NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Sugiono Makan Tanah

Pagi berikutnya, Andini datang ke kantor PT Takdir Infrastruktur dengan map tebal di tangan.

Gedung anak perusahaan itu tidak setinggi kantor pusat Takdir, tetapi tetap mewah: lobby marmer, meja resepsionis panjang, logo baja mengilap, dan satpam yang langsung berdiri saat melihat Arya masuk di samping Andini.

"Pak Arya."

Sapaan itu membuat beberapa karyawan menoleh.

Andini sudah menyiapkan diri, tetapi tetap merasakan tekanan aneh. Semalam, ia masih bertanya siapa Arya. Pagi ini, ia berjalan bersama orang yang membuat seluruh gedung otomatis menegakkan punggung.

Sugiono menunggu di ruang rapat lantai delapan.

Ia tidak terlihat seperti pria sombong di restoran kemarin. Jasnya rapi, tetapi matanya merah. Di meja sudah ada beberapa folder, laptop, dan dua staf keuangan yang duduk kaku.

"Pak Arya," katanya sambil berdiri terlalu cepat. "Nona Andini."

Arya duduk tanpa basa-basi. "Dokumen."

Sugiono memberi isyarat pada staf. Folder didorong ke depan.

Andini membuka map miliknya. "Kontrak desain lobby Apartemen Sagara Residence. Nilai pekerjaan dua puluh delapan miliar rupiah. Pekerjaan selesai, berita acara sudah ditandatangani, revisi selesai, tetapi pembayaran ditahan dengan alasan audit internal."

Sugiono cepat berkata, "Benar, tapi ada beberapa ketidaksesuaian kecil."

"Sebutkan."

"Itu..." Sugiono melirik stafnya. "Material panel dinding..."

Andini membuka halaman foto dan laporan vendor. "Sudah disetujui tim proyek Anda. Ini tanda tangan supervisor. Ini email konfirmasi. Ini hasil inspeksi."

Staf keuangan menunduk.

Arya melihat Sugiono. "Alasan lain?"

Sugiono mulai berkeringat. "Mungkin ada miskomunikasi."

"Empat bulan miskomunikasi?"

Ruangan menjadi dingin.

Sugiono memaksa tersenyum. "Pak Arya, biasanya hal seperti ini bisa diselesaikan lebih fleksibel. Nona Andini juga tahu, proses pencairan besar perlu... pendekatan."

Andini menegang.

Arya tidak berkedip. "Pendekatan seperti apa?"

Sugiono seperti tidak sadar sedang menggali kubur sendiri. Mungkin ia terlalu terbiasa lolos. Mungkin ia mengira Arya hanya ingin menekan sedikit, bukan membongkar semuanya.

"Ya, makan malam, bicara santai, membangun kedekatan. Kalau Nona Andini lebih... kooperatif, saya yakin pembayaran bisa keluar lebih cepat."

Andini menggenggam pena sampai buku jarinya memutih.

Arya mengambil ponsel dan menekan satu nomor.

"Pak Nugroho," katanya setelah panggilan tersambung. "Saya di PT Takdir Infrastruktur. Ada indikasi penggelapan, penyalahgunaan jabatan, dan pelecehan verbal dalam proyek yang berhubungan dengan perizinan kota. Saya butuh perwakilan pemerintah kota dan kepolisian untuk menyaksikan audit awal."

Wajah Sugiono langsung pucat.

"Pak Arya, tunggu. Tidak perlu sampai..."

Arya menutup panggilan.

"Duduk."

Sugiono duduk seolah kakinya dipotong.

Lima belas menit kemudian, Walikota Nugroho tiba.

Ia tidak datang sendiri. Bersamanya ada kepala inspektorat kota, seorang perwira polisi, dan staf hukum pemerintah kota. Begitu masuk ruang rapat, Nugroho langsung menunduk pada Arya.

"Tuan Muda Arya. Saya datang secepat mungkin."

Andini menahan napas.

Tuan Muda lagi.

Sugiono hampir jatuh dari kursinya.

Nugroho melihat suasana ruangan, lalu wajahnya menjadi keras. "Silakan lanjutkan."

Pak Satria masuk membawa tablet dan satu flash drive. "Audit internal menemukan pola penahanan pembayaran pada enam vendor. Total sementara tujuh puluh empat miliar rupiah. Dalam kasus Andini Interior Design, dana sebenarnya sudah dicairkan dari pusat tiga bulan lalu, tetapi ditahan di rekening penampung yang dikendalikan Sugiono dan dua afiliasi."

Sugiono berdiri. "Fitnah!"

Pak Satria mengetuk layar. Bukti transfer, rekening koran, email internal, dan rekaman percakapan muncul berurutan.

Dalam salah satu rekaman, suara Sugiono terdengar jelas: Kalau dia mau cair cepat, suruh datang sendiri. Perempuan cantik jangan cuma pintar kirim invoice.

Andini menutup mata sebentar.

Seorang staf perempuan di ujung meja tiba-tiba menunduk lebih dalam. Tangannya gemetar di atas buku catatan. Arya melihatnya.

"Ada korban lain?" tanyanya.

Ruangan langsung kaku.

Staf itu tidak berani bicara. Tetapi kepala inspektorat kota yang datang bersama Nugroho menangkap arah pertanyaan itu dan berkata, "Jika ada pegawai atau vendor yang pernah ditekan dengan cara serupa, kami akan buka kanal pengaduan tertutup. Identitas dilindungi."

Baru setelah itu staf perempuan tersebut mengangkat wajah sedikit. Air matanya sudah menggenang. Sugiono melihatnya dan wajahnya berubah lebih buruk.

Nugroho menoleh pada perwira polisi. "Catat sebagai bukti awal. Koordinasikan dengan unit tipikor dan laporkan ke otoritas terkait. Jangan ada yang keluar dari gedung sebelum berita acara pemeriksaan awal selesai."

Perwira itu mengangguk. "Siap, Pak."

Sugiono mundur. "Pak Walikota, ini urusan internal perusahaan. Saya bisa jelaskan..."

Nugroho membentak, "Kamu memakai proyek yang terkait izin kota dan dana mitra daerah untuk bermain kotor, lalu masih bilang internal?"

Sugiono langsung bungkam.

Arya menatap staf keuangan. "Pembayaran Andini Interior Design."

Salah satu staf tergagap, "Bisa diproses hari ini, Pak. Dengan bunga keterlambatan dan penalti kontrak, total menjadi tiga puluh satu koma dua miliar."

"Proses."

"Siap."

Andini menatap Arya. Ia ingin berkata tidak perlu bunga, tetapi lalu teringat empat bulan timnya menunggu gaji proyek, lembur tanpa kepastian, dan Sugiono tertawa di restoran.

Ia menelan kata-kata itu.

Sugiono akhirnya jatuh berlutut.

"Pak Arya, maaf. Saya khilaf. Saya akan kembalikan semuanya. Tolong jangan bawa ke polisi."

Arya berdiri.

"Kamu tidak takut ketika menahan uang orang. Kamu tidak takut ketika melecehkan vendor perempuan. Kenapa takut saat dokumenmu dibaca?"

Ia melihat staf perempuan tadi. "Semua pegawai yang mau memberi keterangan diberi pendamping hukum dari Takdir. Tidak ada pemotongan gaji, tidak ada mutasi balasan."

Kata-kata itu membuat beberapa orang di ruang rapat mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya pagi itu, ketakutan mereka tidak hanya berubah menjadi rasa takut pada Arya, tetapi juga rasa aman karena Arya berada di sana.

Sugiono menangis tanpa suara.

"Bawa dia sesuai prosedur," kata Nugroho kepada perwira polisi.

Sugiono dibawa keluar dari ruang rapat. Kali ini tidak ada yang berani menolongnya.

Beberapa jam kemudian, pembayaran Andini Interior Design masuk. Notifikasi bank berbunyi di ponsel Andini. Angka itu nyata: Rp 31.200.000.000.

Tangannya gemetar.

"Kenapa membantuku sejauh ini?" tanyanya pelan saat mereka keluar dari gedung.

Arya menatap halaman depan tempat beberapa karyawan berbisik menahan kagum. "Karena kamu temanku."

Andini menoleh.

"Dan temanku tidak boleh diinjak orang seperti Sugiono."

Wajah Andini memerah. Ia menunduk, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

Berita Sugiono menyebar lebih cepat daripada memo internal. Nama Arya Suryanegara kembali menjadi pembicaraan di seluruh Kota Awan. Bukan hanya sebagai pewaris, tetapi sebagai orang yang bisa membuat pejabat, polisi, dan perusahaan bergerak dalam satu meja.

Jauh di Jakarta, seorang lelaki tua membaca laporan itu di tablet.

Mbah Pradipta duduk di beranda rumahnya, ditemani secangkir teh.

"Arya Suryanegara," gumamnya. "Anak muda ini menarik."

Di sampingnya, Hartono Pradipta bertanya hati-hati, "Perlu kita peringatkan Andini?"

Mbah Pradipta tersenyum tipis.

"Tidak. Untuk sekarang, biarkan dia melihat sendiri."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!