NovelToon NovelToon
Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Identitas Tersembunyi / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.

Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.

Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.

Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5 ~ Tiga Wanita

Damian menarik lengannya dengan kuat, membuat Evan terhuyung mengikuti langkah lebar pria itu. Namun saat mereka melewati ambang pintu, tarikan itu secara tak sengaja mengangkat ujung bahu kemejanya hingga tersingkap ke samping.

Sekilas, kulit putih di bahu Evan terekspos jelas. Dan di sana, terlihat sebuah tanda merah keunguan yang mencolok, bekas ciuman nyata yang ditinggalkan semalam.

Evan tersentak hebat, seketika menggunakan tangan lainnya untuk buru-buru menarik kembali kain kemejanya dan menutupi bagian itu dengan gerakan panik dan tergesa-gesa. Wajahnya memucat pasi seketika.

Namun terlambat. Damian yang melihatnya berhenti melangkah mendadak. Tatapannya tajam menusuk, tertuju tepat pada bahu yang baru saja tertutup itu.

"Tanda apa itu, Evan?" tanyanya rendah, nadanya berubah dingin dan penuh kecurigaan yang meledak.

Evan menelan ludah dengan susah payah, otaknya berputar cepat mencari jalan keluar di tengah kepanikan yang melanda. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menata kembali ekspresinya agar terlihat tenang dan santai.

"Ah... tanda ini?" jawabnya dengan nada yang berusaha dibuat setenang mungkin, meski hatinya berdegup kencang. Ia menyeringai sedikit, seolah malu namun berusaha bersikap biasa. "Maaf jika terlihat aneh, Tuan. Semalam... saya juga menghabiskan malam dengan seorang wanita. Minuman yang memabukkan dan suasana pesta yang meriah membuat saya terbawa suasana. Malam itu sungguh hebat, jadi wajar jika ada bekas seperti ini."

Evan menunduk sedikit, berpura-pura malu membahas hal pribadi itu. "Saya kira tidak ada yang akan melihatnya hari ini, apalagi kami berada di kapal."

Damian terdiam. Tatapannya masih tajam menyelidik, namun mendengar alasan itu yang terdengar begitu logis dan wajar bagi seorang pria, kecurigaannya perlahan mulai luntur sedikit demi sedikit. Namun, rasa aneh di hatinya tak sepenuhnya hilang begitu saja.

Damian tetap menatapnya tajam, tak tergoyahkan oleh alasan itu meski terdengar masuk akal.

"Baiklah," ucapnya dingin, kembali mencengkeram lengan Evan dan menariknya lagi berjalan menyusuri lorong. "Tapi aku tetap harus memastikannya sendiri. Aku tidak suka ada hal yang mengganjal di pikiranku. Kita tetap ke ruang CCTV sekarang juga."

Evan merasakan darahnya seolah mendidih sekaligus membeku. Kakinya terasa lemas, namun ia terpaksa melangkah mengikuti langkah tegas Damian yang tak memberi ruang untuk menolak. Jantungnya berdegup kencang luar biasa, setiap langkah terasa seperti menuju tiang gantungan. Benaknya berputar liar, mencari jalan keluar terakhir, namun tak ada celah sedikitpun.

Sesampainya di ruang pengawasan, Damian langsung menyapa petugas yang berjaga.

"Tunjukkan rekaman lorong lantai kabin utama, waktu sekitar pukul dua pagi," perintah Damian tegas.

Petugas itu segera mengoperasikan komputernya. Evan berdiri di samping Damian dengan napas tertahan, matanya terpaku pada layar monitor yang mulai memutar rekaman itu, bersiap menghadapi kenyataan yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya seketika.

Sesampainya di ruang pengawasan, Damian langsung memberi perintah tegas. "Tunjukkan rekaman lorong lantai kabin utama, sekitar pukul dua pagi."

Petugas itu mengangguk dan mulai memutar video di layar. Evan menahan napas hebat, matanya terpaku. Di layar terlihat jelas dirinya yang menuntun Damian berjalan menyusuri lorong... namun saat memasuki bagian koridor khusus akses kabin VIP, gambar di layar berhenti dan gelap.

"Kenapa ini?" tanya Damian tegas, menatap petugas itu.

Petugas itu tampak gugup sedikit, lalu menjelaskan sopan. "Maaf Tuan. Area itu adalah zona keamanan tinggi khusus tamu utama. Kamera memang tidak merekam sampai ke depan pintu kabin, hanya mencakup lorong umum di depannya saja. Privasi penghuni di sana sangat dijaga ketat."

Damian terdiam, menatap layar yang hanya menampilkan jalan buntu tanpa gambar lanjutannya. Artinya, tak ada bukti siapa yang sebenarnya masuk bersama ke dalam kamar itu.

Evan di sampingnya mengembuskan napas lega yang teramat panjang dalam diam, merasa seolah beban berat terangkat dari pundaknya. Tak ada yang tahu, tak ada yang bisa membuktikan lebih jauh.

Damian masih menatap layar dengan raut wajah tak puas, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Aturan kapal memang begitu.

"Begitu rupanya..." gumam Damian pelan, kecurigaannya masih ada namun kini tertutup tembok ketidakjelasan.

Damian memalingkan wajahnya dari layar monitor yang kosong itu, lalu menatap tajam tepat ke arah Evan.

"Evan, katakan padaku," ucapnya rendah. "Siapa saja wanita yang kau lihat mendekat atau berbicara denganku semalam? Aku ingin tahu semuanya."

Evan menarik napas pelan, menyusun kata-katanya dengan hati-hati namun tegas. Ia sengaja merangkai kalimat itu demikian, bukan tanpa alasan, ia tak ingin menuding satu orang tertentu dan menghancurkan hidup wanita itu hanya karena terlibat masalah yang melibatkan dirinya.

"Tuan Damian... Anda sangat populer dan dihormati di sini. Semalam begitu banyak wanita yang mendekati Anda, berusaha menyapa atau sekadar berbicara," jawab Evan tenang. "Namun jika harus saya sebutkan yang paling mencolok dan membuat saya curiga ada gerak-gerik tak wajar, setidaknya ada tiga orang yang saya perhatikan."

Damian menyipitkan mata, menanti dengan saksama. "Sebutkan siapa saja mereka."

Evan menggeleng pelan, wajahnya terlihat tulus namun ragu.

"Maafkan saya, Tuan... saya tidak tahu nama mereka satu per satu. Saya hanya melihat mereka sekilas di tengah keramaian yang padat. Saya tidak berkenalan atau menanyakan identitas mereka," ucapnya jujur namun strategis, menutup kemungkinan untuk menunjuk siapa pun secara pasti.

Damian terdiam sejenak, tatapannya masih tajam. Ia kemudian menarik lengan Evan mendekat kembali ke arah meja pengawasan dan layar monitor yang besar itu. Jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah layar.

"Kalau begitu, lihat baik-baik rekaman dari awal tadi," perintahnya tegas. "Tunjukkan padaku wajah mereka di sini. Yang mana saja yang kau maksud? Tunjukkan satu per satu."

Rekaman diputar berulang kali, gambar bergerak cepat di depan mata mereka. Evan menatap layar itu dengan ekspresi bingung yang terlihat begitu nyata—meski sebenarnya ia sengaja membiarkan pikirannya kabur. Di tengah keramaian yang padat dan cepat, ia seolah kebingungan menentukan mana yang masuk dalam ingatannya.

"Ada begitu banyak wajah, Tuan..." gumam Evan pelan, seolah benar-benar kesulitan.

Akhirnya, dengan ragu namun pasti, ia mulai menunjuk secara acak. "Itu... wanita bergaun merah muda di sana," ucapnya menunjuk satu. Lalu sejenak kemudian, jarinya beralih ke sisi lain. "Dan wanita berambut pendek yang sedang berdiri di dekat tiang itu... saya rasa dia juga sempat mendekat." Terakhir, ia menunjuk satu lagi di sudut layar. "Serta yang bergaun panjang berwarna biru itu. Saya tidak yakin sepenuhnya, tapi mereka yang paling saya perhatikan sekilas."

Damian menatap ketiga sosok yang ditunjuk itu bergantian, matanya menyipit penuh selidik. Ia tak bisa membantah, bukti di layar memang menunjukkan ketiga wanita itu sempat berada di dekatnya, namun tak ada petunjuk lebih lanjut. Evan telah berhasil memecah fokusnya tanpa menimbulkan kecurigaan lebih jauh.

Evan menarik tangannya perlahan dari layar, lalu menatap Damian dengan pandangan yang berusaha dibuat setenang mungkin.

"Di tengah keramaian itu, sungguh ada begitu banyak orang, Tuan. Saya tidak bisa memastikannya satu per satu. Namun, saya rasa ketiga wanita itu adalah yang paling mendekat dan mungkin saja salah satunya," ucapnya tenang.

Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih santai, seolah sedang menenangkan atasan yang terlalu cemas.

"Lagipula, ini hanyalah acara satu malam di atas kapal. Bukankah hal seperti ini lumrah dan biasa terjadi bagi seorang laki-laki? Mungkin sebaiknya Tuan Damian tidak terlalu memikirkannya dan menjadikannya beban pikiran. Kecuali..."

Evan terdiam sejenak, menatap Damian tepat di mata dengan tatapan yang seolah menyelidik balik tanpa terlihat menantang.

"...Kecuali, jika hal seperti itu sebenarnya adalah pertama kalinya bagi Tuan Damian."

❤️

1
You `ka
ayo ikutin Damian... semoga kali ini damian tau siapa evan
You `ka
ternyata Arlos dalangnya. dia nggak sadar karena perbuatannya Evelyn hamil dan harus pergi ke London...
You `ka
iya .. Daddy Axel sangat tampan 🤣🤣
gemess sama Axel
You `ka
sebenarnya Tuan Harley gengsi untuk mengakuinya kalau dia tidak rela jauh dari Axel
Zhao_Xena: mana iya, lagi...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
yakin kamu Damian.. kalau tau nanti Evan ternyata putra Harley dan wanita yang bersama kamu dikapal.. gimana reaksinya..😆😆
You `ka
opa maluu....ucukk.. ucukk.. gamesnya sama Axel..😆😆
You `ka
jantungan nggak tuh Tuan Harley..🤣🤣🤣
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
You `ka
tetap semangat thor.... makin kesini makin buat penasaran ceritanya...💪💪
Zhao_Xena: terimakasih banyak
total 1 replies
You `ka
ayo cari mereka Damian 💪💪😆😆
You `ka
lanjut💪
You `ka
haduh.. dag-dig-dug aku yang baca. takut ketahuan...😭😭
You `ka
Damian akan sangat kecewa mungkin akan melakukan hal yang tidak bisa kamu bayangkan Evelyn, jika kamu benar-benar mengkhianatinya.

tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya
You `ka
mungkin lebih baik memang pergi Evelyn.. tinggalkan keluarga toksik itu
You `ka
hamil pasti..🫣🫣
You `ka
pasti sekarang Damian dan Haris merasa sama-sama merasa sudah gila 😆😆
You `ka
🤣🤣🤣🤣 Damian merasa tertarik pada Evan..
Cty Badria
satu kata untuk Evelyn ...bodoh mau di jadikan pion. kl ketauan jadi buronan. bpk dazal enak aja ongkang2 kaki...
You `ka
jangan-jangan Evelyn hamil yah??🫣🫣
Zhao_Xena: coba tebakkk...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
🤣🤣🤣 justru kalau pingsan nanti kamu bisa tau.. dia laki-laki atau perempuan..
Zhao_Xena: waduhh
total 1 replies
You `ka
Tuan Harley kayak pilih kasih, padahal yang seharusnya memimpin bukannya Evan, sebagai keturunan yang sah..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!