Hanya karena jatuh miskin, pertunangannya dibatalkan dan nama baik orang tuanya dihina di depan mata. Zhao Gou tidak lagi sudi menunduk. Di malam yang gelap, ia lenyap meninggalkan desa pengasingan, melangkah masuk ke Lembah Kematian yang ditakuti para kultivator. Tempat di mana warisan kuno dan ilmu terlarang menunggunya.
Ketika ia kembali dengan topeng misterius dan pedang berdarah, dunia persilatan terperanjat—siapakah sosok mengerikan yang siap meratakan klan-klan besar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Awan Hitam
Pengumuman hasil akhir seleksi murid baru Sekte Awan Langit memicu kegemparan di seluruh Kota Awan Biru. Di papan pengumuman batu giok yang dipasang di alun-alun kota, nama Xiao Long terpahat paling atas di jajaran murid inti baru, menggeser seluruh nama kandidat elit klan-klan besar.
Tuduhan dan desakan dari Tetua Klan Xie agar Xiao Long didiskualifikasi atas dugaan penggunaan teknik terlarang ditolak mentah-mentah oleh pimpinan tinggi sekte. Keretakan Batu Penguji Jiwa Kuno justru dianggap sebagai bukti sah bahwa sosok bertopeng itu memiliki fondasi fisik serta potensi bakat yang terlalu perkasa untuk ditampung oleh artefak penguji standar. Pihak sekte tidak peduli pada kerugian Klan Xie; di dunia kultivasi, bakat tak tertandingi selalu memiliki hukum kebalnya sendiri.
Sebagai murid inti dengan penilaian tertinggi, pihak sekte menganugerahkan sebuah lokasi kultivasi khusus kepada Zhao Gou—Puncak Awan Hitam. Tempat itu adalah sebuah tebing curam terisolasi di bagian paling barat wilayah sekte, dikelilingi oleh jurang tak berdasar dan diselimuti oleh kabut energi Qi yang sangat pekat.
Pagi itu, kabut tipis membungkus pelataran Puncak Awan Hitam. Zhao Gou melangkah tenang menaiki tangga batu menuju Istana Awan Hitam. Ia telah mengenakan jubah murid inti berwarna hitam dengan bordiran benang perak di lengan baju, sementara topeng kain hitamnya tetap menutupi separuh wajah atasnya.
"Gaya tempat ini cukup tenang," gumam Zhao Gou pelan, menatap aula meditasi yang terbuat dari kayu giok tua. Tempat ini terpisah jauh dari pemukiman murid biasa, memberinya kebebasan penuh untuk berkultivasi tanpa perlu khawatir rahasia energi Qi Naga Kuno milik dirinya bocor ke luar.
Tanpa membuang waktu, Zhao Gou melangkah masuk ke dalam perpustakaan pribadi puncak tersebut. Sebagai murid inti, ia memiliki hak akses khusus untuk membaca dokumen-dokumen rahasia sekte yang tidak dijual di pasar bebas. Tangannya yang dilapisi Qi tipis meraba deretan gulungan kulit binatang tua yang tersusun di rak kayu cendana.
Tujuannya bukan untuk mencari teknik bertarung biasa; teknik dari Kitab Pembakar Jiwa Naga jauh melampaui apa pun yang dimiliki oleh sekte kelas menengah seperti Sekte Awan Langit. Yang ia cari adalah petaan kekuatan dan jejak sejarah masa lalu.
Jari-jari Zhao Gou terhenti pada sebuah gulungan bersampul kulit serigala hitam yang terkunci oleh segel pembatas tipis. Dengan sedikit jepitan energi dari jarinya, Krek segel pembatas itu hancur seketika.
Ia membuka gulungan itu perlahan di atas meja batu.
Tulisan di dalamnya mencatat sejarah berdirinya Sekte Awan Langit lima puluh tahun lalu, beserta daftar penyokong dana dan pelindung rahasia sekte dari balik layar. Mata berwarna ungu keemasan milik Zhao Gou menyempit tajam saat membaca baris demi baris nama yang terukir di sana.
Penyokong Utama: Dewan Tetua Cabang Utama Klan Zhao dari Kota Megah.
Bibir di balik topeng Zhao Gou mengukir senyuman yang amat dingin.
"Rupanya hubungan mereka sedalam ini..." bisik Zhao Gou, suaranya bergetar oleh aura pembunuh yang tertahan.
Dari catatan rahasia tersebut, terungkap fakta pahit bahwa Sekte Awan Langit sejatinya adalah salah satu benteng luar dan tempat pencucian aset bagi faksi cabang utama Klan Zhao—faksi penjahat yang tiga tahun lalu mendalangi kudeta berdarah, meracuni ayah Zhao Gou, dan membantai para pengawal setia keluarganya. Setiap tahun, sekte ini menyetorkan ribuan batu spirit dan bahan obat langka ke Kota Megah untuk memperkuat posisi para pengkhianat tersebut.
Tetua Agung Sekte Awan Langit, sosok yang paling disegani di wilayah ini, ternyata adalah mantan murid luar dari cabang utama Klan Zhao yang sengaja ditempatkan di sini untuk mengawasi jalur perdagangan perbatasan!
Zhao Gou menutup gulungan kulit serigala itu dengan dentuman pelan. Dinding batu di sekitarnya bergetar halus merespon gejolak hawa membunuh yang mendadak meledak dari dalam tubuhnya.
"Aku berpikir harus pergi jauh ke Kota Megah untuk mencari para pengkhianat itu..." Zhao Gou terkekeh pelan, sebuah tawa yang sarat akan ironi dan kebuasan. "Ternyata sarang mereka berada tepat di bawah telapak kakiku sendiri."
Klan Xie yang menghancurkan pertunangannya dan menginjak-injak harga diri ayahnya hanyalah cacing kecil di pinggir jalan. Faksi cabang utama Klan Zhao yang bersembunyi di balik bayang-bayang Sekte Awan Langit inilah serigala sejati yang telah menghancurkan hidup keluarganya.
Zhao Gou menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu. Ia mengepalkan tangan kirinya rapat-rapat hingga energi Qi Naga berwarna ungu keemasan memercik liar di sela-sela jarinya.
Kehadirannya di Sekte Awan Langit kini memiliki tujuan yang jauh lebih besar dari sekadar berlatih. Ia tidak hanya akan merebut sumber daya sekte ini, tetapi juga akan menghancurkan rantai pasokan dan memenggal satu per satu tangan kanan milik klan utama yang bersembunyi di sini.
Tiba-tiba, dari arah luar pintu istana, suara langkah kaki yang sangat ringan terdengar menaiki tangga batu.
Zhao Gou dengan cepat menguasai gejolak auranya, kembali menjadi sosok Xiao Long yang dingin dan tak tersentuh. Ia melirik ke arah pintu kayu istana yang perlahan bergeser terbuka.
Seorang murid senior bergaun biru dengan lambang Asosiasi Penegak Hukum Sekte berdiri di ambang pintu, membungkuk kaku dengan raut wajah yang penuh kewaspadaan.
"Saudara Muda Xiao Long," ujar murid senior itu dengan suara formal yang agak tegang. "Tetua Agung mengundang seluruh murid inti baru untuk berkumpul di Aula Utama malam ini. Ada pengumuman penting mengenai pembagian wilayah tugas dan sumber daya kultivasi awal."
Zhao Gou berdiri dari kursinya, merapikan jubah hitamnya dengan sangat santai. "Aku mengerti. Aku akan datang."
Murid senior itu mengangguk buru-buru lalu memilih segera mundur meninggalkan Puncak Awan Hitam. Hawa dingin yang menguar dari tubuh pemuda bertopeng itu membuat tenggorokannya terasa kaku dan tidak nyaman.
Zhao Gou melangkah ke tepi tebing Puncak Awan Hitam, menatap lautan awan yang membentang luas di bawah kakinya. Di kejauhan, puncak-puncak bangunan Sekte Awan Langit berdiri megah di bawah sinar matahari sore yang memerah bagaikan darah.
"Malam ini..." bisik Zhao Gou pelan, matanya berkilau oleh niat membunuh yang murni. "Permainan di dalam sekte ini resmi dimulai."
jgn ada campuran kata sombong...
"jika aq menjadi penerus sekte, kdepannya musuh²ku akan menargetkan kalian, dan aq tidak ingin hal itu'terjadi"... gitu aja udh ngeh....
klo g mati... cerita ini akan terus berulang² layaknya sinetron...
sedang othor perbaiki bab ini
selamat membaca 🥳🥳
ini wajib djelaskan...
apakah darah naganya bisa mendeteksi racun skecil apapun...??
ttp semangt...💪💪💪
dikotori oleh keserakahan klan...
pada ahirnya, yg terjadi KORBAN PERASAAN.🤣🤣🤣
disaat seseorg kesusahan, terjepit...
jgn pojokkan dia.
krna ktika dia bangkit .. semua sdh terlambat.
adu taktik...bikan tiktok...