NovelToon NovelToon
Dekat Namun Jauh

Dekat Namun Jauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

​"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."

​Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.

​Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MATAHARI DI ATAS KANVAS KEDUA

Keheningan malam di perumahan selatan perlahan berganti menjadi riuh rendah khas pagi hari. Suara burung-burung liar yang bersahutan di dahan pohon mangga depan studio menjadi musik latar yang menenangkan bagi Nayla. Tidak ada dentang lonceng porselen penanda jam makan malam yang kaku, tidak ada langkah sepatu bot para pengawal Alveric yang berderap di lorong. Hanya ada pendar cahaya matahari pagi yang menyusup lembut melalui celah jendela kaca, menyinari sudut-sudut ruangan kayu yang hangat.

Nayla terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di meja makan kecil di sudut studio, aroma nasi goreng mentega dan uap kopi hitam yang pekat sudah mengudara. Zavier terlihat berdiri di sana, masih mengenakan kaus polos hitam dan celana santai, sibuk menuangkan air panas ke dalam teko kaca.

Nayla melangkah mendekat dengan senyum tipis yang tak sanggup ia sembunyikan. "Sejak kapan seorang mantan pangeran Mahendra Group pandai menyiapkan sarapan sendiri?"

Zavier menoleh, matanya hangat menatap Nayla yang masih berpenampilan acak-acakan khas bangun tidur. "Sejak pangeran itu sadar kalau mandiri jauh lebih menyenangkan daripada dilayani sepuluh pelayan yang diam-diam mencatat tiap gerak-gerikmu untuk dilaporkan ke Papi."

Nayla terkekeh pelan, menarik kursi kayu dan duduk di seberang Zavier. Ia meraih cangkir teh hangat yang disodorkan pria itu. "Terima kasih, Zav. Rasanya seperti mimpi... bisa bangun tidur tanpa harus memikirkan jadwal les privat atau berkas aliansi yang harus ditandatangani."

"Ini bukan mimpi, Nay," balas Zavier tegas seraya meletakkan piring sarapan di depan Nayla. "Ini kenyataan yang kamu rebut sendiri. Hari ini, kamu punya jadwal penting yang nyata."

Nayla menaikkan sebelah alisnya, menghentikan sendoknya sejenak. "Jadwal penting? Bukannya pendaftaran Seni Rupa Murni baru dibuka minggu depan?"

Zavier menyunggingkan senyum misterius, jenis senyuman langka yang selalu berhasil membuat dada Nayla berdesir. Ia merogoh saku celananya dan meletakkan sebuah amplop cokelat berstempel resmi di atas meja.

"Aku sudah mendaftarkan namamu untuk pameran terbuka galeri independen di Menteng akhir bulan ini," kata Zavier santai, seolah hal itu bukan kejutan besar. "Mereka mencari tiga karya dari pelukis muda berbakat. Lukisan fajar di bukit utara yang kamu selesaikan kemarin sudah kusetujui untuk masuk kurasi."

Mata Nayla membelalak sempurna, sendok di tangannya hampir saja terlepas. "Zav?! Kamu serius? Pameran galeri Menteng itu kan sangat selektif! Bagaimana bisa... dan lukisanku kan baru satu?"

"Kurator galeri itu kenalan lamaku sewaktu aku masih memegang divisi kebudayaan di Vanguard," jelas Zavier tenang, menyesap kopi hitamnya. "Dia tidak peduli kamu anak Alexander Alveric atau bukan. Dia cuma melihat foto draf lukisanmu kemarin malam dan langsung bilang kalau karakter garis dan pencahayaanmu punya jiwa yang kuat. Kamu layak ada di sana, Nayla."

Nayla memandangi amplop cokelat di mejanya dengan mata berkaca-kaca. Dulu, sang Ayah selalu menganggap hobi melukisnya sebagai kebiasaan kekanak-kanakan yang tidak berguna untuk masa depan klan. Namun di sini, di tangan Zavier, karya dan bakatnya dihargai secara utuh sebagai sebuah identitas yang mandiri.

"Tapi aku harus menyelesaikan dua lukisan lagi kalau mau ikut pameran penuh, Zav," ujar Nayla, antara ragu dan antusiasme yang membumbung tinggi.

Zavier mengulurkan tangannya di atas meja, mengusap punggung tangan Nayla dengan lembut. "Makanya sarapanmu dihabiskan dulu. Setelah ini, kita cari bahan cat baru dan kanvas yang lebih besar. Kamu punya waktu dua minggu untuk memenuhi galeri itu dengan warna-warnamu sendiri."

Nayla menatap Zavier dengan pandangan yang penuh rasa haru dan cinta yang mendalam. Tidak ada lagi keraguan di hatinya. Di balik benteng yang telah runtuh dan ancaman dua klan raksasa yang mungkin masih mengintai dari kejauhan, ia tahu ia tidak pernah melangkah sendirian.

"Zav," panggil Nayla lirih.

"Ya?"

"Terima kasih sudah jadi matahari buat kanvas keduaku," bisik Nayla tulus.

Zavier tersenyum tipis, meremas lembut jemari Nayla. "Aku cuma memantulkan cahayamu sendiri, Nay. Sekarang, ayo selesaikan sarapanmu. Kita punya dunia baru yang harus dilukis."

Sinar matahari pagi yang makin tinggi membiaskan pendar keemasan melalui jendela-jendela besar studio, menyinari debu-debu halus yang berterbangan santai di udara. Aroma kopi hitam dan adonan mentega yang hangat perlahan berbaur dengan wangi khas kain kanvas serta minyak linen, menciptakan suasana tenang yang begitu kontras dengan hiruk-pikuk dunia luar yang pernah mengekang mereka.

Nayla menghabiskan suapan terakhir sarapannya dengan senyum yang tak kunjung pudar dari sudut bibirnya. Setiap kali matanya melirik ke arah amplop cokelat berstempel galeri Menteng di atas meja, ada desiran heboh yang meletup di dalam dadanya—sebuah rasa bangga yang murni, bukan karena pujian palsu para relasi bisnis ayahnya, melainkan karena karyanya sendiri diakui secara jujur.

"Zav," panggil Nayla seraya memajukan duduknya sedikit, menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja. "Gimana kalau untuk lukisan kedua, aku bikin tema tentang sudut kota yang terlupakan? Yang jauh dari benteng-benteng beton Alveric Tower atau Mahendra Building. Sesuatu yang terasa lebih hidup."

Zavier meletakkan cangkir kopinya yang telah kosong, mendengarkan gagasan Nayla dengan kesungguhan penuh. Matanya berbinar teduh, selalu menghargai tiap ide yang keluar dari pemikiran gadis di hadapannya.

"Ide yang luar biasa, Nay," sahut Zavier dengan suara bass-nya yang hangat. "Dunia ini bukan cuma tentang gedung pencakar langit atau lembar saham. Ada banyak kehidupan sederhana di luar sana yang punya cerita jauh lebih jujur. Kamu bisa pakai sudut pasar seni kuno di dekat stasiun tua sore nanti kalau mau cari referensi objek."

Nayla membelalak senang, matanya berbinar antusias. "Pasar seni kuno? Kamu mau mengantarku ke sana?"

"Tentu saja," balas Zavier tanpa ragu sedikit pun. "Tugas utamaku sekarang kan memastikan seniman utamaku dapat inspirasi terbaik tanpa ada gangguan dari siapa pun."

Nayla terkekeh renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Zavier yang kini jauh lebih santai dan humoris dibanding sosok pangeran Mahendra yang kaku di sekolah dulu. Kebebasan ternyata tak hanya mengubah jalannya hidup Nayla, tetapi juga membuka sisi hangat Zavier yang selama ini tersembunyi rapat di balik topeng profesionalismenya.

"Baiklah, Tuan Pengawal sekaligus Kurator Pribadi," goda Nayla dengan binar mata jahil. "Kalau begitu, aku mau bersiap-siap dulu. Aku butuh kuas nomor lima yang lebih halus dan beberapa adonan cat pigmen alami."

Nayla berdiri dari kursi kayunya, namun sebelum ia melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh muka, jemari Zavier bergerak menahan pergelangan tangannya secara halus. Nayla menoleh, menatap Zavier yang kini ikut berdiri tepat di sampingnya.

Zavier mengulurkan ibu jarinya, mengusap lembut sudut bibir Nayla yang ternoda sedikit remah roti sarapan tadi. Sentuhan jari-jarinya yang hangat membuat napas Nayla tertahan sejenak, dan jantungnya berdesir hebat dalam keheningan studio yang intim itu.

"Satu hal lagi, Nay," bisik Zavier pelan, menatap lurus ke dalam manik mata jernih Nayla dengan tatapan yang amat dalam.

"Apa, Zav?" tanya Nayla hampir tak terdengar.

"Jangan pernah ragu sama kemampuanmu sendiri lagi," tutur Zavier mantap, memiringkan senyum tipisnya yang menawan. "Tembok Alveric mungkin tinggi, tapi warna-warnamu jauh lebih kuat dari seluruh benteng yang pernah dibuat ayahmu. Dan aku bakal ada di sini, memperhatikan tiap lembar kanvasmu sampai kamu sendiri puas."

Nayla mengangguk pelan, menyerap tiap kata yang terucap dari bibir Zavier sebagai bahan bakar bagi keberanian barunya. Dengan senyuman hangat yang saling bertaut di antara mereka, Nayla membalikkan badan dan melangkah menuju ruang dalam dengan dada yang dipenuhi rasa syukur, siap menyambut hari baru di mana ia tak lagi menjadi bayangan, melainkan pelukis atas takdirnya sendiri.

1
MULIANA 💦
lama-lama bosan juga nora. gak ada yang bahas kejadian lucu yang mungkin salah satu dari kalian alami
MULIANA 💦
saking dinginnya. bahkan mungkin dia gak ada ekspresi ya 🤭
Three Flowers
padahal lagi seru-serunya membahas tentang nasib mereka di keluarga masing-masing, eh keputus lagi komunikasi nya
Three Flowers
Zavier juga mencintai dalam diam kah?
Three Flowers
Nayla apakah jatuh cinta sama Zavier?
Three Flowers
berarti duduknya bersebelahan ya?
Mingyu gf😘
penasaran banget ada apa dengan nayla dan zaviet
Mingyu gf😘
apa mereka punya kenangan masa lalu yang membuat mereka pura pura tidak saling mengenal
Mingyu gf😘
waoww banyak juga anaknya
Mingyu gf😘
wahh krenn, dia bisa di katakan ahli It kan
Mingyu gf😘
waoww, apakah kehidupan orang kaya memang se menyeramkan itu
Sarifah_Aini97: entahlah kak
total 1 replies
Xlyzy
didikan nya berarti tidak ada yang gagal ya semua anak nyaemiliki karakteristik nya masingasing
Xlyzy
mirip banget Ethan sama bapak e ya sama sama tegas dan dingin
Filan
anggota keluarganya banyak-banyak ya...
Sarifah_Aini97: banyak anaknya
total 1 replies
Filan
ada perasaan apa nih.
Three Flowers
apakah mereka saling tertarik? tapi kelihatannya kedua keluarga bersaing ketat, inikah yang membuat mereka terasa jauh?
Three Flowers: ga sabar pingin lihat romansa mereka
total 2 replies
Three Flowers
karena peran seorang ibu adalah pemberi kesejukan bagi keluarganya
Miu.Nuha
mami tersenyum penuh arti itu tandany mami tahu akan perasaanmu tuh /Chuckle/ ugh! kek bunda maya ke Naru, hihi...
Sarifah_Aini97: Iya yah kak, kok bisa samaaan ya
total 1 replies
Lasa Hardianti
Jadi penasaran sebenarnya hubungan Zavier sma Nayla tuh apasih, apa mereka saling memiliki perasaan yah?😌
Sarifah_Aini97: Halo Kak Lasa! Rasa penasarannya dapet banget nih! 😌 Di antara rasa peduli, persahabatan, dan tekanan klan, perasaan mereka memang terikat sangat dalam. Yuk lanjut ikuti bab-bab berikutnya buat lihat perkembangan hubungan mereka! 🤗
total 1 replies
Miu.Nuha
aku suka yg dingin2 baik tapi
kekny zavier ini tipe aku 🤭
Sarifah_Aini97: bisalah gantiin Nayla 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!