NovelToon NovelToon
Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab_17

"Nathan, katakan semuanya." ucap Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan, sementara sorot matanya berubah semakin tajam.

Nathan menelan ludah sebelum melangkah lebih dekat.

"Tuan... keadaan menjadi lebih rumit dari yang kita duga." jawab Nathan serius. Wajahnya dipenuhi ketegangan, sementara kedua tangannya mengepal pelan.

"Apa yang terjadi?" tanya Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.

"Leonard berhasil menemui mantan guru SD Bu Rani." jelas Nathan pelan. Wajahnya dipenuhi kesungguhan. "Guru itu sempat mengatakan ada sesuatu yang sangat penting di dalam album foto kelulusan."

Adrian mengangguk pelan.

"Lalu?" tanyanya singkat. Wajahnya dipenuhi ketegangan.

"Beliau bahkan sempat menyebut kalau Bu Rani..." ucap Nathan terhenti. Wajahnya mendadak berubah pucat.

Nathan tiba-tiba menghentikan ucapannya. Tatapannya tanpa sengaja tertuju ke arah sofa.

Baru saat itulah ia menyadari Rani masih duduk di sana sejak tadi.

Rani yang mendengar namanya disebut langsung mengangkat kepala.

"Saya?" tanya Rani pelan. Wajahnya dipenuhi rasa heran, sementara kedua alisnya sedikit bertaut.

Adrian ikut menoleh. Untuk sesaat, ia tampak terkejut.

Baru sekarang ia sadar pembicaraan mereka dilakukan di depan orang yang sedang mereka selidiki.

Nathan dan Adrian saling bertukar pandang. Keheningan memenuhi ruangan.

Nathan segera berdeham pelan.

"Ehem... maksud saya..." ucap Nathan gugup. Wajahnya dipenuhi kecanggungan.

Adrian langsung mengambil alih pembicaraan.

"Nathan, bagaimana laporan mengenai proyek pembangunan gudang itu?" tanya Adrian tenang. Wajahnya tampak santai, seolah tidak pernah membicarakan hal lain.

Nathan sempat terdiam beberapa detik. Kemudian ia langsung mengerti maksud Adrian.

"Oh... proyek itu." jawab Nathan cepat. Wajahnya kembali tenang. "Masih berjalan sesuai rencana, Tuan."

Rani memandangi keduanya bergantian.

Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Namun beberapa saat kemudian ia hanya menundukkan kepala.

"Mungkin itu memang urusan pekerjaan mereka." batin Rani. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran yang berusaha ia singkirkan. Ia memilih tidak bertanya.

Adrian diam-diam mengembuskan napas lega.

"Bagus." ucap Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketegasan. "Pastikan tidak ada keterlambatan."

"Baik, Tuan." jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi pengertian.

Rani perlahan berdiri.

"Kalau tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya permisi kembali ke dapur." ucap Rani sopan. Wajahnya dipenuhi kesantunan.

"Tentu." jawab Adrian lembut. Wajahnya dipenuhi senyum tipis. "Terima kasih."

Rani mengangguk pelan.

"Permisi." ucapnya lirih. Wajahnya kembali tenang, meski masih menyimpan sedikit rasa penasaran.

Begitu pintu tertutup...

Nathan langsung mengembuskan napas panjang.

"Hampir saja saya membocorkannya." ucap Nathan pelan. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.

Adrian mengusap pelipisnya.

"Kita terlalu fokus pada laporan Leonard sampai lupa Rani masih berada di ruangan ini." ucap Adrian serius. Wajahnya dipenuhi penyesalan.

Nathan mengangguk.

"Untung Bu Rani tidak memaksa bertanya." ucap Nathan lega. Wajahnya dipenuhi rasa syukur.

Adrian menatap pintu yang baru saja ditutup Rani.

"Dia memang selalu menjaga sikap." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi rasa iba. "Mungkin rasa penasarannya besar, tetapi dia memilih menghormati privasi orang lain."

Nathan kembali mengeluarkan ponselnya.

"Tuan, sekarang saya bisa melanjutkan laporan Leonard." ucap Nathan serius. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.

"Katakan." jawab Adrian singkat. Wajahnya dipenuhi konsentrasi.

Nathan membuka rekaman suara yang baru dikirim Leonard.

"Setelah rumah mantan guru SD dilempari batu, Leonard sempat memeriksa halaman belakang." jelas Nathan. Wajahnya dipenuhi kesungguhan.

"Apa yang dia temukan?" tanya Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu.

"Jejak ban mobil." jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi ketegangan. "Ban itu masih baru. Sepertinya pelaku tidak datang dengan sepeda motor."

"Hanya itu?" tanya Adrian.

"Tidak, Tuan." jawab Nathan pelan. Wajahnya semakin serius. "Leonard juga menemukan sobekan foto lama yang terbawa angin dari dalam rumah."

Adrian mengernyit.

"Foto siapa?" tanyanya tajam. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.

Nathan memperbesar gambar di layar ponselnya.

"Sayangnya hanya sebagian." ucap Nathan lirih. Wajahnya dipenuhi rasa kecewa. "Namun di potongan foto itu terlihat seorang anak perempuan sedang menggenggam tangan seorang anak laki-laki."

Adrian menatap layar ponsel tanpa berkedip.

"Apakah itu Rani?" tanyanya perlahan. Wajahnya dipenuhi harapan.

"Itulah yang sedang dipastikan Leonard." jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Yang membuatnya curiga adalah... wajah anak laki-laki itu sengaja disobek hingga tidak bisa dikenali."

Adrian mengepalkan kedua tangannya.

"Berarti seseorang benar-benar ingin menghapus jejak masa lalu mereka." ucap Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi kemarahan yang tertahan.

Nathan mengangguk.

"Masih ada satu hal lagi, Tuan." ucap Nathan pelan. Wajahnya berubah semakin tegang.

"Apa itu?" tanya Adrian.

Nathan menatap Adrian dalam-dalam.

"Sebelum sambungan telepon terputus, Leonard sempat mengatakan ada seseorang yang terus mengawasinya dari seberang jalan." jawab Nathan serius. Wajahnya dipenuhi kecemasan.

Adrian langsung berdiri.

"Leonard sekarang di mana?" tanyanya cepat. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

Nathan menggenggam ponselnya erat.

"Itulah masalahnya, Tuan." ucap Nathan lirih. Wajahnya mendadak pucat. "Sejak lima belas menit yang lalu... Leonard sudah tidak bisa dihubungi."

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
Rani.anak.orang kaya yang disingkirkan atau ada orang yang suka pada Adrian
sunaryati jarum
Kamu tidak tertarik wanita karena mengharapkan Rania,Nak Adrian
sunaryati jarum
Balas budi atau ada Rasa Nak Adrian
sunaryati jarum
Tekad yang bagus Rani
sunaryati jarum
Yang menolong ternyata teman.kecilmu
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu...
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Feni sang penulis novel
wow Saya suka dengan ceritanya Saya suka dengan alur bagian hemat harga tertawa sinis sudut bibirnya berangkat mengejek semangat terus ya kak bikin karyanya Saya suka banget dengan alur ceritanya semuanya Saya suka oh iya kak bolehkah saya mempromokan kenapa baru saya novel saya ada 3 sih tapi kalau kakak suka semuanya tolong berikan komentar dan bintang 5-nya ya kak semangat terus terima kasih
Fransiska aghata
oke kak, makasih udah mampir😁
Ayu Ara12
next dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!