NovelToon NovelToon
Ayahku Memiliki Sistem

Ayahku Memiliki Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.

Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.

Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

​Raka berjalan menuju dapur sambil menggendong Reno kecil di pundaknya. Di sana, Nadia terlihat sedang sibuk memasak sayur. Wanita itu sempat menoleh ke arah Raka selama beberapa detik, sebelum akhirnya memalingkan wajah kembali dan lanjut fokus ke masakannya.

​Raka tersenyum tipis. "Bokap pendiam, Nyokap juga sama. Pantesan aja dulu jarang ngobrol. Sama-sama keras kepala dan gengsi buat mulai bicara duluan," batin Raka.

​"Nad," panggil Raka memecah keheningan.

​Nadia yang lagi memotong bawang langsung menoleh. "Ada apa, Mas? Maaf ya, aku agak telat bikin sarapannya. Tolong tunggu sebentar."

​Nadia kembali menatap ke depan. Raka menyahut, "Nggak perlu minta maaf. Aku tahu kamu capek karena harus ngurus rumah dan Reno sendirian. Ngomong-ngomong... cowok yang di depan tadi itu siapa?"

​Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Nadia langsung terhenti. "D-dia bukan siapa-siapa, Mas. Cuma sebatas kenalan lama aja," potong Nadia dengan nada suara yang terdengar gugup.

​Melihat reaksi tersebut, Raka makin yakin kalau ada hal besar yang sedang disembunyikan oleh ibunya. Namun, untuk sekarang dia memilih untuk tidak terlalu ambil pusing.

​Reno yang ada di gendongan Raka tiba-tiba merengek kecil, "Ibu... lapaal."

​"Sabar ya, Reno. Sebentar lagi sayurnya matang kok," jawab Nadia lembut.

​Sambil menunggu makanan siap, Raka membawa Reno bermain di ruang tengah. Raka sadar betul kalau suasana rumah ini aslinya sangat canggung jika dia tidak berinisiatif untuk mencairkan suasana.

​"Reno, mau jajan nggak?" tanya Raka sambil tersenyum.

​Mata Reno langsung membelalak senang. Maklum, dia jarang sekali diajak jajan keluar rumah. "Mau, Ayah! Mau yang banyak!"

​"Haha, siap. Nanti kita beli yang banyak ya."

​Reno kelihatan sangat antusias. "Holeee! Sama Ibu juga ya, Yah?"

​"Tentu saja, Cil. Nanti kita ajak Ibu juga."

​Nggak lama kemudian, Nadia keluar dari dapur setelah menaruh semua masakan di meja makan. Dia berjalan mendekati anak dan suaminya.

​"Reno, sini turun sama Ibu. Ayahmu kan baru pulang kerja, pasti capek."

​Namun, Reno malah menggelengkan kepala dan semakin erat memeluk leher Raka. "Nggak mau! Leno mau sama Ayah aja."

​Nadia menghela napas pasrah. "Kasihan Ayahmu, Reno. Dia belum makan, belum mandi. Habis ini Ayah juga harus tidur dulu."

​Raka terkekeh geli. Dia perlahan berdiri sambil tetap menggendong Reno, membuat posisinya kini berhadapan langsung dengan Nadia.

​"Nggak apa-apa kok. Hari ini kebetulan proyek lagi libur, jadi aku bisa main sama Reno lebih lama," ucap Raka santai.

​Tangan Raka yang bebas tiba-tiba bergerak meraih dan menggandeng telapak tangan Nadia. "Yuk, kita makan sekarang. Aku sama Reno udah kelaparan nih."

​Mata Nadia langsung membelalak syok menatap tangannya yang tiba-tiba digandeng erat. Ini pertama kalinya sang suami bersikap seagresif dan sehangat ini tanpa ada angin atau hujan.

Walaupun terkejut, Nadia tidak menolak ataupun melepaskan gandengan tangan tersebut. Dia pasrah mengikuti langkah Raka menuju meja makan kayu mereka.

​Sampai di ruang makan, Raka mendudukkan Reno di kursi. "Nah, duduk yang anteng di sini ya, Cil."

​Nadia kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Reno. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Raka, namun begitu Raka balik menatapnya, Nadia langsung salah tingkah dan memalingkan muka. Dengan gerakan kikuk, dia mengambilkan piring lalu menyendokkan nasi untuk Raka.

​"Ini, Mas..."

​"Makasih ya."

​Raka menerima piringnya, lalu Nadia menuangkan sayur hangat ke atas nasinya. Meskipun lauk yang dihidangkan sangat sederhana, aromanya bener-bener menggugah selera.

​Sambil mengunyah makanan, Raka memperhatikan wajah ibunya dari samping. "Padahal Nyokap secantik ini loh. Bokap aja yang kuper, malah didiemin mulu dari dulu, wkwk," canda Raka dalam hati.

​Di sebelahnya, Nadia sibuk menyuapi Reno. "Pelan-pelan makannya, Reno. Nanti tersedak kalau buru-buru."

​Reno tersenyum riang dengan pipi menggembung penuh makanan. "Ibu... kata Ayah... nanti kita mau pelgi ke taman."

​"Taman?" Nadia menoleh ke arah Raka dengan kening berkerut heran. "Beneran, Mas?"

​Raka mengangguk santai. "Iya. Nanti sore kita keluar sekalian beli pakaian baru terus jalan-jalan. Lagian kita hampir nggak pernah jalan-jalan bareng, kan?"

​Nadia terdiam. Pikirannya mendadak dipenuhi rasa bingung. "Aku makin nggak paham sama sifat Mas Raka hari ini. Mau beli baju baru? Dia dapet uang dari mana lagi?"

​Melihat raut wajah Nadia yang penuh kecurigaan, Raka langsung bisa menebak isi pikiran ibunya itu. "Tenang aja, aku dapet uang bonus tambahan dari tempat kerja tadi sebelum waktu hari gajian."

​Nadia tampak terkejut. "Bonus? Aku baru tahu buruh harian bisa dapet bonus kayak gitu. Mas Budi aja nggak pernah cerita."

​"Ah, kalau itu... bonusnya khusus buat aku aja, soalnya tadi malam aku habis ngelakuin hal hebat di pabrik," jawab Raka dengan nada bangga.

​Reno yang dari tadi asyik makan terus menatap kedua orang tuanya. Bocah itu tersenyum riang karena melihat ayah dan ibunya sekarang mulai banyak mengobrol dan terlihat lebih dekat.

​Setelah itu, Raka mulai menceritakan kejadian menangkap pencuri di pabrik semalam dengan gaya yang sengaja dilebih-lebihkan agar terdengar seru.

​Reno sampai melongo takjub mendengarnya. "Benelan, Ayah?"

​"Beneran dong!"

​"Hebat banget! Reno juga mau jadi hebat kayak Ayah nanti!"

​"Hahaha, tentu saja harus meniru Ayahmu ini, Cil!" Raka tertawa puas.

​Nadia yang memperhatikan interaksi hangat itu tanpa sadar mengulum senyum tipis yang tulus di bibirnya.

Dia merasa suasana rumahnya mendadak jadi jauh lebih hidup dan menyenangkan dari biasanya.

Namun begitu Raka memergokinya sedang tersenyum, Nadia buru-buru memalingkan wajahnya lagi karena malu.

​Raka tersenyum puas di dalam hati. Bukan cuma bahagia karena bisa merasakan kembali kehangatan sebuah keluarga sebagai seorang anak, tapi dia juga bangga karena perlahan-lahan berhasil membuat hubungan ayah dan ibunya mulai membaik.

"​Ternyata masalah utama mereka selama ini emang cuma di komunikasi," batin Raka lega.

1
Bryan
keren thor, banyakin ya update nya, 1 vote udh melayang 💪👍
Maul: terima kasih banyak kak😆
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
Reno bocil bikin ngakak deh🤣🤣
Maul
/Blush/
Maul
duit 😘
Maul
/Hey/
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Yuliana Tunru
knp verota x jd maju mundur sih kan yg baca bingung 🤭🤭
Maul: hehe, mungkin ke depannya gak akan maju mundur🙏
total 1 replies
Maul
Sistemnya plin-plan wkwk
Maul
waduh, yang ini gk cadel😅
Maul
ngasuh diri sendiri 🤭
Maul
women
Maul
Ayahku adalah diriku sendiri🤔
Maul: cuma bercanda kak, soalnya kan mc nya masuk ke tubuh ayahnya sendiri😅 🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!