NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sedikit Tegang

Pagi itu, aroma kopi hitam memenuhi seluruh ruang makan penthouse.

Arsen sudah duduk di meja island dapur dengan secangkir americano di tangan. Di depannya terbuka sebuah tablet berisi laporan dari Genta mengenai pengamanan vila di Bogor. Tatapan matanya serius, sesekali mengetuk layar membaca laporan demi laporan.

Suara langkah kaki pelan dari arah lorong kamar membuat konsentrasinya terpecah.

Arsen mengangkat kepala.

Lalu... diam.

Senja berdiri di ambang lorong sambil sedikit canggung merapikan ujung kaus polo putih yang dikenakannya. Celana pendek putih berpotongan rapi dipadukan dengan ikat pinggang hitam sederhana membuat penampilannya terlihat segar dan jauh lebih muda dibanding saat memakai pakaian kerja. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai begitu saja, masih sedikit lembap setelah mandi.

"Bapak... ini bajunya kekecilan nggak ya?" tanya Senja sambil menunduk memperhatikan pakaiannya.

Tidak ada jawaban.

Arsen hanya menatap.

Entah sejak kapan secangkir kopi di tangannya berhenti bergerak.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Senja, dia melihat perempuan itu bukan sebagai asisten yang sibuk membawa map dan laptop, melainkan sebagai seorang wanita muda yang... terlalu cantik untuk dibiarkan keluar tanpa pengawasan.

Tatapan Arsen turun tanpa sadar, lalu kembali naik ke wajah Senja.

Rahangnya mengeras.

Sial.

Kaos polo sederhana itu justru mengikuti lekuk tubuh Senja dengan pas. Tidak berlebihan, tidak vulgar, tetapi cukup membuat siapa pun yang melihatnya menoleh untuk kedua kalinya.

"Pak?"

Panggilan kedua dari Senja akhirnya menyadarkan Arsen.

"Hm?"

"Bapak dari tadi bengong."

"..."

Arsen berdeham pelan, buru-buru mengalihkan pandangan ke cangkir kopinya.

"Cari jaket."

"Hah?"

"Pakai jaket."

Senja berkedip bingung.

"Emang dingin?"

"Bukan."

"Terus kenapa?"

Arsen mengembuskan napas pelan sebelum menjawab datar.

"Saya tidak suka kalau nanti ada orang lain yang melihat kamu seperti itu."

Senja mengernyit.

"Seperti apa?"

Arsen kembali menatapnya beberapa detik.

"...Terlalu menarik perhatian."

Kalimat itu sukses membuat pipi Senja memerah.

"Loh? Ini kan cuma baju biasa..."

"Biasa menurut kamu."

Arsen bangkit dari kursinya, berjalan menuju lemari dekat ruang tamu, lalu mengambil sebuah jaket tipis berwarna hitam.

Tanpa banyak bicara, dia menyampirkan jaket itu ke bahu Senja.

"Nah."

"Bapak ini aneh deh..."

Arsen hanya menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

"Anggap saja saya sedang mengurangi risiko."

Di balik nada datarnya, Arsen tahu betul...

Risiko terbesar pagi itu bukanlah musuh yang mengincar Senja.

Melainkan dirinya sendiri yang beberapa kali harus memaksa pandangannya menjauh dari perempuan di hadapannya.

Beberapa menit kemudian.

Senja keluar dari kamar sambil mengenakan jaket hitam tipis milik Arsen.

Jaket itu memang cukup menutupi bagian atas tubuhnya. Namun karena panjangnya hanya sebatas pinggul, celana pendek putih yang dikenakan Senja tetap memperlihatkan kaki jenjangnya hingga ke paha.

"Pak, saya siap."

Arsen yang sedang mengambil kunci mobil di atas meja island mengangkat kepala.

Lalu gerakannya berhenti.

Tatapannya jatuh begitu saja ke arah Senja.

Jaket hitam yang tadi sengaja dia berikan ternyata tidak banyak membantu.

Sepasang kaki putih jenjang itu masih terlihat jelas.

Untuk sesaat, Arsen bahkan lupa mengambil kunci mobil yang berada tepat di depan tangannya.

"..."

"Pak?"

Suara Senja membuyarkan lamunannya.

"Hm."

"Bapak kenapa?"

Arsen baru tersadar dirinya terlalu lama diam.

"Tidak."

Jawabannya singkat.

Namun sebelum berjalan menuju pintu, matanya kembali melirik sekilas ke arah kaki Senja.

Sial.

Kalau dia saja sampai kehilangan fokus seperti ini...

Bagaimana dengan pria lain?

Tanpa berkata apa-apa, Arsen membuka lemari kecil di dekat pintu masuk. Tangannya mengambil sebuah topi baseball hitam dan masker medis baru, lalu menyerahkannya kepada Senja.

"Pakai."

Senja berkedip bingung.

"Lagi?"

"Iya."

"Buat apa?"

"Kalau ada yang mengenali wajah kamu, perjalanan kita akan lebih merepotkan."

Senja mengangguk pelan.

Masuk akal.

Dia langsung mengenakan topi dan masker yang diberikan Arsen.

Sementara itu, Arsen kembali menatap Senja dari ujung kepala hingga kaki.

Masih kurang.

"Pak?"

"Kita mampir sebentar."

"Hah?"

"Sebelum ke Bogor."

"Kenapa?"

"Kamu butuh pakaian yang lebih nyaman."

Senja langsung menggeleng cepat.

"Nggak usah, Pak. Saya baik-baik aja kok. Masa gara-gara saya Bapak harus keluar uang lagi."

"Itu bukan permintaan."

Arsen membuka pintu apartemen.

"Itu keputusan."

Senja mengembuskan napas panjang.

"Iya deh... dasar bos."

Arsen berjalan lebih dulu menuju lift pribadi.

Tanpa disadari Senja, sudut bibir Arsen sempat terangkat tipis.

Bukan karena menang berdebat.

Melainkan karena akhirnya dia menemukan alasan yang masuk akal untuk mengganti pakaian Senja, sebelum terlalu banyak mata ikut memperhatikan perempuan itu.

Mercedes-Benz G-Class hitam itu meluncur mulus meninggalkan kawasan apartemen menuju arah selatan Jakarta.

Suasana Minggu pagi masih cukup lengang. Cahaya matahari menembus kaca depan mobil, sementara musik instrumental mengalun pelan memenuhi kabin.

Senja duduk santai di kursi penumpang. Jaket hitam milik Arsen masih membungkus tubuhnya yang mungil.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

"Pak..."

"Hm?"

"Apa beneran perlu beli baju?"

Arsen tetap fokus pada jalan di depannya.

"Saya nyaman, kok, pakai yang ini."

Arsen tak langsung menjawab.

Tatapannya sempat bergeser sekilas ke arah Senja.

Jaket hitam itu memang berhasil menutupi tubuh bagian atas perempuan itu. Namun setiap kali Senja mengubah posisi duduk, ujung jaket kembali terangkat, memperlihatkan paha putih mulus yang sejak tadi sukses mengusik konsentrasinya.

Arsen buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke depan.

Rahangnya mengeras pelan.

"Justru itu masalahnya."

"Saya yang tidak nyaman."

"Sial... harus tahan melihat paha mulus itu selama perjalanan."

Dia mengembuskan napas tipis sebelum akhirnya menjawab datar.

"Lebih baik ganti."

"Loh... memang kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa."

Senja mengerucutkan bibir.

"Pak Arsen aneh."

Arsen memilih diam.

Kalau dia jujur, perempuan polos di sampingnya itu pasti akan salah tingkah sepanjang perjalanan.

Beberapa menit kemudian...

Sorot mata Arsen mendadak berubah.

Melalui kaca spion, sebuah sedan berwarna abu-abu terlihat memasuki jalur yang sama di belakang mereka.

Arsen sengaja berpindah lajur.

Sedan itu ikut berpindah.

Dia kembali mengambil jalur paling kanan.

Mobil itu masih mempertahankan jarak yang sama.

Tatapan Arsen mengeras.

Tanpa berkata apa-apa, tangannya memutar kemudi, membelokkan G-Class ke jalan layang yang justru menjauhi arah pusat perbelanjaan.

"Loh?"

Senja menoleh bingung.

"Pak... bukannya mal tadi belok kiri?"

"Nanti saja."

"Kenapa?"

Arsen tetap menatap lurus ke depan.

"Ganti rute."

"Memangnya ada apa?"

"Tidak ada."

Jawabannya terdengar tenang.

Terlalu tenang.

Itulah yang justru membuat Senja mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Sementara itu, di balik kaca spion, sedan abu-abu tersebut masih membuntuti mereka dari kejauhan.

Arsen mengepalkan tangannya sedikit di atas kemudi.

Rencana membelikan pakaian baru untuk Senja harus ditunda.

Saat ini, hanya ada satu tujuan.

Membawa Senja tiba di vila dengan selamat... sebelum orang-orang itu berani bergerak lebih jauh.

Mercedes-Benz G-Class hitam itu meluncur mulus meninggalkan kawasan apartemen menuju arah selatan Jakarta.

Suasana Sabtu pagi masih cukup lengang. Cahaya matahari menembus kaca depan mobil, sementara musik instrumental mengalun pelan memenuhi kabin.

Senja duduk santai di kursi penumpang. Jaket hitam milik Arsen masih membungkus tubuhnya yang mungil. Sesekali dia menarik ujung jaket itu ke bawah, seolah berusaha menutup celana pendek putih yang dikenakannya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

"Pak..."

"Hm?"

"Apa beneran perlu beli baju?"

Arsen tetap fokus pada jalan di depannya.

"Saya nyaman, kok, pakai yang ini."

Arsen tak langsung menjawab.

Tatapannya sempat bergeser sekilas ke arah Senja.

Jaket hitam itu memang berhasil menutupi tubuh bagian atas perempuan itu. Namun setiap kali Senja mengubah posisi duduk, ujung jaket kembali terangkat, memperlihatkan paha putih mulus yang sejak tadi sukses mengusik konsentrasinya.

Arsen buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke depan.

Rahangnya mengeras pelan.

"Justru itu masalahnya."

"Saya yang tidak nyaman."

"Sial... harus tahan melihat paha mulus itu selama perjalanan."

Dia mengembuskan napas tipis sebelum akhirnya menjawab datar.

"Lebih baik ganti."

"Loh... memang kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa."

Senja mengerucutkan bibir.

"Pak Arsen aneh."

Arsen memilih diam.

Kalau dia jujur, perempuan polos di sampingnya itu pasti akan salah tingkah sepanjang perjalanan.

Beberapa menit kemudian...

Sorot mata Arsen mendadak berubah.

Melalui kaca spion, sebuah sedan berwarna abu-abu terlihat memasuki jalur yang sama di belakang mereka.

Arsen sengaja berpindah lajur.

Sedan itu ikut berpindah.

Dia kembali mengambil jalur paling kanan.

Mobil itu masih mempertahankan jarak yang sama.

Tatapan Arsen mengeras.

Tanpa berkata apa-apa, tangannya memutar kemudi, membelokkan G-Class ke jalan layang yang justru menjauhi arah pusat perbelanjaan.

"Loh?"

Senja menoleh bingung.

"Pak... bukannya mal tadi belok kiri?"

"Nanti saja."

"Kenapa?"

Arsen tetap menatap lurus ke depan.

"Ganti rute."

"Memangnya ada apa?"

"Tidak ada."

Jawabannya terdengar tenang.

Terlalu tenang.

Itulah yang justru membuat Senja mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Sementara itu, di balik kaca spion, sedan abu-abu tersebut masih membuntuti mereka dari kejauhan.

Arsen mengepalkan tangannya sedikit di atas kemudi.

Rencana membelikan pakaian baru untuk Senja harus ditunda.

Saat ini, hanya ada satu tujuan.

Membawa Senja tiba di vila dengan selamat... sebelum orang-orang itu berani bergerak lebih jauh.

Mercedes-Benz G-Class hitam itu terus melaju membelah jalan tol menuju arah Bogor.

Arsen tidak lagi menghiraukan percakapan. Seluruh indranya kini tertuju pada kaca spion dan setiap kendaraan yang berada di sekitar mereka.

Sedan abu-abu itu...

Masih menjaga jarak.

Arsen sengaja keluar dari jalan tol lebih cepat dari seharusnya, melewati jalur arteri yang lebih lengang.

Sedan itu ikut keluar.

Beberapa kilometer kemudian, Arsen kembali masuk ke jalan tol melalui gerbang yang berbeda.

Mobil itu...

Masih ada.

Sorot mata Arsen menggelap.

"Benar..."

"Mereka memang mengincar kami."

Tanpa mengubah ekspresi, jari telunjuknya menekan tombol kecil di balik setir.

Beberapa detik kemudian terdengar suara pelan dari perangkat komunikasi tersembunyi.

"Ya, Tuan?"

"Jam enam."

Hanya dua kata.

Tidak lebih.

Namun orang di seberang langsung memahami maksudnya.

"Dipahami."

Sambungan terputus.

Senja yang sedari tadi memperhatikan akhirnya tak bisa menahan rasa penasarannya.

"Pak..."

"Hm?"

"Bapak dari tadi lihat spion terus."

"Tetap duduk yang nyaman."

"Loh, memang kenapa?"

Arsen menggeleng pelan.

"Tidak ada."

Senja menghela napas kecil.

Jawaban itu lagi.

Dia tahu percuma memaksa Arsen bicara kalau pria itu memang belum ingin menjelaskan sesuatu.

Beberapa menit kemudian...

Tanpa Senja sadari, dua mobil berwarna gelap muncul dari jalur berbeda.

Satu berada cukup jauh di depan.

Satu lagi perlahan masuk ke lajur kanan, seolah hanya kendaraan biasa yang sedang bepergian.

Tidak ada sirene.

Tidak ada aksi mencolok.

Tidak ada satu pun yang akan mengira kalau keduanya sedang menjalankan tugas mengawal seseorang.

Arsen melihat semuanya melalui kaca spion.

Rahangnya yang sempat menegang perlahan mengendur.

Setidaknya...

Timnya sudah mengambil posisi.

Sedan abu-abu di belakang tampak mulai kehilangan ruang untuk terus mengikuti.

Beberapa saat kemudian, kendaraan itu memperlambat laju sebelum akhirnya berpindah ke jalur keluar berikutnya.

Menghilang dari pandangan.

Senja yang kebetulan ikut melihat ke belakang langsung tersenyum lega.

"Pak... mobil itu belok."

"Hm."

"Berarti cuma kebetulan ya?"

Arsen tidak menjawab.

Tatapannya tetap lurus ke depan.

Instingnya justru berteriak semakin keras.

Terlalu mudah.

Pria-pria seperti mereka tidak akan menyerah hanya karena kehilangan satu kesempatan.

Kalau mereka mundur...

Berarti mereka sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar.

Di tempat lain...

Sedan abu-abu itu berhenti di area parkir sebuah bangunan tua yang tampak tak lagi beroperasi.

Seorang pria bertubuh besar melepas masker hitamnya, lalu mengambil ponsel sekali pakai dari saku jaket.

"Bos."

Suara berat terdengar dari seberang.

"Bagaimana?"

"Target berhasil lolos."

Keheningan berlangsung beberapa detik.

Kemudian...

Terdengar tawa pelan.

"Biar saja."

Pria itu mengernyit.

"Kita tidak lanjut mengejar?"

"Belum."

"Kenapa?"

Suara di seberang berubah dingin.

"Karena sekarang aku sudah yakin."

"Yakin apa, Bos?"

"...Arsen Malik benar-benar memiliki sesuatu yang ingin dia lindungi."

Sambungan telepon terputus.

Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke saku sambil menatap ke arah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan akhir pekan.

Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

"Kalau begitu..."

"...permainan ini baru saja dimulai."

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!