NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EMPATBELAS

Mungkin bumi ini berputar lebih cepat.

Atau

Matahari terbit dan tenggelam secara terburu-buru?

Entah lah. Tapi satu hal yang pasti hari ini adalah hari yang paling menyebalkan bagi Arun.

Arun dan Linda akan bertemu dengan keluarga Broto.

Kayaknya belum ada sebulan pembicaraan ini?

Eh bakan baru seminggu gak sih?

Terus, masalah kosan gimana?

Hah!

Capek gak sih terus-terusan hidup kayak gini. Gak bisa bebas memilih pilihan hidup sendiri.

Eh?

Padahal dari dulu hidup sendiri teruss.

Pukul 10:28

"Run!" pangil Tia sambil memukul meja.

Arun hanya melirik sekilas lalu kembali fokus membaca buku cetak yang lumayan tebal itu.

"Run? Lo masih berkabung ya. Maaf deh, gue tadi cuma berusaha buat lo ceria aja kok. Gak ada maksud apa-apa" ucap Tia menyesal.

Karena menurut Tia, ini sudah lebih dari dua minggu sejak kepergian nenek Salma.

Cukupkan sedihnya?

"Gue baik-baik aja kok Ti, cuma mood gue lagi kurang bersahabat aja karna pms" ujar Arun menjelaskan agar Tia tidak salah paham.

"Ohhh gitu" ucap Tia sambil menganggukan kepala.

Tia menarik kursi di depan Arun, mau tidak mau mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang Arun baca.

"Selesai kelas nanti, ikut gue yuk Run?" ajak Tia.

"Kemana?"

"Nongki" balas Tia sambil menaik turunkan alisnya.

Raut wajah Arun seolah memikirkan sesuatu, "Sorry Ti, hari ini gue gak bisa. Lain kali deh" ucap Arun.

"Oke, gak papa".

Tia yakin ada yang sedang Arun tutupi dari dirinya.

Pukul  16:45

Linda beberapa kali mengetuk pintu kamar Arun, "Run? Kamu didalem udah siap-siapkan?" ucap Linda sedikit teriak.

Tidak ada jawaban.

"Mama mohon Run kali ini aja" ucap Linda lirih.

Pintu terbuka, "Kali berapa? Ini kali terakhir untuk mama membuang Arun?" ujar Arun.

Linda bisa melihat Arun habis menangis. Matanya sembab namun tertutup sempurna oleh make up yang Arun poleskan pada wajahnya.

"Mama gak pernah buang Arun!" ucap Linda tegas.

Arun berjalan menuju sofa, "Iya gak buang tapi cuma pindah tangan aja" ucap Arun sarkas

Linda mendekati dan berdiri dihadapan  Arun.

"Cukup Ru! Kalo kamu gak mau jangan kamu lakuin Run! Kenapa kamu lakuin kalau pada akhirnya kamu menyalahkan mama atas semua yang terjadi sama diri kamu!" hilang sudah kesabaran Linda menghadapi Arun.

Arun memicingkan matanya sambil menatap Linda intens.

"Emang Arun bisa nolak? Enggak kan?".

Arun bangkit dari duduknya lalu berjalan beberapa langkah, "Arun anggap ini terakhir kalinya Arun gak bisa nolak keinginan mama. Dan anggap ini sebagai ucapan terima kasih Arun buat nenek Salma".

Arun kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut.

Sedangkan Linda menarik napas lalu menghembuskan nya secara kasar.

Hancur sudah image yang akan Linda bangun didepan keluarga Broto nanti.

Sampailah mereka di sebuah restoran dengan interior yang bisa dibilang hanya orang kelas atas kebanyakan datang disini.

Meja nomor empat, terdapat enam buah kursi. Dua kursi yang berada di setiap sampingnya dan satu kursi disetiap ujung meja tersebut.

"Silahkan bu, ini mejanya" kata seorang pelayan restoran tersebut.

Broto bangkit dari duduknya sambil menampilkan senyum ramah.

"Kalian sudah datang? Silahkan duduk" ucap Broto.

Arun dan Linda menempati kursi yang telah disediakan sambil tersenyum ramah menyapa.

Namun Nita hanya tersenyum tipis sedangkan Adit dan Bio tetap tanpa ekspresi, datar.

Untuk menghilangkan kecanggungan ini Broto mulai membuka suara, "Arun?" panggil Broto.

Arun yang sedang menatap piring kosong didepannya sontak menatap sumber suara, "Iya pak" balas Arun.

"Kamu sehat?" tanya Broto.

"Sehat kok pak" balas Arun.

Broto menaganggukan kepala, "Oh iya ini anak pertama saya. Namanya Adit" ujar Broto sambil menunjuk seseorang yang berada di ujung meja kanannya.

Adit tersenyum.

"Nah yang itu, Bio. Dia anak terakhir saya" ujar Broto lagi sambil menunjuk Bio yang berada di ujung kiri meja tersebut.

Arun melihat, dia tahu Bio. Tapi Adit baru kali ini Arun melihatnya. Tampan.

"Tapi pak, maaf sebelumnya. Bukannya yang akan di jodohkan dengan Arun nak Bio ya? Tapi kenapa ada nak Adit juga?" tanya Linda heran.

"Oh jadi begini Lin, Arun harus memilih diantara Adit atau Bio untuk menjadi suaminya kelak" ujar Broto.

'Memilih'

Apalagi ini ya allah, Arun seperti terjebak didalam alurnya sendiri.

"Kenapa Arun harus milih? Bukan nya ini perjodohan?" Ucap Arun yang tak paham akan situasinya.

"Banyak tanya banget" gumam Bio yang masih bisa didengar oleh Arun.

"Kamu bisa Run?" tanya Linda.

Arun menatap Linda, "Maaf pak Broto memangnya ini gak papa?" tanya Arun.

Arun takut salah dalam hal ini. Arun tidak mau salah dan disalahkan dalam hal ini.

"Ini semua sudah keputusan kami semua Run" ucap Broto.

"Kamu ikutin kata hati kamu saja Run" Adit menimpali.

Arun mengangguk tanda paham.

Akan seperti apa Arun kedepannya nanti tergantung pilihan Arun hari ini.

Baik buruknya, susah senangnya nanti toh Arun juga yang akan menanggungnya, SENDIRI. Jadi buat apa harus mengikuti kata hatinya.

"Baiklah pak, kalau begitu saya memilih pak Bio sebagai calon suami saya" ujar Arun mantap.

Alasannya, karena Arun baru kali ini melihat Adit.

Sedangkan Bio diam tanpa ekpresi, hanya menampilkan muka datarnya. Untung Bio menggunakan stelan jas ternama, yang bisa membantu wajahnya agar tidak terlalu terlihat kusut.

Bio langsung bangkit "Saya izin bawa Arun sebentar tante" pamit Bio pada Linda.

Sedangkan tangannya sudah menarik tangan Arun agar mengikutinya.

"Lepas! Kenapa sih pak?" tanya Arun bingung saat berada di taman belakang restoran tersebut.

"Lo itu wanita bodoh ya? Hah?" ucap Bio sambil menatap Arun.

"Emangnya kenapa?" tanya Arun.

"Lo itu bisa liat kan ekspresi orang senang dan enggak?" ujar Bio.

"Lo juga bisa bedainkan mana yang udah siap menjadi suami dengan yang tidak mau menjadi suami lo!"

"GUE GAK BODOH YA!" balas Arun.

Bio menganggukan kepala sambil mengusap wajahnya kasar, "Terus kenapa lo salah pilih orang? KENAPA?!!".

"Salah?"

"Iya! Kenapa lo gak pilih bang Adit yang udah siap menikahi dan nerima lo dalam hidupnya. KENAPA LO MALAH PILIH GUE?!!" ucap Bio mengeluarkan amarahnya.

Bukan ini yang Bio mau.

Arun tersenyum getir, "Karena cuma lo yang gue tau" ucap Arun.

"Lo sama gue juga baru saling tahu, bukan saling kenal" ucap Bio.

Arun yang sejak tadi memandang luruh kedepan, kini menatap Bio dengan mata berkaca-kaca.

"Lo mau tau kenapa gue akhirnya salah pilih? Karena gue dari dulu gak pernah di kasih sebuah pilihan. Bahkan dalam menjalani hidup gue cuma bagai pion catur yang dimana mereka yang menjalankannya, dan gue .. gue gak bisa berbuat apa-apa" ujar Arun tenang namun menusuk.

"Gue gak berniat denger cerita sedih lo!" Ucap Bio.

Arun kalah.

"Okee gue paham, lo gak menginginkan perjodohan ini kan? Tapi mau gimana lagi gue udah pilih dan gue gak mungkin membatalkannya gitu aja" ucap Arun.

"Lo mungkin bisa nerima tapi gue? Gue gak bisa!" Ujar Bio.

Arun sudah lelah, beberapa kali badannya seakan ingin ambruk dan menyentuh dinginnya lantai. Tapi Aru  tidak boleh lemah saat ini. Arun harus menghadapi semua ini karena ini adalah piliha nya sendiri.

"Lo atur aja semuanya, mau lo gimana. Lagian gue udah biasa diperlakukan kayak gitu" ujar Arun.

Arun pergi meninggalkan Bio sendiri.

"Dasar cewek bodohh!!" teriak Bio saat punggung Arun menghilang dati pandangannya.

Tbc.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!