Pernikahan tak selamanya indah apalagi menikah tanpa dasar cinta, Rani meninggalakan kekasihnya Bram demi menikahi Arya laki-laki yang direstui oleh orang tuanya.
Bram yang masih sangat mencintai Rani datang mengisi kekosongan hati Rani, jiwanya hampa dengan sikap suaminya yang kurang perhatian kepadanya. Berkali mereka jatuh dikubangan dosa.
Hani sahabat Rani juga mengalami hal yang tak jauh beda, pernikahannya kandas gara-gara dia mengadopsi anak tanpa sepengetahuan suaminya. Hidupnya terseok merawat anak angkatnya seorang diri, hingga dia menyerah dan menitipkan bayi itu pada Rani.
Hadirnya bayi itu merubah hidup Rani, perlahan dia mencoba membenahi rumah tangganya dan meninggalkan cinta lamanya. Akan tetapi saat semua terasa sempurna Hani kembali mengambil anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiens K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpisah Dengan Boby
Boby mendiamkan Hani, dia tak mau berbicara pada Hani sejak Hani mengutarakan niatnya mau mengadopsi. Hani merasa serba salah, dia ingin minta dukungan kak Briana tapi takut kak Briana juga sama seperti Boby.
"Suamiku gak setuju aku mau adopsi Din," Hani bercerita pada Dina.
"Lah terus bagaimana nanti Han, apa kamu batalin aja?"
"Ssst jangan sampai Fatma tau nanti dia sedih dan banyak pikiran. Aku sudah berjanji dan akan ku tepati, lagian kasihan bayi itu nasibnya entah bagaimana jadinya itu urusan belakang, aku tak mau pusing Din."
"Aku turut sedih Han, semoga kalian tidak ribut gara-gara ini, kalau aku mau merawat anak itu sendiri aku nggak sanggup Han keadaan ekonomi kami kayak gini, suamiku cuma ojek kadang rame kadang sepi, ini aja ketolong sama bantuan kamu selama ini."
"Memang salahku tidak berembuk dari awal, entahlah aku langsung jatuh cinta saat melihat Fatma, hatiku iba aku teringat pada Fani adikku."
"Semoga kamu punya jalan keluar yang terbaik dari masalahmu ini."
Hani seharian di rumah Dina, dia merasa senang saat bersama dengan Dina dan Fatma, kalau di rumah Boby hanya memasang wajah masam kepadanya. Bahkan tidur juga jarang mau tidur di kamar lagi, Boby lebih sering tidur di luar sambil menonton tv.
"Hani mau adopsi anak Kak," Boby menceritakan pada kakaknya tentang niat istrinya.
"Adopsi, memangnya kalian gak bisa bikin anak sendiri?" Briana kaget mendengar cerita dari adiknya.
"Ya itulah makanya aku marah sama Hani, entahlah Kak aku pusing dibuatnya."
"Kamu bicarakan baik-baik dulu sama istrimu Bob."
"Aku lagi gak teguran Kak, dan dia juga keluar setiap hari entah pergi kemana."
"Jangan biarkan masalah dalam rumah tangga berlarut-larut cepat kamu cari solusinya, bicarakan baik-baik biar cepat selesai masalahnya. Kalian bukan anak kecil lagi yang harus lari dari masalaj seperti ini."
Boby mengusap wajahnya, baru kali ini rumah tangganya bermasalah padahal sebelumnya mereka baik-baik saja.
***
"Kita perlu bicara Yang," Boby berusaha melunak dan mengajak istrinya berunding.
"Hmmm..." Hani tak banyak bicara.
"Bisa nggak kamu batalin rencanamu itu, aku keberatan kamu adopsi tanpa persetujuanku."
"Tidak bisa anak itu sebentar lagi lahir, dan aku sudah jatuh cinta padanya. Kamu setuju atau tidak aku tetap merawatnya." tegas Hani.
"Ya gak bisa gitu dong, aku yang menafkahi kamu kamu gak bisa sembarangan ngasih ke orang tanpa persetujuanku!" Boby kembali memanas dan berteriak.
"Oh begitu, aku tidak akan gunakan uang kamu. Asal kamu tahu aku memakai uang pribadiku hasil kerjaku waktu belum menikah denganmu!" Hani juga meninggikan suaranya.
"Kamu, achh!!!" Boby keluar dan membanting pintu, dia benar-benar kesal pada Hani.
Hani sudah tak perduli lagi sama Boby, saat ini dipikirannya hanya bagaimana mencari tempat untuk merawat bayi itu setelah lahir. Boby sudah jelas tidak mau melihat bayi itu.
Diam-diam Hani sudah mempersiapkan baju-bajunya, sedikit demi sedikit barangnya sudah dia pindahkan ke rumah Dina, kalau bayi itu lahir dan Boby masih seperti ini dia akan pergi dari ruko Boby.
"Aku nyesel ngenalin kamu sama Fatma Han, harusnya tak perlu sampai seperti ini," ucap Dina sedih melihat Hani bertengkar dengan suaminya.
"Kamu gak salah apa-apa mungkin sudah begini jalannya."
Hani menerawang jauh, kalau memang dia tidak pernah beruntung dalam menjalin hubungan dia akan akhiri saja, demi anak ini dia rela sampai mengorbankan pernikahannya.
"Maafkan aku Bob, ayah ibu mungkin kalian akan kecewa lagi padaku. Maafkan aku."
Air mata Hani meleleh namun segera di hapusnya agar tidak terlihat oleh orang lain.
"Aku perlu tempat tinggal dan harus kembali bekerja lagi, uangku masih ada tapi kan nanti juga akan habis seiring waktu apa lagi bayi keperluannya sangat banyak." ucap Hani pada Dina.
"Jadi kamu akan kembali bekerja ke tempat lama?" tanya Dina.
"Tidak, aku akan kerja di tempat lain kalau kembali ke sana Boby akan mencariku aku malas melihat dia."
"Ya sudah aku harap kamu baik-baik saja Han."
"Tenang saja Din, aku sudah terbiasa seperti ini, bahkan dulu pernah di usir sama cowokku hanya dengan apa yang melekat di badanku saja, buktinya aku masih hidup sampai sekarang."
Hani mulai mencari pekerjaan lagi dia sudah tidak mau berharap pada Boby, baginya cukup sudah dia mengabdi sebagai istri Boby selama ini.
Setelah Hani mendapat kerja baru, Hani mengemasi bajunya yang tinggal sedikit di rumah Boby, kali ini dia akan berpamitan pada Boby sebelum dia pergi.
Boby sedang di warungnya Hani datang dengan membawa tas berisi baju, semua karyawan melihat Hani mereka sudah tau kalau bosnya sedang perang dingin. Hani mendekati Boby yang di kasir, Boby tersenyum berharap istrinya mau meminta maaf padanya.
"Aku akan pergi maaf kalau cukup sampai disini, aku tidak akan merepotkanmu lagi."
Hani meletakkan kunci kamarnya di meja kasir, Boby masih tidak bisa mencerna apa ucapan Hani. Hani pun berlalu dan membawa motornya pergi.
"Han, Haniii!!!" Boby berteriak seperti orang gila, karyawannya hanya menunduk tidak berani melihat kearah Boby.
Brakkkk...!!!
Boby menggebrak mejanya, dia tidak percaya Hani meninggalkannya begitu saja. Boby berlari ke kamarnya dan melihat barang Hani sudah kosong tak bersisa, hanya tinggal barang miliknya. Dimeja rias dia melihat perhiasan mas kawin dia dulu, Hani meninggalkannya tak membawanya.
Prankkkk...!!!
Boby melempar barang dan mengenai kaca hingga pecah, dia terduduk di ranjangnya memikirkan nasib pernikahannya.
"Apa ini, apa harus berakhir secepat ini?" kata hati Boby.
Boby mencoba menghubungi Hani, tapi nomor hand phonenya tak bisa di hubungi. Boby tak tahu harus kemana mencari Hani, dia bahkan tidak tahu siapa saja teman Hani. Boby tahu Rani teman Hani tapi sama saja tidak tahu Rani berada dimana.
"Haniiiii...!!!!" Boby berteriak sendiri di kamarnya.
Hani berada di rumah Dina, untuk sementara dia akan disana sampai Fatma melahirkan bayinya, Hani masih belum tahu akan bagaimana nantinya.
Malam hari Hani sudah mulai bekerja, dia tidak mau terlalu larut dengan masalahnya, dengan bekerja pikirannya akan lebih jernih dan tidak kalut lagi, yang penting dia harus punya penghasilan untuk menghidupi bayinya yang akan segera lahir.
***
lanjut
salam dari
MAHABBAH RINDU
SENYUM ANYA
semangat next ya....
ku tunggu...
jangan lupa fedback kakak...
saran kakak kunanti...