Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Suasana sekolah mulai riuh dengan suara anak-anak TK yang berhamburan keluar menuju orang tua nya masing-masing saat lonceng pulang berbunyi. Lilis segera merapikan meja kerjanya dan menyampirkan tote bag silvernya di bahu.
"Han, aku ikut nebeng ya sampai depan?" tanya Lilis saat melihat Hana sedang memakai jaket motornya.
Hana menoleh sambil tersenyum lebar. "Boleh banget! Eh, tapi aku baru ingat, rumah kamu di mana sekarang? Kan sudah pindah ke rumah baru, ya?"
"Iya, Han. Dekat kok dari sini, searah sama jalan pulang kamu biasanya. Nanti kita lewatin, aku kasih tahu jalannya," sahut Lilis sambil melangkah keluar ruang guru bersama Hana.
"Boleh deh, ayok! Jadi penasaran nih pengantin baru rumahnya kayak gimana," goda Hana lagi.
Saat mereka sedang berjalan menuju parkiran motor, tiba-tiba ponsel di dalam tas Lilis berdering nyaring. Lilis menghentikan langkahnya sejenak.
"Bentar, Han," ucap Lilis. Ia merogoh tasnya dan melihat layar ponsel. Ternyata sebuah panggilan dari Arka.
Lilis menggeser tombol hijau, sedikit menjauh dari Hana agar suaranya lebih jelas.
"Halo, Mas?"
"Sudah pulang?" suara berat Arka terdengar dari seberang sana.
"Belum, Mas. Ini baru mau pulang. Ada apa, Mas?" tanya Lilis.
"Mas mau bilang, nanti ada paket yang datang ke rumah. Kamu terima dulu ya, semuanya sudah dibayar, jadi tinggal ambil saja," jelas Arka singkat namun jelas.
Lilis mengangguk, meski Arka tak bisa melihatnya. "Oh, iya Mas. Nanti aku tungguin paketnya."
"Ya sudah, Mas tutup dulu. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Lilis pelan sebelum sambungan terputus.
"Siapa? Mas Dokter ya?" tanya Hana yang sudah nangkring di atas motornya sambil menaikkan kaca helm.
Lilis hanya tersenyum simpul di balik cadarnya. "Iya, cuma ngabarin ada paket. Yuk, berangkat!"
Motor Hana perlahan berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis modern yang tampak asri. Lilis turun dari boncengan sambil merapikan rok dan tasnya.
"Makasih ya, Han. Maaf jadi ngerepotin mampir dulu," ucap Lilis tulus.
Hana melepas kaca helmnya, matanya menatap kagum ke arah bangunan di depannya. "Jadi... ini rumah kalian, Lis?"
Lilis menoleh ke arah rumahnya sendiri, ada rasa syukur yang membuncah di dadanya. "Iya, Han. Lebih tepatnya rumah Mas Arka."
"Cantik banget, Masya Allah... Terasa adem ya lihatnya. Beruntung banget kamu, Lis, dapet paket lengkap. Suaminya mapan, rumahnya bagus, orangnya juga ganteng lagi!"
Lilis hanya bisa tertawa kecil menanggapi celotehan sahabatnya itu. "Hush, sudah-sudah. Mau mampir dulu nggak? Minum sebentar?"
"Nggak usah, Lis. Lain kali saja ya kalau pas santai. Aku duluan ya, takut keburu mendung. Assalamualaikum!" Hana melambaikan tangan lalu memacu motornya pergi.
"Waalaikumsalam," jawab Lilis pelan seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
Setelah membersihkan diri, Lilis segera melaksanakan kewajibannya shalat Dzuhur. Di atas sajadah, ia sempat menyelipkan doa untuk suaminya yang sedang bekerja di rumah sakit, berharap agar hari Arka berjalan lancar.
Baru saja Lilis selesai melipat mukenanya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah depan, disusul dengan teriakan khas yang sudah tidak asing lagi.
Tok! Tok! Tok!
"Paket! Permisi, paket!"
Lilis teringat pesan Arka tadi di telepon. Ia segera memperbaiki letak cadarnya dan berjalan menuju pintu depan. Saat dibuka, seorang kurir berdiri di sana dengan sebuah kotak yang ukurannya lumayan besar.
"Siang, Bu. Benar dengan rumah Bapak Arka atau Ibu Lilis?" tanya kurir itu memastikan.
"Iya, benar, Mas," jawab Lilis.
"Ini ada paket, Bu. Sudah lunas dibayar, jadi saya tinggal serahkan saja. Silakan tanda tangan di sini ya."
Lilis menerima paket itu dengan rasa penasaran. Beratnya tidak seberapa, tapi ukurannya cukup menyita ruang. Setelah kurir itu pergi, Lilis membawa kotak itu masuk dan meletakkannya di atas meja ruang tamu.
"Kira-kira Mas Arka beli apa ya?" gumamnya sendiri.
Rasa penasaran sempat hinggap di benaknya, namun ia teringat bahwa ini adalah paket milik suaminya. Meskipun Arka menyuruhnya menerima, Lilis merasa lebih sopan jika barang itu dibuka bersama-sama atau menunggu pemiliknya pulang.
"Nanti saja deh nunggu Mas Arka, nggak enak kalau dibuka sendirian," gumamnya pelan.
Ia kemudian menggeser kotak itu ke sudut ruang tamu agar tidak menghalangi jalan. Lilis melirik jam dinding. Dan memutuskan ke dapur untuk memasak makan malam nanti.
Lilis melangkah menuju dapur yang masih terasa sangat baru dan bersih. Ia membuka kulkas yang tadi malam mereka isi bersama. Matanya tertuju pada stok ayam segar dan bumbu-bumbu yang sudah ia beli di supermarket.
"Masak ayam goreng lengkuas sama sambal terasi kesukaan Ayah dulu saja kali ya, siapa tahu Mas Arka juga suka," pikirnya.
Dengan cekatan, Lilis mulai sibuk di dapur. Ia mengulek bumbu dengan telaten, aroma bawang putih dan rempah mulai memenuhi ruangan.
Setelah memastikan semua masakan tertutup rapi dengan tudung saji di atas meja makan, Lilis menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangannya. Aroma ayam goreng lengkuas dan sambal terasi masih tercium kuat, membuatnya merasa puas dengan hasil kerjanya siang itu.
"Alhamdulillah, sudah selesai."
Lilis menikmati setiap kucuran air shower yang membasuh tubuhnya, meluruhkan rasa lelahnya.
Selesai membersihkan diri, Lilis mematikan air. Ia meraih handuk yang tergantung di dekatnya dan mengeringkan tubuh serta rambutnya yang basah. Namun, saat tangannya meraba rak tempat biasa ia meletakkan pakaian ganti, jari-jarinya hanya menyentuh keramik dingin.
Lilis tersentak. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat menyadari kecerobohannya.
"Duh... bisa-bisanya lupa bawa baju ganti," gumamnya pelan, diikuti desahan napas pendek.
Masih terlalu sore untuk jam pulang Arka biasanya. Lagipula, ia tidak mendengar suara mobil suaminya masuk ke halaman rumah tadi.
"Ah, Mas Arka pasti belum pulang. Rumah masih sepi banget di bawah tadi," pikirnya, mencoba menenangkan diri sendiri.
Lilis akhirnya memutuskan untuk melilitkan handuknya rapat-rapat menutupi tubuhnya. Ia berencana lari sekilas ke lemari pakaian yang berada tepat di samping pintu kamar mandi untuk mengambil gamis rumahan, lalu kembali masuk untuk berpakaian.
Dengan perlahan, ia memutar gagang pintu kamar mandi dan membukanya sedikit. Suasana kamar utama terasa sepi dan sejuk karena AC yang menyala. Merasa aman, Lilis melangkah keluar setengah langkah. Rambutnya yang basah sedikit meneteskan air ke bahunya yang tertutup handuk.
Namun, baru saja satu kakinya menapak di lantai kamar, matanya langsung tertuju pada sosok laki-laki yang berdiri di dekat lemari, membelakanginya. Laki-laki itu sedang dalam posisi setengah menanggalkan kemeja kerjanya, memperlihatkan punggungnya yang tegap.
"Astagfirullah!"
Seruan kaget itu lolos begitu saja dari bibir Lilis. Tubuhnya kaku seketika, matanya membelalak sempurna karena terkejut dan malu yang luar biasa. Ia benar-benar tidak menyangka Arka sudah berada di dalam kamar tanpa ia sadari sedikit pun.
Arka, yang juga terkejut mendengar suara istrinya, langsung berbalik dengan cepat. Kemejanya masih tersangkut di satu bahu. Ekspresi wajahnya yang biasanya kaku kini tampak melongo, sama kagetnya melihat Lilis yang hanya berbalut handuk di ambang pintu kamar mandi.
Lilis mematung di ambang pintu kamar mandi, tangannya mencengkeram erat lilitan handuk di dadanya. Wajahnya yang biasa tertutup cadar kini memerah sempurna hingga ke telinga, menunduk sedalam-dalamnya karena malu yang tak terkira.
"Anu... mas... aku mau ambil ganti baju," ucap Lilis.
Arka yang tadinya juga sempat terpaku, langsung tersadar. Ia merasa seperti tersengat listrik saat menyadari situasi canggung tersebut. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia segera menarik kembali kemejanya yang sempat tersampir di bahu, menutupi tubuhnya dengan terburu-buru.
"Oh... oh iya! Maaf... maaf banget, Lis. Mas nggak tahu kamu lagi mandi," sahut Arka dengan nada bicara yang sama paniknya.
Tanpa berani menoleh lagi ke arah istrinya, Arka segera melangkah lebar menuju pintu kamar.
Brak!
Pintu kamar tertutup dengan sedikit keras karena ketergesaan Arka. Di dalam kamar, Lilis menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sampai ke tenggorokan.
"Ya Allah... malu banget," rintihnya pelan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya yang gemetar.