Ini kisah berbagi cinta.
Amira menjatuhkan cintanya pada Gilwang seorang pria yang baru di pertemukannya saat hari pernikahannya. Tidak dengan Gilwang, tak menjatuhkan cintanya pada Amira, karena Gilwang sudah mempunyai kekasih yang berjanji akan menikahinya yaitu Anita.
Karena Gilwang orang yang pertama bisa membuatnya jatuh cinta, Amira akan tetap mempertahankan cintanya dan pernikahannya, meski Gilwang tak mencintainya. Bahkan Amira rela Gilwang menikah dengan kekasihnya asal tidak di ceraikan.
Apakah Amira akan tetap bertahan dengan pernikahannya setelah kehadiran Anita istri kedua yang ingin menjadi istri Gilwang satu-satunya?
Ikuti kisahnya hingga bab akhir. Jadikan cerita ini favorit.
kasih like dan votenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon munasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Meredam hasrat
Sudah ada Gilwang Neni tidak ingin kerepotan lagi mengurus putrinya yang susah banget di atur, yang bikin hati kesal saja. Kalau bukan Anita yang begitu berjasa pada keluarganya yang mau membagi uangnya untuk keluarganya, Neni sudah tidak mau memperdulikannya. Anita bukanlah putri yang baik di matanya.
Neni berpesan pada Gilwang, mulai saat ini dia harus menemani Anita selama di rumah sakit. Dengan alasan kalau tidak ada Gilwang Anita sering mengamuk, itu sangat mempengaruhi kondisi kesehatannya. Jadi kalau ingin Anita cepat sembuh Gilwang harus benar-benar ada di sisi Anita. Memberinya semangat untuk cepat sembuh.
Neni meminta Gilwang untuk fokus menemani Anita disini, supaya Anita cepat sembuh dan tidak menyusahkan semuanya. Mulai sekarang Neni menyerahkan putrinya pada Gilwang yang memang berhak mengurusnya.
Mulai besok, Neni dan suaminya tidak akan datang ke rumah sakit karena sudah ada Gilwang yang menemaninya.
Setelah menegaskan pada Gilwang menantunya, Neni pamit pulang karena Gilwang sudah ada di sini.
Kini hati Neni merasa lega bisa terbebas dari omelan Anita. Neni pulang dengan perasaan senang.
Gilwang tidak bisa lagi menolak perintah orang tua Anita. Memang benar kata ibunya Anita. Sekarang Anita sudah menjadi tanggung jawabnya. Bagaimana pun juga Anita istri sahnya walau pun hanya menikah siri, Gilwang berkewajiban mengurus semuanya.
Gilwang memberitahu Amira lewat pesan kalau dirinya tidak jadi pulang karena harus menemani Anita di rumah sakit.
Anita sungguh sangat murka setelah kemarin tidak di temaninya. Jadi sekarang menuntut pada Gilwang untuk menemaninya.
Amira hanya bisa mengatakan "Ya" pada suaminya, meski sedikit berat di hatinya. Amira menyadari Anita juga istrinya Gilwang yang juga harus mendapatkan haknya sebagai seorang istri.
Ada sedikit kecewa di hati Amira yang mengharapkan malam ini suaminya pulang ke rumah. Padahal Amira sudah menyiapkan makan malam spesial dan romantis di rumahnya. Amira sengaja tidak memberitahu Gilwang karena ini surprise.
Dan ternyata Gilwang malah nggak jadi pulang karena harus menemani Anita istri keduanya di rumah sakit.
Amira harus meredam rasa kangennya. Dan malam ini tak di dapati belaian suaminya yang sudah ada dalam benaknya seharian tadi.
"Mas Gilwang aku sungguh kangen sama kamu, aku ingin di dekapmu malam ini," Gumam Amira yang masih belum bisa memejamkan matanya.
Di dalam kamarnya Amira harus menahan gejolaknya sendirian sembari mendekap guling sebagai ganti suaminya.
Anita merasa lega sekarang Gilwang ada di sisinya. Kekhawatirannya kini menghilang. Karena yang di khawatirkan sudah ada disampingnya menemaninya.
Meski dengan hati yang berat Gilwang tetap menunjukkan sikap baiknya pada Anita.
Di malam yang sudah larut Gilwang menyuruh Anita untuk cepat tidur. Setelah Anita tidur Gilwang berniat akan mengobrol dengan Amira lewat video call, untuk mengobati rasa kangennya, meski tak bisa membelainya malam ini karena harus di sini menemani Anita.
Namun Anita mengelak tidak bisa tidur karena sangat kangen dengan Gilwang. Anita ingin bermanja dengannya sampai puas.
Entah kenapa Anita tiba-tiba jadi merasa kangen pada Gilwang yang baru di tinggal sehari saja. Anita merasakan keanehan lada dirinya.
"Ada apa dengan diriku ini kenapa aku merasa tidak ingin kehilangan Gilwang. Setelah sekian lama aku hanya berpura-pura mencintainya. Apa karena Gilwang begitu tulus mencintaiku, dan aku harus membalas cintanya yang tukus itu."
Malam ini Anita begitu manja pada Gilwang, saat matanya sudah mengantuk dia pun ingin di tidurin sama Gilwang.
Anita meminta Gilwang untuk tidur bersamanya diatas ranjang pasiennya.
"Gilwang! Aku ingin kamu tidur bersamaku di ranjang ini. Kamu harus tau aku sangat kangen sama kamu. Aku benar-benar kangen sama kamu Gilwang. Aku ingin kamu mendekapku malam ini," ucap Anita serius.
Gilwang nencoba menolaknya karena ranjang itu begitu sempit. Lagian ranjang itu kan hanya untuk pasien yang sakit.
Apa pun alasan Gilwang menolak, Anita tetap bersi keras memintanya untuk menemaninya tidur diatas ranjangnya.
"Ayolah Gilwang kamu harus menemaniku tidur disini, aku butuh kehangatan kamu," pinta Anita lagi sembari tangannya menepuk-nepuk ranjangnya.
"Enggak Anita, aku nggak mau. Malu nanti kalau sampai ada suster yang lihat kita," pekik Gilwang.
"Kenapa harus malu dan takut pada suster. Ini kan sudah malam, nggak ada suster yang datang. Lagian kita kan suami istri nggak masalah kan mau ketahuan sama suster atau siapa pun," jelas Anita.
"Maaf ya Anita, aku tetap tidak mau," tegas Gilwang.
Gilwang memilih akan keluar dari ruangan saja dari pada berdebat terus dengan Anita.
Saat hendak melangkahkan kakinya keluar pintu, Anita berteriak memanggil nama Gilwang.
"Gilwang berhenti, kalau kamu masih tetap tidak mau menuruti keinginanku. Aku akan membuat keributan disini. Aku akan berteriak sekencang-kencangnya." Anita mengancam Gilwang.
Gilwang berbalik masuk ruangan Anita lagi dan menutup pintu rapat.
"Apa-apaan sih kamu Anita, ini sudah malam kamu jangan bikin ulah ya. Malu sama pasien yang lain," tutur Gilwang mendekati Anita dan menutup mulutnya.
"Mangkanya kamu turutin kemauanku!" Anita melepaskan tangan Gilwang yang mendekap mulutnya.
"Oke, oke akan aku turutin." Gilwang terpaksa manut dengan perintah Anita dari pada keadaan semakin runyam karena ulahnya.
Gilwang sungguh di buat kesal sama Anita. Tidak menyangka Anita berubah seperti ini semenjak sakit, ada aja ulahnya. Pantas saja kedua orang tuanya mengeluh tidak mau menemaninya. Mungkin merereka pada kesal dengan sikap Anita.
Dengan hati yang kesal, kini Gilwang tidur dalam satu ranjang yang sempit, mendekap Anita supaya cepat tertidur dan tidak membuat keributan.
Anita tersenyum menang saat Gilwang mendekapnya.
"Mulai sekarang kamu akan jadi milikku Gilwang. Aku tidak akan menangguhkan lagi kalau kamu meminta, aku akan memenuhi semua hasratmu yang sudah kutangguhkan selama ini. Setelah sembuh aku akan benar-benar menjadi istrimu. Dan kamu harus membuang Amira jauh-jauh," batin Anita menyeringai dalam dekapan Gilwang.
Gilwang belum bisa memejamkan matanya, dia teringat dengan Amira yang sudah membuatnya selalu mengingat malam pertama yang mengesankan.
Rasanya Gilwang ingin melakukannya lagi malam ini, Gilwang sungguh ketagihan ber***** dengan Amira istri pertamanya yang benar-benar memberikan cinta dan kehangatannya. Namun terhalang oleh Anita istri keduanya.
Gilwang harus meredam hasratnya dalam-dalam, di malam yang begitu menggelora. Namun wanita yang didekapnya saat ini tak membuat Gilwang merasakan apa-apa padanya.
Apakah cinta Gilwang kini telah berubah pada Anita, setelah mendapatkan cinta Amira?
"Aku sungguh ingin ber***** saat ini, meski aku tengah mendekap Anita orang yang juga sangat aku cintai. Namun aku tidak ingin melakukannya dengannya. Aku hanya ingin ber***** dengan Amira," batin keluh Gilwang.