"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
"Elzio! Turunin! Katanya tadi pusing?!"
Clara menepuk-nepuk bahu tegap Elzio saat pria itu merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuk di kamar utama. Belum sempat Clara bangkit, Elzio sudah lebih dulu menyusup, mengungkung tubuh mungil wanita itu di bawah bayangannya.
"Sudah sembuh," bisik Elzio rendah, menyunggingkan senyum tipis yang penuh intensitas. "Obatnya kan sudah di depan mata."
"Basi! Lu bener-bener penipu ulung ya!" seru Clara, mencoba mendorong dada Elzio. Tapi bukannya menjauh, Elzio malah menyatukan jemari mereka, menguncinya di atas bantal.
"Saya penipu yang cuma mau kamu, Clara," desis Elzio parau.
Pria itu menunduk, mendaratkan ciuman yang lebih dalam di bibir Clara. Tak ada lagi keraguan. Sentuhan Elzio di atas kasur itu terasa hangat, menuntut, namun dihiasi kelembutan yang membuat seluruh pertahanan Clara mencair seketika. Hembusan napas Elzio yang memburu beradu di ceruk leher Clara, meninggalkan kecupan-kecupan obsesif yang membuat Clara meremang dan memejamkan mata.
"El... hmpph... Elzio..." cicit Clara di sela pasrahnya, jemarinya meremas rambut belakang Elzio yang halus.
"Katakan kamu milik saya, Clara," bisik Elzio tepat di depan bibir Clara yang merona basah. Matanya yang pekat menatap lurus ke dalam jiwa sang wanita, menunjukkan betapa besar dominasi sekaligus ketergantungannya pada Clara.
"Gue... gue milik lu, El," sahut Clara pelan, kalah oleh pusaran emosi yang diciptakan pria di atasnya.
Elzio tersenyum puas. Dia kembali melumat bibir Clara, mengecup rahangnya, lalu turun ke tulang selangka, mengklaim setiap inchi tubuh Clara dengan rasa kepemilikan yang mutlak. Di atas ranjang itu, batas antara amarah dan cinta menghilang sepenuhnya, menyisakan dua insan yang saling membutuhkan di tengah riak gairah yang makin memuncak.
Satu jam berlalu. Suasana kamar menjadi sangat tenang.
Clara bersandar di dada bidang Elzio yang polos, menyembunyikan wajahnya yang masih memerah di sana. Selimut tebal membungkus tubuh mereka berdua. Jemari tegap Elzio tak berhenti mengelus punggung mulus Clara, sesekali merapikan helai rambut wanita itu dengan penuh kehangatan.
"Clara..." panggil Elzio pelan. Suara bass-nya menggetarkan dada yang dihinggapi Clara.
"Apa lagi?" gumam Clara malas, masih menyembunyikan wajahnya.
"Menikahlah dengan saya."
Clara tersentak kecil, mendongak menatap wajah tampan Elzio dari bawah. "Elzio... kita kan baru aja lewatin drama besar hari ini. Masih mau bahas nikah sekarang?"
"Saya serius, Clara," potong Elzio cepat. Binar matanya mendadak berubah menjadi sangat manja, namun ada desakan kuat di sana. "AetherCorp sudah atas nama kamu, 'Clara Corp' juga milik kamu, bahkan diri saya sudah kamu ambil sepenuhnya malam ini. Lalu alasan apa lagi yang membuat kamu menolak?"
"Ya tapi kan..." Clara menggantung kalimatnya, mengusap wajahnya yang hangat. "Gue butuh waktu buat siapin mental, El. Pernikahan itu bukan cuma soal harta atau gairah semalam."
Mendengar jawaban itu, raut wajah Elzio seketika berubah drastis. Seringai dominannya hilang, berganti dengan wujud clingy tingkat akut yang sangat tidak cocok dengan perawakannya yang gagah.
Elzio makin mengeratkan pelukannya di pinggang Clara, membenamkan wajahnya di leher Clara sambil merengek pelan.
"Tidak mau! Saya tidak mau menunggu lagi!" bentak Elzio pura-pura merajuk, suaranya teredam di kulit leher Clara.
"Elzio! Dengerin gue dulu—"
"Kalau kamu menolak lagi, lebih baik saya mati saja!" ancam Elzio mendadak, mendongak menatap Clara dengan raut wajah paling dramatis yang pernah ada.
Mata Clara membelalak sempurna. "Hah?! Lu gila ya?! Ngomong apa sih?!"
"Saya serius!" seru Elzio tanpa dosa, merapatkan tubuhnya makin menempel bagaikan lem super. "Saya akan lompat dari balkon apartemen lantai 15 ini sekarang juga! Biar kamu puas melihat saya jadi hantu yang ngintilin kamu seumur hidup!"
Clara menepuk paha Elzio keras-keras. PLAK!
"Elzio Mahendra! Jangan kekanak-kanakan ya! Masa pemilik AetherCorp mau bundir cuma gara-gara diajak sabar dikit?!" omel Clara galak.
"Biarin!" Elzio membalas galak, tapi kepalanya malah makin menyusup ke dalam dekapan Clara, melingkarkan kedua kakinya yang panjang untuk mengunci kaki Clara. "Biar seluruh dunia tahu kalau CEO AetherCorp mati tragis gara-gara ditolak wanita impiannya! Biar nama kamu masuk koran!"
Clara menggelengkan kepalanya panik sekaligus ingin tertawa melihat tingkah konyol pria di depannya. Pria yang baru saja membuatnya menyerah di atas ranjang kini berubah menjadi bocah lima tahun yang ngamuk minta dibelikan mainan.
"Elzio, lepasin dulu! Kaki lu berat banget!" gerutu Clara.
"Gak mau lepas sebelum kamu bilang 'iya'!" rengek Elzio, menatap Clara dari bawah dengan mata berbinar-binar memelas. "Jawab, Clara! Kamu mau nikah sama saya minggu depan, atau saya jalan ke balkon sekarang?"
"Gila! Masa minggu depan?!"
"Ya sudah, saya ke balkon—" Elzio berakting hendak bangkit dari kasur.
"Eh, eh! Jangan gila!" Clara refleks menarik lengan Elzio kuat-kuat, menahan dada pria itu agar tidak bangun. "Iya! Iya, astaga! Gue mau!"
Elzio menghentikan gerakannya seketika. Seringai bahagianya kembali mengembang sempurna dalam sekejap mata. "Beneran? Kamu janji mau nikah sama saya?"
Clara menghela napas pasrah, menyentuh kedua pipi Elzio dengan gemas. "Iya, Pak CEO Obsesif. Gue mau nikah sama lu. Tapi awas aja ya kalau jadwalnya se-ngawur minggu depan!"
"Dua minggu lagi kalau begitu!" potong Elzio cepat, tidak memberikan celah sedikit pun untuk Clara menawar.
"Elzio—"
"Tidak ada penolakan, sweetheart," bisik Elzio rendah.
Dengan gerakan kilat, Elzio kembali membalikkan posisi mereka, menindih tubuh Clara sekali lagi di atas kasur. Binar manja di matanya seketika memudar, berganti dengan binar gairah yang kembali menyala terang.
"El... kan tadi udah..." cicit Clara dengan napas terengah, kaget dengan perubahan suasana yang begitu cepat.
"Itu tadi perayaan karena kamu buka hati," bisik Elzio di depan bibir Clara, menyunggingkan senyum paling memabukkan. "Kalau yang ini... perayaan karena kamu resmi jadi calon istri saya."
"Elzio, lu bener-bener serakah ya!" jerit Clara pelan.
"Hanya serakah untuk kamu, Clara," balas Elzio rendah, sebelum kembali menyapu bibir Clara dalam ciuman panjang yang mengikat janji mereka selamanya.