NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.

Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.

Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: UJIAN KEJUJURAN YANG TERHALANG IDENTITAS

Beberapa hari kemudian, sebuah masalah tak terduga muncul. Salah satu pemasok bahan bangunan utama yang telah bekerja sama dengan Rian tiba-tiba menarik diri sepihak di tengah jalan, dengan alasan yang samar namun menyisakan banyak keraguan. Rian berusaha mencari pengganti dengan harga dan kualitas yang setara, namun tak mudah—semua pemasok besar yang tersedia di kota ini sudah dikontrak duluan oleh Aldo, seolah sengaja menutup segala jalan baginya.

Di tengah kepanikan itu, seseorang yang dulu pernah menjadi mitra bisnis ayah Nadia menawarkan bantuan. Ia menyediakan semua bahan yang dibutuhkan dengan harga jauh di bawah pasaran, bahkan memberikan tempo pembayaran yang sangat panjang. Namun ada satu syarat tersirat: tawaran itu hanya berlaku karena ia tahu siapa Nadia sebenarnya. "Anggap saja penghargaan untuk Nona Nadia," ucap perwakilan itu dengan senyum penuh arti. "Kami hanya ingin menjaga hubungan baik dengan Grup Arka."

Rian menerima tawaran itu tanpa berpikir panjang—ia pikir itu murni kemurahan hati rekan bisnis lama. Namun saat laporan itu sampai ke meja Nadia, ia segera mengerutkan kening. Ia langsung memanggil Rian ke ruang kerjanya.

"Siapa yang menyarankan pemasok ini?" tanyanya tegas, menunjuk nama perusahaan itu di atas berkas.

"Saya sendiri," jawab Rian jujur. "Mereka menawarkan harga yang sangat baik dan bahan terjamin. Tanpa mereka, proyek pasti tertunda dan biaya membengkak. Saya pikir ini keputusan yang tepat."

Nadia meletakkan pena perlahan di atas meja, menatap Rian lekat. "Keputusan yang tepat? Atau keputusan yang terhalang oleh identitasku?"

Rian mengernyit tak mengerti. "Maksud saya?"

"Mereka tidak memberimu harga itu karena kamu hebat atau usahamu menjanjikan," jelas Nadia pelan namun tajam. "Mereka memberimu harga itu karena mereka takut pada Grup Arka. Mereka takut menolakku, jadi mereka memanfaatkanmu untuk menjilatku. Kalau namamu bukan mitra kerjaku, mereka bahkan tak akan mau menemuimu."

Darah seketika berdesir di wajah Rian. Ia merasa seolah ditampar dengan keras. Selama ini ia bangga bisa menyelesaikan masalah sendiri, namun ternyata ia tidak benar-benar berdiri di atas kaki sendiri—bayang-bayang nama besar Nadia masih menaunginya di mana pun ia melangkah.

"Jadi... semua yang saya rasa pencapaian saya belakangan ini... sebagian besar hanya karena saya berada di sampingmu?" suaranya bergetar penuh kepahitan. "Orang-orang menghormati saya bukan karena kerja keras saya, tapi karena mereka takut padamu?"

"Sebagian memang begitu," jawab Nadia jujur tanpa berusaha menenangkannya berlebihan. "Tapi bukan berarti usahamu tidak berharga. Hanya saja, kamu harus tahu di mana batas kemampuanmu dan di mana letak pengaruh namaku. Dan jika kamu ingin dihargai sebagai dirimu sendiri, kamu tidak boleh mengambil keuntungan dari namaku secara diam-diam seperti ini."

Rian terdiam lama, meremas kedua tangannya di bawah meja. Ia sadar Nadia benar. Kejujuran yang ia banggakan ternyata masih menyembunyikan hal besar: ia diam-diam membiarkan orang lain melihatnya sebagai bagian dari kekuasaan Nadia, padahal ia seharusnya membuktikan nilai dirinya tanpa bergantung pada nama besar siapa pun.

"Baiklah," ucapnya akhirnya, berdiri tegak meski hatinya terasa berat. "Saya akan membatalkan kerja sama dengan mereka. Saya akan mencari pemasok lain, meskipun harganya lebih mahal, meskipun saya harus menanggung kerugian. Saya tidak ingin satu pun orang berkata bahwa keberhasilan saya semata-mata karena saya berada di bawah bayang-bayangmu."

Nadia mengangguk perlahan, ada rasa bangga yang tersembunyi di matanya. "Itu baru awal yang benar. Kejujuran memang terasa berat di awal, tapi hasilnya akan membuatmu berdiri tegak tanpa perlu takut dilihat dari sisi mana pun. Dan jika biaya menjadi kendala, kita bisa menyesuaikan jadwal secara bersama-sama. Yang penting prinsipmu tidak hilang."

Sore itu juga, Rian menelpon perwakilan pemasok itu dan membatalkan kerja sama. Ia mendengar nada keheranan di seberang sana, namun ia tak peduli. Ia merasa lebih ringan setelah mengucapkan kata pembatalan itu—seolah melepaskan beban yang selama ini tanpa sadar ia pikul di pundaknya.

Perjalanan mencari pemasok baru tidaklah mudah. Rian harus berkeliling ke kota-kota tetangga, menawar harga satu per satu, dan memastikan kualitasnya tetap terjaga. Ia pulang larut setiap malam, tubuhnya lelah namun hatinya penuh. Untuk pertama kalinya, ia merasa berjuang dengan kemampuannya sendiri—bukan karena dibantu atau dimaafkan, melainkan karena ia berani mengambil keputusan yang benar meski sulit.

Dan saat akhirnya ia menemukan pemasok kecil namun jujur yang bersedia bekerja sama dengan harga yang wajar dan kualitas yang terjamin, Rian menyadari satu hal penting: keberhasilan yang didapat dengan cara yang benar terasa jauh lebih manis dan lebih kokoh, dibandingkan segala kemudahan yang datang karena nama besar atau hubungan istimewa.

Keesokan harinya, saat Rian menyerahkan laporan pemasok baru kepada Nadia, wanita itu tersenyum tulus—senyum yang bukan sekadar senyum atasan kepada bawahan, melainkan senyum penghargaan yang setara.

"Kerja bagus," ucapnya singkat namun bermakna dalam. "Kamu baru saja lulus ujian terberat: ujian untuk tidak mengambil jalan pintas, meskipun jalan itu terbuka lebar di depan matamu."

Rian menundukkan kepalanya dengan senyum bangga yang sederhana. "Terima kasih. Terima kasih karena tidak membiarkan saya jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya."

 

(Lanjut ke Bab 34?)

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Ayu Gerimis: Siap, akan dilanjutkan segera ya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!