Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005: Jangan Macam-Macam
Selama tiga hari setelah insiden koridor, nama Keira Wulandari tidak turun dari mulut siswa SMAN 7 Megawan.
"Katanya dia hampir bikin Raka nangis."
"Rika juga kena di toilet."
"Nadira belum masuk, ya? Tumben."
Nadira Sutanto memang tidak muncul di kelas selama dua hari. Alasan resminya sakit. Alasan sebenarnya terlihat dari pesan-pesan pendek yang ia kirim ke Rika dengan huruf kapital dan stiker marah.
Keira membaca semua itu tanpa perlu memegang ponsel Rika.
Anak-anak sekolah terlalu ceroboh. Mereka menaruh ponsel di meja, membuka WhatsApp tanpa menutup layar, dan mengira dunia hanya sejauh bangku kelas.
Rika bahkan sempat membisikkan nama Broto di belakang kelas, mengira suara kipas angin akan menutupinya.
"Nad bilang orangnya sudah siap. Tinggal tunggu Keira pulang sore."
Keira yang sedang menyalin catatan tidak mengangkat kepala.
Ia hanya mengganti posisi pulpen di jari.
Di dunia lama, informasi seperti itu berarti target sedang mengundang kematiannya sendiri. Di dunia baru, ia belum ingin membuat urusan sekolah berubah menjadi laporan polisi. Setidaknya belum.
Bayu lebih khawatir daripada dirinya.
"Mbak, Nadira itu orangnya nggak berhenti kalau belum puas."
Mereka duduk di kantin saat istirahat. Bayu memegang roti murah yang ia beli dari koperasi. Setengahnya ia dorong ke arah Keira.
"Makan sendiri," kata Keira.
"Aku sudah kenyang."
"Bohong."
Bayu tersenyum malu. "Setengah saja."
Keira mengambil roti itu, bukan karena lapar, melainkan karena menolak mungkin membuat Bayu sedih. Anak itu aneh. Ia memberi dari bagian yang paling sedikit ia punya.
Sore itu, Keira mengikuti tambahan pelajaran sampai magrib. Bayu pulang lebih dulu karena kakinya mulai sakit. Keira melihat cara anak itu menahan langkah dan menyimpan catatan dalam kepala.
Ia butuh obat. Butuh jarum. Butuh uang.
Untuk sekarang, ia punya tubuh yang belum pulih dan musuh kecil yang merasa dirinya besar.
Langit sudah gelap ketika Keira melewati jalan menuju perumahan. Lampu jalan di beberapa titik mati. Warung kopi dekat tikungan masih ramai oleh suara lelaki main kartu dan asap rokok. Setelah itu, gang menjadi lebih sepi.
Empat orang menunggu di dekat tembok kosong.
Yang paling depan bertubuh besar, memakai jaket kulit imitasi dan memegang rokok. Wajahnya punya bekas luka tipis di pipi.
"Keira Wulandari?"
Keira berhenti.
"Kalau salah orang, aku pergi."
Lelaki itu tertawa. "Galak juga. Nama gue Broto."
Tiga orang di belakangnya ikut maju. Satu botak, satu berambut cepak, satu memakai kalung rantai murahan.
Keira menghela napas.
Ia lelah.
Sungguh lelah.
"Siapa yang menyuruh?"
Broto meniup asap ke samping. "Wah, belum apa-apa sudah tanya. Santai, Dek. Kita cuma mau kasih pelajaran. Katanya di sekolah kamu suka kurang ajar sama anak orang."
"Nadira bayar berapa?"
Senyum Broto berhenti sepersekian detik.
Cukup.
Keira berjalan lagi.
Si Plontos menghalangi jalan. "Eh, belum selesai."
Tangannya terulur ke bahu Keira.
Kesalahan.
Keira menangkap pergelangan itu, memutar, lalu mendorong siku ke arah yang membuat tubuh si Plontos otomatis berlutut. Ia menendang lutut orang kedua sebelum orang itu sempat mengumpat. Orang ketiga maju dengan botol kaca. Keira menunduk, menghantam ulu hatinya dengan siku, lalu menyapu kakinya.
Tiga tubuh jatuh dalam kurang dari sepuluh detik.
Broto belum sempat membuang rokok.
Keira sudah berdiri di depannya.
"Masih mau kasih pelajaran?"
Broto mengangkat tangan. "Tunggu. Kita bisa bicara."
"Tadi juga aku bicara."
Ia menekan punggung tangan Broto ke tembok. Tidak keras, tetapi sudutnya tepat. Broto langsung berkeringat.
"Nomor Nadira."
"Gue nggak tahu Nadira mana."
Keira menambah tekanan sedikit.
Broto menggigit bibir sampai hampir berteriak. "Oke, oke! Di HP gue. Kontaknya Nad. Dia yang chat Bang Deni, terus Bang Deni oper ke gue. Gue cuma ambil kerjaan."
"Buka."
Dengan tangan gemetar, Broto membuka ponsel. Keira mengambilnya, memotret layar percakapan dengan ponselnya sendiri, lalu mengirim satu pesan dari nomor Broto.
Selesai.
Hanya satu kata.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Udah? Dia nangis nggak?
Keira menatap layar, lalu tersenyum tipis.
Broto melihat senyum itu dan tiba-tiba merasa pekerjaan malam ini sangat salah.
"Dengar," kata Keira. "Kalau kamu atau orangmu menyentuh Bayu, aku tidak akan bertanya dua kali."
Broto mengangguk cepat. "Paham."
"Kalau Nadira minta lagi?"
"Gue bilang nggak bisa."
"Bagus."
Keira melempar ponsel itu ke dadanya dan berjalan pulang. Di belakangnya, tiga anak buah Broto masih mengaduh. Broto berdiri pucat, menatap punggung gadis yang katanya cuma anak SMA gendut dan bodoh.
Orang yang memberi informasi itu perlu ditampar.
Malamnya, saat Keira masuk rumah, Bu Sri hanya melirik dari depan televisi.
"Pulang malam terus. Jangan bikin tetangga ngomong macam-macam."
Keira melewati ruang tamu tanpa menjawab.
Bayu muncul dari belakang sekat. "Mbak, kamu baik-baik saja?"
"Iya."
"Ada apa?"
"Belum."
Jawaban itu membuat Bayu tidak tenang, tetapi ia tidak memaksa. Ia hanya menaruh segelas air putih di meja kecil Keira.
"Kalau ada apa-apa, bilang aku, ya," katanya.
Keira menatap anak laki-laki kurus itu. Dengan kaki seperti itu, Bayu mungkin tidak akan bisa mengejar siapa pun. Namun matanya sungguh-sungguh, seolah kalau Keira menyuruhnya berdiri di depan pintu, ia akan berdiri sampai pagi.
"Kamu belajar saja," kata Keira.
"Aku serius, Mbak."
"Aku juga serius."
Bayu akhirnya mengangguk, tetapi sebelum pergi ia sempat melihat noda tanah di ujung sepatu Keira. Ia tidak bertanya. Ia hanya menyimpan gelas itu lebih dekat ke tangan kakaknya.
Besok paginya, Nadira akhirnya masuk sekolah.
Rambutnya rapi, lip gloss tipis, tas mahal tersampir di bahu. Ia masuk kelas seperti biasa, tetapi matanya terus bergerak ke pintu.
Saat Keira muncul bersama Bayu, langkah Nadira berhenti.
Keira bersih. Tidak lebam. Tidak menangis. Bahkan terlihat seperti tidur lebih nyenyak daripada hari-hari sebelumnya.
Ponsel Nadira bergetar di tangannya. Ia menunduk, membuka pesan dari Broto.
Jangan hubungi gue lagi.
Di bawahnya, ada satu foto. Tangkapan layar percakapan mereka.
Wajah Nadira memucat.
Keira duduk di kursinya, mengeluarkan buku, dan tidak menoleh. Justru karena tidak menoleh, dada Nadira makin sesak.
Rika berbisik, "Nad, kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa."
Nadira mencoba tersenyum, tetapi jarinya mencengkeram tali tas begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
Keira membuka halaman kosong.
Ia bisa saja mengirim bukti itu ke grup kelas hari ini. Bisa juga ke Bu Ratna. Bisa membuat Nadira menangis di depan semua orang.
Tapi itu terlalu cepat.
Orang seperti Nadira paling mudah dihancurkan saat ia mengira masih punya kendali.
Di sisi lain kelas, Rika menatap Nadira dengan cemas. Nadira membalas dengan senyum kecil, terlalu kaku untuk terlihat tenang. Ia belum tahu bahwa satu tangkapan layar sudah cukup untuk mengubah posisinya dari pemburu menjadi orang yang sedang ditunggu kesalahannya berikutnya.
Keira tidak suka drama.
Tapi kalau orang memaksanya menonton, ia lebih suka memilih akhir ceritanya sendiri.
Keira menulis tanggal di sudut buku.
Biarkan dia merasa menang beberapa hari lagi.