah dinikahi mereka terpaksa dipisahkan karena mereka masih dalam proses menuntut ilmu yang belum selesai. Mereka terpaksa dipisahkan hingga pada waktunya.
Tepat pada 9 tahun pernikahan mereka, Ira dikejutkan dengan sang suami membawa pulang gadis lain ke rumah mereka.
Mampukah Ira bertahan dalam rumah tangga yang penuh dengan kesedihan atau kah Ira memilih mundur?
Inilah kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengamuk
Raga berlarian mendekati Ira karena Ira semakin histeris saja. Ira melihat sesuatu ditangan Raga, membuat ia semakin mengamuk.
''Tidaaaaaakkkkk... aaaaaaaaa.... Kak Raga...'' pekik Ira begitu kuat.
Membuat orang-orang dibawah terkejut. Secepat kilat Mak Alisa berlari keatas menuju kamar Ira.
Ia meninggalkan Annisa bersama Lana di bawah. Beruntung nya Lana baru saja pulang dari main sepak bola di komplek perumahan itu.
Jadilah Annisa ia yang jaga. ''Kakak kenapa Dek??'' tanya nya pada Annisa.
Bayi kecil itu mengusap wajah Lana. Lana hanya terdiam memikirkan keadaan Ira diatas sana.
Melihat Mak Alisa berlari, ummi Hani juga ikut berlari. Di susul Abi Hendra, dan Ayah Emil dan seorang dokter keluarga Hariawan. Sedangkan Pak Madan, melayani tamu mengganti kan tuan rumah.
Karena sekilas ia mendengar jika Ira mengamuk lagi.
Tiba disana, mereka begitu terkejut melihat kelakuan Ira.Dengan Raga masih saja membujuk nya.
Ira mengamuk. Ia takut melihat apapun yang berwarna merah. Termasuk yang ada ditangan Raga.
Ya, map berwarna merah. Raga lupa akan itu. Sedangkan ummi Hani bertambah terkejut karena menantunya itu takut dengan warna merah.
''Aaaaaaa... pergiiiiii... Kak Ragaaaa... dia disiniiii... aaaaa...'' teriak Ira semakin histeris saja.
''Sayang.. ini map mahar kamu dari Kakak! Kalau kamu nggak mau nanti Kakak buang! Ayo kemari!'' titahnya pada Ira.
Raga semakin mendekat, sedang Ira semakin mundur. Ia ketakutan melihat map yang ada di tangan Raga.
''Nggaaakkk... kamu bukan Kak Raga ku!! Kamu si merah ituuuu.. pergiiiiii.. aaaaa...'' pekik nya lagi.
Hingga akhirnya Raga tidak tahan, ia membuang map itu ke atas nakas dan berlari memeluk Ira.
Grep!
''Sayang! Ini Kakak!! Sadar sayang!'' bujuk Raga lagi.
Percuma, gadis itu terus saja mengamuk dalam pelukan Raga. Karena Ira tidak bisa diam, akhirnya Raga membawa Ira ketepi ranjang.
Dan menjatuhkan diri mereka keatas ranjang empuk milik Ira. Raga masih memeluk Ira dengan erat, karena gadis itu terus meronta-ronta.
Lelah dengan posisi terlentang dengan memeluk Ira diatas tubuhnya. Akhirnya Raga memilih untuk memeluk Ira dengan cara menggulingkan tubuh Ira di sisinya.
Mereka berguling-guling diatas ranjang. Dengan Raga memeluk Ira dengan erat. Ia peluk tubuh itu dengan erat.
Karena ia merasa mencium aroma tubuh Raga, seketika menjadi tenang kembali. Tubuh yang tadinya gemetar dan ketakutan, kini berangsur-angsur menghilang.
Aroma tubuh Raga yang maskulin, membuat Ira nyaman berada dalam pelukan Raga.
''Jangan pergi Kak.. aku takut...'' Lirih Ira, masih dengan memeluk Raga begitu erat.
''Kakak disini. Kakak nggak akan pergi, jika bukan kamu yang memintanya.'' Sahut Raga membuat Mak Alisa tersentak.
Ia mengurai pelukan nya dari ummi Hani. ''Papi...'' Bisiknya.
Hingga ummi Hani menoleh dan mengusap lembut tubuh Mak Alisa. ''Sabar...''
Lain dengan Ayah Emil, ia jatuh terduduk melihat keadaan putri sulungnya. Sedangkan Mak Alisa semakin menangis di pelukan ummi Hani.
Begitu juga dengan ummi Hani. Abi Hendra melihat dokter yang sedari tadi terdiam karena melihat kelakuan Ira.
''Ayo dokter! Selesaikan tugas Anda!'' Dokter keluarga Hariawan itu mengangguk dan memasuki kamar pengantin baru itu.
Ia mendekati sepasang pengantin baru yang baru saja habis mengamuk itu. Dokter itu meletakkan tasnya ditepi Raga dan Ira.
Ia mulai mengeluarkan stateskop untuk memeriksa keadaan Ira. Awalnya Ira menolak, karena masih takut.
Dan juga ia tidak ingin lepas dari Raga. Dokter mengalah. Masih dalam pelukan Raga, Ira di periksa.
Walau sangat sulit, namun tetap berhasil atas bujukan Raga.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, ia kembali kepada para orang tau yang masih berdiri didepan pintu menunggu kedatangan dokter itu.
''Bisa kita bicara Pak??''
Abi Hendra mengangguk. ''Putri Anda, mengalami trauma yang begitu parah. Trauma ini di akibatkan karenanya pasien pernah mengalami kejadian yang begitu tidak mengenakkan. Hingga memicu saraf nya untuk membuatnya menjadi takut dan cemas disaat yang bersamaan. Atau dengan Kata lain PTSD.'' Jelas dokter keluarga Hariawan itu yang bernama, Zayyan.
''PTSD?? Apa itu??'' Tanya Ayah Emil, sembari menatap dokter itu dengan serius.
''PTSD atau Post traumatic Stres Disorder. Penyakit ini adalah penyakit yang disebabkan oleh rasa cemas dan ketakutan yang berlebihan karena pernah mengalami sesuatu yang mengerikan dan menakutkan. Jika tidak segera diatasi, akan sangat berbahaya bagi pasien. Dan juga bisa..''
''Bisa??''
''Bisa jadi gila!''
Ddddduuuaaarrrr..
💕
Kasian kak Ira.. 😥😥😥
TBC