Berawal dari sakit hati dan dendam, seorang gadis cantik yang ramah dan periang berubah menjadi gadis yang dingin juga angkuh ketika dewasa. Namun, pertemuan nya dengan seorang CEO perusahan ternama membuat kehidupan nya jungkir balik.
Alexander Kim yang mencintai Go Hera pada pandangan pertama terus berusaha untuk melelehkan es yang ada pada hati Go Hera.
Akan kah Hera membuka hatinya untuk Alexander?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lee Annya
Sore hari di sebuah kamar inap di rumah sakit, terlihat seorang wanita yang sedang duduk menggenggam tangan kurus yang bebas dari jarum dan selang infus. Wanita itu dengan telaten mengelap wajah, tangan serta kaki seseorang yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit . Wanita dengan rambut panjang dan tubuh tinggi semampai itu mengusap wajah ibunya dengan lembut, dia menyisir rambut ibunya yang sudah tidak hitam lagi, sebagian hitam, dan sebagian nya lagi putih.
"Bu, aku janji, aku akan membalas kan dendam kita pada orang-orang yang telah membuat mu sengsara seperti ini. Aku lee Annya berjanji kepadamu, aku akan membuat keluarga mereka hancur, aku akan membuat mereka sengsara seperti apa yang telah kita rasakan selama ini," Annya merapikan selimut yang menutupi tubuh ibunya. Seberapa banyakpun dia berbicara, tidak ada jawaban atau pergerakan yang di tunjukan ibu kesayangan nya itu. Matanya terpejam, alat bantu pernapasan tertancap di mulutnya. Tubuhnya kurus bagi tulang berlapis kulit.
Annya keluar dari ruang rawat ibunya. Dia bersiap untuk pergi ke tempat kerja yang sudah membantunya hidup sampai saat ini.
Annya adalah seorang penari tenjan** di sebuah club malam. Mungkin bagi sebagian orang pekerjaan ini hina dan kotor, tapi bagi Annya ini adalah hidupnya, karna pekerjaan ini lah Annya bisa makan dan membayar tagihan rumah sakit ibunya.
Wanita itu meliuk liukan tubuhnya di atas panggung dengan lampu temaram, suara gemuruh dan sorakan dari para laki-laki di bawah panggung kian terdengar ketika Annya mulai membuat gerakan-gerakan sensual. Siapa yang tidak tergoda jika melihat wanita yang memiliki tubuh montok sedang menari tanpa mengenakan pakaian, dia hanya menggunakan bikini seksih dengan heels setinggi senti meter.
Sejujurnya Annya bisa saja menjajakan tubuhnya pada klien VIP di club tempatnya bekerja, namun, menurutnya itu tidak sepadan jika dia harus mengorbankan kegadisannya. Dia hanya takut tidak bisa berhenti jika saja dia memulainya.
Annya turun dari atas panggung ketika bagiannya sudah selesai. Annya sudah memakai pakaiannya kembali, dia hendak keluar dari club itu untuk pulang dan tidur, ini sudah hampir pagi , Annya bagai seekor kelelawar yang kerja di malam hari dan tidur di siang hari.
"Annya!" panggil seseorang dari belakang.
Anya menolehkan kepalnya melihat sosok yang memanggilnya barusan.
"Kau sudah mau pulang?" tanya teman Annya yang juga bekerja di club itu. "Ada tamu VIP yang ingin di temani olehmu ,"Dia hanya memintamu untuk membantunya menuangkan anggur, Ayolah Annya, lumayan buat tambahan biaya rumah sakit ibumu."
Annya terlihat berpikir, antara dia harus menerima nya atau tidak.
"Aku jamin dia tidak akan melakukan apapun padamu," teman Annya berusaha meyakin kannya...
"Baiklah," Annya masuk kembali ke dalam untuk berganti pakaian. Temannya tersenyum dan mengekorinya dari belakang.
🍓🍓🍓
"Kau benar-benar pembohong Wohyun, aku sudah bilang aku hanya akan menemuinya sebentar, tapi apa ini, sampai sore begini kita baru pulang. Alex yang duduk di samping Wohyun terus menggerutu dan mengomel kepada Wohyun. Alex terus bergerak gelisah.
Wohyun? jangan tanya, dia hanya diam mendengarkan amarah Alex padanya, jauh di dalam hati Wohyun, Wohyun menggerutu, bagai mana tidak, ini adalah perusahaan milik Alex, tapi kenapa harus Wohyun yang berusaha keras untuk mendapatkan tender.
"Lex kamu tau, ini adalah kesempatan yang bagus, kita ada kesempatan untuk membuka pasar di kanada, kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali, kamu tau apa akibatnya jika kita mengecewakan Tuan Mark? Kita akan kalah dengan pesaing dari perusahaan lain. Ini bukan tender kecil Lex," Wohyun berusaha menjelaskan situasi yang terjadi dari balik kemudi.
Alex mendengus mendengar celotehan Wohyun, dia bukannya tidak tau kalau ini tender besar, tapi baginya Hera lebih penting sekarang, masa bodoh dengan apa yang akan dia hadapi selanjutnya.
"Lebih cepat!" ucap Alex yang sudah tidak sabar untuk pulang ke apartemen nya.
"Wanitamu akan baik-baik saja Alex, ada Sara dan bibi Lim yang menjaganya," Wohyun merasa dongkol melihat tingkah bos di sampingnya ini.
Drtttzz. Suara ponsel Alex.
"Halo ma," sapa Alex setelah menempelkan ponsel di telinganya.
"Alex sayang, kamu kenapa gak pulang nak?" ucap Jessica di sebrang telpon.
"Alex nginep di apartemen Alex dulu Ma, Alex lagi banyak kerjaan. Jadi belum bisa pulang, jarak dari apartemen ke kantor lebih dekat daripada dari rumah," Alex sedikit berbohong kepada Jessica karena jika Alex memberi tahu yang sebenarnya mamanya pasti akan sangat heboh dan berisik.
"Baiklah kalau memang seperti itu. Jangan lupa makan yang banyak! jangan sampe kamu jadi kurus ,nanti Hera gak suka lagi sama kamu," ucap Jessica mengingatkan..
"Alex ngerti," ucap Alex mengiyakan apa yang baru saja di katakan Jessica, dia tidak mau membuat perdebatan panjang dengan mamanya yang terobsesi pada Hera.
"Alex tutup telponnya ya. Alex masih ada kerjaan." yang di maksud pekerjaan adalah menjaga dan merawat Hera.
"Baiklah, bekerjalah yang giat supaya kamu bisa menafkahi Hera dengan baik," Jawab Jessica.
Alex menggeleng kan kepalanya lalu memutus panggilan telepon dan menyimpan ponselnya ke dalam saku jas yang dia kenakan.
Alex melepas sit belt yang digunakannya ketika mobil yang di kendarai Wohyun sudah sampai di area parkiran apartemen mewah milik Alex.
Wohyun mengekori Alex dari belakang ketika melihat Alex berjalan sedikit tergesa ke dalam lift untuk menuju lantai 45 lantai tertinggi di bangunan apartemen itu.
"Bi, Hera di mana?" tanya Alex kepada bibi Lim yang sedang menyiapkan makan malam di atas meja.
Alex sudah celingukan mencari Hera ketika sampai di dalam apartemen, namun karena Alex hanya melihat Sara dan bibi Lim, Alex memutuskan untuk bertanya.
"Nona Hera mungkin sedang di kamar Tuan," ucap bibi Lim.
Alex bergegas menuju pintu kamarnya, dia hendak mengetuk pitu yang ada di hadapannya namun sebelum itu terjadi, pintu kamar sudah di buka dari dalam.
Hera keluar dengan wajah yang berseri, wajahnya sangat berbeda jika di bandingkan dengan siang tadi ketika Alex meniggalkannya keluar, wajah Hera sudah tidak pucat lagi, terlihat lebih cantik, tidak, di mata Alex Hera memang sangat cantik seperti apapun keadaannya..
Hera mengikat rambut panjangnya , dia juga mengenakan dres biru selutut dengan motif bunga-bunga kecil, Hera menambahkan cardigan rajut berwarna cream untuk menutup tubuh bagian atasnya.
Alex membeku di tempatnya, sudah sering Alex melihat Hera dengan wajah cantiknya, tapi entah kenapa setiap kali Alex bertemu pandang dengan Hera, Alex tidak bisa mengendalikan dirinya.
Hera hanya diam menatap Alex yang sedang menatapnya.
"Kau sudah sembuh?" tanya Alex sambil menarik kasar dasi di lehernya yang membuat dia tidak nyaman sejak tadi. Pandangannya tetap tidak ber alih barang sedetikpun dari wajah Hera, jangan kan beralih, berkedip saja tidak bisa.
To Be Continued..
Masih tahap revisi. Maaf untuk ketidak nyamanannya. 🙏🙏
Hai readers. jangan lup Like, komen, Vote sama hadiahnya ya.. Favoritkan juga Novelnya. Terimakasih semuanya.