"Kau begitu angkuh dan dingin, tapi aku menyukaimu."
Sebuah kisah cinta antara gadis yang merupakan pengawal dan seorang pria pewaris tunggal generasi ketiga perusahaan terbesar di Asia, Edzardians Group.
Siapa sangka Selita akan tergila-gila dengan Alvaro Edzard yang dijulukinya sebagai iblis tampan yang juga ternyata merupakan pria angkuh, kasar dan arogan!
Apakah Alvaro yang dingin itu akan membalas cinta Selita? Ataukah dia memiliki gadis di masa lalunya yang akan menjadi penghalang bagi Selita untuk mendapatkan hati Alvaro?
Penasaran? Kuyyy mampir ✨
©Copyright by Stivani, April 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : Pengakuan yang gila
Selita berlari memeluk ibunya erat. Ibu Seli pun membalas pelukan anaknya. "Dasar anak nakal!" memukul bokong Seli.
"Aww, sakit bu." Seli memekik.
Ibu Seli memperhatikan pria tinggi yang sangat bersinar di belakang Seli. Dia pun mendorong tubuh Seli dengan kasar dan segera berjalan menuju ke arah Alvaro.
"Ibu! Kenapa kasar sekali! Aku kan baru pulang rumah. Di sayang kek, atau,," menghentikan ucapannya saat melihat ibunya mulai berputar mengelilingi tubuh tinggi milik Al dengan mengerutkan kening.
Selita menepuk jidatnya melihat kelakuan ibu yang menyelidiki setiap inci tubuh Alvaro. "Ibu,,,"
Ibu Seli mengangkat tangan kanan ke arah Seli, mengisyaratkan dia untuk diam. Sedangkan Al memasang ekspresi kebingungan saat ibu Seli menatapnya tajam bagai pisau yang baru di asa.
"Baru pertama kali ini aku melihat pria raksasa yang lumayan tampan," gerutu ibu Seli.
"A...apa! Pria raksasa? Lu...lumayan tampan?" ulangi Al dengan lantang sambil menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya.
"Suaranya pun begitu merdu dan seksi," mengedipkan matanya, centil.
"Apa kau bilang?" teriak Al lagi dengan geram.
"Diam kau!" ucap ibu Seli tak kalah nyaring dengan teriakan Al. "Dasar tidak sopan!"
Selita yang menyaksikan peristiwa itu memegang kepalanya, "aduhh kepalaku,"
"Selitaaaaa!" teriak ibu Seli, "makhluk apa yang kau bawa hah? Berasal dari planet mana dia? Kenapa dia begitu tidak sopan! Usir dia," perintah ibu Seli.
"Mati aku! Maafkan aku Tuan," gerutu Seli.
Seli menarik pergelangan tangan ibunya dan membawa dia agak berjauhan dengan Al.
"Lepaskan ibu! Kau menyakiti tanganku," teriak ibu Seli.
"Ibu! Tolong jangan kasar-kasar sama pria itu. Ibu tidak tahu siapa dia?" bisik Seli sambil matanya mencuri pandang ke arah Alvaro.
"Ibu tidak perduli siapa dia, dari mana asalnya! Berani-beraninya dia berteriak di telinga Anggun Senyorita Permatasari, cuihhh."
"Walaupun dia Alvaro Edzard? cucu satu-satunya Julian Edzard, pewaris ketiga Edzardians Group?" ucap Seli sedikit menaikan nada.
Mendengar ucapan anaknya, Anggun terperanjat, matanya berkedip dengan cepat. Ekspresi yang tadinya angkuh dan kasar kini menciut.
"Apa kau bilang? Edzardians Group?" menelan salivanya.
"Hmmm, tuan Al yang sekarang menjabat sebagai presdir utama Edzardians Group!"
Tulang-tulang Anggun kini lembek. Dia tidak kuasa lagi menopang tubuhnya karena tidak kuat mendengar kenyataan bahwa pria yang bertengkar dengannya adalah Presdir Edzardians Group yang siapa pun pasti mengetahui perusahaan ternama itu. Anggun jatuh ke tanah dengan mata terbelalak.
"Ibu..." teriak Seli karena terkejut melihDat ibunya jatuh.
Melihat ibu Seli pingsan, Al berlari sangat cepat mendapati mereka.
"Apa yang terjadi?" menatap Seli.
"Tuan tolong aku. Bantu aku membawa ibu ke dalam,"
Al mengangkat tubuh ibunya yang lumayan besar. Anggun yang melihat secara dekat siapa yang menggendongnya membuat dia bertambah syok dan pingsan untuk kedua kalinya.
***
Di ruang tamu ketegangan kembali terjadi. Kedua orang tua itu menatap lekat ke arah Alvaro dan Seli secara bergantian. Al dan Seli hanya terdiam melihat tingkah Anggun dan Marko.
"Apa kalian berpacaran?" ketus Marko tiba-tiba.
"Ayah. Apa yang kau bicarakan!" dengan raut yang murka.
"Ahhh, lupakan."
Seli kembali menarik nafasnya panjang. Dia tidak percaya kedua orang tuanya akan bersikap seperti ini di depan bos besarnya itu. Seli menatap Al dengan takut.
Sekali lagi maafkan aku Tuan. Orang tuaku sebenarnya sangat baik. Tapi entahlah, setelah mengetahui bahwa Tuan adalah presdir Edzardians Group, sifat mereka menjadi kasar dan dingin. Batin Selita.
"Seorang presdir muda nan kaya bela-bela datang ke kampung yang kumuh hanya untuk mengantar karyawannya? Apa motifmu?" tanya Anggun.
"Restui hubungan kami, I...ibu," ucap Alvaro tiba-tiba.
Semuanya terkejut mendengar ucapan Al. Seli yang tidak tahu apa-apa kini terperanjat kaget seolah tak percaya apa yang di dengarnya. "A...apa! Tuan becandanya gak lucu!" teriak Seli.
Marko dan Anggun pun sontak kaget dibuat Al. "Apa maksudmu anak muda?" tanya Marko.
"Saya mencintai Selita. Restuilah hubungan kami!" ucap Al, dingin.
Demi apa!!! Tuan Alvaro mencintaiku! Apa yang harus aku lakukan. Salto? Jungkir balik? Menari atau? Ahhhh gilaaa, ini sungguh gila! Kenapa dia santai sekali mengatakan kalimat sakral itu!
Jantung Seli berdetak tak karuan. Dia tak percaya dengan ucapan Al. Bisa-bisanya dia mengatakan cinta di depan kedua orang tua Seli tanpa memberitahu gadis itu terlebih dahulu. Seli pun kebingungan, hatinya dipenuhi bunga mekar, namun di sisi lain dia katakutan karena menyangka Alvaro hanya mempermainkan perasaannya.
"Tidak! Aku tidak akan merestui hubungan kalian! Kau kaya, kau mapan kau punya segalanya. Sedangkan Selita hanya gadis miskin yang tak punya apa-apa, aku tidak akan membiarkan kau mempermainkan anak kami!" ketus Anggun.
"Aku serius dengan ucapanku. Aku akan membuat kalian yakin dengan ucapan saya!" ucap Al lantang.
Selita terlihat frustasi. Ketiga orang yang berbincang itu masing-masing memiliki tempramen yang keras. Ibu dan ayahnya yang keras kepala di tambah lagi dengan Alvaro yang selalu berpegang teguh pada prinsipnya. Dia menjunjung tinggi harga dirinya, sehingga apa yang dia inginkan mau tidak mau harus terpenuhi.
Anggun menarik tangan Marko dan meninggalkan Al dan Seli di ruang tamu. "Ayah, apa yang harus kita lakukan? Anak muda itu mirip sekali dengan ayahnya. Dia tidak akan mundur dengan gampang setelah berucap seperti itu," bisik Anggun.
"Kau benar! Dia mirip Roland. Aku punya ide." Marko berbisik di telinga Anggun mengenai idenya.
"Apa kau yakin dengan ide gilamu itu? Kau tahu kan dia cucu Julian Edzard!"
"Aku sangat yakin!" tersenyum sumringah.
Keduanya kembali menuju ruangan tamu. Al dan Seli sedari tadi tidak bersuara, situasi menjadi sangat kaku dan garing. Untunglah Anggun dan Marko segera kembali ke ruangan tamu sehingga memecahkan kegaringan yang tercipta.
Akhirnya mereka datang! sulit sekali bagiku untuk bernafas. Apa lagi bersebelahan dengan es batu.
"Kelihatannya ini sudah larut. Kami tidak akan membiarkan tuan Al pulang malam ini. Lebih baik tuan menginap saja di sini," ucap Anggun dengan sumringah.
Pasti kau akan menolaknya kan? Haha. Mana mungkin kau bisa tidur di tempat seperti ini. Batin Anggun meledek.
Alvaro memandangi setiap sudut ruangan itu. Ekspresinya datar. Seli hanya pasrah dengan tawaran Anggun.
Ayolah Tuan muda! katakan kalau kau tidak bisa tidur di tempat kumuh seperti ini. Haha.
"Baiklah aku akan tinggal malam ini," ucap Al.
"Apa! Tuan serius?" tanya Anggun dengan raut wajah tidak percaya.
"Panggil saya Alvaro."
Anggun menepuk jidatnya. Ternyata rencananya untuk mengusir Al tidak berhasil. Malah dia mendengarkan jawaban yang tak sesuai ekspetasinya. Dia berpikir bahwa seorang Alvaro Edzard tidak akan mau berlama-lama di tempat itu karena tidak sesuai dengan levelnya. Al yang biasa merasakan sentuhan kasur yang empuk, luas dan mewah kini mau menginap di gubuk tua yang sama sekali tidak ada bagusnya.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Vote 😘