NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balas Dendam 2

Sebelum berangkat, Wira berpaling kepada Jaka dan Purbaya. "Paman berdua silakan pergi lebih dulu. Biar aku sendiri yang menyelesaikan sisanya. Tapi tolong sampaikan kepada seluruh penduduk desa apa yang sebenarnya terjadi, agar mereka tahu kebohongan yang selama ini menimpa nama baik orang tuaku." Bilah pedang yang dipegangnya sudah menempel erat di leher Pratama.

Selama perjalanan menuju rumah Kepala Desa Subadra, puluhan warga yang melihatnya terkejut. Mereka hendak menolong Pratama, namun Jaka dan Purbaya segera menyampaikan seluruh kebenaran yang baru terungkap, sehingga warga mulai ragu dan memilih mengikuti dari belakang untuk menyaksikan apa yang akan terjadi.

Sesampainya di depan rumah sekaligus tempat perguruan silat milik Subadra, enam orang penjaga di gerbang langsung mencabut senjata begitu melihat Pratama datang dalam keadaan terancam. Mereka tahu Pratama adalah sahabat karib sekaligus penolong utama gurunya.

"Lepaskan Juragan Pratama jika tidak ingin kepalamu terpisah dari badan!" bentak salah satu penjaga.

Wira tersenyum sinis melihat ancaman dari mereka yang kemampuannya jauh di bawah dirinya.

"Aku akan melepaskannya jika kalian segera memanggil Kepala Desa yang hina itu ke sini!"

"Jaga ucapanmu, bocah kurang ajar! Guru kami tidak pantas bertemu denganmu!" sahut penjaga itu marah.

"Memang benar ... manusia busuk hati itu memang tidak pantas bertemu denganku. Dia terlalu kotor untuk dilihat orang jujur."

Mendengar hinaan itu, para penjaga segera bergerak maju menyerang. Namun Wira langsung menekan bilah pedang di leher Pratama hingga meneteskan darah. "Selangkah lagi kalian maju, aku pastikan kepala juragan ini terlepas dari badannya!"

Seketika langkah mereka terhenti. Mereka tidak berani mengambil risiko nyawa Pratama melayang.

Seorang penjaga segera berlari masuk ke dalam kompleks rumah untuk melaporkan kejadian itu.

Tak lama kemudian, Subadra keluar dengan langkah tergesa, wajahnya sudah memerah menahan amarah. Di belakangnya, lebih dari dua puluh orang muridnya berdiri berjajar, tangan mereka sudah memegang gagang pedang masing-masing.

Melihat kedatangan Subadra, Pratama merasa sedikit lega. Dia yakin kali ini nyawanya akan diselamatkan. "Tetua, tolonglah aku!" serunya lemah.

"Lepaskan Pratama, maka aku akan membiarkanmu pergi hidup-hidup dari sini!" bentak Subadra keras.

"Apa kau sudah hilang akal, Kepala Desa biadab! Aku datang kemari bukan untuk minta ampun, tapi untuk menghitung semua kesalahanmu! Dan kau malah menyuruhku pergi?" jawab Wira dengan nada dingin.

Amarah Subadra meluap-luap. Selama ini tidak ada yang berani menghinanya seberani ini.

Di saat yang sama, Jaya juga keluar dari gerbang menyusul ayahnya. Matanya membelalak lebar begitu mengenali siapa pemuda itu.

"Ternyata kau yang membuat keributan ini, Pecundang! Kemana saja kau bersembunyi selama ini?" ejek Jaya.

Wira hanya terkekeh pelan, tidak terpancing emosi sedikitpun. Dia malah membalas dengan nada meremehkan.

"Akhirnya anaknya juga ikut keluar. Kau juga harus diberi pelajaran agar sadar bahwa kekuasaan ayahmu tidak akan selamanya melindungi kejahatan kalian!"

"Kau mengenalnya, Jaya?" tanya Subadra kepada anaknya yang sudah terlihat sangat geram.

"Dia hanya anak pecundang yang mengotori desa ini, Ayah! Lebih dari setahun lalu dia dikeroyok warga karena tertangkap basah hendak mencuri!" jawab Jaya dengan nada penuh kebencian.

Subadra sedikit terkejut, lalu mengingat laporan yang masuk setahun lalu tentang pencarian pencuri di desa itu. Dia pun segera menyimpulkan siapa sosok di hadapannya.

"Jadi kau anak dari sepasang pencuri yang dihukum mati lima belas tahun yang lalu itu?"

"Syukurlah jika kau ingat. Jadi aku tidak perlu banyak bicara lagi. Sudah tiba waktunya kau menebus kesalahan besar karena telah memfitnah kedua orang tuaku!"

Subadra justru tertawa terbahak-bahak mendengar tuduhan itu, seolah mendengar lelucon yang sangat konyol.

"Anak tidak tahu diri! Seharusnya kau tahu permintaan terakhir ayahmu sebelum dihukum mati: dia memohon agar kau tidak dilibatkan dalam masalahnya. Dan sekarang kau malah datang menyerahkan nyawamu sendiri?"

Wira hanya tersenyum tipis mendengar kesombongan itu. "Setidaknya tuduhan terhadap mereka hanyalah kebohongan belaka. Dan kau adalah otak utama di balik semua fitnah itu!" Dia kembali menekan pedang di leher Pratama agar Subadra mau bicara jujur.

"Jaga ucapanmu, bocah! Aku Kepala Desa sekaligus ketua perguruan, mana mungkin melakukan perbuatan sekeji itu?" bantah Subadra keras, berusaha menutupi aib yang selama ini dia sembunyikan.

"Jadi kau tidak peduli lagi dengan nyawa sahabatmu ini? Kau boleh menyangkal semau hatimu, tapi aku punya saksi yang tahu persis rencana jahat yang kalian susun bersama!" Tiba-tiba Wira melayangkan pukulan ke perut Pratama, membuat lelaki itu berlutut kembali kesakitan.

Pratama mengerang kesakitan, darah semakin banyak menetes dari lehernya. Dia merasa kecewa melihat Subadra seolah tidak ingin menolongnya sama sekali.

"Tetua ... tolonglah aku ..." pinta Pratama lagi dengan suara makin lemah.

"Kenapa aku harus menolongmu? Semua ini berawal dari nafsumu yang tak terkendali terhadap Gayatri!" bentak Subadra.

Ucapan itu bagaikan tamparan keras bagi Pratama. Dia tidak menyangka sahabatnya sendiri akan melemparkan kesalahan sepenuhnya kepadanya.

"Jadi kau hanya akan menyalahkanku? Kau juga bagian dari rencana itu! Apa kau lupa siapa yang menyuruh orang mengubur patung emas itu di belakang rumah Arga? Apa kau sudah pikun, Subadra?" balas Pratama, kini sudah tidak peduli lagi menjaga hubungan persahabatan.

"Panggil Atmaja sekarang! Orang yang kau suruh mengubur barang bukti itu pasti bisa mengakuinya!" teriak Pratama sekuat tenaga agar didengar semua orang yang mulai berkerumun.

Namun dia tidak tahu bahwa Atmaja sudah lebih dulu dibunuh oleh Subadra, karena takut rahasia itu terbongkar.

"Kau lupa bahwa Atmaja sudah mati lama, Pratama?" jawab Subadra dingin.

"Aku tahu dia mati! Dan aku juga tahu kaulah yang menyuruh orang membunuhnya di dalam hutan!" sergah Pratama dengan suara lantang.

Mendengar perdebatan yang semakin terbuka itu, para penduduk desa yang menyaksikan mulai percaya sepenuhnya. Rasa bersalah langsung menyelimuti hati mereka, terutama yang ikut menghukum mati Arga dan Gayatri dulu. Mereka baru sadar telah terpedaya oleh kebohongan dua orang yang mereka hormati selama ini.

"Warga sekalian! Hari ini akhirnya kebenaran terungkap! Nama baik kedua orang tuaku sudah kembali pulih, meski mereka tidak bisa melihatnya lagi. Namun keadilan harus ditegakkan. Hari ini juga, aku akan menjatuhkan hukuman setimpal kepada kedua pelaku utama ini!" seru Wira kepada kerumunan warga.

Subadra semakin geram melihat rahasianya terbongkar. Dia sadar sudah tidak ada jalan kembali, dan satu-satunya cara agar tetap berkuasa adalah membungkam mulut Wira dan Pratama selamanya.

"Kalian berdua harus mati!" teriaknya, lalu segera mencabut pedangnya dan melesat menyerang Wira dengan kecepatan tinggi.

Namun pemuda itu sudah siap mengantisipasi. Dia melompat mundur dengan gesit, hingga serangan tajam Subadra meleset dan malah terayun tepat mengenai leher Pratama yang masih berlutut di depan mereka.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!