Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.
Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.
Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 : Menuju Kota Samber
Kota Samber dikenal sebagai kota persinggahan pedagang yang berdagang ke berbagai daerah dengan kereta kuda, seorang diri maupun berkelompok. Kota ini dituju bagi para pedagang yang akan memasuki daerah pasir wilayah Kerajaan Archambria untuk berdagang, dan juga sebagai tempat beristirahat para pedagang yang baru saja melewati gunung pasir menuju wilayah Kerajaan Hearthose.
Kota persinggahan selalu dimanfaatkan bagi para pedagang untuk bertukar informasi tentang harga barang di pasar, pasar di sebuah daerah yang mungkin akan mereka tuju sehingga mereka tak tertipu dengan para pedagang lokal maupun pelanggan yang akan datang pada mereka, juga menjadi tempat yang cocok untuk belajar bagi para pedagang keliling baru. Meski begitu tak semua kota persinggahan menjadi tempat yang aman, selalu saja ada perampok maupun para pedagang pengedar barang ilegal.
Kota Samber berbeda dengan kota persinggahan lainnya ialah tata kota dan kepemimpinan seorang lelaki yang membuat kota itu menjadi kota persinggahan paling aman di Crymane. Namun sejak mendengar pemimpin kota itu digantikan dengan orang baru, rumor buruk datang dari kota ini, terutama perampokan dan pelelangan gelap. Kerajaan Woerlt sebagai kerajaan terbesar dan pengatur keamanan jagat Crymane tak mendapat berita apa pun akan kemunduran pemimpin kota mau pun siapa yang memerintah kota itu hari ini.
“Karena itu kita berhenti di sini, tiga kilometer dari Kota Samber untuk mengatur rencana?” tanya Yula.
Lacus mengangguk. “Sepertinya di sini lebih aman untuk menyampaikan rencanaku kepada kalian semua. Aku akan membagi tugas, setelah kita tiba di Samber kuharap kita semua dapat menjalankan tugas dengan tenang tanpa dicurigai oleh seorang pun karena kita tak tahu siapa yang akan dipercayai di sana.”
Esha mengangguk, Yula pun begitu.
“Jadi, tugas apa yang akan Tuan Putri beri kepada kami?” tanya Yoshizu.
“Pertama Yula. Aku ingin kamu mencari informasi tentang kota dan pemimpin kota kali ini dari para penduduk mau pun pedagang yang ada di sana, kamu sangat ahli dalam hal itu. Aku sangat mengandalkan pengumpulan informasi darimu. Lalu, kudengar di tengah kota ada sebuah gedung pertemuan umum yang memiliki ruang perpustakaan besar di lantai dasarnya. Yula suka membaca buku kuno, bukan?” tanya Lacus dengan senyum kemenangan. Ya! Yula mengangguk antusias dibuatnya. “Aku ingin kamu membaca apa pun buku yang kamu suka di sana!”
Yula menaikkan telapak tangannya ke kepala. “Siap dilaksanakan!” Lalu terdiam, “Hanya itu?” herannya.
Lacus mengangguk. “Aku tak tahu buku apa yang langka di sana, tapi setidaknya setiap kota persinggahan memiliki buku yang langka dari para penjelajah maupun pedagang. Jika kakak tetapkan apa yang harus kamu baca mungkin akan menyusahkanmu mencari buku tersebut, jadi bacalah buku yang sangat bermanfaat sebebasnya! Itu juga akan memudahkanku dalam perjalanan jika otakmu terisi penuh, Yula.”
“Hmm, Yula tak begitu mengerti mau baca apa tapi yang jelas sangat mudah dan menyenangkan! Oke, Kak Lacus~!”
Lacus melanjutkan perintahnya. “Yoshizu, lakukan saja apa yang menjadi tujuanmu ke Samber. Jika sudah menemukannya, temui aku segera.”
Yoshizu mengangguk. “Sip, Tuan Putri!”
Yula menatap Yoshizu curiga. “Tujuanmu ke Samber apa?”
“Kuharap kau tak berbuat yang tidak benar di sana,” tambah Esha.
“Aa~ jangan mencurigaiku seperti itu~. Maksudku juga baik, lho~” Yoshizu membela diri.
Lacus kembali melanjutkan rencananya. “Lalu Esha, kau akan menemaniku menemui pemimpin kota Samber. Kemungkinan kita menemuinya di balai kota.”
Esha mengangguk patuh.
Yula menyerngitkan dahi. “Tunggu dulu,” ia menatap Lacus heran, “kenapa Esha? Bukannya denganku? Aku ‘kan tangan kanan kakak!” Yula tak terima dengan rencana Lacus yang satu ini.
Lacus telah menebak Yula akan protes dengan rencananya itu. “Rencana awal kakak memang mau membawa kalian berdua menemui pemimpin kota. Namun kakak juga ingin ada orang yang mengumpulkan informasi dan keluhan para penduduk serta cerita-cerita ganjal lainnya di sekitar Samber, dan orang yang bisa melakukan hal itu tak lain ialah kamu Yula, sayang. Kamu sangat mudah membaur dengan penduduk sekitar, itu sudah terbukti di Durasec, dan kakak sangat senang dengan hasil kerjamu. Dan lagi kamu selalu mendapat buku yang bagus untuk dibaca, cara membaca dan cepatnya memahami isi buku juga keahlianmu, kuharap nantinya kamu bisa berbagi dengan kita,” jelas Lacus.
“Oh, jadi gitu caramu mencari informasi tentangku?” sindir Esha.
Yula membalas dengan tatapan polos. “Maaf ya, itu kulakukan demi tugas.”
Lacus tersenyum gugup. “Maaf ya, Esha,” sesalnya. Ia kembali melanjutkan kalimatnya. “Kakak bisa saja menggantikan posisi kalian, tapi apa Yula bisa mengerti jika Esha yang melakukan tugasmu di kota?”
Yula berpikir lama. “Gak mungkin,” jawabnya penuh keyakinan.
Yoshizu tertawa. “Kalau Esha yang duduk diam membaca buku di perpustaakan dapat terbayangkan olehku, tapi membayangkan Esha mengajak bicara seseorang? Cukup sulit!”
Esha menatap Yoshizu tajam. Yoshizu perlahan menghentikan tawanya, lalu terdiam bergidik ngeri.
“Dan lagi, Esha sangat tenang. Mengajaknya akan sangat mudah bagiku bicara dengan pemimpin kota nantinya. Kemungkinan pembicaraan kami tak berjalan lancar, dan aku ingin pergi dari balai kota dengan tenang tanpa dicurigai oleh pemimpin baru tersebut,” ungkap Lacus.
“Tanpa langsung Kak Lacus mengatakan kalau aku akan memporak-porandakan balai kota jika pemimpin kota sangat mencurigai, bukan?” ungkap Yula kesal hingga kedua pipinya menggembung.
Lacus tersenyum. “Begitulah!”
Yula merengek sejadi-jadinya. “Huwaaa, aku tak terima! Aku tak berguna! Hwaaa!”
Yoshizu terkekeh geli melihat sikap gadis kecil itu. “Sepertinya bakal seru melihat Tuan Putri menghancurkan balai kota, dengan begitu dapat mengalihkan perhatian penduduk dan aku pun bisa melaksanakan tugasku,” ungkapnya ringan.
Lacus menaikkan satu alis. “Ooh, jadi kamu mau membuat keributan? Ini juga berlaku buatmu, Yoshizu! Jangan sampai kamu membuat keributan, sekecil apapun masalahnya! Aku tak akan tanggung jawab jika tugasmu gagal!” Lacus menasihati dengan penuh penekanan setiap kata terakhir.
Yoshizu kembali bergidik. “Ba-baik, Tuan Putri Lacus....”
Lacus kembali tersenyum ramah. “Baiklah para rekanku, kita bisa lanjutkan perjalanan?” tanyanya sambil menatap ketiga wajah rekannya.
Mereka bertiga mengangguk dengan berbagai ekspresi. Esha dengan ekspresi datar nan tenang, Yoshizu dengan senyuman cerianya, dan Yula yang masih menangis buaya tidak terima tugasnya yang selalu disisi Lacus diambil oleh Esha.
Lacus kembali ke bilik kereta, disusul oleh Yula yang tak bersemangat menjalankan tugasnya kali ini. Yoshizu dan Esha kembali duduk di depan bilik dengan Yoshizu yang masih mengendalikan jalan kuda. Yoshizu mengekang tali kuda, Heartly dan Lovely pun melangkahkan keempat kaki mereka bersamaan.
“Yula,” panggil Lacus. “Tugasmu belum selesai kukatakan,” ungkapnya.
Yula mengadahkan pandangan. “Maksudnya?”
Lacus pun berbisik. “Di perpustakaan nanti aku ingin kamu lebih mencari buku yang berkaitan dengan duragon.”
Yula terkejut. “Adakah?”
Lacus menempelkan jari telunjuk ke bibir. Ia berharap agar suara Yula lebih pelan. Yula menunjukkan wajah tak mengerti kenapa.
“Mungkin saja Durasec memiliki sejarah duragon yang lebih lengkap dari yang lain. Namun itu belum tentu semuanya. Aku berharap setiap daerah, setiap kerajaan yang kita kunjungi memiliki setidaknya satu cerita tentang duragon. Dengan begitu aku bisa memecahkan misteri sejarah duragon yang sebenarnya, dan itu akan sangat membantu Esha dalam mendapatkan batu kristalnya.”
Lacus melihat wajah Yula yang masih kebingungan dengan ucapannya. Ia baru ingat satu hal. “Ah, maaf, Yula. Sepertinya aku lupa mengatakannya padamu bahwa...,” Lacus semakin mengecilkan suaranya, “...Esha keturunan duragon.”
“Ap—”
Lacus langsung menutup mulut Yula dengan telapak tangannya. Jika tidak suara kaget anak itu akan memekakkan telinganya, dan juga mengalihkan perhatian dua laki-laki di luar, yah meski sebenarnya tak ada masalah karena keduanya juga tahu salah seorang dari mereka ialah keturunan duragon.
Yula menahan kekagetannya, bersikap lebih tenang. Dengan begitu Lacus melepaskan tangan dari mulutnya dan kembali menjelaskan kalimat yang belum selesai.
“Aku tahu dari Ratu Tyrischa, malam itu beliau menceritakan tentang Esha padaku. Aku pun terkejut mendengar hal itu.”
Yula masih terdiam, berpikir. “Aku tak menyangka...,” ungkapnya kemudian.
“Aku tak tahu dimana tepatnya batu kristal elemen api. Namun yang pastinya kristal itu selalu lahir di daerah asli sang pengendali berada. Jika di Durasec tak ada, berkemungkinan ada di daerah di mana seharusnya Esha berasal.”
“Jadi ... kita harus mencari tempat tinggal duragon saat ini?” terka Yula ragu. “Atau sebelumnya.” Ia terdiam saat menelan kenyataan bahwa saat ini tak ada seekor pun duragon yang hidup di jamannya.
Lacus hanya bergumam lemah, ia merasakan simpati yang sama dengan Yula.