NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26 - Suara Pertama Lila

"Mbak Naya, mohon ikut ke ruang kepala sekolah."

Guru kelas Rayyan berdiri di depan pagar Tunas Mentari dengan wajah tegang.

Naya baru saja turun dari ojek online. Perutnya masih mual sejak pagi, dan Lila yang biasanya berjalan di sampingnya kini memegang tangannya lebih erat.

"Ada apa?"

Guru itu melirik Lila, lalu menunduk. "Lebih baik dibicarakan di dalam."

Di ruang kepala sekolah, Rania sudah duduk sambil menangis.

Di sampingnya ada dua ibu komite sekolah, kepala sekolah, dan seorang perempuan dari yayasan perlindungan anak yang tampak baru dipanggil. Rayyan berdiri di sudut ruangan dengan wajah merah, sementara Lila menunduk sampai dagunya menyentuh dada.

Naya berhenti di pintu.

Rania langsung berdiri. "Kak, kenapa kamu tega?"

Naya menatapnya. "Mulai dari tuduhanmu. Jangan pakai drama."

Salah satu ibu komite berbisik, "Nada bicaranya saja sudah kasar."

Naya mendengarnya, tetapi tidak menoleh.

Kepala sekolah berdeham. "Mbak Naya, kami mendapat laporan bahwa Anda memarahi dan menarik Lila dengan kasar di area belakang sekolah kemarin."

"Siapa yang melapor?"

Rania menangis lebih keras. "Ada video."

Ia meletakkan ponsel di meja.

Video pendek diputar. Dari sudut jauh, Naya tampak menarik lengan Lila di dekat taman belakang. Lila terlihat tersentak. Suaranya tidak ada. Video berhenti tepat sebelum Naya berjongkok.

Naya menatap layar.

Ia ingat kejadian itu. Lila hampir menginjak pecahan kaca dari botol minum yang pecah. Naya menariknya cepat, lalu memeriksa kakinya.

"Video itu dipotong."

Rania menggeleng. "Kak, aku tahu kamu stres. Aku tahu kamu sedang hamil dan banyak masalah. Tapi jangan lampiaskan ke anak."

Ibu komite langsung menoleh. "Hamil?"

Rania pura-pura menutup mulut. "Maaf, saya tidak bermaksud..."

Naya mengepalkan tangan.

Rayyan maju satu langkah. "Itu bohong."

Kepala sekolah menatapnya. "Rayyan, orang dewasa sedang bicara."

"Tapi Tante Rania bohong."

Rania menatapnya dengan mata tajam. "Rayyan, Mama sedang melindungi Lila."

"Kamu bukan melindungi. Kamu rekam dari jauh."

Ruangan sunyi.

Naya menoleh pada Rayyan.

Anak itu mengeluarkan jam tangan kecil dari sakunya. Jam tangan pintar yang biasa dipakai untuk telepon darurat.

"Aku rekam suara."

Rania memucat.

Rayyan menekan tombol. Suara dari rekaman terdengar kecil tetapi jelas.

Suara Rania: "Kalau kamu jatuh, bilang saja Naya yang dorong. Nanti Mama kasih boneka baru."

Suara Lila sangat pelan: "Tidak."

Suara Rania menjadi tajam: "Kamu mau kembali ke rumah Darto?"

Lalu terdengar langkah cepat Naya.

Suara Naya: "Lila, awas kaca!"

Rekaman berhenti.

Tidak ada yang bicara.

Perempuan dari yayasan perlindungan anak menatap Rania. "Ibu mengancam anak dengan mengembalikannya ke lingkungan yang pernah dilaporkan melakukan kekerasan?"

Rania cepat berdiri. "Itu tidak lengkap. Anak kecil bisa salah dengar."

Rayyan berteriak, "Aku tidak salah dengar!"

Kepala sekolah terlihat panik. "Tolong tenang."

Naya berjalan ke Lila dan berjongkok.

"Lila, Mama tidak akan memaksa kamu bicara."

Lila menatapnya.

"Tapi kalau kamu mau, Mama di sini."

Bibir Lila gemetar.

Semua orang menunggu.

Rania menahan napas.

Lila memegang ujung baju Naya.

Lalu suara kecil itu keluar.

"Mama tidak pukul."

Naya membeku.

Lila mengangkat wajah, matanya basah tetapi tidak menunduk lagi.

"Mama tarik aku karena ada kaca. Tante Rania bilang kalau aku diam, Mama bisa pergi. Aku tidak mau Mama pergi."

Naya langsung memeluknya.

Rayyan menangis marah. "Aku sudah bilang!"

Pintu ruang kepala sekolah terbuka.

Arkan masuk dengan Raka di belakangnya.

Ia baru menerima pesan suara dari Rayyan sepuluh menit lalu. Wajahnya dingin, tetapi matanya berhenti pada Lila yang masih memeluk Naya.

"Siapa yang menyebarkan video potongan itu?" tanyanya.

Kepala sekolah gugup. "Pak Arkan, kami hanya..."

"Saya tanya siapa."

Salah satu ibu komite menunduk. Ponselnya bergetar tanpa henti. Video itu ternyata sudah masuk grup orang tua.

Arkan mengambil ponsel dari Raka.

"Mulai hari ini, semua komunikasi tentang anak-anak saya melalui pengacara. Sekolah ini juga akan menyerahkan CCTV lengkap."

Rania tertawa pahit. "Anak-anakmu? Rayyan iya. Lila siapa?"

Naya memeluk Lila lebih erat.

Arkan menatap Rania.

"Itu yang akan saya pastikan."

Rania tersentak.

Arkan berbalik pada Raka. "Atur tes DNA untuk Rayyan dan Lila. Sampel diambil hari ini. Di tiga lab berbeda. Tidak ada satu pun keluarga Pradipta yang boleh mendekat."

Bu Mira tiba-tiba muncul di pintu, napas terengah. Sepertinya ia baru dipanggil Rania.

"Kamu tidak bisa seenaknya mengambil DNA cucu orang!"

Nenek Ratih muncul di belakangnya.

Semua orang berdiri.

Perempuan tua itu menatap Bu Mira dari ujung kepala sampai kaki.

"Kalau Anda begitu yakin cucu saya bukan anak Naya, kenapa takut darah diperiksa?"

Bu Mira tidak menjawab.

Lila melepas pelukan Naya dan menatap Arkan.

"Papa Rayyan..."

Arkan menunduk.

"Ya, Nak?"

"Jangan biarkan Tante Rania bawa aku."

Kalimat itu membuat wajah Rania kehilangan warna.

Arkan mengangguk.

"Tidak akan."

Naya menatapnya, ingin percaya tetapi masih takut.

Di lantai, jam tangan Rayyan masih menyala.

Rekaman baru tersimpan otomatis.

Suara Lila pertama kali membela ibunya.

Dan suara itu menjadi bukti yang lebih kuat daripada air mata Rania.

Kepala sekolah akhirnya meminta semua orang keluar dari ruangannya kecuali pihak yayasan dan pengacara sekolah. Namun kerusakan sudah terjadi. Video potongan sudah tersebar ke grup orang tua, sementara rekaman Rayyan baru menyusul lewat akun anonim yang entah siapa kirim.

Dalam sepuluh menit, suasana sekolah berubah.

Ibu-ibu yang tadi menatap Naya dengan jijik kini menatap Rania dengan ragu. Tidak ada yang langsung meminta maaf. Orang-orang seperti mereka jarang meminta maaf di depan umum. Mereka hanya mengubah posisi berdiri, menjauh dari orang yang mulai terlihat kalah.

Rania merasakan itu.

Ia membenci Naya lebih dari sebelumnya.

"Rayyan," panggilnya lembut, mencoba terakhir kali. "Mama tadi hanya panik. Kamu tahu Mama sayang kamu."

Rayyan berdiri di samping Naya. "Kalau sayang, kenapa Tante ancam Lila?"

"Tante?"

Satu kata itu memukul Rania lebih keras daripada rekaman.

Rayyan menunduk, tetapi tidak menarik kata itu.

"Aku bingung," katanya pelan. "Kalau Mama itu harus bikin anak merasa aman, kenapa aku takut sama Mama Rania?"

Naya menutup mata.

Arkan berjongkok di depan Rayyan.

"Kamu tidak harus jawab hari ini."

"Tapi aku boleh tidak pulang sama dia?"

"Boleh."

Rania tertawa gemetar. "Kamu meracuni anakku."

Naya membuka mata.

"Kalau anak itu mudah diracuni, mungkin karena selama ini dia haus kebenaran."

Bu Mira hendak maju, tetapi Nenek Ratih mengetuk tongkat ke lantai.

"Cukup. Setiap kata Anda mulai sekarang akan dicatat pengacara."

Perempuan dari yayasan mendekati Lila. "Nak, kamu mau bicara dengan tante di ruangan lain? Tidak ada yang memaksa."

Lila menatap Naya.

Naya mengangguk. "Mama tunggu di luar."

Lila menggenggam boneka, lalu berkata pelan, "Rayyan ikut."

Rayyan langsung berdiri tegak. "Aku ikut."

Mereka masuk ruangan kecil bersama petugas yayasan.

Naya berdiri di lorong, tangannya menempel ke perut. Kram ringan datang dan pergi.

Arkan melihatnya.

"Duduk."

"Saya bisa berdiri."

"Aku tidak bilang kamu lemah."

"Nada Bapak begitu."

Arkan mengambil kursi plastik dari dekat dinding dan meletakkannya di samping Naya, lalu mundur.

"Kursinya ada. Keputusanmu."

Naya menatap kursi itu.

Cara Arkan belajar memang kaku, kadang seperti anak kecil mempelajari bahasa baru. Tapi kali ini ia tidak memaksanya duduk.

Naya duduk.

Di ujung lorong, Rania mengirim pesan cepat ke seseorang.

`Percepat hasil DNA. Tukar sebelum masuk sistem.`

Balasan datang kurang dari satu menit.

`Beres. Tapi bayarannya naik.`

Rania menatap pintu ruangan tempat Rayyan dan Lila berada.

`Berapa pun.`

Ia tidak melihat Siska, pengawal Naya, berdiri di belakang pilar dan memperhatikan tangannya.

Siska tidak bisa melihat isi pesan, tetapi ia melihat nama kontak yang muncul sebentar sebelum layar dikunci.

`Dimas Lab`.

Ia segera mengirim catatan ke Raka.

Di ujung lorong, Raka membaca pesan itu dan wajahnya berubah.

Nama Dimas pernah muncul dalam audit rumah sakit lama, sebagai teknisi yang memindahkan data pasien saat sistem mati empat tahun lalu.

"Pak," katanya kepada Arkan pelan. "Kita mungkin menemukan jembatan antara kasus bayi dan hasil DNA."

Arkan menatap Rania.

Rania masih menangis.

Kali ini, air matanya terdengar seperti bunyi mesin yang mulai rusak.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!