Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Sinar matahari pagi menembus dinding kaca griya tawang Menara Mahendra, memantulkan pendar keemasan di atas lantai marmer. Milly mengerjapkan mata, meraba sisi tempat tidur yang sudah kosong dan dingin. Jam di dinding digital menunjukkan pukul enam tepat.
Ketika ia duduk dan memakai kacamata bulatnya, ia menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi di atas meja nakas, tepat di samping sebuah cangkir espreso yang masih mengepulkan uap.
"Efisiensi sirkadianmu membaik, tidur tepat 6,5 jam. Habiskan kopimu. Pukul 07.30, tim humas Mahendra Group akan merilis konferensi pers resmi mengenai merger aset pasca-pernikahan. Jangan terlambat turun ke lantai utama."
Arkananta M.
Milly mendengus kecil, namun sudut bibirnya tidak bisa menahan senyuman. Bahkan setelah malam pertama mereka, pria itu tetaplah sebuah mesin kalkulasi berjalan. Ia segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan setelan blazer kasual rapi yang sudah disiapkan di ruang pakaian otomatis.
Saat melangkah keluar dari lift privat di lantai eksekutif, Milly langsung disambut oleh kesibukan yang luar biasa. Bara berdiri di tengah ruangan, memimpin belasan staf yang bergerak cepat membawa tumpukan dokumen legalitas. Di ujung lorong, Arkan sedang berdiri membelakangi ruangan, menatap arus lalu lintas Jakarta di balik kaca besar sambil memegang ponselnya.
"Semua sentimen publik terkendali, Bara?" tanya Arkan tanpa berbalik saat mendengar derap langkah mendekat.
"Seratus persen aman, Tuan. Media finansial menyebut pernikahan kemarin sebagai Masterstroke tahun ini. Indeks kepuasan pemegang saham naik signifikan," jawab Bara formal.
Arkan membalikkan tubuhnya, menatap Milly yang baru saja bergabung. Tatapan dinginnya menyapu penampilan Milly dari atas ke bawah, memberikan jeda tiga detik penilaian yang biasa ia lakukan. "Potongan rambut dan pilihan blazermu memberikan impresi stabilitas sebesar 88% untuk kamera humas nanti. Pilihan yang tidak buruk, Gadis Ceroboh."
"Terima kasih atas pujian matematisnya, Tuan Suami," sahut Milly setengah berbisik, menekankan kata terakhir dengan nada menyindir yang sukses membuat Bara batuk kecil dan pamit mundur dari ruangan.
Arkan melangkah mendekati Milly, mengabaikan sindiran itu. Ia merogoh saku bagian dalam jasnya, mengeluarkan buku catatan kulit hitam legendarisnya, lalu membukanya di hadapan Milly.
"Karena paparan publik pagi ini akan menaikkan valuasi personal branding-mu sebagai istri Presdir Mahendra Group, aku harus memasukkan amandemen baru," ucap Arkan, ujung penanya sudah menyentuh kertas.
Milly menahan tangan Arkan, membuat ujung pena itu terhenti. Arkan sedikit terkejut, menatap jemari mungil Milly yang berani menyentuh pergelangan tangannya.
"Tuan, berhenti mencoret angka-angka itu seolah hidup saya hanya deretan diskon tahunan," ucap Milly, menatap lurus mata elang pria itu. "Anda bilang delapan tahun adalah waktu minimal yang Anda butuhkan untuk membuat saya tidak ingin pergi. Kalau Anda memotongnya terus menjadi tujuh tahun, enam tahun, atau bahkan besok menjadi lima tahun... apakah Anda sedang terburu-buru agar saya segera pergi?"
Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa saat. Arkan menatap tangan Milly yang masih menahan pergelangan tangannya, lalu perlahan menurunkan bukunya. Ekspresi wajahnya yang biasanya sedatar dinding beton perlahan melembut, menyisakan tatapan intens yang membuat jantung Milly berdesir.
"Aku tidak pernah terburu-buru dalam melakukan eksekusi strategis, Milly," ucap Arkan, suaranya beralih ke nada rendah yang sangat dalam. Ia membalikkan tangannya, kini ganti menggenggam jemari Milly dengan erat. "Pengurangan angka di buku ini hanyalah caraku membuktikan pada logikamu yang keras kepala... bahwa batas waktu yang kubuat sejak awal sebenarnya sudah tidak berguna lagi."
Arkan mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Milly sebelum tim humas membuka pintu ruangan. "Kontrak itu hanya selembar kertas untuk menenangkan ketakutanmu. Tapi kenyataannya, kau sudah terkunci di sini, bersandar denganku, tanpa ada jalan keluar."
Pintu aula terbuka tepat pukul tujuh lewat tiga puluh menit, membiarkan puluhan kilatan lampu kamera wartawan menerangi ruangan. Arkan menegakkan tubuhnya, kembali menjadi sosok Presdir yang dingin dan tidak tersentuh, namun tangannya sama sekali tidak melepaskan genggaman jemari Milly saat mereka melangkah maju bersama menghadap dunia.
Lampu kilat dari puluhan kamera wartawan langsung menyambar begitu Arkan dan Milly melangkah melewati ambang pintu aula konferensi pers. Suara jepretan yang bertubi-tubi sempat membuat Milly refleks mengencangkan genggaman tangannya. Namun, kehangatan dari telapak tangan Arkan yang kokoh menyalurkan stabilitas yang instan, persis seperti angka persen yang sempat pria itu sebutkan tadi.
Mereka duduk di balik meja panjang berlogo Mahendra Group. Puluhan mikrofon dari berbagai stasiun televisi dan media cetak nasional sudah terpasang rapi di hadapan mereka.
"Tuan Arkananta!" salah seorang jurnalis senior dari koran bisnis terkemuka langsung mengangkat tangan. "Pernikahan Anda kemarin bertepatan dengan jatuhnya faksi perbankan Wijaya. Banyak pengamat berspekulasi bahwa ini adalah langkah akuisisi agresif yang terselubung. Bagaimana tanggapan Anda?"
Arkan mendekatkan mikrofon, wajahnya tetap tenang tanpa riak emosi. "Mahendra Group tidak melakukan akuisisi terselubung. Kami hanya melakukan pembersihan pasar terhadap elemen yang memiliki likuiditas buruk. Pernikahan saya dengan Millyanita adalah murni keputusan strategis domestik dan personal yang matang."
Jurnalis lain beralih menatap Milly. "Nyonya Millyanita, sebagai seseorang yang latar belakangnya jauh dari dunia korporat, bagaimana Anda melihat peran Anda dalam mendampingi sang Presdir ke depan?"
Milly membetulkan letak kacamatanya, menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara dengan nada tenang yang terlatih. "Saya percaya bahwa dalam sistem yang paling rumit sekalipun, selalu ada ruang untuk keseimbangan. Tugas saya bukan memahami seluruh rumus saham Mahendra Group, melainkan memastikan bahwa pria di sebelah saya ini tetap memiliki jangkar yang kuat di dunia nyata."
Jawaban itu memicu riuh bisikan kagum di antara para jurnalis. Dari sudut matanya, Milly bisa melihat Arkan meliriknya dengan binar tipis di balik lensa kacamata. Sebuah ekspresi yang jika diterjemahkan ke dalam bahasanya berarti , Efisiensi jawabanmu baru saja menaikkan sentimen positif pasar sebesar 15% lagi.
Setelah hampir satu jam menghadapi berondongan pertanyaan, konferensi pers akhirnya ditutup dengan sukses besar. Begitu pintu aula kembali tertutup dan menyisakan mereka berdua di ruang tunggu VIP, Milly langsung mengempaskan tubuhnya ke sofa kulit yang empuk dengan helaan napas lega yang panjang.
"Oh astaga... menghadapi kamera ternyata jauh lebih menguras kalori daripada berlari di lorong bawah tanah katedral," keluh Milly sembari memijat tengkuknya yang terasa kaku.
Arkan berjalan mendekat, menanggalkan kancing jas formalnya lalu duduk di sisi sofa yang sama. Jarak mereka begitu dekat hingga Milly bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang familier. Pria itu mengeluarkan buku catatan kulit hitam dari sakunya, meletakkannya di atas meja kopi di depan mereka.
Milly melirik buku itu dengan malas. "Apalagi sekarang, Tuan? Berapa bulan lagi potongan kontrak yang mau Anda tulis atas performa saya di depan wartawan tadi?"
Arkan tidak menyentuh penanya. Ia justru menatap buku itu, lalu beralih menatap Milly dengan sepasang mata elang yang dalam dan tak terbaca.
Dengan gerakan perlahan namun pasti, Arkan mendorong buku hitam itu menjauh ke ujung meja.
"Tidak ada potongan kontrak untuk hari ini, Milly," ucap Arkan, suaranya terdengar sangat rendah dan berat.
Milly mengernyitkan dahi heran. "Kenapa? Bukankah jawaban saya tadi sangat efisien menurut standar matematis Anda?"
"Sangat sempurna, bahkan melampaui seluruh kalkulasi simulasi yang kubuat semalam," sahut Arkan. Ia memajukan tubuhnya, meraih tangan Milly dan membawanya ke dalam genggaman hangatnya. "Tapi seperti yang kukatakan sebelum kita memasuki aula tadi... angka-angka di dalam buku itu sudah kehilangan fungsinya. Mulai detik ini, jalannya pernikahan kita tidak akan lagi diukur berdasarkan pengurangan sisa waktu."
Milly menatap tangan mereka yang saling bertautan, lalu mendongak menatap wajah tampan suaminya. "Lalu, jika tidak diukur dengan waktu... dengan apa Anda akan menghitung hubungan kita, Tuan Perfeksionis?"
Arkan mengulas senyuman tipis sebuah senyuman yang kali ini terasa benar-benar hangat, tanpa ada keangkuhan korporat di dalamnya.
"Dengan absolutitas, Millyanita. Variabel yang tidak bisa dibagi, dikurangi, atau diakhiri oleh angka apa pun," bisik Arkan pelan, tepat sebelum ia mencondongkan wajahnya untuk menghapus jarak di antara mereka, mengunci takdir mereka berdua dalam sebuah kepastian yang melampaui logika hitam di atas putih.