NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Ini Toko Saya?

Dua bulan setelah semangkuk Indomie pahit itu, Rian menemukan cara baru untuk bertahan hidup.

Ia mengangkat galon air.

Di area bongkar muat belakang Garuda Mart, matahari pagi belum terlalu tinggi, tapi punggung Rian sudah basah. Topi lusuh menutupi sebagian wajahnya. Ia sengaja memilih kaus polos, celana lama, dan masker agar tidak ada karyawan yang mengenali pemilik toko yang seharusnya duduk di kantor.

Di sampingnya, Bagas Wicaksono memeluk satu galon seperti memeluk musuh hidup.

Tubuh Bagas besar, sekitar 130 kilogram, tapi napasnya kalah oleh galon.

"Bro," katanya terengah-engah, "gue kira badan gede itu otomatis kuat."

Rian mengangkat galon ke troli. "Ternyata?"

"Ternyata badan gue cuma investasi lemak jangka panjang."

Rian hampir tertawa, tapi tenaganya terlalu mahal untuk dipakai tertawa.

Mereka bekerja sejak pagi sebagai pekerja bongkar sementara. Satu truk air mineral datang terlambat, vendor kekurangan orang, dan mandor menawarkan upah harian cepat. Rian langsung menerima.

Alasannya sederhana: ia butuh makan.

Alasan kedua: lokasi dekat.

Alasan ketiga: ia bisa mengintip kondisi Garuda Mart tanpa terlihat seperti bos yang panik.

Bagas belum berhenti mengeluh.

"Lu dulu bilang punya usaha supermarket."

"Punya."

"Terus kenapa bos supermarket angkat galon di belakang supermarket?"

"Situasinya kompleks."

"Kompleks apaan? Kompleks perumahan?"

Rian menunduk, mengangkat galon berikutnya.

Satu pagi penuh, mereka mendapat 50.000 Rupiah berdua, plus satu botol air mineral gratis. Bagas menatap uang itu seperti menatap hasil panen dari perang besar.

"Kalau begini terus, kita bisa kaya dalam... berapa tahun?"

"Jangan hitung."

"Gue takut kalau hitung malah nangis."

Rian juga takut.

Mandor bongkar muat sempat menawarkan satu ronde tambahan.

"Masih kuat, Mas? Ada satu palet galon lagi."

Bagas langsung menggeleng. "Pak, badan saya besar, tapi jiwa saya kontrak harian."

Rian hampir menolak juga, lalu melihat uang 50.000 di tangannya. Kalau mereka tambah satu ronde, mungkin bisa makan nasi padang sederhana malam ini.

Ia mengangkat galon lagi.

Setiap langkah membuat bahunya panas. Keringat masuk ke mata. Topinya makin turun, bukan lagi untuk menyamar, tapi karena lehernya sudah tidak sanggup menahan kepala dengan gagah.

Di seberang area bongkar, dua karyawan Garuda Mart bekerja cepat menyusun stok. Mereka tertawa, saling membantu, dan tampak jauh lebih segar daripada Rian yang katanya pemilik usaha.

Rian menatap mereka dengan iri.

Karyawan toko gue hidupnya lebih stabil daripada gue.

Yang lebih ia takuti adalah keramaian di dalam Garuda Mart yang tidak pernah berkurang.

Sejak pagi, truk barang datang satu per satu. Beras turun. Minyak goreng turun. Popok, sabun, mie instan, gula, kopi sachet. Semua langsung dibawa masuk ke gudang, lalu tidak lama kemudian keluar lagi ke rak penjualan.

Sirkulasinya terlalu lancar.

Terlalu sehat.

Terlalu menghina.

Rian sedang menunduk menarik troli kosong ketika pintu belakang terbuka.

Darmawan keluar dengan clipboard di tangan.

"Pastikan stok air mineral langsung masuk lorong promo," katanya kepada seorang supervisor. "Jangan biarkan pelanggan menunggu."

Rian spontan menurunkan topi lebih rendah.

Terlambat.

Darmawan berhenti.

Matanya melebar.

Clipboard di tangannya hampir jatuh.

"Pak Bos?"

Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk membekukan area bongkar.

Rian berdiri kaku dengan satu galon masih menempel di dada.

Bagas menoleh.

"Pak Bos siapa?"

Darmawan maju dua langkah, wajahnya antara panik, hormat, dan tidak percaya.

"Bos Rian! Bapak... kenapa Bapak angkat galon?"

Semua karyawan di sekitar langsung menoleh.

Satu orang kasir yang sedang lewat berhenti.

Dua pramuniaga di pintu gudang saling pandang.

Seorang satpam sampai menegakkan badan.

Rian ingin menghilang ke dalam kardus.

"Saya cuma... inspeksi lapangan."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Darmawan membeku sebentar.

Lalu wajahnya berubah.

Bukan curiga.

Terharu.

"Pak Bos turun langsung menguji proses bongkar?"

Tidak.

Tidak, Mas Dar.

Saya turun langsung karena miskin.

Namun sebelum Rian sempat memperbaiki, Bagas sudah menjatuhkan galonnya ke lantai.

"Tunggu." Ia menatap Rian, lalu Darmawan, lalu logo Garuda Mart di dinding. "Jadi ini beneran toko lu?"

Rian memejamkan mata.

"Bagas..."

Bagas langsung memegang bahu Rian dengan kedua tangan.

"Bro! Mulai hari ini gue ikut lu! Gue kira lu halu karena kelaparan, ternyata lu bos beneran!"

Beberapa karyawan menahan tawa.

Seorang pramuniaga yang baru saja membawa kardus mie instan langsung membungkuk.

"Selamat pagi, Pak Bos."

Yang lain ikut membungkuk.

"Selamat pagi, Pak Bos."

Dalam beberapa detik, area bongkar muat berubah menjadi panggung penghormatan paling memalukan dalam hidup Rian. Kausnya bau keringat, tangannya kotor oleh debu galon, dan puluhan karyawan memandangnya seperti ia baru turun dari langit untuk menguji loyalitas mereka.

Bagas berbisik, "Bro, aura lu beda."

"Aura apa?"

"Aura orang kaya yang menyamar jadi rakyat."

"Gue rakyat beneran."

"Rakyat mana punya supermarket?"

Rian tidak punya jawaban yang bisa selamat dari logika itu.

Darmawan justru makin panik.

"Pak Bos, mohon masuk ke kantor. Kalau Bapak ingin inspeksi, saya siapkan laporan lengkap. Jangan angkat barang sendiri, Pak. Nanti karyawan merasa bersalah."

Rian melihat galon di tangannya.

Ia ingin berkata: kalau kalian merasa bersalah, tolong beri saya upahnya dulu.

Tapi martabat terakhirnya sudah cukup retak.

Ia menyerahkan galon itu kepada Bagas.

"Pegang."

Bagas memeluk galon itu seperti bayi. "Siap, Bos."

"Jangan panggil begitu."

"Siap, Bro Bos."

Rian menyerah.

Darmawan segera mengambil alih situasi. Ia memerintahkan karyawan kembali bekerja, memastikan tidak ada pelanggan melihat pemilik toko berkeringat di area bongkar, lalu berjalan di samping Rian dengan sikap sangat hati-hati.

"Pak Bos, kalau Bapak ingin memeriksa lapangan, cukup beri tahu saya. Saya bisa siapkan seragam dan nama samaran."

"Nama samaran?"

"Agar pemeriksaan Bapak lebih natural."

Bagas hampir tersedak tawa. "Bro, lu sudah punya departemen penyamaran?"

Rian menekan pelipis. Semakin ia diam, semakin orang-orang ini menemukan alasan untuk menganggapnya jenius.

Di kantor kecil lantai dua, Darmawan menyajikan air mineral dingin. Rian menatap botol itu dengan perasaan rumit. Ini air dari tokonya sendiri, dibeli dengan sistem uang bisnis, disajikan untuk pemiliknya, tapi ia tetap tidak bisa mengambilnya sembarangan untuk hidup sehari-hari.

Hidupnya sudah seperti komedi yang ditulis akuntan jahat.

Darmawan meletakkan map tebal di meja.

"Pak Bos, sebenarnya saya juga ingin melapor. Karena Bapak jarang datang, saya kumpulkan laporan dua bulan pertama."

Rian langsung duduk lebih tegak.

Akhirnya.

Angka sebenarnya.

Mungkin antrean di luar cuma ramai tapi margin tipis. Mungkin biaya karyawan masih menelan semuanya. Mungkin masih ada harapan.

Bagas mengambil kursi tanpa diminta, masih memegang botol air gratis dari area bongkar.

"Gue ikut dengar, ya. Siapa tahu nanti kalau lu pingsan, gue bisa jelasin ke dokter bahwa penyebabnya angka."

"Diam."

"Siap, calon konglomerat."

Rian melempar tatapan tajam, tapi Bagas hanya nyengir.

Di dada Rian, harapan kecil yang tersisa bergetar seperti lampu hampir padam di gudang tua.

Darmawan membuka halaman pertama.

"Total penjualan dua bulan pertama naik jauh di atas proyeksi. Pelanggan grosir rumah tangga bertambah setiap minggu. Banyak ibu-ibu membeli paket keluarga dan patungan antar komplek."

Rian merasakan tengkuknya dingin.

Darmawan menunjuk grafik kunjungan.

"Awalnya saya takut jumlah karyawan terlalu banyak. Tapi ternyata pelanggan merasa sangat dilayani. Mereka tidak perlu mencari barang sendiri. Ada yang bantu hitung paket hemat, ada yang bantu angkat barang, ada yang mengingat kebutuhan pelanggan tetap."

Bagas bersiul. "Jadi pegawai lu kayak cheat code."

Rian menatap grafik yang naik. Setiap titik di sana terasa seperti batu yang dilempar ke kepalanya.

"Harga kita tipis, kan?" tanya Rian, mencoba mencari celah terakhir.

"Sangat tipis, Pak Bos. Tapi volume pembelian luar biasa. Banyak keluarga membeli untuk satu minggu sekaligus. Beberapa warung kecil juga mulai belanja grosir di sini."

Warung kecil. Grosir. Volume.

Tiga kata itu menutup peti mati rencana rugi Rian dengan sangat rapi.

"Langsung ke angka akhirnya, Mas Dar."

Darmawan tersenyum dengan bangga.

"Setelah gaji, BPJS, makan siang, servis alat, sewa, stok, dan biaya operasional lain, laba bersih dua bulan pertama..."

Ia memutar laporan ke arah Rian.

Angka itu berdiri di tengah kertas seperti monster.

Rp 400.000.000.000.

Empat ratus miliar Rupiah.

Rian tidak bernapas.

Bagas yang berdiri di belakangnya mengintip.

"Empat... ratus... miliar?"

Darmawan mengangguk. "Betul. Ini belum termasuk potensi kenaikan bulan ketiga. Kalau tren bertahan, Garuda Mart bisa menjadi model supermarket paling efisien di kota ini."

Efisien.

Kata itu menusuk Rian lebih dalam daripada hinaan.

Ia membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

Di kepalanya, semua keputusan bodohnya berbaris rapi.

400 karyawan.

Gaji 5 juta.

Jam kerja pendek.

Harga super tipis.

Gratis makan.

Semua itu seharusnya menjadi lubang.

Ternyata berubah menjadi mesin uang.

Bagas tiba-tiba tertawa keras.

"Bro, lu jenius! Lu pura-pura miskin biar bisa cek toko dari bawah, ya? Ini mah strategi film!"

Darmawan menunduk penuh hormat. "Saya juga baru paham hari ini. Pak Bos sengaja menguji alur logistik sebagai pekerja lapangan. Pantas Bapak tidak pernah puas hanya dengan laporan."

Tidak.

Saya puas dengan laporan rugi.

Rian ingin membantah, tapi angka 400 miliar masih menghantam otaknya.

Lalu panel biru muncul.

Kali ini bukan transparan lembut.

Cahaya birunya tajam, dingin, seperti hakim yang tidak bisa disuap.

[Siklus Pertama selesai.]

[Dana Sistem awal: Rp 50.000.000.000]

[Hasil bisnis Garuda Mart: laba bersih positif.]

[Estimasi laba bersih: Rp 400.000.000.000]

[Keputusan: bisnis tidak mengalami kerugian.]

[Dana Pribadi yang dikonversi: Rp 0]

Rian menatap baris terakhir.

Rp 0.

Nol.

Kosong.

Lebih kosong daripada kulkas kosnya.

Dunia di sekitar mulai miring.

"Pak Bos?" suara Darmawan menjauh. "Pak Bos, wajah Bapak pucat."

Bagas berseru, "Bro? Jangan bercanda, bro!"

Rian masih menatap panel.

Baris baru muncul.

[Evaluasi Siklus Pertama: tingkat pengembalian investasi sangat tinggi. Host gagal total mencapai target kerugian.]

Gagal total.

Sistem bahkan tidak memberinya belas kasihan linguistik.

[Siklus Kedua akan dibuka.]

[Dana Sistem baru: Rp 500.000.000.000]

[Tugas: gunakan dana melalui aktivitas bisnis legal dalam 90 hari.]

[Semoga berhasil.]

Rian menutup mata.

Lima ratus miliar.

Saat 50 miliar saja ia ubah menjadi 400 miliar keuntungan.

Sekarang sistem memberinya sepuluh kali lipat.

Ia ingin tertawa.

Ia ingin menangis.

Tubuhnya memilih opsi ketiga.

Jatuh.

Ketika punggung Rian menyentuh lantai kantor, suara panik Darmawan dan teriakan Bagas bercampur di telinganya.

Di balik kelopak matanya yang tertutup, panel biru masih menyala dingin.

[Dana Pribadi: Rp 0.]

Rian berbaring tanpa tenaga.

"Gue cuma mau rugi," bisiknya. "Kenapa malah naik level neraka?"

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!